Lintas Jawa Timur

17 April 2018
Kecelakaan Frontal 4 Kendaraan di Ngawi Akibatkan 11 Orang Luka
Kecelakaan frontal melibatkan 4 kendaraan di Ngawi mengakibatkan 11 orang terluka. Seluruh korban luka merupakan penumpang bus dan Toyota Innova.

"Seluruh korban sudah dibawa ke RS At-Tiin Ngawi," kata Kapolres Ngawi AKPB Pranatal Hutajulu, saat dihubungi detikcom melalui telepon, Selasa (17/4/2018).

Menurut Kapolres, kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya Ngawi-Solo km 8-9, Desa Soko Kawu, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi, itu terjadi pukul 12.30 WIB. akibat bus yang hendak mendahului kendaraan di depannya.

Beruntung, seluruh korban tidak mmengalami luka berat. Mereka rata-rata mengalami luka lecet di tubuh dan benturan di kepala.

Kecelakaan frontal di Jalan Raya Ngawi melibatkan 4 kendaraan. Keempat kendaraan itu yakni Bus Mira Nopol S 7526 US, Bus Eka Nopol S 7523 US, Bus Sumber Selamat Nopol W 7184 UY dan Toyota Innova Nopol N 19 DP.

Sementara itu, polisi hingga saat ini masih di lokasi kecelakaan untuk melakukan olah TKP. Untuk kendaraan yang dievakuasi baru Bus Mira dan Toyota Innova. Sedangkan posisi Bus Eka Dan Sumber Selamat masih berada di sawah.(Sugeng Harianto - detikNews/jko)
17 April 2018
Jembatan Babat Widang Ambrol, Beberapa Kendaraan Terjun ke Sungai
Jembatan nasional yang menghubungkan dua kabupaten yakni Lamongan-Tuban, tepatnya di jalur Babat-Widang, ambrol. Diduga ada korban jiwa.

"Iya jembatannya ambrol. Kejadian sekitar 10.45 WIB," kata anggota Satlantas Polsek Babat, Bripka Purnomo saat dihubungi detikcom, Selasa (17/4/2018).

Ambrolnya jembatan ini juga menyebabkan sejumlah kendaraan bermotor yang kebetulan berada di atas jembatan ikut terjatuh ke Bengawan Solo.

Dia menjelaskan, pihaknya belum mengetahui ada berapa kendaraan yang jatuh ke sungai. "Sepertinya ada korban jiwa, tapi belum bisa kita pastikan," tambahnya.

Dari pantauan detikcom panjang jembatan tersebut sekitar 15-20 meter. Sedangkan lebar jembatan yang ambrol sekitar 8 meter. Warga dan pengguna jalan tampak berjubel di lokasi.(Fatichatun Nadhiroh - detikNews/jko)
17 April 2018
Razia Lapas, Petugas Hanya Temukan Sajam dan Korek Api
Ratusan petugas lembaga pemasyarakatan kelas 2 dua kota Mojokerto, menggelar razia di dalam beberapa blok kamar Lapas setempat Senin malam. Hasilnya, petugas hanya menemukan sejumlah senjata tajam dan puluhan korek api hingga alat masak lengkap bersama dengan bumbu dapur.

Tak hanya pakaian yang melekat pada tahanan, petugas juga memeriksa seluruh badan hingga mulut para tahanan. Selanjutnya penggeledahan dilakukan di dalam kamar narapidana. Seluruh barang kamar dan barang tidak luput dari pemeriksaan petugas lapas.

Meski jumlah petugas cukup banyak, anehnya dalam pemeriksaan dan penggeledahan di dalam beberapa blok kamar, petugas hanya menemukan sejumlah senjata tajam, puluhan korek api hingga alat memasak dan bumbu dapur. Dengan tidak ditemukannya narkoba, petugas menyangkal ada rekayasa dalam razia tersebut.

Menurut M Hanafi, Kepala Lapas Kelas 2B Kota Mojokerto, razia ini digelar serentak di seluruh Indonesia. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar petugas dan penghuni Lapas terhindar dari peredaran narkoba serta dalam rangka hari bakti lembaga pemasyarakatan.(Aminuddin Ilham-Pojokpitu.com/jko)
17 April 2018
Cari TKW Hilang, Disnaker Malang Surati Kemenlu
Guna melacak keberadaan pekerja migran Indonesia (PMI) atau TKW yang hilang kontak di Taiwan selama 18 tahun, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, mulai memgirim surat ke Direktorat Perlindungan dan BHI Kemenlu RI. Hal itu terkait hilangnya Juariyah (45), TKW asal Dusun Sidomukti, Desa Ringinsari, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang.

Kepala Bidang Penempatan PMI dari Disnaker Kabupaten Malang, Achmad Junaidi mengatakan, pihaknya segera berkirim surat ke Direktorat Perlindungan dan BHI Kemenlu RI di Jakarta. Itupun harus ada dukungan surat  pengaduan keluarga dan juga diketahui Pemerintah Desa (Pemdes) setempat.

“Laporan itu sebagai bahan acuhan kami ke kantor  Direktorat Perlindungan dan BHI Kemenlu RI di Jakarta. Selanjutnya juga harus dilengkapi bukti-bukti, seperti kronologis  termasuk PPTKIS yang memberangkatkan,” beber Junaidi Selasa (17/4/2018).

Sementara itu, Holili (49) kakak kandung Juariyah menjelaskan, adiknya berangkat pertama kali ke Taiwan pada tahun 1999 lalu. Selanjutnya pada tahun 2000, Juariyah yang sudah dikaruniai satu anak bernama Soleh ini ambil cuti selama satu bulan sebelum akhirnya kembali lagi ke Taiwan.

"Pada tahun 2001, Juariyah kirim surat. Selanjutnya sekitar tahun 2002 juga sempat kirim uang sebesar Rp 10 juta untuk beli sepeda motor anaknya. Setelah itu hilang kontak, sampai sekarang tak pernah komunikasi lagi,” ujar Holili dengan wajah cemas.

Informasi sebelumnya, Juariyah pamit bekerja di Taiwan melalui salah seorang petugas lapangan Perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) dan selanjutnya disalurkan ke PT.Bumen Jaya di Jakarta. Ketika berangkat, usia Juariyah masih 27 tahun.

Juariyah menikah dengan Juhari dengan satu anak bernama Soleh yang kala itu masih usia 10 tahun, namun mereka bercerai. Selanjutnya menikah lagi dengan laki-laki lain yang masih bertetangga. Kini, Soleh anak kandung Juariyah sudah berusia 28 tahun. Kepulangan Juariyah sangat dirindukan Soleh yang kini sudah menikah dan dikaruniai satu anak. Sedang Satirah (68) ibu kandung Juariyah juga dalam kondisi sakit setelah Kamaluddin (70) ayah kandung Juariyah, meninggal dunia beberapa pekan lalu.(Brama Yoga Kiswara-Beritajatim.com/jko)
17 April 2018
Pelantikan Pejabat oleh Plt Bupati Bermasalah
Pelantikan sejumlah pejabat yang dilakukan oleh Plt Bupati Nganjuk jelang 3 hari masa pensiun menyisakan sejumlah persoalan. Pelantikan Sekda dinilai cacat hukum dan terkesan dipaksakan, sebab pelantikan tidak ada rekom dari Gubernur Jawa Timur.

Pelantikan sejumlah pejabat di Nganjuk, yang dilakukan oleh Plt Bupati Nganjuk, Abdul Wahid Badrus, menimbulkan sejumlah persoalan baru. Menurut pengamat hukum dari Universitas Semarang, Wahyu Djatmiko, pelantikan itu terkesan dipaksakan, sebab dilakukan selang tiga hari masa habis jabatan Plt Bupati.

Di samping itu juga pelantikan Sekda Nganjuk, Agus Subagyo, dinilai cacat hukum karena pelantikan Sekda tidak mendapatkan rekomendasi dari Gubernur Jawa Timur.

Di samping itu, umur dari Sekda tidak mencukupi dan Agus Subagyo juga belum mengikuti pelatihan kepemimpinan yang kedua bagi pejabat eselon dua, serta tidak pernah menjabat sebagai kepala dinas selama dua kali jabatan.

Ironisnya, dari tiga calon sekda, yang dijukan ke Gubernur Jatim semua ya tidak diberikan rekom, namun Pemerintah Nganjuk membawa satu nama calon sekda untuk dimintakan rekom kepada Kemendagri.

"Meski tak memenuhi syarat sebagai Sekda, namun tetap dilantik. Hal itu menyisakan pernyataan besar dan terindikasi adanya keterpihakan, dan kepentingan," ungkap Wahyu Djatmiko, pengamat hukum.

Sementara, menurut Kabag Humas Pemkab Nganjuk, Agus Iryanto, pelantikan itu dilakukan sudah prosedural, dengan meminta persetujuan Gubernur dan Kemendagri.

Bila nanti ditemukan adanya cacat hukum dalam pelantikan tersebut, diharapkan ada anulir atau penggagalan dalam pelantikan tersebut, dan dikembalikan pada posisi semula.(Achmad Syarwani-Pojokpitu.com/jko)
17 April 2018
ASN Ikut Kampanye, DPRD Minta Walikota Beri Sanksi Tegas
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Mojokerto meminta Walikota Mojokerto, Mas'ud Yunus untuk menindak tegas dan memberi hukuman yang sesuai terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang terlibat dalam kampanye Pemilihan Walikota (Pilwali) 2018.

Wakil DPRD Kota Mojokerto, Junaidi Malik mengatakan, pemerintah daerah harus tegas agar ASN bersikap netral dalam penyelenggaraan pilkada di daerah. "Semua tingkatan apalagi eselon 2 agar bersikap netral, tidak terlibat dalam kepentingan pemenangan salah satu paslon," ungkapnya, Selasa (17/4/2018).

Dengan adanya ketegasan dari pihak pemkot, lanjut Junaidi, ASN akan lebih fokus dengan tugas pokok masing-masing untuk memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Karena terkait kedisiplinan ASN, harapannya ASN agar tetap fokus pada pelayanan masarakat sesuai dengan bidangnya masing-masing.

"Pelayanan yang prima untuk semua golongan masarakat Kota Mojokerto, karena ASN adalah aparatur untuk pengabdian pelayanan kepada semua masarakat. Kalau ada ASN yang terlibat kepentingan pilkada, berarti dia mementingkan kelompok atau golongan tertentu," katanya.

Maka, tegas Junaidi, hal tersebut yang bisa melukai masarakat dan jelas indisipiner. Karena peraturan yang membahas soal kedisiplinan ASN sudah diatur tegas dalam undang-undang.

"Walikota harus melakukan pengawasan yang tegas dan punishment yang jelas sesuai peraturan perundangan-undangan dan PKPU, bagi ASN yang indispliner terkait kepentingan pilkada demi berlangsungnya demokrasi yang tertib, aman dan kondusif di Kota Mojokerto," tegasnya.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
17 April 2018
 Komunitas Tukar Pasangan Suami Istri Terungkap, Biasa Pesta Seks di Hotel di Malang dan Tretes

Perilaku seks menyimpang kini makin banyak ditemui dalam lingkungan masyarakat sekitar kita.

Salah satu temuan yang baru terungkap adalah keberadaan komunitas tukar pasangan yang anggotanya adalah para pasangan suami istri.

Anggota komunitas ini sengaja melakukan pertemuan dan pesta seks di waktu dan tempat yang ditentukan dengan saling bertukar pasangan.
 

Keberadaan komunitas bertukar pasangan seks ini terungkap saat polisi menggerebek acara pesta seks mereka di salah satu hotel di Lawang, kabupaten Malang, Minggu (15/4/2018).

Aktivitas pesta seks di hotel dibongkar Unit III Asusila Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim.

Saat digerebek, polisi mendapati tiga pasangan suami istri (pasutri) dengan yang sedang pesta seks dengan cara tukar pasangan.

Para pasutri yang digerebek polisi, yakni THD (53), warga asal Keputih, Sukolilo Surabaya, RL (49), SS (47), WH (51), DS (29) dan AG (30).

"Ketika kami gerebek, keadaan di sana mereka sudah bertelanjang bulat, sudah bertukar pasangan, bahkan ada yang lari ke kamar mandi, lalu kami amankan mereka semua beserta barang buktinya," uja Kasubdit 3 Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Yudhistira Midyahwan.

Kasus asusila ini terungkap bermula dari informasi masyarakat soal adanya aktivitas sosial yang menyimpang, yakni pesta seks berbertukar pasangan.

“Para pasutri ini diamankan atas aktivitas seks menyimpang."

"Mereka membuat grup dan berkomunikasi di grup media sosial (medsos) WhatsApp dan Twitter, saling bertukar pasangan dan diamankan di hotel di Malang,” sebut Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Frans Barung Mangera,  Senin (16/4/2018).

Komunitas Sparkling

THD ditetapkan tersangka atas kaus asusila pesta seks dengan cara tukar pasangan.

Warga Keputih, Sukolilo Surabaya ini merupakan inisiator dan pembuat grup WhatsApp yang beranggotakan komunitas pasutri yang punya fantasi tukar pasangan dalam berhubungan intim alias bercinta.

THD mengaku, dirinya sudah menjadi anggota komunitas sejak 2013 silam.

Dia juga yang membuat grup WA yang diberi nama Sparkling guna mewadahi komunitas supaya mudah berkomunikasi.

“Sudah sejak 2013 lalu, memang ada komunitasnya. Selain lewat WA, juga ada Twitter khusus swinger,” aku THD di Mapolda Jatim, Senin (16/3/2018).

Di hadapan polisi dan wartawan, THD mengaku, baru tiga kali melakukan pertemuan dan menggelar pesta seks.

Semua dilakukan di hotel dan tempatnya pindah-pindah.

Selain di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, juga pernah melakukan pertemuan di hotel kawasan Tretes, Prigen Pasuruan.

“Saat ketemuan tidak semua anggota grup ikut,” ucap THD.

Anggota komunitas ini, kata THD, berasal dari beberapa kota/kabupaten di Jatim.

Ada yang berasal dari Surabaya, Malang, Sidoarjo, Tuban dan lainnya.

Pertemuan dilakukan setelah ada kesepakatan.

Diberitakan sebelumnya, tiga pasutri digerebek saat menggelar pesat seks di sebuah hotel di Lawang, Malang.

Mereka digerebek tim Unit III Asusila Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim, Minggu (15/4/2018).

Awal Mula

Seks tidak lagi tabu untuk dibicarakan atau dilakukan oleh mereka yang belum punya ikatan resmi pernikahan.

Aktivitas seksual sebelum menikah sudah mewabah di khalayak umum, utamanya adalah kawula muda.

Bahkan kini muncul fenomena seks ramai-ramai alias berhubungan seks dengan cara bertukar pasangan.

Peristiwa ini baru saja dilakukan oleh warga Surabaya di sebuah hotel di Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.

Zaman sekarang sudah edan. Pergaulan kawula muda sudah kelewat batas.(Fatkhulalami-Suryamalang.com/jko)



 

 



 

 
16 April 2018
Sungguh Tidak Layak, Beras Seperti Ini Dibagikan ke Warga
Puluhan warga di Jombang menolak beras sejahtera yang diberikan oleh Perum Bulog Sub Divre Surabaya Selatan. Penolakan warga ini dipicu kuwalitas Rastra yang jelek dan tidak layak konsumsi.

Penolakan itu oleh ibu-ibu di Desa Pandawangi Kecamatan Diwek Jombang. Mereka berbondong membawa beras jatah dari Perum Bulog sambil berharap ditukar dengan lebih baik.
 
Sebab saat dibuka, karung beras bulog berisi 10 kilogram beras ini tampak beras menggumpal. Beras yang diberikan secara gratis ini dianggap tidak layak konsumsi.

Jumini salah satu warga yang menolak pemberian  beras  ini, dan mengaku sudah ketiga kalinya warga diberi beras berkuwalitas rendah. Selama ini warga tidak berani mengadu dan memilih melakukan penggilingan ulang. Namun, kali ini warga memprotes karena kuwalitas beras lebih buruk dan tidak layak konsumsi. "Warga berharap ada beras pengganti yang layak dan sehat untuk dikonsumsi," kata Jumini.
 
Sementara itu Hari Setyo  Utomo Kades Pandanwangi mengatakan, sudah meminta warga untuk mengembalikan seluruh beras tersebut. Dia akan mengajukan beras pengganti ke Perum Bulog yang menjadi penanggungjawab pengadaan beras.
 
Beras sejahtera yang dulu bernama beras miskin ini sejak tahun 2018 sudah diberikan secara cuma cuma pada warga. Beras sudah dibeli oleh pemerintah melalui anggaran APBN. Namun seringkali beras yang seharusnya bisa mensejahterakan warga miskin ini, berkualitas jelek.(Saiful Mualimin-Pojokpitu.com/jko)
16 April 2018
600 Hektar Lahan Sulit Air, Petani Mojokerto Swadaya Bangun Tanggul
Jebolnya tanggul sungai Watukucur mengakibatkan sekitar 600 hektar lahan pertanian di 8 desa di Mojokerto kesulitan air. Tak kunjung ada perhatian dari pemerintah, ratusan petani yang terdampak turun tangan memperbaiki tanggul secara swadaya.

Tanggul jebol ini tepatnya di tengah area persawahan Dusun/Desa Beloh, Trowulan, Mojokerto. Panjang tanggul yang jebol mencapai sekitar 30 meter.

Salah seorang petani Suprayitno (60) mengungkapkan tanggul sungai Watukucur ini jebol akibat tak mampu menahan debit air. Saat itu, curah hujan pada akhir Desember 2017 sedang tinggi-tingginya.

Aliran air dari Dam Candi Limo juga terpaksa ditutup di pintu air Paroh. Jika tidak, air akan meluber di tanggul sungai Watukucur yang jebol. Oleh sebab itu, pasokan air ke lahan pertanian 8 desa di Kecamatan Trowulan terputus.

"Luas lahan petani yang terdampak di delapan desa itu sekitar 600 hektar," katanya kepada wartawan di lokasi tanggul jebol, Senin (16/4/2018).

Wilayah terdampak jebolnya tanggul ini meliputi Desa Beloh, Temon, Trowulan, Jatipasar, Wonorejo, Kejagan, Tawangsari dan Balongwono. Lahan pertanian di 8 desa ini mengandalkan suplai air dari sungai Watukucur.

Putusnya pasokan air, lanjut Suprayitno, mengakibatkan ratusan petani gagal panen. Suprayitno pun merasakan sendiri dampak jebolnya tanggul tersebut. Hasil panen tanaman padi miliknya seluas 1 hektar di Desa Trowulan, anjlok hingga 75 persen. Kerugian yang dia tanggung mencapai Rp 3 juta. Padahal jika pasokan air cukup, rata-rata lahan miliknya menghasilkan 4 ton gabah dalam sekali panen.

"Awal April kemarin panen saya hanya dapat 5 kwintal (0,5 ton) gabah kering. Bulir padi tak ada isinya karena kekurangan air," ungkapnya.

Tak sampai di situ, lanjut Suprayitno, tak adanya pasokan air membuatnya tak berani bercocok tanam. Menurutnya, jika dipaksakan tanpa pasokan air, tanaman bakal mati kekeringan.

"Katanya pihak pengairan bulan 2 (Februari, red) diperbaiki, tapi sampai bulan ini tak ada kepastian, makanya kami perbaiki sendiri," cetusnya.

Hal senada dikatakan Ahmad Arifin, petani asal Desa Beloh. Ia juga tak berani menanami lahannya lantaran tak adanya suplai air. "Lahan saya seluas satu hektar kondisinya kering, belum bisa ditanami," jelasnya.

Tak sabar dengan janji manis pemerintah, menurut Arifin, para petani memutuskan memperbaiki tanggul yang jebol secara swadaya. Setiap petani dengan lahan 1.400 meter persegi dimintai sumbangan Rp 50 ribu.

Dana yang terkumpul, kata Suprayitno, digunakan untuk membeli dinding bambu, baliho bekas dan menyewa backhoe. Perbaikan tanggul secara swadaya oleh petani ini dimulai pagi tadi. "Ini murni dari petani, tak ada bantuan dari pemerintah atau pihak manapun," tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto Didik Pancaning Argo menjelaskan, sungai Watukucur menjadi kewenangan Dinas PU Sumber Daya Air Jatim.

Pemkab Mojokerto sebatas memberikan rekomendasi ke Pemprov Jatim. "Ini masuk bencana, harus ada surat keterangan kebencanaan dari BPBD Kabupaten Mojokerto. Surat sudah disampaikan ke provinsi," paparnya.

Terkait tak kunjung adanya perbaikan, tambah Didik, hanya persoalan waktu. Menurut Didik, Dinas PU Sumber Daya Air Jatim harus mengerjakan perbaikan di tempat lain.

"Harus bertahap, tak di situ saja. Kalau bencana mungkin dari hulu sampai hilir. Kepastiannya kapan saya tak tahu karena ini kewenangan provinsi," tandasnya.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
16 April 2018
 Penyelidikan Mahasiswa Hanyut saat Arung Jeram di Kandangan Diambilalih Polres Kediri

Penyelidikan kasus hanyutnya mahasiswa Himapala Universitas Nusantara PGRI (UNP) di Sungai Pait diambil alih Satreskrim Polres Kediri. Semula kasus ini ditangani oleh Polsek Kandangan.

Kasat Reskrim Polres Kediri, AKP Hanif Fatih Wicaksono, saat dikonfirmasi Surya menjelaskan, pihaknya masih memeriksa sejumlah saksi untuk dimintai keterangan.

Namun AKP Hanif masih belum dapat menyampaikan hasil pemeriksaannya. "Kami masih dalami," jelasnya, Senin (16/4/2018).
 

Diberitakan sebelumnya, musibah hanyutnya tiga mahasiswa UNP terjadi saat melakukan kegiatan arung jeram di Sungai Pait yang ada di Desa Mlancu, Kecamatan Kandaangan.

Dari tiga mahasiswa yang hanyut, satu ditemukan meninggal dunia Mufidatul Anisa (19) warga Loceret, Kabupaten Nganjuk dan dua dapat diselamatkan masing-masing, Munawaroh (19) warga Kras, Kabupaten Kediri dan Khusnul Solikah (19) warga Trenggalek.

Kedua korban yang sempat terbawa arus saat ini masih dirawat di RSUD Pare.(Didik Mashudi-Surya.co.id/jko)



 

 



 

 
Page 3 of 771      < 1 2 3 4 5 >  Last ›