Lintas Jawa Timur

21 February 2018
Bawa Sajam, Orang Gila di Mojokerto Mengamuk
Tim Sukarelawan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Mojokerto bersama Polsek Sooko merujuk orang gila (orgil) ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang, Malang. Evakuasi Mohamad Sodikin (34) tersebut sesuai permintaan keluarga karena yang bersangkutan sering mengamuk.

Kepala Seksi Pelayanan dan Penanggulangan Bencana PMI Kabupaten Mojokerto, Didik Sudarsono mengatakan, pada Selasa (20/2/2018) sekira pukul 20.45 WIB, pihaknya mendapat informasi dan permintaan bantuan. "Kades Blimbingsari menyampaikan lewat telepon," ungkapnya, Rabu (21/2/2018).

Masih kata Didik, selain Kepala Desa (Kades) Blimbingsari, petugas piket Polsek Sooko juga meminta  untuk merujuk warga Desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto yang mengalami gangguan jiwa menuju RSJ Lawang. Tim sukarelawan kemudian berangkat ke lokasi.

"Yakni di Dusun Karangsari RT 03 RW 01, Desa Blimbingsari, Kecamatan Sooko. Permintaan bantuan tersebut, karena warga yang mengalami ganguan jiwa sedang mengamuk sambil membawa senjata tajam (sajam) di desa setempat. Setelah siap dokumen, langsung kita rujuk," katanya. 

Dengan menggunakan Mobil Operasional PMI Kabupaten Mojokerto didampingi pihak Pamong Desa Blimbingsari, anggota Polsek Sooko serta pihak keluarga, tim merujuk Mohamad Sodikin (34) menuju ke RSJ Lawang di Malang. Sekira pukul 00.30 WIB, warga yang mengalami gangguan jiwa sampai di RSJ tersebut.

"Meski dalam perjalanan, tepatnya di pintu Terminal Kertajaya Kota Mojokerto tim yang merujuk orgil tersebut mendapat kecelakaan lalu lintas dan mengalami luka bagian kepala, namun orgil yang kita rujuk sudah sampai di RSJ Lawang dini hari tadi," jelasnya.(Reporter : Misti P.-Beritajatim.com/jko)
20 February 2018
Balasan Terduga Pelakor yang Dilempari Uang Ratusan Juta ke Mukanya ini Makjleb, Serangan Balik
Video seorang wanita menyebar uang pecahan Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu ke muka wanita berjilbab merah viral di media sosial sejak Senin (19/2/2018).

Setelah video ini viral, akun Facebook Ny*** Nylala yang diduga milik wanita berjilbab merah terduga pelakor sempat membuat klarifikasi di akunnya.

"Cuma bisa tersenyum nerima keadaan," tulisnya.
 

Setelah mengunggah status ini, dia juga menulis curhatan yang ditujukan ke wanita yang menyebar uang ke wajahnya.

"Aku yo kudu piye? wis ora nduwe opo2maneh.. Coba pean introspeksi mungkin pean terlalu mengurus harta pean sampe lupa urus suami".
 

Sayangnya, setelah unggahan ramai, akun Ny*** Nylala menghapus unggahannya. 

Sebelumnya, video yang disebar kali pertama oleh akun Facebook Ovie ini terdengar suara perempuan marah-marah dengan perempuan berjilbab merah yang tengah duduk di sofa.

Perempuan yang hanya terlihat tangannya dan terdengar suara lantangnya ini terus memaki.

Ia menyebut perempuan berjilbab merah itu sebagai Ny*** Nylala, teman baiknya.

Namun Ny*** dituduh merebut suaminya, dan sering mengirimkan uang dalam jumlah besar.

Siapa sebenarnya perempuan yang marah-marah kepada Ny***?

Warganet di Kabupaten Tulungagung mengenalnya sebagai Ovie.

Ovie dulunya seorang penyanyi yang biasa manggung di acara kawinan atau acara musik.

Namun setelah menikah, bersama suaminya ia menggeluti usaha minuman coklat.

Usahanya berkembang pesat dengan sistem francise.

Dalam video itu warganet dibuat melongo, sebab Ovie menyebarkan uang ke arah Ny***.

Tidak main-main, ia menyebut jumlahnya mencari Rp 500 juta.

Berulang kali dia menyebut Ny*** sebagai Pelakor, kependekan dari perebut laki orang.

Sedangkan video kedua, Ovie tengah bersama suaminya, Dendy di rumah Ny***.

Seperti video sebelumnya, Ovie mengungkapkan kekesalannya kepada suami dan Ny***.

Video ini diunggah di akun Facebook Ovie dan langsung menjadi viral.(Penulis: Musahadah-Surya.co.id/jko)

 

 

20 February 2018
Ponpes Ploso Kediri Pastikan Tak Ada Teror, Situasi Kondusif Beredar kabar di media sosial dan pesan WhatsApp, ada teror ke santri dan pengasuh Ponpes Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kediri. Pihak ponpes membantah dan menyebutkan situasi kondusif.

"Kami mewakili pondok menyatakan bahwa kabar adanya teror dan 3 orang pria menggunakan senjata tajam kepada santri dan kiai pengasuh pondok tidak benar," kata Abid Umar (30) atau akrab disapa Gus Abid, cucu pengasuh ponpes KH Zainudin Jazuli, Selasa (20/2/2018).

"Itu hoax," tambahnya.

Soal pria tak dikenal diamankan di sekitar ponpes, Gus Abid membenarkan. Pria tersebut sudah diserahkan ke polisi.

"Kalau berita diamankannya pria tak dikenal oleh santri dan polisi, itu karena santri waspada dan khawatir. Kalau untuk teror, pihak pondok tidak menemukan bukti kuat mengarah ke hal tersebut," papar Gus Abid.

Ketua GP Ansor Kabupaten Kediri, Munasir Huda yang berkunjung ke ponpes, menjelaskan kabar diamankannya seorang yang dicurigai akan berbuat jahat ke pengasuh ponpes beredar ke mana-mana dan dibumbui kabar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

"Saya khawatir itu dimanfaatkan orang yang tak bertanggung jawab, makanya saya datang langsung mengecek," jelas Gus Huda, sapaan akrab Munasir Huda.

"Tidak benar kalau kondisi pondok mencekam usai diserang orang gila. Semuanya masih kondusif, polisi juga sedang mengamankan dan menyelidikinya," tambah Huda.

Sementara Kapolresta Kediri AKBP Anthon Haryadi mengaku masih memeriksa pria tak dikenal tersebut. "Dalam penyelidikan apa maksud dan tujuannya," jelas Anthon.

Anthon meminta masyarakat, santri dan kalangan pondok agar tidak terprovokasi dan mudah terpancing kabar di sosial media.(Andhika Dwi - detikNews/jko)

20 February 2018
Ke Pasar Oro-oro Dowo Malang, Puti Beli 'Sego Jagung'
Puti Guntur Soekarno calon wakil Gubernur Jawa Timur mengunjungi Pasar Oro-oro Dowo, Kota Malang, Selasa, (20/2/2018). Puti yang berpasangan dengan Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyapa pedagang dan pengunjung pasar.

Puti didampingi Seketaris DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sri Untari. Puti menghampiri beberapa lapak, mulai lapak sembako, lapak camilan, lapak ikan segar, lapak ayam potong, lapak daging segar dan lapak sayur mayur.

Selain berdialog dengan pedagang, Puti juga berbelanja. Puti membeli onde-onde, nasi jagung dan nasi buk. Ternyata cucu proklamator Indonesia itu, menggemari makanan tradisional nasi jagung. "Beli nasi jagung per bungkus Rp10 ribu. Saya pernah mencoba, nasi jagung rasanya enak makannya saya beli," kata Puti.

Puti mengatakan selama ini beras menjadi makanan pokok masyarakat, namun ternyata beras bisa dikombinasikan dengan jagung, atau singkong. Puti pun mengajak masyarakat untuk mulai mengurangi konsumsi beras.

"Tidak harus dengan beras bisa dialhkan dengan jagung ada juga singkong, ada talas ada juga yang lainnya. Jadi tidak harus dengan beras, karena dibeberapa daerah yang menjadi kultur tidak harus beras," tandasnya.(Reporter : Lucky Aditya Ramadhan-Beritajatim.com/jko)
20 February 2018
Di Blitar, Takmir Masjid Tolak Politisasi Tempat Ibadah Sebagai Ajang Kampanye Jelang Pilkada
Sebanyak 150 takmir masjid se-Kota Blitar berkumpul di Masjid Agung Kota Blitar, Senin (19/2/2018) malam.

Mereka mendeklarasikan menolak segala bentuk politisasi masjid sebagai ajang kampanye saat pelaksanaan Pilkada.

"Kami ingin masjid kembali pada fungsinya, yakni sebagai tempat ibadah. Kami menolak segala bentuk ceramah provokatif untuk kepentingan politik," kata Ketua Takmir masjid Agung Kota Blitar, Subakhir.
 

Deklarasi ini diinisiasi Takmir Masjid Agung Kota Blitar.

Acara deklarasi itu juga dihadiri Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Blitar, Takmir Masjid se-Kota Blitar, MUI Kota Blitar, FKUB Kota Blitar, PD LDII, PCNU, Muslimat NU, PD Muhamadiyah dan sejumlah alim ulama.

Subakhir berharap masyarakat berperan aktif ikut menjaga masjid sebagai tempat beribadah.

Masjid sebagai tempat menyampaikan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Jangan gunakan masjid untuk kepentingan politik praktis.

Menurutnya, saat ini beberapa masjid di sejumlah kota sering dijadikan panggung politik oleh kelompok tertentu.

Acara tausiyah maupun ceramah di masjid sering diselipkan ungkapan politis dan ajang kampanye.

Dia mengajak umat muslim agar mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat pembinaan umat.

Dia mengajak umat muslim menolak politisasi masjid sebagai ajang kampanye.

"Sekarang merupakan tahun politik. Maka itu, kami mengajak masyarakat agar ikut menjaga fungsi masjid sebagai tempat ibadah," kata Subakhir yang juga Ketua MUI Kota Blitar itu.(

Sebanyak 150 takmir masjid se-Kota Blitar berkumpul di Masjid Agung Kota Blitar, Senin (19/2/2018) malam.

Mereka mendeklarasikan menolak segala bentuk politisasi masjid sebagai ajang kampanye saat pelaksanaan Pilkada.

"Kami ingin masjid kembali pada fungsinya, yakni sebagai tempat ibadah. Kami menolak segala bentuk ceramah provokatif untuk kepentingan politik," kata Ketua Takmir masjid Agung Kota Blitar, Subakhir.
 

Deklarasi ini diinisiasi Takmir Masjid Agung Kota Blitar.

Acara deklarasi itu juga dihadiri Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Blitar, Takmir Masjid se-Kota Blitar, MUI Kota Blitar, FKUB Kota Blitar, PD LDII, PCNU, Muslimat NU, PD Muhamadiyah dan sejumlah alim ulama.

Subakhir berharap masyarakat berperan aktif ikut menjaga masjid sebagai tempat beribadah.

Masjid sebagai tempat menyampaikan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Jangan gunakan masjid untuk kepentingan politik praktis.

Menurutnya, saat ini beberapa masjid di sejumlah kota sering dijadikan panggung politik oleh kelompok tertentu.

Acara tausiyah maupun ceramah di masjid sering diselipkan ungkapan politis dan ajang kampanye.

Dia mengajak umat muslim agar mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat pembinaan umat.

Dia mengajak umat muslim menolak politisasi masjid sebagai ajang kampanye.

"Sekarang merupakan tahun politik. Maka itu, kami mengajak masyarakat agar ikut menjaga fungsi masjid sebagai tempat ibadah," kata Subakhir yang juga Ketua MUI Kota Blitar itu.(

Sebanyak 150 takmir masjid se-Kota Blitar berkumpul di Masjid Agung Kota Blitar, Senin (19/2/2018) malam.

Mereka mendeklarasikan menolak segala bentuk politisasi masjid sebagai ajang kampanye saat pelaksanaan Pilkada.

"Kami ingin masjid kembali pada fungsinya, yakni sebagai tempat ibadah. Kami menolak segala bentuk ceramah provokatif untuk kepentingan politik," kata Ketua Takmir masjid Agung Kota Blitar, Subakhir.
 

Deklarasi ini diinisiasi Takmir Masjid Agung Kota Blitar.

Acara deklarasi itu juga dihadiri Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Blitar, Takmir Masjid se-Kota Blitar, MUI Kota Blitar, FKUB Kota Blitar, PD LDII, PCNU, Muslimat NU, PD Muhamadiyah dan sejumlah alim ulama.

Subakhir berharap masyarakat berperan aktif ikut menjaga masjid sebagai tempat beribadah.

Masjid sebagai tempat menyampaikan ajaran Islam rahmatan lil alamin.

Jangan gunakan masjid untuk kepentingan politik praktis.

Menurutnya, saat ini beberapa masjid di sejumlah kota sering dijadikan panggung politik oleh kelompok tertentu.

Acara tausiyah maupun ceramah di masjid sering diselipkan ungkapan politis dan ajang kampanye.

Dia mengajak umat muslim agar mengembalikan fungsi masjid sebagai tempat pembinaan umat.

Dia mengajak umat muslim menolak politisasi masjid sebagai ajang kampanye.

"Sekarang merupakan tahun politik. Maka itu, kami mengajak masyarakat agar ikut menjaga fungsi masjid sebagai tempat ibadah," kata Subakhir yang juga Ketua MUI Kota Blitar itu.(Penulis: Samsul Hadi-Surya.co.id/jko)

 

 

 

20 February 2018
Dianggap Mencurigakan, Seorang Pria Diamankan di Dekat Ponpes Ploso
Seorang pria tak dikenal diamankan di sekitar Ponpes Al Falah Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri. Gerak-geriknya dinilai mencurigakan. Saat ditanya, jawabannya tak jelas.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (19/2/2018) malam. Pria tersebut ditaksir berusia 45 tahun, mengenakan kemeja biru muda dan celana katun gelap. Perawakannya tinggi, kurus dan berkumis. Dia mencari salah seorang pengasuh Ponpes Al Falah.

Curiga, sejumlah santri dibantu dengan pihak Polresta Kediri mengamankan pria tersebut dan membawa ke Polresta Kediri.

Abid Umar (30) atau akrab disapa Gus Abid, cucu pengasuh ponpes KH Zainudin Jazuli, membenarkan ada satu orang yang diamankan santri dan diserahkan ke polisi. Menurut dia, keterangan pria tersebut berubah-ubah seperti orang ling lung.

"Santri waspada dan khawatir," jelas Gus Abid, Selasa (20/2/2018).

Kapolresta Kediri, AKBP Anthon Haryadi, juga membenarkan informasi tersebut. Hingga kini pihaknya masih memeriksa pria tersebut.

"Benar kami mengamankan satu orang pria, dan dalam penyelidikan apa maksud dan tujuannya," tegas Anthon.

Anthon meminta masyarakat dan santri maupun kalangan pondok agar tidak terprovokasi dan mudah terpancing kabar di sosial media.(Andhika Dwi - detikNews/jko)
20 February 2018
Sindikat Pembuat Dokumen Penting Palsu Dibongkar Unit Satreskrim Polres Malang
Satuan reserse kriminal Polres Malang membongkar sindikat pembuat dokumen penting palsu, seperti KTP, Sim, Akte, Kartu Keluarga (KK) dan surat nikah. Terbongkarnya sindikat ini, berawal dari satlantas Polsek Bululawang yang mengadakan razia.

Dalam operasi tersebut, polisi menemukan Sim B 1 pengendara mencurigakan, kemudian unit reskrim Polsek Bululawang melakukan pengembangan kasusnya, berhasil membongkar sindikat tersebut dengan meringkus satu persatu pelaku dibantu tim opsnal Polres Malang.
Pelaku, Purwoto, Achmad Misadji, (62) warga Desa Mulyoarjo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Moh Sueb, (67) dan Suwarni, (50) warga Desa Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung, mengatakan, berawal dari penangkapan Purwoto, saat terjaring razia kendaraan oleh satlantas Polsek Bululawang dengan Sim B 1 yang tunjukkan terlihat mencurigakan dengan berubah tahun masa berlakunya, kemudian
petugas melimpahkan ke reskrim polsek bululawang untuk dikembangkan.

Setelah mengamankan pelaku untuk diperiksa, bersama tim buser satreskrim polres malang, petugas mengamankan satu persatu pelaku sindikat pembuat dokumen palsu.

"Untuk mengubah masa berlaku sim B 1 milik purwoto, yang sudah mati sejak tahun 2015 menjadi 2019, dirinya harus membayar sejumlah uang kisaran 200 ribu kepada Acmad Misadji," terang AKBP Yade Setiawan Ujung.

Penangkapan pelaku, Achmad Misadji, merupakan hasil pemeriksaan Purwoto, petugas menemukan 11 lembar kartu keluarga, 6 lembar akte kelahiran, 4 buah buku nikah serta berbagai stempel instansi yang diduga dipalsukan pelaku.

Pengembangan yang mengarah kepada 2 pelaku asal Pasuruan itu, polisi juga menemukan beberapa lembar kertas dokumen penting.
AKBP Yade menambahkan, dengan memiliki surat-surat palsu tersebut, orang yang mengurus melalui sindikat, tidak akan diakui oleh negara.

"Bahkan untuk kepengurusan Sim B 1 yang dirubah tahun masa berlakunya dengan membayar Rp 200 ribu, tergolong mahal dibanding mengurus Sim secara resmi dikepolisian," Imbuhnya.

Saat ini Satreskrim Polres Malang masih mendalami kasus ini,dikhawatirkan dokumen-dokumen palsu tersebut sudah menyebar dan dapat merugikan masyarakat sendiri.

Untuk pengguna jasa dokumen palsu maupun pembuatnya, bisa dikenakan pasal 263 ayat 1 dan 2, tentang pemalsuan surat atau menggunakan surat palsu, yang mana ancamannya hingga 6 tahun kurungan penjara.(Oleh : Khaerul Anwar-Pojokpitu.com/jko)
19 February 2018
Tuntut Cabut Ijin HO PT PRIA, Warga Lakardowo Demo Balai Desa
Puluhan warga Desa Lakardowo, Kacamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto menggelar aksi di balai desa setempat, Senin (19/2/2018). Warga menutut agar pihak kepala menyampaikan ke PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) untuk ganti rugi tanaman dan mencabut ijin HO (gangguan).

Puluhan warga tiba di depan Balai Desa Lakardowo dengan membawa spanduk berupa tuntutan. Yakni TOLAK !!! PERLUASAN LAHAN PT PRIA, ganti rugi dampak kerusakan akibat aktifitas PT PRIA, PAK KADES TOLONG !!? Perhatikan lahan pertanian kami yang gagal panen akibat aktivitas PT PRIA, Cabut Ijin !!! H,O (Gangguan) PT PRIA.

Salah sati warga, Sutama (41) mengatakan, warga datang dengan tiga tuntutan yakni perluasan lahan, ganti rugi kerusakan tanaman warna yang diduga karena pencemaran PT PRIA dan cabut izin HO. "Warga meminta kades agar mencabut izin HO karena setiap hari warga menghirup bau dan sesak," ungkapnya.

Masih kata Sutama, izin di KLHK awal hanya 3 hektar, namun sekarang melebar 7 sampai 8 hektar tidak pernah sosialisasi dengan warga. Terkait ganti rugi tanaman yang rusak, lanjut Sutama, setiap warga minta sebesar Rp10 juta. Meski sudah disampaikan ke PT PRIA namun belum ada kejelasan.

"Tanggal 23 Januari lalu sudah mediasi di balai desa dengan pihak PT PRIA, tapi tidak memberikan jawaban ganti rugi sampai sekarang. Alasan nunggu penelitihan dari PT PRIA, warga minta 1 orang Rp10 juta, ada 20 warga. Sebelum ada pabrik tidak pernah gagal panen, tiga tahun ini yang parah," katanya.

Menurutnya, hingga kini dampak dari limbah PT PRIA membuat kulit gatal dan bau. Sutama menambahkan, jika bau tersebut tidak mengenal musim. Namun mengikuti arah angin sehingga saar musim hujan maupun musim kemarau, limbah PT PRIA tercium warga.

Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Lakardowo, Utomo mengatakan, jika semua aspirasi warga ditampung dan diterima. "Kami akan sampaikan le pihak perusahaan PT PRIA terkait tuntutan warga ini, saya minta secara tertulis apa permintaan warga dan akan segera disampaikan," pungkasnya.(Reporter : Misti P.-Beritajatim.com/jko)
19 February 2018
Truk Muatan Gabah Nyungsep di Kebun Kandat Kediri, Seperti Ini Nasib Pengemudinya
Sebuah truk engkel Nopol AE 9031 UJ, terguling di kebun kosong Jalan Raya Desa Blabak, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, Senin (19/2/2018).

Kecelakaan tunggal itu dikarenakan sopir truk, Nurdianto (32) warga Desa Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro tersebut mengemudi dalam kondisi mengantuk.

Saat itu, kendaraan truk bermuatan gabah (padi) dari Kabupaten Ngawi hendak menuju Kecamatan Wlingi Kabupaten Blitar.
 

Truk melaju dalam kecepatan sedang dari arah utara (Kediri) menuju selatan (Blitar) melalui jalan raya Kandat.

Tiba-tiba, kemudi truk berbelok keluar jalur hingga terguling ke arah kiri.

Pengemudi truk itu dalam kondisi sadar keluar dari pintu sebelah kiri.

"Pengemudi truk mengalami luka ringan," tutur Kasi Humas Polsek Kandat, Bripka Sugianto.

Sugianto memaparkan pihaknya bersama Unit Laka Lantas Polres Kediri tengah mengevakuasi truk tersebut.

"Kondisi truk berada di luar jalan, jadi tidak menyebabkan macet," imbuhnya.(Penulis: Mohammad Romadoni-Surya.co.id/jko)

 

19 February 2018
Sesosok Mayat Bayi Laki-laki Ditemukan Hanyut di Sungai Brantas
Sesosok mayat bayi kembali ditemukan warga di Kota Malang. Kali ini, seorang pemulung menemukan sosok bayi mengapung di aliran Sungai Brantas. Tepatnya di Jalan Jodipan Wetan Gang I, Blimbing, Kota Malang.

Bayi berjenis kelamin laki-laki ditemukan, Senin (19/2/2018) pagi, yang kemudian dilaporkan kepada warga dan polisi. Evakuasi selanjutnya dilakukan. Lokasi penemuan berdekatan dengan pemukiman padat penduduk, mengundang perhatian warga.

Mereka berdatangan menuju lokasi evakuasi bayi ditemukan dalam kondisi sudah meninggal itu. Dari penyelidikan sementara, bayi diperkirakan berusia 9 bulan dan diduga hanyut di aliran sungai.

"Pemulung yang pertama menemukan, saat mencari sampah plastik di pinggir sungai. Tahu ada bayi, kemudian dilaporkan kepada warga dan diteruskan ke polisi," terang Rifa'i (40), seorang warga kepada wartawan di lokasi, Senin siang.

Guna proses penyelidikan, jasad bayi malang itu dibawa ke kamar jenazah Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang. Warga sekitar mengaku, tak mengenal atau mengetahui siapa orang tua dari bayi tersebut.

"Kemungkinan hanyut di aliran sungai," tegas Rifa'i.(Muhammad Aminudin - detikNews/jko)
Page 3 of 763      < 1 2 3 4 5 >  Last ›