Lintas Jawa Timur

22 February 2018
Banjir Kembali Terjang Mojoagung dan Mojowarno Jombang, Ratusan Rumah Terendam
Banjir kembali menerjang dua kecamatan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, dan merendam ratusan rumah, Kamis pagi (22/2/2018).

Banjir akibat meluapnya air Sungai Kaligunting di Kecamatan Mojoagung, Sungai Catakakgayam di Kecamatan Mojowarnoli menyusul hujan deras tinggi yang mengguyur wilayah selatan dan tengah Kabupaten Jombang sepanjang Rabu (21/2/2018) malam.

Banjir di antaranya menerjang Desa Selorejo, Kecamatan Mojowarno.

Di lokasi ini, ketinggian air di jalan raya mencapai 1 meter.
 

Sementara di dalam rumah berkisar 40 sentimeter hingga 50 sentimeter.

“Tadi sekira pukul 03.30 WIB, air mulai masuk ke dalam rumah-rumah warga,” kata Ary Dwi Febriyanto, warga setempat, kepada SURYA.co.id, Kamis (22/2/2018).

Banjir ini, menurutnya, akibat luapan sungai Cakatgayam yang mengalir di desa setempat.

Sungai meluap karena tak mampu menampung besarnya volume air hujan yang turun sejak Rabu (21/2/2018) malam sekitar pukul 21.00 WIB.

Di Kecamatan Mojoagung, seperti biasa desa-desa yang sudah menjadi langganan banjir kembali dilanda luapan air Sungai Gunting.

Di antaranya Desa Kademangan, Gambiran dan Desa Karobelah.

"Ini banjir yang keempat kalinya sejak musim hujan akhir tahun lalu. Setiap tahun, setiap musim penghujan desa ini selalu kebanjiran," kata Sri Rejeki, warga setempat.

Ketinggian air di Kecamatan Mojoagung berkisar antara 30 sentimeter hingga 100 sentimeter.

Kendati demikian, belum ada warga yang dilaporkan mengungsi.

Mereka hanya menyelamatkan barang-barangnya ke lokasi lebih tinggi di dalam rumah.
Hampir semua rumah di dedsa-desa yang jadi langganan banjir ini ini sudah siap dengan tempat yang disebut 'pogo'.

Pogo ini semacam loteng dengan ketinggian sekitar dua meter dari lantai.

Gunanya untuk menyimpan barang-barang elektronik dan pakaian. Kadang-kadang mereka juga tidur di sana.

"Kami tidak mengungsi, hanya mengamankan barang-barang elektronik agar tidak rusak karena banjir. Ini sudah biasa kami lakukan, karena banjir biasanya akan surut dengan sendirinya nanti siang,” tandasnya, diamini Mufid tetangganya.

Dan memang, pagi ini sejumlah titik sudah mulai surut.

Warga lain terlihat mulai bergotong-royong membersihkan kotoran dari rumah-rumah penduduk.

Mereka juga terlihat membersihkan saluran-saluran agar air dari permukiman mengalir lebih lancar, kembali ke sungai.(Penulis: Sutono-Surya.co.id/jko)

 

22 February 2018
Polisi dan Satpol PP Lamongan Sibuk Cari Orang Gila
Polres Lamongan bersama Satpol PP, rabu (21/2) siang menertibkan keberadaan orang gila di sepanjang jalur pantura, Razia kurang lebih 3 jam ini, petugas menggaruk 3 orang gila. Namin 1 orang gila dikembalikan ke rumahnya.

Fenomena orang gila akhir-akhir ini, membuat aparat dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan. salah satu upayanya yakni merazia keberadaan orang gila di jalanan.

Dalam razia ini melibatkan hampir seratus personil dari Kepolisian dan Satpol PP, menyisir keberadaan orang gila di pusat kota maupun di sepanjang jalur pantura lamongan-babat.
 
Dari kawasan Kecamatan Sukodadi, petugas mendapati 2 orang mengalami gangguan jiwa, dengan kondisi mengenakan pakaian lusuh dan badan sangat kotor. Namun, 1 orang gila tidak diangkut ke mobil patroli, melainkan dipulangkan ke rumahnya di Desa Baturono Kecamatan Sukodadi, menggunakan becak.
 
Petugas juga mengamankan seorang wanita mengalami gangguan jiwa di kawasan Desa Menongo Kecamatan Sukodadi.
 
Kedua orang mengalami gangguan jiwa ini kemudian dibawa ke dinas sosial dan ke RSUD dokter soegiri, untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan maupun kejiwaan. Jika terbukti sakit, maka akan dikirim ke Rumah Sakit Jiwa Menur, Surabaya, maupun Lawang, Malang.
 
Kasubag Humas Polres Lamongan, Iptu Sunaryono,mengatakan, razia orang gila ini sebagai tindak lanjut adanya peristiwa di Jawa Barat maupun peristiwa yang menimpa pimpinan ponpes Karangasem Muhammadiyah Paciran Lamongan.
 
Razia serupa masih akan berlanjut hingga waktu yang belum ditentukan. Razia dilangsungkan pada waktu pagi, siang maupun malam hari.(Ahmad Zainuri, Zulkfili Zakaria-(Pojokpitu.com/jko)
21 February 2018
Lahan Bekas RSUD Mardi Waluyo Blitar Mangkrak 8 Tahun, Seperti Ini Kondisinya
Lahan bekas bangunan RSUD Mardi Waluyo di Jl Dr Soetomo, Kota Blitar, mangkrak hampir delapan tahun.

Sampai sekarang, Pemkot Blitar masih bingung memanfaatkan lahan itu.

Saat ini, kondisi lahan bekas bangunan RSUD Mardi Waluyo terlihat tidak terurus.
 

Masih terlihat sebagian bekas bangunan rumah sakit di lokasi.

Bangunan yang masih tersisa di bagian belakang dan samping.

Berbagai macam tanaman liar tumbuh di lahan bekas rumah sakit itu.

Suasana di lokasi terkesan angker dan kumuh. Pagar tembok bagian depan sudah terlihat kusam.

Pagar besinya juga sudah berkarat.

Bekas bangunan yang berada di samping sebelumnya dipakai kantor KPU Kota Blitar.

Tetapi, awal Januari 2018, kantor KPU Kota Blitar dipindah di wilayah Kelurahan Gedog, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar.

Sekarang bangunan itu juga kosong.

Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Blitar, Widodo Saptono Johanes mengatakan Pemkot masih bingung memanfaatkan aset lahan bekas rumah sakit itu.

Tetapi, mulai tahun ini, Pemkot akan mengamankan aset itu terlebih dulu.

"Pemanfaatannya belum tahu, tapi tahun ini akan kami amankan dulu asetnya. Rencananya akan kami pagar keliling, sudah ada anggaran untuk itu," kata Widodo, Rabu (21/2/2018).

Dia mengatakan, pengelolaan lahan bekas rumah sakit itu sekarang kembali diserahkan ke pemerintah daerah.

Sebelumnya, lahan itu sempat mau diminta pemerintah pusat untuk pembangunan kampus.

Tetapi, rencana itu tidak direalisasikan.

"Pengelolaannya diserahkan lagi ke Pemkot. Makanya segera kami amankan asetnya," ujarnya.

Lahan bekas RSUD Mardi Waluyo mangkrak sejak 2010 lalu.

Pemkot memindah RSUD Mardi Waluyo ke Jl Kalimantan, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Sananwetan.

Pemkot sempat berencana menjadikan lahan bekas rumah sakit untuk kawasan perdagangan.

Menurut Widodo, selain lahan bekas rumah sakit, ada sejumlah aset lain milik Pemkot Blitar yang kondisinya mangkrak.

Misalnya, lahan bekas Pasar Pahing di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.

Sesuai rencana, lahan bekas pasar itu akan digunakan untuk ruang terbuka hijau.

"Tahun ini akan dibangun taman di lahan bekas Pasar Pahing," katanya.(Penulis: Samsul Hadi-Surya.co.id/jko)

 

21 February 2018
Begini Momen Haru Pertemuan Keluarga dan Penyerang Kiai di Lamongan
Momen haru terjadi saat orangtua penyerang Kiai Hakam Mubarok bertemu dengan anaknya di RS Bhayangkara Polda Jatim.

Pertemuan bapak, ibu dan anak tersebut diwarnai isak tangis. Dibatasi pagar jeruji, NT atau Nandang yang menempati ruang pelayanan tahanan berisi 4 tempat tidur, sejenak hanya melihat saja saat namanya dipanggil ibunya, Sriana.

Beberapa saat kemudian, Nandang mendatangi 3 anggota keluarganya yang sudah terduduk di lantai menunggu respon Nandang. Sriana yang bercucuran air mata tak kuasa melihat Nandang yang hanya tersenyum melihat.

Seorang petugas lantas mengiming-imingi rokok, membuat Nandang pelan-pelan beranjak dari tempat tidur dan menghampiri keluarganya.

"Aa, ini ibu nak, ini adikmu si Jenong itu sudah besar ya. Nandang ingat kan," ujar Sriana, di depan kamar Nandang yang berukuran 3x3 meter, Rabu (21/2/2018).

Tak hanya Sriana saja yang bercucuran air mata, bapak dan adik Nandang pun tak sanggup membendung tangis. Saat ditanya apakah ingat dengan keluarga, Nandang hanya mengomel tidak karuan. Sriani pun tak bosan-bosannya mengingatkan anaknya jika dia-lah ibundanya.

Saat Nandang tidak kunjung mengingat keluarganya, Sriani pun membuka kerudungnya. Harapannya, Nandang bisa mengingatnya. Momen ini juga diikuti oleh sang adik yang menunjukkan dahinya. Melihat kondisi itu, Nandang terlihat merespon. "Jenong ya, ini Jenong," ujar Nandang sembari tersenyum sambil mengelus dahi adiknya.

Sriani pun sesekali juga meraih tangan Nandang untuk diajaknya bersalaman. Momen ini lantas membuat Nandang juga ikut menangis meski sebentar.

Pertemuan selama 10-15 menit itu berhenti saat seorang dokter mengajak orangtua Nandang ke ruangannya. Namun karena ibunya tak mampu berdiri karena lemas, akhirnya didudukkan di kursi roda. Wartawan pun dilarang mengikuti pertemuan orangtua Nandang dan orangtuanya.(Hilda Meilisa Rinanda - detikNews/jko)
21 February 2018
Razia Orang Gila, Polres Malang Temukan Anak Punk
Arahan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kaporli),Jendral Polisi Tito Karnavian, untuk merazia orang gila yang ramai diberitakan melakukan perusakan tempat ibadah dan penyerangan terhadap kyai, langsung dilakukan jajaran polres-polres di daerah.

Seperti yang dilakukan anggota Polres Malang yang langsung merazia di wilayah Talangagung, kecamatan kepanjen. Setelah menyisir jalan, polisi tidak menemukan keberadaan orang gila. Kemudian menyasar kepada segerombolan anak punk yang kerap mangkal di perempatan jalan di Talangagung, Kepanjen, untuk didata.

Rata-rata, anak punk yang kerap mangkal di wilayah ini sudah bertahun-tahun, dan merupakan pendatang dari kota. Dengan mengandalkan mengamen sebagai pemasukan untuk bisa makan dan bertahan hidup.

Salah satu anak pink asal Jember Dewanti, sudah berada di tempat tersebut selama 3 tahun. Dirinya bergabung ditempat tersebut setelah diajak sang suami menjenguk adiknya. Namun malah tinggal di sebuah kos, kemudian bekerja sebagai pengamen bersama anak punk.(Khaerul Anwar.-Pojokpitu.com/jko)
21 February 2018
Ini Wajah Baru Makam Bung Karno
Areal Makam Bung Karno (MBK) kini mulai bersolek. Di antaranya dengan pembangunan city walk dan taman di seputaran kawasan makam yang terletak di tengah Kota Blitar tersebut.

Dari pengamatan detikcom, kursi-kursi taman yang cantik telah dipasang di sepanjang jalan menuju MBK. Beberapa pot bunga besar juga sudah terpasang, walaupun belum semuanya ditanami kembang.

Pengunjung juga dilarang memasuki areal MBK dengan menggunakan kendaraan. Setelah adanya city walk, pengunjung diminta berjalan kaki sejauh 800 meter menuju pintu masuk MBK.

"Lebih luas jalannya, lebih lapang pemandangannya. Saya kesini terakhir lima tahun lalu. Sekarang lebih bagus penataannya," kata pengunjung asal Semarang, Lucky (43) pada detikcom, Rabu (21/2/2018).

Lucky yang datang bersama keluarganya itu mengaku memarkir mobilnya di areal parkir Pusat Informasi Pariwisata dan Perdagangan (PIPP). Sedangkan bagi pengunjung yang datang berombongan naik bus, banyak yang memilih naik becak menuju MBK.

Selain mempercantik areal MBK, pembangunan city walk ini memang ditujukan untuk meningkatkan omzet pedagang sepanjang Jalan Ir Soekarno.

Seperti halnya penuturan Utami (54) yang punya stand baju di depan MBK. "Sekarang lebih banyak yang belanja. Karena mereka harus berjalan kaki, jadi banyak barang yang bisa dilihat lalu minat beli," akunya.

Dari informasi yang dihimpun, pembangunan city walk ini menelan dana sekitar Rp 10 miliar. Dana itu merupakan bantuan dari pemerintah pusat. Namun sampai saat ini, proses pembangunan city walk masih terus berjalan.(Erliana Riady - detikNews/jko)
21 February 2018
Kunjungi Beberapa Ulama, Kapolres Mojokerto Menjamin Hal Ini
Polres Mojokerto dan TNI menjamin keamanan alim ulama di Kabupaten Mojokerto. Hal ini diungkapkan Kapolres Mojokerto AKBP Leonardus Simarmata saa berkunjung ke Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Misbar, di Dusun Karangnongko, Desa Mojoranu, Sooko, KH Khusen Ilyas.

"Pada dasarnya, Polres Mojokerto bersama TNI siap untuk menjaga keamanan para ulama atau tokoh masyarakat. Kami menjamin rasa aman seluruh ulama dalam melaksanakan kegiatan keagamaan tanpa rasa khawatir," kata Leonardus, Rabu (21/2/2018).

Selain mengunjungi Kiai Khusen, Kapolres juga berkunjung ke Gus Al Amin Ranuwiharjo pimpinan Yayasan Datul Hikmah, sekaligus ketua Forum Aliansi Ormas dan LSM Mojokerto di Padepokan Rajasa Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko.

"Kunjungan kami ke beberapa tokoh agama tidak lain perintah dari Kapolri dan Kapolda Jatim, terkait teror kepada para ulama yang terjadi dibeberapa daerah. Kami siap untuk menjaga keamanan semua tokoh agama di manapun berada," tegasnya.(Penulis: Rorry Nurwawati-Surya.co.id/jko)

21 February 2018
Kabupaten Malang bakal bangun 10 embung untuk tingkatkan produksi pertanian
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mengajukan penambahan 10 embung (tempat penyimpanan air) untuk tahun ini. Dilansir dari Antara, pembangunan ini diajukan ke pemerintah pusat untuk meningkatkan produksi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah itu maupun nasional.

Bupati Malang, Rendra Kresna mengatakan bahwa adanya penambahan jumlah embung hingga 10 titik ini diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian.

"Kabupaten Malang ini merupakan salah satu daerah penyangga ketahanan pangan di Jatim, bahkan menyumbang produk pangan secara nasional, apalagi saat ini luas tanam di daerah ini juga bertambah cukup signifikan," jelas Rendra.

Dia mengemukakan bahwa luas lahan pertanian sawah (padi) teknis di Kabupaten Malang saat ini mencapai 45 ribu hektare. Namun, pemerintah pusat membebankan Kabupaten Malang agar menambah luas tanam di wilayah itu hingga 90 ribu hektare atau dua kali lipat dari luas lahan yang ada.

Oleh karena itu kini pihaknya menggenjot Dinas Pertanian Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DPTPHP) daerah itu mengupayakan perluasan lahan tanam lebih optimal. Cara yang digunakan di antaranya dengan cara menambah pembangunan embung di 10 titik strategis area pertanian (sawah teknis).

Kabupaten Malang saat ini sudah terdapat 38 embung yang tersebar di sejumlah kecamatan, seperti di Kecamatan Poncokusumo, Wajak, Pakis, Jabung dan Tumpang, ditambah di kawasan menuju Gunung Bromo.

Pembangunan embung baru ini sendiri merupakan bantuan dari Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Pembangunan embung di sejumlah kawasan tersebut sangat membantu peningkatan produktivitas pertanian yang menyokong ketahanan pangan di Kabupaten Malang.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pembangunan Kawasan Perdesaan (PKP) Kemendesa PDTT Ahmad Erani Yustika mengemukakan bahwa terdapat 534 kabupaten/kota di Indonesia yang menerima bantuan dana desa dari pemerintah pusat. Berbagai daerah tersebut langsung menunjukkan perkembangan cukup signifikan pada desanya.

Erani menyebut bahwa etelah menerima bantuan dana desa yang dikucurkan mulai 2015 itu, perkembangan pembangunannya sangat pesat, bahkan manfaatnya sudah dirasakan langsung oleh warga dan perekonomiannya meningkat. Pembangunan desa ini disebutnya membutuhkan kerja sama yang kuat dari seluruh elemen sehingga akan memunculkan kompetisi di antara desa bersangkutan.

"Masing-masing desa pasti akan mengangkat potensinya, baik pertanian, hortikultura, bahkan wisata," ujarnya.(Rizky Wahyu Permana-Merdeka.com/jko)

21 February 2018
Kotoran Kambing dan Pohon Pisang Disulap jadi Pupuk Organik Cair
Produksi pertanian organik kini sedang dikembangkan di berbagai daerah, mulai dari sayur mayur, padi hingga kedelai. Untuk menunjang produktivitas pertanian organik sebuah rumah produksi di Trenggalek berhasil membuat pupuk organik cair dengan memanfaatkan kotoran kambing serta bonggol pisang.

Pendiri rumah produksi pupuk organik cair (POC) di Desa/Kecamatan Pogalan, Slamet Gunaji, mengatakan, pupuk organik produksinya kini dapat dimanfaatkan oleh para petani dan terbukti mampu mengkatkan produksi padi

"Dari berbagai demplot yang sudah kami lakukan ujicoba di Trenggalek maupun luar kota, semuanya mengalami peningkatan hasil panen. Dari sebelumnya itu hanya menghasilkan 5-6 ton/hektare, dengan pupuk organik ini bisa meningkat sampai tujuh ton ada juga yang lebih," kata Slamet Gunaji, Selasa (21/2/2018).

Pengembangan organik tersebut seluruhnya menggunakan bahan-bahan non kimia. Mulai dari kotoran kambing, bonggol pisang, karbon, bekatul serta 16 jenis bakteri. Seluruh bahan baku pupuk dilakukan pemrosesan selama 35 hari melalui sistem fermensi.

"Kami kerjasama dengan Pak Cahya selaku mentor kami, semua dilakukan pendampingan mulai awal hingga berproduksi ini. Kalau untuk jenis bakterinya macam-macam, nah untuk jenisnya ini salah satu yang pegang patennya pak Cahya," ujarnya.

Dari satu kali proses, rumah produksinya mampu menghasilkan sekitar 7.000 liter pupuk cair. Pupuk tersebut dinilai lebih aman dibandingkan dengan pupuk kimia, karena tidak menyebabkan kerusakan pada tanah dan unsur haranya. Namun keberadaan pupuk organik justru semakin menyuburkan tanah.

"Ini sudah kami buktikan, setelah selama satu tahun menggunakan pupuk yang kami beri nama Marolis ini, tanah tersebut kami ambil dan dibawa ke laboratorium, terbukti residunya tidak ada," jelasnya.

Slamet menjelaskan, pembangunan rumah produksi pupuk organik cair tersebut berawal saat ia dan sejumlah perwakilan mengikuti pelatihan pembentukan Desa Industri Mandiri di Blora pada tahun 2015.

Dari proses tersebut, ia dan salah satu rekannya berkomitmen untuk mengembangkan POC di Trenggalek dengan didampingi langsung oleh ahli pupuk cair, Cahya Yudi Widianto.

"Di Trenggalek ini adalah yang berhasil, beberapa daerah lain gagal karena mereka hanya mengandalkan bantuan pemerintah. Sedangkan ini kami lakukan secara mandiri, Kemudian kami kerjasama dengan Dinas Pertanian Trenggalek," imbuhnya.

Slamet mengaku, saat ini produksi pupuknya tersebut telah mendapatkan angin segar dari pemerintah daerah untuk lebih dikembangkan. Sehingga bisa menyuplai kebutuhan pupuk petani dan mendorong terwujudnya pertanian organik.

"Ini menjadi sebuah koperasi yang sahamnya dimiliki oleh para kelompok-kelompok tani. Kami harap ini nanti akan berdampak positif terhadap pertanian di Trenggalek maupun daerah lain," katanya.

Sementara itu Pelaksana Tugas Bupati Trenggalek, Mochammad Nur Arifin mengapresiasi pendirian rumah produksi pupuk cair tersebut. Pihaknya berharap POC menjadi salah salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan pupuk sekaligus meningkatkan hasil panen.

"Kenapa kami prioritaskan di rumah produksi ini, karena yang dibutuhkan petani di sektor hulu dulu. Karena sering kali mereka kebingunan pupuk maupun bibit, nah ini yang harus dicarikan solusi dulu," ujarnya.

Menurutnya, pengembangan Desa Industri Mandiri tersebut merupakan salah satu dukungan untuk mewujudkan Desa Emas, salah satu percontohanya adalah Kabupaten Trenggalek. Keberadaan berbagai fasilitas pertanian di Trenggalek juga telah mendapat respon positif dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Indonesia, dengan mengunjungi langsung Trenggalek.

"Kami semua akan kerjasama dengan berbagai pihak, mulai dari AKD (Asosiasi Kepala Desa), KEIN yang saat ini hadir langsung di Trenggalek, serta beberapa yang lainnya," imbuhnya.

Strategi pengembangan sektor pertanian tidak hanya terhenti pada sektor produksi pupuk, namun juga akan menyentuh penyediaan bibit unggul hingga proses distribusi dan pemasaran hasil pertanian.

"Pertanian organik adalah salah satu yang sedang digandrugi oleh masyarakat. Nanti kami akan bantu untuk pemasaran, misalkan dengan mendorong para aparatur kita untuk mengkonsumsi beras lokal maupun beras organik lokal," jelas Ipin.(Adhar Muttaqin - detikNews/jko)
21 February 2018
Kronologis Pembuatan Video Pelakor Tulungagung, Dua Versi Video Semua Direkam di Depan Sang Suami
Kronologis di balik video viral terduga pelakor Tulungagung yang disawer uang lembaran seratus ribu rupiah akhirnya terungkap.

Video itu direkam sendiri oleh Ovie atau Bu Dendy yang kemudian mengunggahnya di akun facebook meski akhirnya dihapus.

Fakta yang ada mengungkap bila proses merekam video itu dilakukan di depan sang suami atau pak Dendy.
 

Adalah seorang Ketua RT, ET yang mengetahui detail krologis bagaimana video yang tersebar luas itu dibuat.

ET menyebut secara pasti video tentang pelakor Tulungagung yang tersebar dalam dua versi ( versi pelakor berjilbab merah yang disawer uang dan versi istri sah yang berteriak-teriak di depan rumah terduga pelakor) sama-sama dibuat pada Senin (19/2/2018).

ET merupakan Ketua RT di tempat tinggal Nila, perempuan yang disebut sebagai pelakor di Bangoan yang mengetahui sejak awal bagaimana Ovie atau Bu Dendy merekam dua video itu.

Menurut ET, Senin (19/2/2018) sekitar pukul 15.00 WIB, Ovie datang ke rumah Nila Rahmaniar, perempuan yang ditudingnya pelakor (perebut laki orang).

Ovie datang bersama suaminya, Dendy.

Dari kejauhan Ovie sudah teriak-teriak dengan nada emosi.

Namun saat itu Nila tidak sedang ada di rumah.

Ovie sempat melampiaskan amarahnya dan terus mengeluarkan kata-kata kasar.

Sebagai Ketua RT, ET sempat berusaha menengahi dan meredakan situasi.

Tidak lama kemudian Nila pulang dan sempat bertemu di salah satu rumah warga.

Karena tidak menyelesaikan masalah, Ovie memaksa Nila untuk ikut dengannya.

“Saya sempat menghentikan mobilnya dan harus ada jaminan Mbak Nila tidak diapa-apakan. Ovie kemudian menyalami saya dan dia memberi jaminan,” ungkap ET.

Setelah itu Ovie membawa Nila masuk mobil menuju rumahnya di Boyolangu.

Nila sempat menghubungi ibunya agar menyusul ke ruma Ovie bersama ET.

ET kemudian menyusul ke rumah Ovie.

Namun ET dilarang masuk oleh teman-teman Ovie. 

ET menyebut video di rumah Ovie atau Bu dendy di Boyolangu inilah video perempuan pelakor yang disawer uang ratusan juta itu dibuat, pada hari yang sama, Senin (19/2/2018) malam.

Saat Ovie merekam aksinya yang menyebar uang ke arah Nila, banyak orang yang diduga teman-teman Ovie di rumah itu.

Seluruh teman-teman Bu Dendy saat itu ikut menyaksikan.

Demikian juga Dendy yang ada di ruangan itu.

“Waktu itu di rumahnya ada banyak orang. Saya tidak boleh masuk,” ucap ET.

Peristiwa hari itu berakhir saat Nila disuruh keluar rumah setelah emosi Ovie mereda.(Penulis: David Yohanes-Suryamalang.com/jko)

 

Page 2 of 763      < 1 2 3 4 >  Last ›