Lintas Jawa Timur

19 October 2018
Empat Kontainer Logistik Kotak Suara Pemilu 2019 Tiba di KPU Mojokerto
Menjelang pemilihan legeslatif dan pemilihan presiden tahun 2019, sebanyak empat kontainer yang berisi 16 ribu lebih kotak suara, telah tiba di kantor KPU Kabupaten Mojokerto Kamis siang (18/10).
Logistik kotak suara tersebut,untuk sementara ditempatka. Sedangkan untuk pengadaan 3.850 logistik bilik suara akan tiba di kantor KPU Mojokerto dalam minggu ini.

Sebanyak 16 ribu lebih logistik kotak suara diperuntukan untuk mencukupi 3.221 TPS yang tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Mojokerto, dalam persiapan pemilihan legeslatif dan pemilihan presiden 2019 mendatang.

Menurut Ayuhan Nafiq, Ketua KPU Kabupaten Mojokerto, setelah keseluruan logistik kotak suara dan bilik suara diterima, pihaknya akan melakukan tahapan selanjutnya dengan melakukan perakitan kotak dan bilik suara.(Aminuddin Ilham-POjokpitu.com/jko)
19 October 2018
Geliat Ekonomi dari Peternak Sapi di Malang Capai Rp.510 Milyar
Populasi sapi potong dan sapi perah di Kabupaten Malang, dalam kondisi sangat baik. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kabupaten Malang saat ini, daerah sebaran populasi sapi potong ada di Kecamatan Wajak, Poncokusumo,Turen, Donomulyo, Kalipare, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Sumberpucung, Wagir, Pakis dan Singosari. Sedangkan sebaran populasi sapi perah ada di Kecamatan Pujon, Ngantang, Kasembon, Lawang, Jabung, Bantur serta Kalipare

Jika melihat dari capaian kelahiran anak sapi rata-rata 60.000 ekor per tahun, Kepala DPKH Kabupaten Malang, Nurcahyo yakin bisa mencapai 300.000 kelahiran anak sapi dalam lima tahun. Dimana hal itu sesuai pencanangan Bupati Malang, Rendra Kresna pada tahun 2016 silam akan tercapai. "Kalau melihat data yang ada, kita yakin bisa," ungkap Nurcahyo, Jumat (19/10/2018).

Tingginya produktivitas kelahiran sapi, kata Nurcahyo, berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan peternak sapi.

Pendapatan peternak sapi potong per tahunya tahun 2017 mencapai Rp 16.401.787 sedangkan 2016 berkisar Rp 15.557.100. Untuk peternak sapi perah, pendapatan tahun 2017 mencapai Rp 17.372.048, sedang 2016 di angka Rp 16.463.300.

"Memang jika dilihat pendapatan dari sapi perah lebih tinggi, karena ada hasil sampingan seperti susu, namun tingkat kelahiran sapi perah lebih rendah dibanding sapi potong, yang per tahunnya hanya 21.000 ekor," ulasnya.

"Itu penghasilan di tingkat peternak pada tahun 2017, kalau untuk penghasilan daerah, dengan kelahiran sapi per tahun 60.000 ekor, dan harga satu ekor rata-rata katakanlah Rp 8,5 juta. Maka total sumbangan dari hasil penjualan ternak se tahun bisa mencapai Rp. 510 milyar. Belum hasil olahan lain seperti susu, maupun kompos,” tambahnya.

Nurcahyo pun tidak berlebihan jika kemudian beranggapan Kabupaten Malang merupakan sentra penghasil sapi. "Jika melihat urutan kelahiran dan populasi sapi di Jatim, tidak salah kan jika Kab Malang adalah sentra sapi, selama ini kita juga sudah mengekspor sapi kita ke daerah lain," Nurcahyo mengakhiri.(Brama Yoga Kiswara-Beritajatim.com/jko)
19 October 2018
Ekstim, Santri Ponpes Lirboyo Bermain Sepakbola Api
Sepakbola merupakan olahraga favorit di Indoensia. Olahraga ini umumnya dilakukan dengan memakai bola sepak. Namun ada yang berbeda di Kota Kediri, Jawa Timur, karena olahraga tersebut menggunakan bola dari api yang berkobar. Sudah begitu, para pemainnya bertelanjang kaki dalam menendang bola api.

Sepakbola ekstrim ini dimainkan oleh para santri dari Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri. Mereka tergabung dalam kelompok seni bela diri Gerakan Silat Muslimin Indonesia (GASMI). Permainan sepakbola api digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional ke-4 yang akan jatuh, pada 22 Oktober 2018.

Sepakbola api berlangsung di Lapangan Aula Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Kamis (18/10/2018) malam. Permainan tersebut sengaja dilaksanakan pada malam hari. Sementara seluruh peserta dari dua tim wajib bertelanjang kaki dan memakai peci.

Tanpa rasa takut, mereka menendang bola kesana kemari. Mereka berusaha mencetak gol ke gawang lawan sebanyak-banyaknya. Adapun teknik dan aturan dalam permainan sepakbola api tak jauh berbeda dengan permainan sepakbola pada umumnya.

"Sepakbola api ini kami gelar untuk memperingati rangkaian Hari Santri Nasional. Selain itu, sekaligus untuk melestarikan budaya. Sebab, sepakbola api sudah berlangsung sejak puluhan tahun  dan menjadi budaya bagi santri Pondok Pesantren Lirboyo," kata H. Agus Muhtadi, pembimbing GASMI.

Amirullah, salah satu pesepakbola api mengatakan, kunci utama dalam permainan ini agar tidak cedera meskipun menendang bola api adalah taat kepada para guru dan percaya dengan kebesaran Allah SWT. Menurutnya, sebelum permainan, seluruh peserta mengikuti rangkaian persiapan baik fisik maupun mental. "Kuncinya yakin dan taat dengan para guru dan kiai," kata Amirullah.

Dia menjelaskan, latihan fisik dilakukan dengan cara berlatih sepakbola biasa. Sementara untuk olah batin, melalui istigasah bersama para guru dan kiai.

Sebelum sepakbola api dimulai, acara ini terlebih dahulu dibuka dengan permainan ketangkasan tongkat api serta rantai api oleh pendekar GASMI. Acara ini juga menjadi hiburan tersendiri bagi ribuan santri yang berada di pondok Pesantren Lirboyo untuk melihat langsung.

Selain sepakbola api, ada beberapa agenda dalam peringatan hari santri tahun 2018 ini, antara lain Pembacaan Sholawat Nariyah, Apel Hari Santri, Parade Beduk dan Pawai Taaruf, Jalan Sehat Santri Sarungan serta Liwetan Ala Santri. Sepakbola api ini digelar oleh Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata dan Olahraga (Disbudparpora) setempat.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
19 October 2018
 Siswa SDN III Serut, Tulungagung Belajar di Ruang Darurat dan Hirup Bau Kotoran Sapi Selama 10 Tahun

Deretan bangku tertata berantakan di sisi barat SDN III Serut, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.

Tempat yang sempit membuat bangku- bangku ini saling berhimpitan dan sulit ditata.

Di tempat inilah para siswa kelas 2 belajar.
 

Ruang kelas darurat ini sebelumnya adalah tempat sepeda para murid.

Namun sejak 10 tahun lalu tempat ini menjadi ruang kelas darurat.

"Ruang kelasnya hanya ada lima, jadi kelas 2 tidak kebagian ruang kelas," ujar Karomah, wali kelas 2.

Sebelumnya kelas 2 bergantian dengan kelas 1.

Mereka belajar di depan ruang kelas 1, setelah kelas 1 pulang barulah para siswa menggunakan ruang kelas.

Namun karena dianggap tidak nyaman, akhirnya parkir sepeda siswa disulap menjadi ruang kelas.

Enam tahun pertama mereka belajar dengan leaehan di lantai.

Baru pada empat tahun belakangan ada meja dan kursi sisa yang bisa dimanfaatkan.

Tidak ada dinding penyekat ruang kelas darurat ini.

Setiap hujan para siswa harus berhenti belajar karena tampias.

"Kalau sekedar gerimis paling bangkunya digeser. Tapi kalau sudah hujan deras sudah tidak bisa dipakai," ucap Karomah.

Lokasi ruang kelas darurat ini juga berbatasan langsung dengan kolam dan kandang sapi milik warga.

Sering kali para siswa harus menghirup bau tak sedap dari kandang sapi.

Belum lagi saat kemarau, debu beterbangan ditiup angin kencang.
 

Partikel kecil ini bebas hinggap di tempat anak-anak ini belajar.

"Dampaknya sekolah ini kalah pamor dengan sekolah lainnya," tambah Karomah.

Sebenarnya setiap tahun kepala sekolah SDN III Serut sudah mengajukan penambahan ruang kelas baru ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga.

Namun hingga kini permohonan itu tidak pernah direspon.

"Saat ini kelas 2 sebanyak 26 siswa dari total 123 siswa," ujar Karomah mengakhiri percakapan.

Keberadaan ruang kelas darurat SDN III Serut sempat mengundang Komisi A DPRD Tulungagung.

Namun belum ada pernyataan dari mereka terkait kondisi ini.(David Yohanes-Surya.co.id/jko)


 

19 October 2018
Kandang Ternak di Blitar Ludes Terbakar, Ribuan Ayam Terpanggang
Kebakaran hebat melanda kandang ayam di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Kebakaran yang diduga akibat kebocoran gas elpiji 3 kg ini memanggang hidup-hidup ribuan ayam sayur, membakar sepeda motor serta stok pakan di dua bangunan.

Akibat kejadian ini, sang pemilik kandang Samsul Maarif menderita kerugian hingga sebesar Rp 700 juta.

Penuturan korban pada polisi, sekitar pukul 02.30 wib dini hari tadi, dia mendengar suara gas elpiji yang bocor. Tak hanya suara berdesis, namun korban juga sempat mendengar suara ledakan. Karena posisi rumahnya hanya 20 meter di selatan kandang, korbanpun bergegas lari menuju asal suara ledakan.
 
"Saat itu diketahui kandang ayam sayur yang bagian tengah telah terbakar separuh. Selanjutnya korban meminta tolong warga dan berusaha memadamkan api. Namun api semakin besar karena kandang terbuat dari kerangka kayu, atap esbes, dinding kayu bambu dan terpal serta pampang kayu bambu diisi atau dilapisi dengan sekam padi," jelas Kabag Humas Polres Blitar Iptu M Burhan dikonfirmasi detikcom, Jumat (19/10/2018).

Api melahap 2 bangunan kandang ayam. Masing masing berukuran panjang 40 m x12 m dan ukuran 40 m x 7 m . Kobaran api juga menghabiskan isi satu gudang kandang tengah. Bagian tengah itu berisi anak ayam sayur sejumlah 10 ribu dan kandang selatan berisi 7 ribu anak ayam yang masih berumur 3 hari.

Tak hanya memanggang hidup-hidup anak ayam, namun api juga menghanguskan 120 sak pakan ayam, 1 buah motor Rx king nopol AG 6397 KB, 1 buah diesel Dong Feng, serta 60 gas tabung lpg 3kg. Sebanyak 52 tabung gas masih penuh dan 8 tabung kosong, serta alat alat peternakan.

"Kerugian yang diderita korban, ditafsir sekitar Rp 700 juta," jelas Burhan.

Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 04.00 wib dibantu 1 unit mobil pemadam kebakaran. Hasil penyelidikan sementara polisi, penyebab kebakaran dimungkinkan karena regulator gas yang digunakan sebagai pemanas anak ayam bocor dan akhirnya terjadi kebakaran.

"Dugaan penyebab kebakaran berasal dari regulator gas yang digunakan sebagai pemanas anak ayam sayur tersebut bocor dan diakui oleh korban," ungkap Burhan.

Banyaknya tabung gas elpiji 3 kg yang terdapat di kandang itu mengungkap fakta, terkait kelangkaan elpiji bersubsidi. Selama ini rumor elpiji diborong oleh peternak ayam tak pernah mendapat respon pihak terkait untuk melakukan sidak.(Erliana Riady-detikNews/jko)
18 October 2018
Oknum Kades di Nganjuk Resmi Menjadi Tersangka Kasus Korupsi Dana Desa
Seorang oknum kepala desa di Nganjuk ditetapkan sebagai tersangka oleh polisi Polres Nganjuk, karena terbukti menyalahgunakan uang aggaran dana desa. Modusnya pelaku tidak menggunakan dana tersebut sebagaimana seharusnya.

Dia adalah Arif Hasanudin oknum kepala Desa Kacangan Kecamatan Brebek Kabupaten Nganjuk. Pelaku ditahan karena terbukti melakukan tindakan penyalahgunaan wewenang dan tindak korupsi atas dana desa tahap satu tahun angaran 2017.

Menurut Kapolres Nganjuk, AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta, pelaku melakukan tindak korupsi dengan cara menguasai uang dana desa senilai Rp 365 juta dari total Anggaran Rp 767.570.000.

"Uang Rp 365 juta yang seharusnya digunakan untuk membangun jalan paving dan pengaspalan jalan, namun tidak dilakukan oleh pelaku," jelas AKBP Dewa Nyoman Nanta Wiranta.

Disamping kades  sebagai pelaku, pihak polisi terus melakukan  pengembangan dan dimungkinkan akan ada pelaku lain.

Disamping mengamankan pelaku, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti berupa uang Rp 18 juta , kwitansi dan sejumlah dokumen lainnya.(Achmad Syarwani-Pojokpitu.com/jko)
18 October 2018
 Remaja 15 Tahun Penderita Obesitas di Lamongan Itu akan Kembali Bersekolah, Seperti Ini Reaksinya

Selvia Dwi Susanti (15), remaja penderita obesitas warga Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Lamongan Jawa Timur bisa segera menikmati pendidikan.

Bahkan Selvia yang putus sekolah saat di bangku kelas 4 MI ini akan menjalani proses belajar mengajar di tingkat dasar atau SD.

Kepastian Selvia melanjutkan pendidikanini setelah Penyelenggara Kesetaraan UPT Dinas Pendidikan Wilayah Selatan, Muslich berkunjung ke rumah Selvia dan melakukan pendataan untuk pra syarat Selvia sebelum masuk ke lembaga pendidikan.
 

"Ikut sekolah kesetaraan, dulu istilahnya persamaan," kata Muslich kepada SURYA.co.id di rumah Selvia, Kamis (18/10/2018).

Karena kondisi kesehatan Selvia yang tak memungkinkan, maka proses belajarnya akan dilakukan dengan sistim kunjung.

Ada 6 guru paket A yang dilibatkan berkunjung mengajar ke rumah Selvia.

Selvia akan segera menempuh pendidikan dan bisa ikut ujian negara di tingkat SD.

"Umurnya sudah 15 tahun, makanya harus ikut ujian SD dulu, baru nanti melanjutkan ke SMP," kata Muslich.

Pendidikan tingkat SD, SMP hingga SMA tetap di wilayah Selatan. "Ada semua di Sambeng," kata Muslich.

Untuk SMP dan SMA belum dipastikan, apakah masih sistem kunjung atau tidak. Menurut Muslich melihat perkembangan kondisi kesehatannya nanti.

Pendidikan kesetaraan ini, cukup luwes dan fleksibel dalam pelaksanaannya.

Ada tatap muka, tutorial bersama teman-temannya dan mandiri belajar sendiri pada kesempatan yang dimiliki siswa.

Pendidikan kesetaraan SD yang akan diikuti Silvia ini bersama 15 siswa lainnya.

Bagaimana respon Silvia saat mendapat tawaran sekolah lagi dengan pendidikan kesetaraan ini?

Selvia yang dampingi Misri ibunya, menyambut gembira tawaran UPT Dinas Pendidikan Pendidikan Kesetaraan Wilayah Selatan. "Senang," jawabnya singkat.

Selvia yang gemar pelajaran matematika ini bahkan ingin menempuh pendidikan hingga di bangku kuliah. "Cita-citanya jadi guru," kata Misri.

Selvia banyak diam dan hanya tersenyum saat sejumlah pertanyaan diajukan kepadanya.

Namun Misri mengetahui persis apa yang dicita-citakan anaknya. Yang jelas, Selvia tidak keberatan kembali bersekolah.
 

Kini pihak keluarga juga telah menjaga pola makan dan mengerem kebiasaan ngemil Selvia.

"Biasanya ngemil kerupuk, tapi sudah dua minggu ini tidak ngemil kerupuk," kara Misri.

Selain itu yang disukainya adalah ketela, dan beberapa polo pendem.

Sedang makannya tetap dua kali sehari, pagi pukul 08.00 WIB dan makan kedua pukul 14.00 WIB. Selvia memang penyuka sayur.

Keluarga turut senang, selain anaknya bisa sekolah, juga sudah berani keluar rumah. Sudah jalan-jalan diluar rumah meski hanya jarak dekat.

Namun, kebiasaan Selvia sebelumnya mengajar anak-anak mengaji di musala sebelah rumah kini tidak pernah dilanjutkan.

"Iya, Selvia malu," ungkap Nurul Diah Setyowati, kakak Selvia.

Diberitakan sebelumnya, gadis 15 tahun ini putus sekolah karena malu dengan kondisi badannya yang terus membesar. Bahkan bobotnya kini mencapai berat 179 kilogram.

Setelah muncul di media, gadis desa ini menjadi pusat perhatian banyak instansi pemerintah daerah.(Hanif Manshuri-Surya.co.id/jko)


 

 
18 October 2018
Satpol PP Kota Mojokerto Segel 2 Warung di Atas Aliran Sungai
Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Mojokerto menyegel dua warung yang berada di atas aliran sungai saat melakukan razia pelajar bolos. Dua warung yang disegel tersebut terdapat di Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto

Kabid Ketentraman dan Ketertiban, Satpol PP Kota Mojokerto, Hatta Amrullah mengatakan, dua warung tersebut berdiri di atas aliran sungai. "Karena mendekati musim penghujan dan normalisasi kali dan saluran air agar tidak terjadi banjir," ungkapnya, Kamis (18/10/2018).

Masih kata Hatta, dalam beberapa waktu kedepan pihaknya akan intensif melakukan razia terhadap warung yang berada di aliran sungai. Sementara terkait normalisasi, pihaknya akan melakukan pendampingan dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) karena ada beberapa titik afur saluran air normalisasi.

"Secara berkelanjutan, kita akan menindaklanjuti dan mendampingi normalisasi sungai. Namun yang jelas, untuk hari ini sebenarnya difokuskan pada razia pelajar yang membolos sekolah di beberapa tempat yang diidentifikasi sebagai tempat pelajar membolos. Penyegelan ini hanya tindaklanjut yang kenarin," tegasnya.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
18 October 2018
Harga Pakan Naik, Harga Telur Ayam Malah Turun
Harga ayam petelur terus mengalami penurunan hingga Rp 16 ribu per kilogram, padahal harga pakan ayam petelur mengalami kenaikan.

Meskipun harga pakan ayam terus mengalami kenaikan, namun hal ini tidak diiringi dengan harga jual telur, malah kondisi jual telur saat ini mengalami penurunan.

Apabila kondisi ini terus terjadi, maka peternak ayam telur akan terancam merugi. Salah satunya adalah Suyono, yang merupakan peternak telur. Dirinya  mengeluhkan harga telur yang terus mengalami penurunan dari harga normal Rp 20.000 menjadi Rp 16.500 per kilogram.

Padahal peternak ayam telur agar dapat mencukupi ongkos produksi, setidaknya harga telur harus diatas Rp 20.000 dan apabila harga telur berada di bawah angka Rp 20.000 maka peternak ayam akan semakin merugi. Keadaan harga telur ayam yang terus mengalami penurunan ini diperkirakan sudah semenjak satu bulan terakhir. 

Selain itu, kondisi ini diperparah dengan harga pakan ayam yang mengalami kenaikan, untuk pakan ayam konsentrat naik Rp 6.500 per karung. Sedangkan untuk jagung mencapai Rp 5.000 per kilogram.

"Dari 200 ayam per hari dapat menghasilkan sekitar 150 telur, untuk dijualnya pada beberapa toko yang tersebar di Kabupaten Nganjuk," tutur Suharyono, peternak ayam telur.

Untuk mensiasati harga pakan ayam yang terus mengalami kenaikan peternak menyetok pakan ayam ketika harga pakan ayam murah dan belum diketahui dengan pasti penyebab harga pakan mengalami kenaikan, sedangkan harga telur murah.(Achmad Syarwani-Pojokpitu.com/jko)
18 October 2018
Kisah Sendu Silvia, Gadis asal Lamongan Berbobot 197 Kg
Silvia Dwi Susanti (15) memilih tak lagi bersekolah sejak duduk di bangku kelas 4 MI (Madrasah Ibtidaiyah) karena malu dan miner pada teman-temannya. Penyebabnya, berat badan Silvia berada di atas rata-rata.

"Saya sejak kelas 4 MI sudah tidak sekolah karena malu," katanya saat berbincang dengan detikcom, Rabu (17/10/2018).

Ketika memutuskan untuk tidak sekolah di kelas 4 MI, Silvia sudah berbobot sebesar 139 kg. Saat ini, di usianya yang menginjak 15 tahun, bobotnya telah mencapai 197 kg.

Menurut pengakuan sang kakak, Dia Setiyorini, Silvia sebenarnya lahir dengan berat normal, yaitu berkisar 4 kg. Dia juga memastikan, adiknya tidak mengalami kelainan saat lahir sehingga mengakibatkan beratnya terus bertambah.

Namun saat menginjak usia 9 tahun atau ketika duduk di bangku kelas 4 MI, berat badan Silvia bertambah dengan cepat. Kala itu beratnya sudah mencapai 139 kg, sedangkan teman-temannya hanya berbobot 39 kg. Itulah sebabnya Silvia memutuskan untuk berhenti sekolah karena malu.

Tubuh Silvia juga diakui terus menggemuk meski saat itu pola makannya sama dengan anak sebayanya.

"Saya tiap hari makannya ya 2 kali," ungkap Silvia.

Menunya pun tak jauh berbeda dengan menu yang dikonsumsi anggota keluarga lainnya setiap hari. "Sama dengan saya dan keluarga yang lain, juga makannya tidak banyak," timpal Dia.

Keluarga juga tak bisa menyebutkan apa kira-kira penyebab bobot Silvia bisa mencapai ratusan kilogram hingga membuatnya enggan sekolah lagi.

Namun diakui Dia, ada satu makanan yang menjadi kegemaran sang adik, yaitu krupuk. Kebiasaan makan krupuk itu didapati keluarga sebelum bobot Silvia melonjak tajam seperti saat ini.

"Dulu, adik saya ini paling suka makan krupuk, apapun jenis krupuk disukai adik saya," ujar Dia.

Meski demikian, keluarga tak dapat menyimpulkan apakah kebiasaan makan krupuk itu berada di balik lonjakan berat badan putri pasangan Suroso dan Misri tersebut.

Jangankan sekolah, aktivitas Silvia juga menjadi terbatas karena berat badannya. Bahkan ia hanya bisa bergantung pada keluarganya.

"Aktivitas sehari-hari seperti mandi dan lainnya ya dibantu ibu dan kakaknya," ungkap paman Silvia, Mulyono.

Selain pergerakannya yang terbatas, warga Desa Cangkring, Kecamatan Bluluk, Kabupaten Lamongan itu disebut tak kuat berjalan lama-lama karena mengalami gangguan pernapasan tiap kali berjalan agak jauh.

"Jalan beberapa meter sudah nggak kuat, itupun dibantu ibu dan kakaknya. Setiap hari ya lihat TV," lanjutnya.

Sejauh ini keluarga hanya mengupayakan agar bobot Silvia turun dengan memanfaatkan pengobatan tradisional. Saat usia Silvia masih berusia 10 tahun, keluarga membeli obat dari Jakarta.

"Kalau nggak salah bentuknya seperti jamu. Tetapi ternyata bukan malah kurus tetapi tambah gemuk," tuturnya.

Jamu itu sempat dikonsumsi putri kedua pasangan Suroso dan Mistri itu selama satu tahun. Namun karena kondisi Silvia tak kunjung berubah, akhirnya konsumsi jamu itu pun dihentikan.

Untuk sementara, keluarga belum berencana untuk membawa Silvia menjalani pengobatan modern. Ia beralasan ini karena keponakannya masih malu.

"Dia juga masih takut jika ketemu orang asing dan orang-orang yang memakai seragam," tambahnya.(Rahma Lillahi Sativa - detikNews/jko)
Page 2 of 833      < 1 2 3 4 >  Last ›