Lintas Jawa Timur

15 February 2019
 Pengakuan Pria 26 Tahun yang Bercinta dengan Nenek 75 Tahun di Kediri, Lalu Membunuhnya Secara Sadis

Inilah pengakuan lengkap lelaki 26 tahun yang bercinta dengan nenek 75 tahun lalu membunuhnya. Peristiwa ini terjadi di salah satu kios Pasar Setono Betek pada 28 Januari 2019.

Adapun korban peristiwa ini adalah Sukinem alias Mbah Mentil. Usianya sudah 75 tahun dan sudah bertahun-tahun tinggal di kios Pasar Setono Betek, Kota Kediri.

Sementara, pelaku pembunuhan Mbah Mentil ada 2 orang, yakni Dedyk Asmawan alias Glowor (26) dan Ahmad Setiawan (25). Keduanya berasal dari Desa/Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.
 

Dalam pemeriksaan diketahui, Dedyk Asmawan dan Mbah Mentil sudah menjalin hubungan sejak 2013.

Perkenalan mereka berawal dari pertemuan yang terjadi di pasar tersebut lima tahun tersebut.

"Hubungan kami sudah sejak 2013, kami kenal karena sering bertemu di Pasar Setono Betek," kata Dedyk Asmawan, Kamis (14/2/2019).

Dari sanalah bibit asmara itu muncul. Dedyk kemudian sering menginap di kios Mbah Mentil.

Informasi yang dihimpun setiap bulan Dedyk bertemu Mbah Mentil tiga sampai empat kali. Tiap kali bertemu, mereka juga bercinta.

Hubungan asmara sejoli beda usia ini itu kemudian berakhir dengan sadis pada Senin (28/1/2019) dini hari.

Kala itu Dedyk tiba di kios Mbah Mentil dengan diantar Ahmad Setiawan menggunakan sepeda motor.

Sementara, Ahmad Setiawan merupakan orang yang mengantarkan pelaku ke kios korban di Pasar Setono Betek.

Setelah berdua dalam kios, Dedyk Asmawan bercinta dengan Nenek Mentil. Hasil visum juga ditemukan ceceran sperma pelaku di tubuh korban.

Namun setelah selesai berhubungan badan, pelaku kemudian mencekik leher korban serta membekap hidungnya dengan kerudung korban warna cokelat.
 

Pagi, 28 Januari 2019 penghuni pasar itupun geger.

Nenek Menthil ditemukan dengan kondisi mulut disumpal dan tangan terikat tali,

Selama ini korban yang dikenal sebagai pedagang barang bekas tinggal seorang diri di kios pasar.

Korban ditemukan meninggal dalam kondisi telentang di kasur tempat tinggalnya.

"Motif pembunuhan ini pelaku ingin memiliki perhiasan dan uang milik korban."

"Selain mengambil perhiasan, pelaku juga mengambil surat perhiasan," kata Kapolres Kediri AKBP Anthon Haryadi.

Anthon Haryadi menambahkan pelaku sudah mengetahui letak di mana korban biasa menyimpan perhiasan dan suratnya karena sering berada di sana.

Fakta-fakta

Berikut sejumlah fakta terkait kasus kejam yang menimpa nenek Sukinem ini.

1. Umur Keduanya Terpaut Jauh

Diketahui dari pihak Polres Kediri, kedua sejoli yang menjalin hubungan pacaran ini ternyata terpaut umur yang sangat jauh.

Sukinem alias Mbah Mentil adalah seorang nenek berusia 75 tahun.

Sedangkan sang kekasih yang bernama Dedyk Asmawan alias Glowor ini masih berusia 36 tahun.

Hubungan kekasih ini terjadi sejak tahun 2013 alias sudah 5 tahun.

Korban yang sudah lama tinggal di Pasar Setono Betek selama ini bisnis barang bekas di salah satu kios pasar. Pelaku selama ini dikenal para tetangga kiosnya sering datang menemui korban.

Dari hubungan itu, tersangka mendapatkan keuntungan materi karena dibelikan nasi, rokok serta uang saku.

2. Bercinta Sebelum Membunuh

Dari hasil pemeriksaan petugas dan hasil visum, terungkap sebelum pelaku utama Dedyk Asmawan membunuh Sukinem alias Mbah Mentil, ia terlebih dahulu menyetubuhinya.

Informasi yang dihimpun, pelaku masuk ke kios korban pada Senin (28/1/2019) dini hari.

Nenek Sukinem yang membukakan pintu. Untuk diketahui, selama ini pelaku menemui korban pada malam hari.

Sementara, Ahmad Setiawan merupakan orang yang mengantarkan pelaku ke kios korban di Pasar Setono Betek.

Setelah berdua dalam kios, Dedyk Asmawan bercinta dengan Nenek Mentil. Hasil visum juga ditemukan ceceran sperma pelaku di tubuh korban.

Namun setelah selesai berhubungan badan, pelaku kemudian mencekik leher korban serta membekap hidungnya dengan kerudung korban warna cokelat.

Akibat perbuatan pelaku, korban tewas dengan kondisi terlentang di kasur kiosnya.

3. Pelaku Juga Mengambil Harta Benda Korban
 

Setelah korban tidak sadarkan diri, pelaku mengambil perhiasan milik korban terdiri 2 buah gelang dan 2 buah cincin emas yang terpakai di tangan korban.

Pelaku juga mengambil surat perhiasan tersebut serta uang tunai Rp 1.600.000 yang diselipkan di stagen korban.

Selanjutnya korban ditutup dengan kain jarit dan tersangka pergi ke Alun-Alun Kota Kediri.

4. Pelaku Dibantu Temannya

Dua pelaku telah diamankan petugas masing-masing, Dedyk Asmawan alias Glowor (26) dan Ahmad Setiawan (25) keduanya warga Desa/Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri.

Aksi pelaku dibantu rekannya Ahmad Setiawan yang mengantarkan pelaku ke kios korban di Pasar Setono Betek.

"Motif pembunuhan ini pelaku ingin memiliki perhiasan dan uang milik korban. Selain mengambil perhiasan, pelaku juga mengambil surat perhiasan," kata Kapolres Kediri AKBP Anthon Haryadi.

Pelaku sudah mengetahui letak di mana korban biasa menyimpan perhiasan dan suratnya.

Karena pelaku setiap bulan ketemu korban tiga sampai empat kali.
 

5. Barang bukti

Kapolres Kediri AKBP Anthon Haryadi menjelaskan, kasus ini terungkap dari hasil pemeriksaan saksi dan penyelidikan petugas.

Dari keterangan saksi didapatkan informasi korban memiliki kekasih brondong.

Selanjutnya dilakukan pencarian terhadap pelaku di wilayah Pagu dan petugas menemukan tersangka.

Barang bukti yang diamankan petugas dari tangan tersangka terdiri 1 DVD merk Polytron beserta 2 buah speaker, 19 kaset, uang tunai Rp 17.000, sebuah sepeda motor Mio warna merah nopol AG-3125-JN beserta kuncinya

6. Terancam HUkuman seumur Hidup

Tersangka bakal dijerat dengan pasal pidana pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan korban meninggal dunia sebagaimana pasal 339 KUHP atau pasal 365 ayat (3) KUHP.(Didik Mashudi-Surya.co.id/jko)


 

14 February 2019
Percepat Pelayanan, Pemkab Trenggalek Terapkan Sertifikat Digital Elektronik
Masyarakat Kabupaten Trenggalek bakal semakin mudah dan cepat dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah. Sebab, Pemkab Trenggalek kini menerapkan sertifikat digital elektronik.

Plt. Kepala Dinas Kominfo Trenggalek, Drs. ST. Triadi Admono, M.Si mengatakan, penerapan sertifikat digital elektronik sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden RI mengenai Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government. Pemkabmenyiapkan sarana prasarana pendukung salah satunya terkait dengan penerapan tanda tangan elektronik.

“Tanda tangan memiliki konsekuensi dan pertanggungjawaban, sehingga diperlukan pemahaman yang sama mengenai Tanda Tangan Elektronik (TTE) ini, bagaimana yang sah dan diakui serta keamanan dari TTE tersebut seperti apa,” kata Triadi dalam kegiatan sosialisasi penerapan sertifikat digital elektronik, Kamis (14/2/2019).

Untuk memberikan pemahaman lebih, Pemkab Trenggalek menghadirkan Eko Yon Handri, S.ST, MM, Kasi Pemenuhan Teknis Sistem SrE Balai Sertifikasi Elektronik, tenaga ahli yang membidangi hal ini sebagai narasumber dalam sosialisasi.

Terpisah, Wakil Bupati Trenggalek, H. Mochammad Nur Arifin, menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya, memang sudah saatnya e-government ini dilakukan untuk mempermudah segalanya.

“Sudah saatnya memang kita tidak disibukkan oleh administrasi yang ribet. Perlu ada sistem yang mempermudah sehingga tugas kita lebih kepada bagaimana mengembangkan daerah ini, Camat sudah harus berfikir bagaimana mengajak investor kedaerahnya, kita punya lahan sekian dan potensi apa, bukannya malah disibukkan dengan administrasi surat menyurat,” tutur Arifin

Wabup termuda di tanah air ini menghimbau agar kegiatan ini tidak hanya sekedar dianggap sebagai sosialisasi saja, namun harus dilaksanakan. Karena menurut bapak tiga anak ini dengan menerapkan sistem transaksi elektronik ini akan menghemat banyak hal, utamanya biaya dan waktu.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
14 February 2019
 Anggaran Pilkada Serentak 2020 di Kota Blitar Diperkirakan Capai Rp 20 Miliar

Pemkot Blitar mulai membahas anggaran untuk pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020.

Anggaran yang dibutuhkan untuk menggelar Pilkada serentak 2020 di Kota Blitar diperkirakan mencapai Rp 20 miliar.

"Hari ini kami mengadakan rapat koordinasi persiapan penyelenggaraan Pilkada serentak 2020. Persiapannya dimulai tahun ini termasuk soal anggarannya," kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Penanggulangan Bencana Daerah (Bakesbangpol dan PBD) Kota Blitar, Hakim Sisworo, usai rakor di kantor Kesbangpol dan PBD Kota Blitar, Kamis (14/2/2019).
 

Hakim mengatakan pembahasan kebutuhan anggaran penyelenggaraan Pilkada serentak harus segera dibahas mulai sekarang.

Sebab, tahapan pelaksanaan Pilkada serentak akan dilakukan akhir 2019.

Menurutnya, kebutuhan anggaran Pilkada serentak di Kota Blitar mencapai Rp 20 miliar.

Sesuai rencana usulan alokasi anggaran untuk Pilkada serentak dilakukan dua tahap.

Yaitu, pada perubahan anggaran keuangan (PAK) APBD 2019 dan pada APBD 2020.

Anggaran 2019 digunakan untuk penyusunan aturan dan publikasi penyelenggaraan Pilkada serantak.

Sedangkan alokasi anggaran pada 2020 digunakan untuk persiapan pelaksanaan Pilkada serentak.

Mulai perekrutan anggota PPS, PPK dan KPPS.

"Anggaran paling banyak untuk perekrutan anggota PPS, PPK dan KPPS," ujar Hakim.

Ketua KPU Kota Blitar, Setyo Budiono, yang hadir dalam acara rakor mengatakan sesuai rencana Pilkada serentak akan dilaksanakan pada September 2020.

Sedangkan tahapan pelaksanaan Pilkada dimulai sembilan bulan sebelum pemungutan suara.
 

Berarti pada Januari 2020 harus sudah mulai dilakukan tahapan pelaksanaan Pilkada.

"Maka itu, hari ini dilakukan rapat koordinasi sinkronisasi anggaran penyelenggaraan Pilkada serentak 2020 di Kota Blitar," kata Setyo Budiono.(Samsul Hadi-Surya.co.id/jko)



 

 


 

 
14 February 2019
Gadis Mojokerto yang Tubuhnya Tulang Berbalut Kulit Derita Gizi Buruk
ubuh Mifta Romadloni (21), nyaris tinggal tulang berbalut kulit. Gadis asal Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Mojokerto ini didiagnosa mengalami gizi buruk.

2 Tahun belakangan, tubuh Mita--panggilan akrabnya, yang dulunya normal, menjadi semakin kurus. Berat badannya terus berkurang hingga nyaris tinggal kulit dan tulang.

Manajer Pelayanan Medis RSI Sakinah dr Roisul Umam mengatakan, gadis yang akrab disapa Mita ini rutin menjalani pengobatan di rumah sakit. Pengobatan Mita sebulan sekali kala itu terkait kondisi kejiwaannya yang terganggu.

Namun, pengobatan rutin Mita ke dokter spesialis kejiwaan di RSI Sakinah berakhir November 2018. Pengobatan anak pertama pasangan Poerdan Hariyono (54) dan almarhum Darwati itu dipindahkan ke RS Gatoel, Kota Mojokerto.

Pihaknya pun mengaku kaget saat melihat Mita dirujuk ke RSI Sakinah dalam kondisi sangat kurus, Selasa (12/2). Bahkan tubuhnya nyaris hanya tinggal tulang dan kulit.

"Dia pasien tetap kami hingga November 2018. Selama kontrol (kondisi kejiwaan) bagus (fisiknya). Baru kali ini harus opname," kata dr Umam kepada wartawan di kantornya, Jalan RA Basuni, Kecamatan Sooko, Mojokerto, Kamis (14/2/2019).

Selain mengalami gangguan kejiwaan, lanjut Umam, Mita saat ini menderita gizi buruk. Kini gadis 21 tahun itu ditangani dokter spesialis kejiwaan,penyakit dalam, rehabilitasi medis, serta ahli gizi.

"Yang jelas (penyebab tubuh kurus Mita) kekurangan gizi. Akibat pengaruh kejiwaan juga bisa. Secara medis bisa juga ada hubungannya dengan kelainan tulang punggung karena semua digerakkan dengan otak, termasuk nafsu makan," terangnya.

Saat pertama dirawat di RSI Sakinah, menurut Umam, Mita tidak mau makan apapun. Setelah 3 hari, kesehatannya membaik meski tubuhnya masih sangat kurus.

"Di sini ditangani ahli gizi, dikontrol setiap hari. Kondisi terkini sudah bagus, sudah mau makan, sudah bisa senyum dan mau ngomong," ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin menjelaskan, tubuh Mita nyaris tinggal tulang berbalut kulit akibat kekurangan gizi. Selama beberapa tahun terakhir, Mita hanya menjalani pengobatan terhadap kondisi kejiwaannya. Sehingga saat ini kejiwaan Mita cenderung stabil.

"Yang perlu kita pulihkan fisiknya. Riwayat orang tua, dalam tiga bulan terakhir kondisinya menurun karena makannya satu hari satu kali. Sehingga kekurangan asupan yang masuk ke dalam tubuhnya. Anaknya sendiri tidak mau konsisten makan tiga kali sehari," jelasnya usai membesuk Mita di ruang rawat inap Sunan Drajat 8, RSI Sakinah.

Untuk memulihkan kesehatan Mita, kata Didik, pihaknya telah berkoordinasi dengan BPJS Kesehatan Cabang Mojokerto dan RSI Sakinah. Dia menjamin Mita akan dirawat sampai kondisinya benar-benar pu(lih.

Tak hanya itu, pihaknya juga berkoordinasi dengan perangkat Desa Kupang untuk memperbaiki tempat tinggal Mita. "Kami bersama perangkat desa akan mengondisikan kebersihan kamarnya supaya pemulihan lebih cepat. Karena kondisinya (kamar Mita) perlu pembenahan," tandasnya.

Ayah kandung Mita, Poerdan Hariyono menyebut putri pertamanya itu mengalami gangguan kejiwaan sejak neneknya meninggal sekitar 8 tahun lalu. Mita juga ditinggal mati ibunya saat masih duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD). Sepeninggal neneknya, Mita tinggal bersama Poerdan dan ibu tirinya di Desa Kupang.

Belum sembuh dari gangguan kejiwaan, Mita didiagnosa mengalami kelainan tulang punggung pada tahun 2016. Pengobatan Mita terganjal terbatasnya biaya. Sang ayah hanya tukang permak jeans. Sehingga tak mampu membelikan alat bantu yang saat itu seharga Rp 4 juta. Seiring berjalannya waktu, Mita mengalami kelumpuhan.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)

 
14 February 2019
Pasien Demam Berdarah di Blitar Bertambah, Lima Meninggal
Jumlah pasien demam berdarah (DB) di Kabupaten Blitar, terus bertambah. Dinas kesehatan (Dinkes) mencatat, hingga hari ini ada 359 pasien, 5 orang meninggal.

Angka ini menjadikan Kabupaten Blitar menduduki peringkat kedua penderita DB terbanyak se Jawa Timur, setelah Kediri.

Kasi Pengendalian Pemberantasan Penyakit Masalah Kesehatan Dinkes Kabupaten Blitar Eko Wahyudi menyatakan, 5 orang meninggal berasal dari Kecamatan Sanankulon, Kademangan, Talun, Kanigoro dan Wates.
 
"Kemarin masih 354 pasien. Hari ini tambah lagi jadi 359 dengan 5 penderita meninggal dunia. Jumlah ini kedua terbanyak se-Jawa Timur setelah Kabupaten Kediri dengan jumlah kasus sekitar 416 penderita dan 12 penderita meninggal dunia," kata Eko dikonfirmasi detikcom, Kamis (14/2/2019).

Eko mengaku, berbagai upaya preventif telah dilakukan. Namun wabah DB sangat tergantung pada kebersihan lingkungan. Untuk itu, pemkab melalui dinkes menginstruksikan lintas sektor ditingkat kecamatan dan desa untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

"Kalau fogging kami lakukan ketika ada laporan, warga di wilayah tersebut terserang DB. Namun untuk getarakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) kami galakkan tiap hari Jumat," jelasnya.

Dinas kesehatan juga membagikan bubuk abate secara gratis melalui pamong desa. Namun tidak semua rumah memang diberikan bubuk abate ini.

"Kalau semua rumah, stok kami jelas kurang. Jadi hanya rumah yang penampungan airnya ada jentiknya saja yang kami beri," ungkap Eko.

Pekan lalu persediaan abate sempat mengalami kekosongan. Namun Dinkes Pemkab Blitar telah mengajukan kembali bantuan abate dari Pemprov Jatim.

"Alhamdulillah sudah datang abatenya. Ya langsung kami bagikan ke masyarakat. Saya minta, masyarakat jangan mengandalkan kami saja yang bergerak. Kesadaran pribadi menjaga kebersihan lingkungan, sangat besar pengaruhnya dalam memerangi nyamuk penyebab demam berdarah," pungkasnya.(Erliana Riady - detikNews/jko)
14 February 2019
Hebat! Perempuan Penjual Buah Apukat ini Kejar Pelaku Pencurian
Aksi heroik ditunjuk penjual buah apukat di Jalan Raya Jabon, Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Menggunakan sepeda motor, Ria Mayasari (28) mengejar dan mengamankan pelaku pencurian tas miliknya.

Saat itu, pelaku Muslikin Antoko (36) warga Dusun Balekambang RT 07 RW 04, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto berpura-pura membeli buah apukat yang dijual korban di atas kendaraan Tossa. Namun saat korban melayani pembeli lain, tas miliknya raib.

Tas cangklong berisikan uang tunai sebesar Rp2.102.000 dan satu buah cincin emas seharga Rp450 ribu yang ditaruh di bagian depan kendaraannya hilang. Korban yang sempat mengobrol dengan pelaku kemudian meminjam sepeda motor milik pembeli.

Menggunakan sepeda motor tersebut, korban mengejar pelaku. Pelaku tertangkap di depan SDN Sidomulyo Jalan Raya Sawahan, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto dengan bantuan warga setempat. Korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Mojoanyar.

Kapolsek Mojoanyar, AKP Adam mengatakan, aksi pencurian tersebut terjadi pada, Rabu (13/2/2019) sekira pukul 11.00 WIB. “Korban merupakan warga Dusun Jatisari RT 03 RW 01, Desa Sumberjati, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto,” ungkapnya, Kamis (14/2/2019).

Masih kata Kapolsek, barang bukti yang berhasil disita dari tangan pelaku berupa satu buah tas cangklong warna hitam yang berisikan uang tunai sebesar Rp2.102.000, satu buah cincin emas seharga Rp450 ribu dan satu unit sepeda motor Hilda Vario nopol S 4724 PU warna hitam.

“Pelaku dan barang bukti sudah diamankan di Mapolsek Mojoanyar guna penyelidikan lebih lanjut. Akibat kejadian ini, korban mengalami kerugian kurang lebih Rp2.552.000, sementara pelaku dijerat Pasal 362 KUHP tentang Pencurian,” terangnya.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
14 February 2019
 Update Kasus Pedofil di SDN Kauman 3 Kota Malang, Polisi Kumpulkan Bukti Baru

Polres Malang Kota bekerja keras untuk mendapatkan bukti kuat kasus pedofilia yang terjadi di SDN Kauman 3.

Bukti itu akan digunakan petugas untuk mengamankan IM, pelaku pedofilia.

Kasat Reskrim Polres Malang Kota AKP Komang Yogi Arya Wiguna mengatakan, saat ini polisi sedang mendalami pemeriksaan terhadap saksi korban.
 

Polisi juga telah melakukan visum terhadap korban.

Hasil visum nantinya akan menjadi barang bukti untuk menetapkan tersangka.

Di sisi lain, Komang menghimbau agar para orangtua yang keberatan melapor langsung ke polisi, bisa mengabari polisi.

“Kalau misalnya tidak ada pelaporan, kami kesulitannya menindaklanjuti meskipun saat ini sudah ada dua orang yang pelapor,” katanya.

Hal itu dilakukan kepolisian untuk bisa mendapatkan keterangan sebanyak-banyaknya.

Keterangan dari para orangtua walimurid yang menjadi korban akan membantu polisi untuk mengungkap kasus pedofilia.

“Pada prinsipnya untuk korban masih trauma, dan belum mau diperiksa. Sehingga kami menyampaikan kepada orangtua korban, agar kapan ada waktu untuk bisa diambil pemeriksaan. Kami juga tidak bisa memaksa untuk diperiksa. Jika tidak berkenan ke kantor, bisa jemput bola ke rumah. Tapi karena masih trauma, maka kami menunggu,” ungkap Komang.

Untuk menetapkan tersangka, ada beberapa langkah yang harus dilalui kepolisian.

Pertama adalah melakukan pemeriksaan terhadap korban, lalu mengarah ke saksi.

Kemudian mengetahui hasil visum dan mengarah ke terlapor.

“Kami ketahui dulu keadaan korbannya sehingga seperti itu faktanya. Bukan kami tidak mau melangkah ke terlapor, tapi harus ada alur yang kami lewati,” terangnya.

Sejauh ini jumlah pelapor sudah dua orang. Korban yang melapor juga didampingi orangtua.

Polisi juga akan bekerjasama dengan perwakilan dari Pemkot Malang agar bisa mendampingi korban ketika pemeriksaan.

Dari dua orang yang melapor, satu korban telah dilakukan visum di RS Saiful Anwar Kota Malang. Saat ini polisi tengah menunggu hasil visum meluar.

“Hasil visum nanti bisa mengarah ke terlapor. Kami tidak menampik kemungkinan ketika cukup alat bukti akan dinaikkan ke penyidikkan bahkan ke arah penetapan tersangka,” paparnya.

Di sisi lain, polisi juga mewanti-wanti, jika memang benar ada rapat internal membahas perilaku IM, tidak menutup kemungkinan sekolah dan komite sekolah turut diperiksa.
 

“Kami juga akan perdalam ke sekolah dan komite jika memang ada rapat internal sebelumnya yang membahas perilaku si pelaku ini, terkait dugaan pencabulannya. Tentu pihak sekolah akan kami mintai keterangan sebagai saksi. Yang jelas, adanya laporan menjadi pintu masuk pengusutan kasus ini,” tutup Komang.(Benni Indo-Surya.co.id/jko)


 

14 February 2019
Polisi Bidik Penyandang Dana Miras Maut Trenggalek
Tragedi pesta minuman keras (miras) yang berujung maut di Watulimo, Trenggalek berkaitan dengan Pilihan Kepala Desa Margomulyo. Pasalnya, uang untuk membeli miras palsu tersebut diduga berasal dari sumbangan calon kepala desa (cakades).

Hal itu dibenarkan oleh Kapolres Trenggalek AKBP Didit Bambang Wibowo S. Dana untuk membeli miras itu dari tersangka Samsul Anam (57) warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Trenggalek. Tetapi bukan dari kantong pribadinya. “Uang yang terkumpul sebanyak Rp 2,5 juta. Uang itu yang dibelikan miras ke Kediri,” terang Didit.

Uang tersebut dibelikan miras ke Kediri. Setelah itu, miras dioplos oleh dua tersangka lainnya, Arik Setiawan dan Rudi Sukamto, keduanya warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek, sebelum akhirnya dikonsumsi korban Pesta miras itu berlangsung,  Jumat (8/2/2019). Mereka mengkonsumsi miras buatan Hadi Suwito dengan tujuan untuk mengusir rasa kantuk karena menjaga keamanan menjelang Pilihan Kepala Desa setempat.

Mereka mengkonsumsi miras sejak pukul 21.00 WIB dan berakhir, pada pukul 04.00 WIB. Sabtu (9/2/2019) sore harinya, para korban mulai merasakan gejala lemas tubuh, sesak nafas dan penglihatan kabur. Kapolres mengaku, masih memanggil pihak-pihak terkait sumber uang tersebut.”Tidak menutup kemungkinan mengembang ke tersangka lain,” tutup Kapolres.

Diberitakan sebelumnya, tujuh orang warga Watulimo, Trenggalek mengalami overdosis setelah pesta minuman keras (miras). Dari tujuh orang tersebut, tiga diantaranya tewas. Masing-masing, ovian Mardiansyah (30) dan Hariyadi (45) keduanya warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek serta Endo (34) warga Desa Gembleb, Kecamatan Pogalan.

Sedangkan empat korban selamat antara lain, Asep (26), Nanang (30), Rafli (27) dan Eko (27) keempatnya warga Desa Margomulyo. Keempatnya masih menjalani perawatan di RSUD dr. Iskak Tulungagung dengan kondisi mengalami gangguan penglihatan.

Sementara lima orang tersangka yang berhasil dibekuk antara lain, Hadi Suwito warga Desa Jati, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri yang berperan sebagai produsen miras, Sugiono warga Desa Wonosari Pagu, Kecamatan Pagu, sebagai pengecer, Samsul Anam warga Desa Margomulyo, Kecamatan Watulimo sebagai pembeli dan Arik Setiawan beserta Rudi Sukamto, keduanya warga Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Trenggalek sebagai pengoplos.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
14 February 2019
Kasihan, Tubuh Gadis di Mojokerto Ini Tinggal Tulang Dibalut Kulit
Tidak ada yang tahu pasti, tubuh Mifta Romadloni (21) kian hari makin kurus. Bahkan, kini tubuh gadis asal Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Mojokerto ini nyaris tinggal tulang dan kulit.

Gadis yang akrab disapa Mita ini tergolek tak berdaya di ruang Sunan Drajat 8, RSI Sakinah, Sooko, Mojokerto. Dengan telaten sang ayah Poerdan Hariyono (54) memberinya minum sekaleng susu. Selang infus masih menancap di pergelangan tangan kanannya.

Kondisi Mita membuat siapa pun yang melihatnya bakal merasa prihatin. Betapa tidak, berat tubuhnya jauh jika dibandingkan dengan gadis lain seusianya. Saking kurusnya, paha Mita kini hanya sebesar tangan orang dewasa.
 
Hampir sekujur tubuhnya tak bisa digerakkan. Hanya sesekali Mita nampak berusaha mengangkat kepalanya. Luka lebam nampak jelas di pipi kanan gadis yang tak lulus SMP ini.

"Itu luka lebam-lebam karena jatuh saat dia berusaha turun dari ranjang untuk buang air," kata Poerdan kepada wartawan di tempat Mita dirawat, Kamis (14/2/2019).

Poerdan menuturkan, Mita yang dulunya periang mulai berubah sejak sang nenek meninggal sekitar 8 tahun yang lalu. Rasa kehilangan mendalam dirasakan Mita hingga kejiwaannya mulai terganggu. Terlebih lagi, sang Ibu Darwati meninggalkan Mita untuk selamanya saat dia duduk di bangku kelas V Sekolah Dasar (SD).

"Setelah neneknya meninggal dia ngedrop, tidak mau bicara," ungkap Poerdan.

Penderitaan Mita kian berat setelah dokter mendiagnosa adanya kelainan pada tulang punggungnya tahun 2016 silam. Terbatasnya kemampuan ekonomi membuat Poerdan tak mampu membelikannya alat bantu yang saat itu seharga Rp 4 juta.

Mita pun hanya mendapatkan pengobatan rutin dari rumah sakit sebulan sekali. Pengobatan itu sekaligus untuk mengatasi gangguan kejiwaan yang dialaminya. Akibatnya, Mita kini lumpuh.

2 Tahun belakangan, tubuh Mita yang dulunya normal, menjadi semakin kurus. Berat badannya terus berkurang hingga nyaris tinggal kulit dan tulang. Poerdan pun mengaku tak tahu pasti penyebab penurunan berat badan anak gadisnya ini. Dia menunggu hasil pemeriksaan dokter.

"Makannya dua kali sehari. Siang saya suapi roti dan susu, sorenya makan nasi. Porsi makannya sama dengan saya, kalau kurang gizi harusnya saya juga kurang gizi," terang bapak tiga anak ini.

Kondisi Mita yang memprihatinkan sempat memantik isu negatif bagi orang tuanya. Sejumlah pihak menilai sang ayah melakukan penelantaran hingga tubuh Mita nyaris tinggal kulit dan tulang saja.

Santernya isu tersebut membuat polisi ikut turun tangan. Petugas sempat memintai keterangan keluarga Mita.

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Sigit Dany Setiyono menjelaskan, pihaknya tidak menemukan adanya unsur pidana penelantaran anak seperti yang diatur dalam Pasal 76 UU RI No 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Menurut dia, selama ini Mita tetap tinggal serumah bersama orang tuanya. Kamar Mita sengaja berada paling belakang untuk memudahkan perawatan.

"Karena dia tak dapat bergerak dari tempat tidur. Pengobatan pun terus diupayakan dengan berbagai keterbatasan. Namun, kondisi fisik dan lingkungan yang terbatas membuat dia tertekan, depresi berkepanjangan," tandasnya.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
14 February 2019
BPOM Kediri Jaring Laporan Masyarakat Dari Sistem Online
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Loka Kediri, terus gencar melakukan pengawasan. Salah satunya dengan melibatkan masyarakat, terkait kelengkapan ijin produk.
Dengan keberadaan kantor Loka pengawas obat dan makanan Kediri, maka pengawasan peredaran produk akan diperketat di wilayahnya yakni Eks kresidenan Kediri. Mengingat produk yang dihasilkan dan tersalurkan ke konsumen selain bisa dirasakan masyarakat juga harus memiliki legalitas.

Kepala kantor Loka Badan POM Kediri Joni Idrus Setiawan mengatakan, keberadaan kantor baru Loka Badan POM akan mempermudah dalam proses sosialisasi kepada masyarakat maupun pengusaha tentang pentingnya ijin. Sebelumnya pengawasan hanya dilakukan ditingkat provinsi yakni Surabaya, pihaknya menekankan kembali kepada para pengusaha obat dan makanan agar segera mendaftarkan produknya ke badan pom. "Kategori perusahaan makanan dan obat-obatan yang harus mendaftarkan diri ke badan pom diantaranya pengerjaannya menggunakan teknologi, ada resiko, besaran modal dan lainnya," kata Joni idrus setiawan.

Sejak awal berdirinya kantor loka Badan POM Kediri, sampai sekarang ada salah satu perusahaan yang dalam proses penyidikan. Proses penyidikan itu dilakukan karena salah satu perusahaan tersebut melanggar ijin edar, sehingga bertentangan dengan undang-undang yang berlaku.(Unggul Dwi Cahyono, Benny Kurniawan-Pojokpitu.com/jko)
Page 3 of 874      < 1 2 3 4 5 >  Last ›