Lintas Jawa Timur

05 June 2018
Inilah Cara Unik PT KAI Kepada Pemudik Saat Ramadan
Mudik dihari puasa, kini tak perlu resah PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan sediakan  pembagian takjil, buka puasa, dan sahur gratis bagi para penumpang kereta api, mulai Selasa (5/6/2018).

Kabar ini disampaikan Manager Humas PT KAI Daop 8 Surabaya, Gatut Sutiyatmoko, "Arus mudik sudah terlihat di beberapa stasiun keberangkatan KA. Salah satu bentuk penghargaan kepada masyarakat yang telah memilih kereta api, sebagai moda transportasi mudiknya dan wujud semangat berbagi, PT KAI mengadakan program pembagian takjil, buka puasa, dan sahur gratis," kata Gatut.

Program bertajuk “Perjalanan Menuju Berkah” ini mulai dilakukan besok Selasa (5/6) atau H-10 sampai nanti 14 Juni (H-1). Akan ada 60.700 paket takjil gratis akan diberikan PT KAI kepada penumpang KA di stasiun keberangkatan yang telah melakukan boarding dan memasuki area zona 1 di stasiun keberangkatan.

"Takjil gratis ini akan dibagikan pada saat menjelang berbuka puasa antara pukul 17.00-18.30 WIB. Sementara untuk pembagian buka puasa dan sahur gratis, PT KAI akan menyiapkan kurang lebih 85.206 box makanan per hari yang akan dibagikan ke penumpang (kecuali penumpang infant) yang pada saat waktu berbuka/sahur," jelasnya.

Gatut menambahkan menu yang disiapkan PT KAI untuk buka puasa dan sahur nantinya cukup variatif. Ada nasi goreng, ayam goreng, nugget, nasi lemak, dan sebagainya. Makanan yang disediakan pun terjamin kebersihan dan kesehatannya karena dimasak hari itu juga.

Selain ingin menyemarakkan Ramadan, program Perjalanan Menuju Berkah juga dirancang untuk menyebarkan semangat berbagi kepada para pengguna jasa setia kereta api.

"Dengan adanya program ini, penumpang yang masuk KA dalam waktu berbuka puasa atau sahur tidak perlu repot menyiapkan bekal karena kebutuhan makan berbuka dan sahurnya telah disediakan oleh PT KAI," tambah Gatut.(Wahyu Hestiningdiah-Beritajatim.com/jko)
05 June 2018
 Jelang Lebaran, Segini Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Tanjung Anyar Kota Mojokerto

Wakil Wali Kota Mojokerto Suyitno bersama Tim Satgas Pangan dari Dinas Kesehatan, Polresta Mojokerto dan Kejaksaan Negeri Mojokerto melakukan sidak harga bahan pokok di pasar tradisional Tanjung Anyar Kota Mojokerto, Selasa (5/6/2018).

Kegiatan sidak kali ini yakni untuk memastikan harga bahan kebutuhan pokok  di pasar-pasar tradisional menjelang lebaran.

"Harga bahan kebutuhan pokok menjelang lebaran relatif stabil. Meski ada sejumlah kenaikan harga itupun nominalnya hanya sedikit," ungkapnya.
 

Adapun bahan kebutuhan pokok di Pasar Mojokerto terkini mulai dari harga daging sapi tetap berharga Rp 120.000.

Daging ayam harga Rp 30.000 naik Rp 35.000. Telur Rp 24.000 cenderung turun harga Rp 1.000.

Bumbu dapur meliputi bawang putih tidak mengalami kenaikan Rp 20.000, justru harga
Bawang Merah turun Rp1.000 menjadi Rp 24.000.

Cabai kecil Rp 27.000 naik Rp 1.000, cabai besar berharga Rp 27.000 turun Rp 3.000.
 

Suyitno menjelaskan nantinya temuan di lapangan ini akan melakukan pengkajian bersama Tim Satgas Pangan untuk menentukan langkah lebih lanjut.

"Belum ada rencana menggelar operasi pasar lantaran harga masih stabil," katanya.

Imron (43) pedagang daging mengatakan lebih dari dua pekan ini harga daging sapi tidak mengalami kenaikan harga.

"Harganya sama seperti kemarin tidak ada kenaikan," ungkapnya.

Warga Suronatan Kecamatan Magersari Kota Mojokerto ini mengatakan ketersediaan stok daging sapi masih cukup hingga lebaran.

"Diperkirakan harga daging sapi akan tetap sama sampai lebaran," pungkasnya.(Mohammad Romadoni-Surya.co.id/jko)




 

 



 

05 June 2018
Separuh Penghuni Lapas Kediri Tak Bisa Mencoblos, Ada Apa?
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kediri mengadakan sosialisasi Pemilihan Gubernur Jawa Timur dan Pilihan Walikota Kediri tahun 2018 terhadap ratusan tahanan dan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II A Kota Kediri. Sosialisasi ini untuk menekan tingkat golongan putih (golput) dalam pencoblosan pada 27 Juni 2018 mendatang.

Purporini Endah Palupi, Komioner KPU Kota Kediri mengatakan, dari sekitar 900 penghuni Lapas, hanya 376 orang yang memiliki hak pilih dalam Pilkada serentak 2018. Jumlah tersebut terdiri dari warga binaan dan juga para pegawai Lapas.

"Untuk TPS yang ada di Lapas bukan merupakan TPS khusus tetapi bagian dari TPS di Mojoroto. Kami berharap nantinya ada surat edaran dari Kementrian hukum dan HAM agar para penghuni lapas yang tidak masuk DPT tetap bisa mencoblos," kata Purporini.

Minimnya tingkat kepesertaan pemilih di Lapas ini karena terkendala aturan. Banyak narapidana maupun tahanan yang tidak mengantongi KTP Elektronik. Praktis separoh lebih warga binaan yang ada di balik jeruji besi berpeluang golput.

"Kita berharap nantinya ada kebijakan dari kementrian hukum dan HAM, sehingga dengan teknis ada surat dari Kalapas menyatakan bahwa mereka berdomisili di Lapas Kelas II A Kediri," pintanya.

Saiful Rohman, juru bicara Lapas Kelas II A Kediri mengatakan, semula jumlah penghuni lapas yang diajukan ke Dispendukcapil diatas 800 orang. Kemudian setelah diverifikasi hanya 376orang yang masuk DPT.

Pihaknya juga berharap agar keluarga warga binaan juga mengurus formulir A5 untuk melakukan pemilihan di Lapas.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
05 June 2018
Deradikalisasi, BNPT Dipersilahkan Masuk ke Kampus Universitas Brawijaya Paham radikalisme yang berafiliasi pada gerakan terorisme, dan menghalalkan aksi kekerasan terhadap simbol-simbol negara, diduga juga merambah ke dalam Kampus Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Dugaan masuknya paham radikalisme di kalangan mahasiswa UB tersebut, juga diakui oleh Rektor UB Malang, M. Bisri. Bahkan, dia menyebutkan, adanya penyebaran paham radikalisme di kalangan mahasiswa UB, sudah terjadi sejak  1980-an, utamanya saat terjadi aksi pengeboman Candi Borobudur.

Sayangnya, pergerakan penyebaran paham radikalisme sulit dideteksi di dalam kampus. "Dibutuhkan peran dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) untuk masuk ke kampus," ungkapnya, Selasa (5/6/2018).

Baginya, BNPT memiliki kemampuan untuk mendeteksi pergerakan kelompok radikal  sehingga bisa melakukan langkah preventif sebelum kelompok ini melakukan tindakan melawan hukum.

Selain itu, juga bisa dilakukan upaya deradikalisasi di dalam kampus, utamanya untuk mereka yang sudah terlanjut terpapar paham radikal tersebut.

Pada era 1980-an, menurut Bisri, salah satu temannya dari jurusan teknik elektro, sudah terlibat dalam jaringan kelompok terorisme yang melakukan aksi pengeboman Candi Borobudur.

Hal ini membuktikan, radikalisme sudah ada sejak lama di dalam kampus UB.Melihat kenyataan itu, dia menegaskan, harus segera ada tindakan yang bisa menghentikan penyebaran paham radikalisme di dalam kampus.

Kapolres Malang Kota, AKBP Asfuri mengajak seluruh masyarakat ikut mewaspadai penyebaran gerakan radikal di lingkungannya masing-masing.

"Kami juga terus melakukan upaya preventif, dengan  berdialog bersama masyarakat," ungkapanya.Salah satu langkah preventif yang dilakukan Polres Malang Kota, adalah dengan melaksanakan program polisi cinta tempat ibadah.

Polisi datang ke tempat-tempat ibadah, dan melakukan dialog langsung dengan masyarakat, untuk mencegah penyebaran paham radikalisme, dan tindak kejahatan lainnya.

Selain itu, dia juga mengatakan, telah membangun kerjasama dengan perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan, serta forum pimpinan daerah.(Yuswantoro-Sindonews.com/jko)
05 June 2018
Tega, Seorang Ibu di Blitar Jadikan Anaknya PSK
Seorang ibu di Blitar tega menjadikan anaknya sebagai pekerja seks komersial (PSK). Alasan ekonomi membuat anak masih di bawah umur ini mematuhi perintah ibunya melayani lelaki hidung belang.

Kelakuan bejat sang ibu dilaporkan polisi oleh warga sekitar, yang tidak tega mengetahui sang anak diperlakukan seperti itu. Dia ditangkap polisi di depan Pasar Bangle Kecamatan Kanigoro, usai melakukan transaksi dengan pelanggan.

"Kami tangkap HPL (41), ibu kandung yang mengekploitasi anaknya sendiri pada Selasa (29/5) sekitar pukul 10.00 wib," jelas Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha kepada wartawan di mapolres, Selasa (5/6/2018).

Sang anak, diketahui baru berusia 15 tahun. Pelajar SMP di Kabupaten Blitar. Mereka merupakan warga Kecamatan Kanigoro.

"Dalam penangkapan itu, kami amankan juga barang bukti dari pelaku. Berupa uang Rp 300 ribu dan satu unit HP merk VIVO warna cream, yang dipakai komunikasi saat transaksi prostitusi terjadi," ungkap Anissullah.

Dalam pengakuannya ke polisi, HPL memperkerjakan anaknya sebagai PSK selama satu tahun. Setiap usai melayani pelanggan, anaknya mendapat bayaran Rp 100 ribu.

"Yang Rp 50 ribu dikasih saya, yang Rp 50 ribu dipegang anak saya," ucapnya.

Kini, HPL menjalani proses hukum. Dia terbukti melakukan tindak pidana mengekploitasi secara ekonomi anak kandungnya. Padahal UU No 23 tahun 2002 menyatakan, setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan eksploitasi secara ekonomi terhadap anak dan/atau memperniagakan perempuan yang belum dewasa.(Erliana Riady - detikNews/jko)
05 June 2018
Warga Puri Temukan Benda Kuno Diduga Peninggalan Majapahit
Warga Desa Tegalsari, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto menemukan benda yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit. Penemuan tersebut saat warga menggali tanah yang akan digunakan untuk resapan.

Penemu, Wahyudin mengatakan, ia akan membuat sumur resapan di depan rumahnya pada Kamis (31/5/2018) pekan lalu. "Saya menggali lubang di depan rumah untuk digunakan resapan air. Tapi kedalaman sekitar 3 meter, saya temukan benda aneh," ungkapnya, Selasa (5/6/2018).

Masih kata Wahyudin, setelah diangkat ke atas, benda berbentuk melingkar mirip guci besar tersebut diduga peninggalan Kerajaan Majapahit. Guci tersebut berwarna coklat dengan diameter sekitar 75 centimeter dengan ketinggian sekitar 50 sentimeter dan ketebalan sekitar 3 sentimeter.

"Ada 3 benda dengan ukuran berbeda-beda yang saya temukan saat menggali. Mungkin di dalam masih banyak karena saya juga temukan beberapa serpihan batu andesit yang mungkin juga masih manjadi satu rangkaian penemuan benda-benda purbakala itu," katanya.

Pasca penemuan benda yang diduga peninggalan Kerajaan Majapahit, Wahyudin langsung melaporkan ke pemerintah desa untuk selanjutnya dilaporkan kepada pihak yang bersangkutan.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
05 June 2018
 Jelang Lebaran, Polres Bojonegoro Siapkan 9 Pos Bagi Pemudik

Petugas kepolisian Polres Bojonegoro telah melakukan persiapan untuk mendirikan sejumlah pos mudik, jelang lebaran Idul Fitri 1439 H.

Setidaknya ada sembilan pos yang akan didirikan di wilayah hukum Polres setempat, yang dipersiapkan untuk pemudik.

Kapolres Bojonegoro, AKBP Ary Fadli mengatakan, saat ini sejumlah persiapan untuk mendirikan pos telah dilakukan.
 

Sembilan pos itu adalah 1 Pos Yan yang dipusatkan di Taman Rajekwesi, 3 Pos Pam yang berada di Baureno, Pos Lantas Jambean dan di Padangan.

Sedangkan untuk memantau arus lalu lintas, Polres Bojonegoro juga mendirikan 5 Pos Pantau yang berada di Mejuwet, Balenrejo, Proliman, Terminal Rajekwesi dan Stasiun Kereta Api Bojonegoro.

"Jadi kita siapkan sembilan pos pada operasi ketupat 2018, semoga bisa bermanfaat bagi pemudik," ujar Ary Fadli kepada wartawan saat meninjau lokasi pos, Senin (4/6/2018).

Perwira berpangkat dua melati di pundak itu menjelaskan, dengan didirikannya pos mudik tersebut, maka diharapkan bagi masyarakat urban yang pulang kampung bisa memanfaatkannya.

Misal, dalam perjalanan capek atau ngantuk, maka silahkan gunakan pos untuk beristirahat sambil mengembalikan stamina. Setelah itu, perjalanan silahkan dilanjutkan.

"Ya harapannya nanti jika pos sudah jadi, maka bisa dimanfaatkan pemudik, kita akan terus pantau agar segera siap sembilan posnya," pungkasnya.

Perwira menengah itu menambahkan, selain menyiapkannya sembilan pos mudik, Polres Bojonegoro juga mendirikan 2 Pos Cek Point yang berada di Dengok dan Bayeman.

Hal itu untuk mengetahui jumlah kendaraan yang keluar maupun masuk di wilayah Kabupaten Bojonegoro.

"Kita ada pos cek point juga, untuk memantau volume kendaraan," tutup Kapolres.(M.Sudarsono-Surya.co.id/jko)



 

 



 

 
04 June 2018
 Bocah Lamongan Ketakutan Lihat 2 Temannya Tenggelam di Bengawan Solo : Berawal dari Memancing

Dua siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Centini Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, tenggelam di Bengawan Solo lantaran terpeleset saat memancing di Bendung Gerak Babat, Senin (4/6/2018).

Dua korban yang tenggalam itu bersama Muhammad Najid (10) dan Abdul Kohar (9).

Awalnya, Najid dan Kohar, bersama rekannya yang lain Huda (9) berjalan-jalan menuju bendung gerak yang tak jauh dari rumahnya.
 

"Pagi tadi, saya sama Najid dan Kohar ke bendungan itu, hendak memancing," aku Huda kepada SURYA.co.id, Senin (4/6/2018).

Menurut Huda mereka ke bendungan sekitar pukul 06.30 WIB dengan berjalan kaki sembari menenteng alat pancing.

Pagi itu memang belum ada orang selain mancing, kecuali hanya mereka bertiga.

Saat berjalan menuju bendung gerak melintasi tanggul Bengawan Solo, Huda dan kedua korban berjalan beriringan.
 

Tak lama kemudian, Najid melempar pancing mengarah ke tengah Sungai Bengawan Solo.

Ternyata saat melemparkan pancing itu, kaki korban terpeleset dan jatuh ke sungai, sekitar 100 meter dari bandung gerak.

Huda menyaksikan bagaimana temannya itu terpeleset hingga tergelincir.

Kohar yang bersebelahan tak jauh dari posisi korban bergerak, reflek berteriak sembari berusaha menyelamatkan korban.

Nahas, Kohar juga terpeleset sebelum berhasil meraih salah satu anggota badan korban Najid.

Kedua korban pun tenggelam ke dalam sungai, dan tak muncul lagi ke permukaan.

Huda ketakutan melihat insiden yang dialami dua temannya itu.

Huda tak berani menolong korban.

Ia kemudian memilih lari pulang ke rumah dan menceritakan peristiwa itu pada warga di sekitar rumahnya.

Kejadian ini kemudian dilaporkan ke desa.
 

BPBD Lamongan bersama kepolisian dibantu warga langsung melakukan pencarian di TKP hingga radius ratusan meter dari titik korban pertama tenggelam.

Hingga berita ini dikirim kedua korban belum ditemukan.

"Kita gabungan, BPBD Tuban dan BPBD Lamongan," kata Muslimin, petugas BPBD Lamongan di TKP.(Hanif Manshuri-Surya.co.id/jko)



 

 



 

 
04 June 2018
Angka Kriminalitas Turun, Ini Apresiasi Bupati untuk Kapolres Blitar
Bupati Blitar Rijanto memberikan penghargaan kepada Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha. Penghargaan diberikan sebagai apresiasi Pemkab Blitar atas kinerja Polres Blitar menurunkan angka tindak kriminal.

Bupati memberikan penghargaan ke Kapolres Blitar saat Polres Blitar merilis hasil operasi pekat di Mapolres Blitar. Operasi Pekat digelar Polres Blitar selama 10 hari. Hasilnya, bisa mengungkap 324 kasus dan menetapkan tersangka sebanyak 368 orang.

"Saya mengapresiasi kinerja pihak kepolisian selama ini. Hasil operasinya hari ini sangat banyak. Namun kita harus tetap bersinergi, terutama tindakan preventif agar angka kriminalitas di Kabupaten Blitar semakin menurun," kata Bupati Rijanto di Mapolres Blitar, Senin (4/6/2018).

324 Kasus yang diungkap terdiri dari 6 kasus peredaran narkoba, 221 kasus premanisme, 4 kasus prostitusi, 8 kasus perjudian dan 85 kasus peredaran miras ilegal.

Dari 324 kasus yang diungkap, polisi menetapkan 368 tersangka. Yakni sebanyak 35 tersangka yang menjalani penyidikan diantaranya 12 tersangka perjudian, 4 tersangka kasus prostitusi, dan 4 tersangka kasus peredaran miras.

Selain itu juga ada 9 tersangka kasus premanisme, dan 6 tersangka kasus narkoba. Sementara sisanya, 333 tersangka hanya diberikan sanksi tipiring dan pembinaan.

Anissullah berharap operasi yang digelar mulai 21 Mei sampai 1 Juni ini bisa menurunkan tindak kriminalitas di masyarakat.

"Kami melihat peredaran miras di Blitar masih cukup tinggi. Untuk itu kami sangat membutuhkan sinergitas dari berbagai pihak, seperti yang disampaikan bapak bupati tadi untuk memberantas peredaran miras dengan berbagai tindakan preventif," kata Anissullah.

Peredaran miras yang tinggi, menurut Anissullah, akan berdampak pada tindak kriminal lainnya. Karena sebagian besar pelaku tindak kriminal melakukan kejahatan dibawah pengaruh minuman keras.(Erliana Riady - detikNews/jko)
04 June 2018
Satreskrim Polres Tulungagung Tangkap 3 Pelaku Penjual Serbuk Petasan
Satuan Reserse Kriminal Polres Tulungagung berhasil menangkap 3 pelaku penjual bahan serbuk peledak petasan. Dari tangan pelaku, polisi mengamankan belasan kilogram serbuk petasan.
Unit Pidana Khusus Satuan Reserse Kriminal Polres Tulungagung berhasil menangkap tiga orang, yang akan menjual serbuk bahan petasan di wilayah Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung. Ketiga pelaku adalah AMR (20), VNF (21) keduanya warga Desa Gilang Kecamatan Ngunut dan MS (32) warga Sukorejo Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar.
 
Kedua pelaku AMR dan VNF ditangkap polisi saat akan menjual bahan peledak jenis mesiu tersebut. Dari hasil pengembangan polisi kembali berhasil menangkap MS warga Udanawu Blitar.
 
Kapolres Tulungagung, AKBP Tofik Sukendar mengatakan, rencananya bahan peledak jenis mesiu ini akan dijualbelikan dan kemudian dijadikan mercon atau petasan.
 
"Dari tangan dua pelaku polisi mengamankan 5 kg serbuk mesui, kemudain dari hasil pengembangan polisi kembali mengamankan 12,5 kg, serta 71 biji sumbu petasan," kata AKBP Tofik Sukendar , Kapolres Tulungagung.
 
Kini ketiga pelaku diamankan di Mapolres Tulungagung, guna proses hukum lebih lanjut. Akibat perbuatannya, pelaku dijerat pasal 1 ayat satu dan 3, undang-undang darurat tahun 1951 dengan ancaman 20 tahun penjara.(Agus Bondan, Muhammad Imron Danu-Pojokpitu.com/jko)
Page 3 of 785      < 1 2 3 4 5 >  Last ›