Lintas Jawa Timur

23 February 2018
Sambangi Korban Banjir Jombang, Gus Ipul: Ini Perlu Penyelesaian
Calon Gubernur Jatim Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengunjungi korban banjir 2 desa di Jombang. Dalam kunjungannya ini, Gus Ipul menyatakan penuntasan masalah banjir di Jatim terkendala minimnya anggaran.

Tiba di lokasi, Gus Ipul menyambangi dapur umum di kantor Desa Gambiran, Mojoagung. Wagub Jatim non aktif ini sempat membantu memasak lauk bagi korban banjir di dapur umum. Dia juga sempat menyapa ibu-ibu korban banjir.

Setelah itu, Gus Ipul menyambangi rumah-rumah warga yang terdampak banjir. Dia juga sempat meninjau kondisi tanggul Sungai Catak Banteng yang jebol. Di sungai ini, tepatnya di Dusun Kagulan, Desa Janti, Niko (17), pelajar SMK hanyut terbawa arus banjir. Calon Gubernur Jatim ini pun bertakziah ke rumah korban.

"Kami berduka, ini musibah, mudah-mudahan keluarga korban diberi kekuatan," kata Gus Ipul usai menggelar tahlil di rumah duka, Jumat (23/2/2018).

Dia menjelaskan, banjir yang terjadi di 3 desa Kecamatan Mojoagung, yakni Desa Gambiran, Janti dan Kademangan, dipicu beberapa persoalan. Di antaranya pendangkalan Sungai Catak Banteng dan Pancir Gunting, rapuhnya tanggul yang berujung jebol, hingga banyaknya sampah yang menghambat aliran sungai.

"Ini perlu penyelesaian," ujarnya.

Tak hanya di Jombang, lanjut Gus Ipul, Sampang, Pasuruan, Lamongan dan Bojonegoro juga menjadi langganan banjir setiap musim penghujan. Bahkan, banjir di daerah-daerah tersebut berdampak luas lantaran memutus jalur antar kota.

Tak kunjung tuntasnya persoalan banjir, menurut dia akibat minimnya anggaran Pemprov Jatim. Sementara sungai yang butuh perawatan jumlahnya mencapai 300 lebih. Itu belum termasuk anak-anak sungai.

"Masalahnya di anggaran yang sangat terbatas. Yang punya anggaran besar itu APBN. Sementara APBD provinsi (Jatim) belum cukup kuat. Ini PR kita yang memerlukan penangan serius dan pengambilan skala prioritas," terangnya.

Gus Ipul menambahkan, daerah langganan banjir yang menjadi prioritas adalah Pasuruan, Sampang dan Lamongan. "Bukan berarti di daerah lain tak penting, seperti di sini (Jombang) juga penting, harus difikirkan penanggulangannya," tandasnya.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
23 February 2018
Terciduk, Maling Motor yang Bikin Resah Warga Kota Malang Ditangkap Polisi di Tempat Tak Terduga
Buronan alias Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus curanmor, M Nur, berhasil diciduk petugas Polsekta Sukun, Kota Malang, pada Rabu (22/2/2018) malam.

Nur diciduk petugas saat berada di warnet Zidan Jl Raya Gadang, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Dia ditangkap ketika sedang transaksi online menawarkan Motor Suzuki FU hasil curiannya di Jl IR Rais, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang beberapa hari lalu.

Kapolsek Sukun Kompol Anang Trihananta menjelaskan, bahwa Jumat (16/2/2018) M Nur dan M Fajar alias Juni (22), warga Jl Sawojajar Gang XV, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang mencuri motor Mio yang diparkir di teras rumah Samsul (29), warga Jl Raya Candi Gang III, Kecamatan Sukun, Kota Malang.
 

Namun saat mereka mendorong motor tersebut, Juni berhasil tertangkap massa dan dihajar hingga babak belur. Sedangkan Nur berhasil kabur bersama motor curiannya.

"Beruntung saat itu petugas Polsekta Sukun segera tiba di lokasi hingga nyawa Fajar alias Juni berhasil diselamatkan," ungkapnya Anang, Jumat (23/2/2018).

Dari hasil pengembangan Juni, muncul nama M Nur ini. Sejak saat itulah M Nur menjadi DPO petugas.

Petugas berhasil menangkap M Nur saat menjual motor hasil curiannya melalui online. Saat itu dia sedang asik menawarkan motornya melalui internet yang disewanya di warnet Zidan.

"Saat itu dia sama sekali tidak mengira kalau petugas Polsekta Sukun sudah ada di belakangnya untuk melakukan penangkapan," imbuh Anang.

Nur pun tak bisa mengelak saat ditangkap. Ketika dipertemukan dengan Fajar alias Juni, keduanya mengaku sudah melakukan 60 kali pencurian motor.

Keduanya beraksi di lima TKP di wilayah Sukun, sisanya di kawasan Blimbing, Lowokwaru dan Kedungkandang serta di Kabupaten Malang.

Hasil curian motor sering kali dijual melalui jual beli online dan hasilnya digunakan untuk foya-foya.

Anang menambahkan, bahwa M Nur kenakan Pasal 363 KUHP.

"Kami masih terus melakukan pengembangan," tutupnya.(Penulis: Benni Indo-Suryamalang.com/jko)

 

23 February 2018
Puncak Banjir Luapan Bengawan Solo Diperkirakan Malam Nanti
Debit air Sungai Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus mengalami kenaikan. 

Status ketinggian air tepatnya di papan duga Taman Bengawan Solo (TBS) Bojonegoro pada posisi siaga II (kuning) banjir, Jumat (23/2/2018).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Andik Sudjarwo mengatakan, banjir luapan ini diperkirakan akan mengalami puncaknya nanti malam. 

Tren air mengalami kenaikan seiring adanya kiriman air dari wilayah hulu, Madiun, Ngawi, Ponorogo, dan beberapa daerah di Jawa Tengah. 

Puluhan desa di beberapa kecamatan di wilayah bantaran sungai terpanjang di pulau jawa itu saat ini sedang tergenang air. Ratusan rumah, ratusan hektar lahan pertanian, jalan desa serta puluhan fasilitas umum tergenang air. 

"Air di wilayah hulu juga cukup tinggi hingga mencapai siaga merah, tepatnya di papan duga Dungus, Ngawi," jelasnya.

Andik Sudjarwo mengimbau masyarakat yang tersebar di belasan kecamatan di bantaran Sungai Bengawan Solo terus waspada, dan mengikuti update perkembangan ketinggian air setiap jamnya.  

Andik berpesan apabila ada desa yang baru terdampak banjir agar segera melapor ke Camat agar segera ditindaklanjuti. "Beberapa desa di Kota Bojonegoro, Kalitidu, Balen, Trucuk dan Padangan sudah tergenang air. Banjir kita pastikan terus meluas ke beberapa kecamatan lainnya," ungkapnya.

Dia menjelaskan, ada sebanyak 11 kecamatan yang masuk daerah rawan banjir luapan Sungai Bengawan Solo saat kondisi Bengawan Solo memasuki siaga merah. 

Agus (67) seorang petani di Kecamatan Kanor menambahkan, kondisi air Sungai Bengawan Solo cukup mengkhawatirkan. Sebab, wilayah Kanor dan Baureno merupakan daerah hilir sungai di Bojonegoro yang letak geografisnya rendah.

"Bisa-bisa seperti banjir pada tahun 2007 lalu, yang merusak sejumlah jalan, fasilitas dan rumah warga Kanor," ucapnya.

Sementara itu, dua kecamatan yakni Kanor dan Baureno belum ada rumah yang tergenang air. Luberan air Sungai masih di persawahan dan ladang. Namun kemungkinan nanti malam pemukiman dan rumah warga akan tergenang.(Reporter : Tulus Adarrma-Beritajatim.com/jko)
23 February 2018
Tiap Pagi Pelajar Ngawi Bertaruh Nyawa Bergelantungan di Pintu Bus
Pemandangan miris ditemukan di Ngawi, Jawa Timur. Untuk menuntut ilmu, sebagian pelajar harus bertaruh nyawa dengan bergelantungan di pintu bus umum. Ironisnya, pemandangan tersebut terlihat setiap hari.

Dari hasil pengamatan detikcom, tiap pagi bus-bus mini berwarna biru berseliweran mengangkut para pelajar. Namun sayangnya pelajar-pelajar ini berdesakan di dalam bus hingga beberapa di antaranya harus keluar dari bahu bus.

Kendati demikian, bukannya takut, justru terlihat raut kegembiraan di wajah pelajar-pelajar tersebut.

"Setiap hari berangkat dan pulang sekolah mereka bergelantungan. Mungkin karena takut terlambat kalau naik bus berikutnya nunggu lama," jelas Suprapto (40), warga Desa Paron kepada detikcom, Jumat (23/2/2018).

Suprapto menambahkan, oleh warga setempat, bus-bus mini itu disebut dengan istilah 'Andis'. Penumpangnya kebanyakan adalah para pedagang pasar dan pelajar yang rumahnya jauh namun rata-rata bersekolah atau berkegiatan di wilayah Ngawi kota.

"Biasanya pedagang pasar yang naik bus mini itu. Juga anak sekolah yang rumahnya jauh daerah gunung," tuturnya.

Sementara itu Kasatlantas Polres Ngawi AKP Rukimin mengaku belum mendapat laporan tentang fenomena pelajar yang bergelantungan di pintu bus.

Namun pihaknya akan berkoordinasi dengan seluruh Kapolsek untuk mensosialisasikan kepada pihak sekolah dan manajemen bus tentang pentingnya keselamatan penumpang saat berkendara dengan moda transportasi umum.

"Kita belum mendapat laporan soal pelajar yang bergelantungan dalan angkutan umum. Secepatnya kita telah koordinasi dengan seluruh Kapolsek untuk sosialisasi mengenai keselamatan penumpang di kendaraan umum," jelas Rukimin saat dihubungi terpisah.(Sugeng Harianto - detikNews/jko)
23 February 2018
Bengawan Solo Meluap, Banjir Genangi Dua Kelurahan di Kawasan Kota Bojonegoro
Banjir telah memasuki kawasan Kota Bojonegoro, Jumat (23/2/2018), sekitar pukul 01.00 WIB.

Informasi sementara, dua kelurahan mengalami banjir, yaitu Ledok Wetan dan Ledok Kulon.

Banjir ini diakibatkan luapan air Bengawan Solo, akibat hujan deras yang mengguyur kota ledre, Kamis (22/2/2018) malam.
 

"Dini hari pukul 01.00 WIB banjir mulai datang," kata Suryanto (63), warga Ledok Kulon kepada SURYA.co.id, Jumat (23/2/2018).

Warga yang mengetahui banjir mulai masuk kawasan Ledok cemas, karena banjir akan membuat lingkungan menjadi tidak nyaman.

"Seperti yang terlihat saat ini, warga mulai keluar rumah," tambahnya.

Sementara itu, operator pompa banjir OP 4 Ledok Kulon, Wijianto mengatakan, pihaknya telah siaga untuk memompa air Bengawan Solo yang meluap di kawasan kota.

Pemompaan dilakukan untuk menyurutkan ketinggian air di kawasan kota, agar banjir bisa segera surut.

"Kita sudah lakukan pemompaan, agar banjir di kawasan kota cepat surut," pungkas Wiji didampingi petugas PU SDA Bojonegoro.(Penulis: M. Sudarsono-Surya.co.id/jko)

 

23 February 2018
Ada 5297 Jiwa Terdampak Banjir Jombang
Banjir yang menerjang Kecamatan Mojoagung dan Mojowarno, Jombang, mulai surut, Jumat (23/2/2018). Namun demikian, banjir tersebut mengakibatkan 5297 terdampak. Mereka ada yang mengungsi, ada pula yang tetap berada di rumah.

Pasalnya, ketinggian banjir cukup bervariasi, antara setengah hingga satu meter. Akan tetapi untuk di Desa Kademangan, Kecamatan Mojoagung, ketinggian air mencapai dua meter. Korban banjir yang mengungsi sebagaian besar di Balai Desa Gambiran.

"Alhamdulillah, pagi ini mulai surut. Warga mulai bersih-bersih. Semoga saja tidak ada banjir susulan. Karena jika hujan lebat, air sungai meluap, banjir pasti datang lagi," kata Saiful, warga Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno, Jumat (23/2/2018). [suf]

Demikian jumlah warga terdampak banjir berdasarkan data BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Jombang;

1. Mojoagung
- Desa Gambiran 1200 KK, 2850 jiwa
- Kademangan 650 jiwa, ditambah 3 dusun 19 RT
- Janti 500 KK, 2350 jiwa
2. Mojowarno
- Catakgayam 168 KK, 747 jiwa
- Selorejo 1050 Jiwa
- Karanglo 40 KK
- Gondek 52 KK
- Grobokan jumlah data belum masuk
3. Sumobito
- Dusun Grudo, Desa madyopuro 400 kk.(Reporter : Yusuf Wibisono-Beritajatim.com/jko)
22 February 2018
Ribuan Siswa SMP di Kabupaten Blitar Tidak Bisa Ikuti UNBK
Sebanyak 3.373 siswa SMP di Kabupaten Blitar tidak bisa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), April mendatang.

Selain sarana yang belum memadai, faktor letak sekolah tidak memungkinkan mereka untuk bergabung dengan sekolah lain yang telah punya fasilitas lengkap untuk mengikuti UNBK.

Mereka juga terkendala transportasi untuk menjangkau sekolah lain saat pelaksanaan UNBK 2018 nanti. Hal ini terlepas dari kewenangan yang diberikan pemerintah untuk lembaga sekolah yang belum mandiri atau belum memiliki sarana prasana agar bisa bergabung dengan lembaga sekolah lain.

"Jarak terdekat dengan sekolah yang punya fasilitas untuk UNBK itu sekitar 20 km. Sementara tidak ada transportasi umum yang menunjang. Akan banyak resiko keamanan, jika kita paksakan pelaksanaan UNBK bagi para siswa," kata Kasi Kurikulum dan Penilaian Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Sugito, saat ditemui detikcom di kantornya, Kamis (22/2/2018).

Solusi terbaik yang bisa dilakukan sekarang, lanjutnya, adalah dengan tetap memakai sistem Ujian Nasional Berbasis Kertas dan Pensil (UNKP).

Dari data yang terangkum di Dindik Kabupaten Blitar, jumlah siswa yang mengikuti UNKP ini hanya 30 persen dibanding jumlah siswa yang mengikuti UNBK, yakni sebanyak 7.226 siswa.

"30 persen ini menyebar di lima kecamatan, yakni di Kecamatan Wates, Bakung, Gandusari, Kademangan dan Binangun," bebernya.

Mereka berasal dari 54 lembaga sekolah setingkat SMP/MTS, baik negeri atau swasta. Sedangkan dari catatannya, terdapat 49 lembaga pendidikan di Kabupaten Blitar yang telah mampu melaksanakan UNBK: 21 lembaga mampu secara mandiri melaksanakan UNBK dan 28 lembaga pendidikan masih harus bergabung dengan sekolah lainnya.

"Walaupun hanya 30% jumlah siswa yang belum bisa mengikuti UNBK tahun ini, namun ini pekerjaan rumah yang harus kami carikan solusinya. Jadi tahun depan semua siswa SMP di Kabupaten Blitar bisa semuanya mengikuti UNBK," pungkasnya.(Erliana Riady - detikNews/jko)
22 February 2018
Banjir Jombang, Dua Warga Hanyut
Banjir yang menerjang Kecamatan Mojoagung mengakibatkan dua warga hanyut, Kamis (22/2/2018). Masing-masing Niko (16) dan Eko (16), warga Dusun Kagulan, Desa Janti, Kecamatan Mojoagung.

Setelah dilakukan pencarian, Eko ditemukan dalam kondisi selamat. Sedangkan Niko hingga saat ini belum ditemukan. Keberadaan warga Dusun Kagulan ini masih misteri.

Tim relawan BPBD (Badan Penaggulangan Bencana Daerah) Jombang Pepi mengatakan, awalnya Eko, Niko, Yusuf, dan tiga orang temannya asyik mandi di Sungai Catak Banteng. Padahal, pada saat bersamaan banjir sudah menerjang desa setempat.

Warga sudah mengingatkan, tapi enam anak itu tetap bergeming. Sejurus kemudian, Eko dan Niko berteriak minta tolong. Semuanya panik. Walhasil, Eko berhasil ditemukan pada jarak 20 meter dari lokasi kejadian. Sementara Niko hilang ditelan arus.

"Satu orang ditemukan selamat, sedangkan satu orang lagi masih dalam pencarian. Eko yang selamat langsung dievakuasi menggunakan perahu karet," kata Pepi.

Sementara, hingga siang ini warga Mojoagung terus berdatangan ke lokasi pemgungsian. Yakni di balai desa Kademangan dan balai desa Janti. Warga mengungsi karena banjir belum memberikan tanda-tanda akan surut.(Reporter : Yusuf Wibisono-Beritajatim.com/jko)
22 February 2018
Banjir 1 Meter Rendam Ratusan Rumah di Kediri
Jebolnya tanggul sungai membuat ratusan rumah di Kabupaten Kediri, terendam banjir setinggi 1 meter. Aktivitas wargapun terganggu, selain menggenangi rumah, Banjir ini juga menggenangi jalan raya.

Setidaknya 4 dusun terendam banjir ini, Ngablak, Bagol, Tanjung, dan Jajar , Desa Ngablak,Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri .

Banjir terjadi akibat air kiriman dari sungai bendo krosok Desa Maron, Kecamatan Banyakan yang mengalami tanggul jebol.

Selian itu, banjir juga menggenangi ruas jalan raya hampir seluruh akses masuk ke desa. Tak sedikit sepeda yang melintas akhirnya mogok akibat tergenang air, warga juga menyelamatkan barang dan perabot rumah tangga di tempat yang lebih tinggi. 

Salah satu warga, Ayub, mengatakan, air datang sekitar pukul 2 dini hari , setelah hujan ringan disertai air kencang semalaman.

"Airnya terus naik, hingga ketinggian 1 meter di jalan dan masuk ke rumah warga setinggi 30 centimeter," ujar Ayub.

Camat Hari Utomo, Hari Utomo, juga menjelaskan, data dari Desa Ngablak menyebutkan, sedikitnya 1200 kepala keluarga yang terdampak banjir kiriman ini.

"Pemerintah kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, sedang berusaha menutup tanggul yang jebol menggunakan karung berisi pasir," terang Hari Utomo.

Banjir akibat tanggul sungai jebol yang menggenangi ratusan rumah di Desa Ngablak ini merupakan kali kedua, setelah banjir serupa terjadi pada tahun 1960 silam. Namun, kali ini merupakan banjir terparah meski tidak ada korban jiwa.

Saat ini warga takut, jika terjadi banjir susulan bila terjadi hujan deras di daerah hulu.(Unggul Dwi Cahyono,Muhammad Zainurofi-Pojokpitu/jko)
22 February 2018
Jalur Utama Antar Kecamatan Trenggalek Longsor di Dua Titik
Tanah longsor terjadi di dua titik di jalur antar kecamatan di Trenggalek. Akibatnya arus lalu lintas dari kedua arah tertutup total.

Camat Bendungan, Nur Kholiq mengatakan jalur yang longsor berada di jalur utama Trenggalek-Bendungan di Desa Suren Lor. Material longsor setinggi hampir 2 meter menutup seluruh padan jalan sepanjang 10 meter.

"Jadi longsor ini ada dua titik, semuanya di Desa Suren Lor, untuk tebing yang longsor memiliki ketinggian kurang lebih 15 meter," kata Nur Kholiq saat dihububgi detikcom, Kamis (22/2/2018).

Menurutnya, kejadian bencana tersebut terjadi pada pukul 01.00 WIB, setelah wilayah Kecamatan Bendungan terjadi hujan deras selama beberapa jam. Saat ini material longsor masih belum bisa dievakuasi, karena menunggu alat berat dari Dinas Pekerjaan Umun dan Penataan Ruang (PUPR) Trenggalek.

"Kami dari muspika serta tim TRC BPBD sudah di lokasi, namun karena jumlah material lumayan banyak. Maka tidak bisa hanya dilakukan secara manual, harus dengan alat berat," ujarnnya.

Kholiq menjelaskan, untuk akses warga dari kedua arah untuk sementara dialihkan melalui jalur kampung, dengan jarak tempuh yang lebih jauh.

"Kami sudah komunikasi dengan BPBD maupun Dinas PUPR agar segera didatangkan alat berat ke lokasi bencana, semoga bisa segera dibersihkan dan arus kembali lancar," imbuhnya.

Nur Kholiq mengakui, beberapa titik di jalur utama antar kecamatan tersebut memiliki tingkat kerawanan longsor yang relatif tinggi, karena banyak terdapat tebing serta jurang. Para pengguna jalan diimbau untuk berhati-hati apabila melintas pada saat hujan deras maupun setelahnya.(Adhar Muttaqin - detikNews/jko)
Page 1 of 763      1 2 3 >  Last ›