Lintas Jawa Timur

18 May 2018
Sebelum Dibunuh, Sunarti Pengikut Klenik
Pembunuhan terhadap Sunarti (39) ibu rumah tangga asal Sidoarjo diduga erat kaitannya dengan sebuah kegiatan spiritual tertentu alias klenik. Ini terungkap dari pernyataan pelaku di hadapan polisi.
 
"Untuk motiv pembunuhan masih kita dalami, hanya yang bersangkutan mengikuti spiritual tertentu. Namun sementara kita elak dulu," kata Kapolres Kediri, AKBP Erick Hermawan kepada beritajatim.com, Jumat (17/5/2018).

Aliran spiritual apa yang tengah didalami korban? Kapolres belum dapat menjelaskannya. Pihaknya kini sedang fokus memintai keterangan salah satu rekan korban untuk mengembangkan kasus ini.

Sementara itu, Simah (70) ibu korban mengaku sangat terpukul dengan kematian Sunarti. Menurutnya, korban dikenal tidak memiliki musuh. Dalam keseharian berkepribadian baik, suka menolong dan dermawan.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
18 May 2018
Terduga Teroris Jombang Ditangkap, Ayah Syok Hingga Tak Doyan Makan
Nur Kholis (35) yang sehari-hari berjualan pisang, diringkus tim Densus 88 Antiteror. Penangkapan tersebut membuat orang tua Nur Kholis syok hingga tak doyan makan.

"Saya syok, hari ini terpaksa tak puasa. Karena sejak semalam tak enak makan," kata ayah Nur Kholis, Bajuri (56), kepada wartawan di rumahnya, Dusun Plemahan, Desa Banyuarang, Ngoro, Jombang, Jumat (18/5/2018).

Nur Kholis merupakan anak pertama dari 6 bersaudara pasangan Bajuri dan Sulastri. Pria yang sehari-hari berjualan pisang ini ditangkap tim Densus 88 di rumah orang tuanya, Kamis (17/5) sekitar pukul 13.40 WIB.

Bajuri tak menyangka jika anaknya terlibat jaringan teroris. Pasalnya, sehari-hari tak ada perilaku aneh pada diri Nur Kholis.

"Tidak ada keanehan, tiap hari dia jualan pisang," ujarnya.

Bajuri menduga, keterlibatan putranya lantaran kerap bergaul dengan Agus Satrio Widodo, teman semasa kecil dan teman mengaji Nur Kholis. Agus lebih dulu ditangkap Densus 88 di rumah kontrakan RT 02/RW 02, Kelurahan Urangagung, Sidoarjo.

"Widodo tak pernah main ke rumah, hanya keluarnya Nur Kholis sering kali sama Widodo. Keluar ke mana, melakukan apa, saya tak tahu," terangnya.

Bajuri berharap, Nur Kholis segera dibebaskan jika terbukti tak terlibat dalam aksi terorisme. "Kalau terlibat ya saya pasrah," tegasnya.

Kepala Dusun Plemahan Sudarsono juga tak menyangka Nur Kholis bakal diciduk Densus 88. Pasalnya, sehari-hari Nur Kholis hanya berjualan pisang.

"Kalau Widodo itu pernah seminggu tak pulang ikut aksi 212 di Jakarta, kalau Nur Kholis tiap hari di rumah," tandasnya.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
18 May 2018
 Dengar Ledakan dari Radius 300 Meter, Pria Asal Kota Batu Ini Tak Sadar Keluarganya Jadi Korban

Sutomo (76) terlihat lemas usai rumahnya di Jalan Wukir RT 1/RW 5 Desa Temas, Kota Batu meledak, Jumat (18/5/2018).

Dalam ledakan ini, menantunya, Didik Setiawan tewas.

Saat peristiwa terjadi, Sutomo sedang di sawah.

Saat itu dia mencabut rumput di sawahnya sekitar 300 meter dari lokasi ledakan.

Tiba-tiba Sutomo mendengar suara ledakan.

“Saya kira itu suara mercon,” kata Sutomo kepada SURYAMALANG.COM, Jumat (18/5/2018).

Suara ledakan itu begitu keras.

Sutomo pun langsung beranjak dari aktivitasnya mencabut rumput.

“Saya terus pulang,” terangnya.

Saat tiba di rumah, dia melihat banyak orang berkumpul di depan rumahnya.

Sementara rumah Didik yang bergandengan di belakang dengan rumah Sutomo terlihat hancur.

Saat itulah dia tahu kalau ada peristiwa naas yang menimpa keluarganya.

Sutomo lantas diajak ke RS Bhayangkara Tingkat IV Hasta Brata Batu untuk melihat kondisi Eni Susana, putri kandungnya.

Menurutnya, Didik baru membuka usaha produksi tahu sejak tiga bulan lalu.

Sebelumnya, Didik hanya bekerja sebagai buruh serabutan.(Benni Indo-Suryamalang.com/jko)



 

 
18 May 2018
Mayat Perempuan Dibukur Tanpa Dikafani dari Keluarga Kaya
Jenazah perempuan dikubur tanpa dikafani di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri bernama Sunarti, warga Desa Mranggen, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Ibu rumah tangga ini tergolong dari keluarga kaya.

"Keluarganya baru saja datang kemari. Mereka mencari tahu korban. Kami sampaikan bahwa jenazah korban sudah dibawa polisi ke Rumah Sakit Bhayangkara, Kota Kediri," kata Diono (58), warga Desa Tegowangi. Diono adalah orang yang pertama kali menemukan korban.

Keluarga Sunarti datang satu mobil ke rumah Diono. Salah satu di antara mereka adalah ayah korban. "Kalau menurut ceritanya, orang tua korban dari keluarga berada, termasuk korban. Mobilnya saja tujuh, dan suaminya seorang kontraktor," jelas Diono.

Berdasarkan cerita yang diterima Diono, Sunarti seorang ibu rumah tangga. Dia bersuami seorang kontraktor asal Kabupaten Nganjuk. Selain di Desa Mranggen, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, korban juga memiliki rumah di Sidoarjo.

"Orang tuanya bilang, mobil korban rusak. Mereka khawatir korban ini dirampok atau kecelakaan. Tetapi kalau melihat jenazahnya, masih memakai perhiasan, berupa cincin dan gelang. Bahkan, jam tangannya juga masih terikat di lengannya," imbuh Diono.

Diono dan keluarganya berharap, Kepolisian cepat mengungkap kasus kematian korban dan menemukan pelakunya. "Semoga segera terungkap, Mas," pintanya.

Untuk diketahui, Polres Kediri telah mengantongi satu nama pelaku pembunuhan terhadap Sunarti yang mayatnya dikubur di atas makam lama dengan satu kaki keluar di TPU Desa Tegowangi.

Polisi memastikan pelaku tidak hanya satu orang. Sementara itu, kini jenazah korban masih berada di RS Bhayangkara, Kota Kediri untuk menunggu otopsi.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
18 May 2018
Tak Disangka Kreasi Napi Lapas Lamongan ini Bisa Hasilkan Uang
Awalnya ingin mengusir rasa bosan dan jenuh selama menjalani hidup di Lapas Klas IIB Lamongan. Namun tak disangka, warga binaan ini mampu menghasilkan karya. Walhasil, karya berupa kerajinan tangan nan cantik dan mempesona itu pun menghasilkan uang.

Warga binaan berhasil membuat miniatur perahu pinisi, miniatur komedi putar, miniatur motor dan bahkan pembungkus tisu dari gulungan kertas koran.

"Awal membuat kerajinan tangan seperti ini karena untuk mengusir kejenuhan selama menjalani masa hukuman," kata salah seorang warga binaan, Sampurno alias Semprong kepada wartawan di lapas, Jumat (18/5/2018).

Sampurno yang divonis hukuman selama 2 tahun kasus tawuran itu mengaku membuat kerajinan tangan ini sangat mudah. Awalnya, mereka menggulung kertas koran yang sudah disiapkan dan dilem. Setelah digulung dengan lem, jelas Sampurno, masih digulung lagi dengan mencampur lem sesuai keperluan.

"Besar kecilnya gulungan kertas koran dan lem tadi disesuaikan dengan maket yang akan dibuat," kata Sampurno yang sudah menjalani lebih dari separuh masa hukumannya ini.

Untuk membuat sebuah miniatur kapal yang besar, Sampurno bersama teman-temannya tidak membutuhkan waktu lama. Sehari saja, mereka sudah bisa menyelesaikan miniatur tadi sesuai dengan tingkat kesulitannya. Untuk membuat satu miniatur berukuran besar, Sampurno menyebut mereka membutuhkan lebih kurang 1 kg kertas koran bekas yang biasanya dapatkan dari kerabat mereka yang datang berkunjung.

"Hampir semua warga binaan di sini bisa membuat semacam ini, yang menekuni ini juga banyak, ada lebih 50 orang," terang Sampurno yang mengaku akan menekuni pembuat kerajinan ini selepas dari hukuman di lapas.

Sementara Kalapas Lamongan, Ignatius Gunadi mengaku hasil kerajinan warga binaan di lapas yang dipimpinnya sudah dipasarkan meski belum luas. Bahkan, di beberapa pameran juga sudah dipamerkan.

"Kalau pemasaran baru sebatas dari mulut ke mulut saja, kalau pameran, kami sudah ikutkan sampai ke Jakarta," katanya.

Kini, kreasi dari warga binaan di Lapas Lamongan tak sekedar dari gulungan kertas koran. Warga binaan lapas sekarang juga memanfaatkan botol bekas minuman ringan sebagai bahan kreasinya. Botol bekas minuman ringan ini mereka padukan dengan gulungan kertas koran menjadi kreasi nan cantik.

"Ini adalah gulungan kertas koran yang kami padukan dengan bekas botol minuman ringan," ucap Sampurno menunjuk dek perahu dan layar miniatur perahu berukuran besar yang menggunakan bekas botol minuman ringan.

Saat ditanya harga, Gunadi menyebut tergantung besar kecilnya benda dan juga tingkat kesulitan saat pembuatan. Harganya, terang Gunadi, bervariasi antara Rp 50 ribu-500 ribu.

"Pada saat jam-jam besuk, hasil kreasi warga binaan ini juga kami pamerkan dan tak jarang banyak pengunjung yang kemudian tertarik untuk membeli," akunya.

Gunadi menyebut, banyak sekali ketrampilan dan keahlian lain yang diajarkan di Lapas Lamongan, seperti mebeler, las dan juga memasak. "Semuanya bertujuan agar selepas dari sini, warga binaan bisa punya keahlian," ungkapnya.

Selain itu hasil seni karya warga binaan lapas dipamerkan dan dipasarkan di Rumah Kreatif Lamongan-Mart milik Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Lamongan. "Banyak juga yang tertarik, hasil kreasi dari warga binaan Lapas Lamongan berupa sejumlah miniatur perahu pinisi dari gulungan kertas koran ini sudah ada yang terjual dan ada yang masih memesan," kata Kepala Dinas Koperasi dan UM Lamongan, Anang Taufik beberapa waktu lalu.(Eko Sudjarwo - detikNews/jko)
18 May 2018
Dua Terduga Teroris Diamankan Densus 88 Dari Malang
Densus 88 Anti Teror mengamankan 2 orang terduga teroris di Kota Malang. Keduanya kakak beradik AR dan IN ditangkap di rumahnya tanpa perlawanan. Usai penangkapan, polisi bersama Densus 88 kembali menyisir rumah di Jalan Gading Pesantren Blok Tiga, Nomor 1, RT 1 RW 6, Klojen Kota Malang, Kamis (17/5) malam.
Menurut Ketua RT Abdul Mukhid, kejadian penangkapan pukul 19.00 Wib. Dirinya sudah ditunggu oleh aparat kepolisian, guna memastikan identitas warganya yang akan diamankan.  "Namun untuk proses pengamanan kedua terduga ini saya tidak tahu," kata Mukhid. 
 
Kedua orang warganya itu sangat tertutup. Sang kakak, AR bekerja di kampus ternama di Kota Malang. Sementara adiknya, IN sangat jarang di rumah dan pekerjaanya pindah-pindah. Terduga IN sering pergi ke Surabaya dan Sidoarjo, namun untuk keperluannya tidak diketahui. "Akan tetapi pada sepekan kemarin, IN sempat pulang karena ibunya meninggal," kata Mukhid. 
 
Menurut informasi, kedua terduga teroris dibawa ke Polda Jatim guna dilakukan pengembangan.(Ali Makhrus-Pojokpitu.com/jko)
18 May 2018
Terduga Teroris di Kota Malang Ternyata Penjual Cilok
INM (21) terduga teroris yang ditangkap oleh Tim Densus 88 Anti Teror  di Jl Gading Pesantren Blok III No 1 Kelurahan Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Kamis malam (17/5/2018) ternyata penjual cilok di Surabaya.

"Dia ditangkap saat di rumah. Dia tinggal 2 tahun di Surabaya, di sana berjualan cilok. Dia baru pulang ke Malang kemarin karena ibunya meninggal, baru saja 7 harinya," kata Mualim, keluarga terduga teroris.

Sedangkan untuk ARH (21) yang diamankan bebarengan dengan INM bekerja sebagai petugas kebersihan. Menurut Mualim, ARH sejauh ini tidak memiliki aktifitas yang aneh. Ia dikenal aktif di kegiatan warga setempat.

"ARH tadi pulang kerja ketika azan, dia salat di rumah. Dia itu kerja sebagai cleaning servis, juga sering ikut aktifitas di kampung," ucap Mualim.

Informasi yang diterima Mualim, penangkapan kakak beradik itu untuk keperluan pengembangan. Ia tidak mendapat informasi lebih jelas penyebab penangkapan kerabatnya tersebut.

"Saya ndak tau ditangkap karena apa. Tadi saya habis pulang tarawih sudah dibawa, cuma lihat sebentar. Saya tanya polisi bilang belum bisa cerita banyak," tandasnya.(Lucky Aditya Ramadhan-Beritajatim.com/jko)
17 May 2018
Satpol PP Amankan 7 Muda Mudi di Dalam Kos, Ngapain Ya..
Tujuh muda-mudi diamankan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tulungagung, saat berada di dalam kamar kos.

Mereka yang diamankan 7 muda-mudi yang berada di dalam kamar kos, di Desa Plandaan Kecamatan Kedungwaru Tulungagung. Anindya Putra Humas Satpol PP Tulungagung mengatakan, pihaknya menemukan 3 orang perempuan yakni RI (18) dan MW (18) warga Tulungagung serta FT (18) warga Malang. Serta 2 orang teman laki-lakinya yakni IB (19) dan AH (21) warga Tulungagung

Saat dilakukan penggledahan, petugas menemukan belasan kondom dan obat pencegah mual. Untuk ketujuh muda mudi yang terjaring razia ini langsung dibawa ke Markas Satpol PP untuk mendapatkan pembinaan dan peringatan. Mereka baru diperbolehkan pulang setelah dijemput keluarganya masing masing.(Agus Bondan, Muhammad Imron Danu-Pojokpitu.com/jko)
17 May 2018
Perempuan Dikubur Tanpa Dikafani, 1 Kakinya Keluar
Masyarakat di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri digegerkan dengan penemuan jasad perempuan di area pemakaman umum setempat. Mayat terkubur diatas pemakaman lama dengan posisi satu kaki keluar.

Penemuan mayat perempuan yang diduga korban pembunuhan ini awalnya diketahui oleh Diono (58) seorang buruh tani asal Desa setempat. Saat Diono hendak mengambil potongan pohon bambu di tempat pemakaman umum, melihat ada satu kaki keluar dari makam.

Lokasinya berada di semak-semak. Diono pun lantas mendekati. Satu kaki kanan tersebut masih utuh dan diatas mata kaki tampak celana jeans warna biru.

Karena ketakutan, akhirnya Diono memberitahu masyarakat setempat. Akhirnya temuan itu dilaporkan ke Polsek Plemahan. Tak berselang setelah laporan itu, anggota polisi datang ke lokasi.

Anggota Polsek Plemahan datang bersama Tim Identifikasi Polres Kediri. Petugas kemudian membongkarnya. Ternyata ada sosok mayat perempuan masih baru yang dikubur diatas makam lama.

"Saat saksi mengambil potongan bambu ia melihat ada kaki kanan keluar di bekas makam lama orang lain. Spontan saksi ketakutan dan memberitahu warga sekitar," tutur AKP Surono, Rabu (16/5/2018).
 
Mantan Kasat Reskrim Polresta Kediri ini menambahkan, mayat dikubur di tempat bekas makam orang lain. Makam tersebut terlihat nampak baru dikubur dan diberi taburan bunga.  Saat dievakuasi korban masih berpakaian dan tidak dikafani.

"Pada saat ditemukan kondisi makam nampak baru," imbuh Surono.

Mayat yang belum diketahui identitasnya itu memiliki ciri-ciri badan gemuk, rambut panjang dan pirang, tinggi badan 150 centimeter, memakai baju hem warna motif abu-abu, dan memakai celana jeans panjang warna biru.

"Saat ditemukan kondisi korban tengkurap dan wajah korban sudah rusak serta mulut terluka. Diperkirakan korban berumur 30 sampai 40 tahun, jam tangan dan 1 cincin warna kuning. Kami tidak menemukan identitas korban," jelasnya.

Guna kepentingan penyelidikan, mayat perempuan itu dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Kota Kediri untuk dilakukan otopsi. Polisi menduga jasad tersebut korban penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
17 May 2018
Marak aksi terorisme, Rendra Kresna minta masyarakat untuk terus waspada
Bupati Malang Dr. H. Rendra Kresna mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Malang untuk guyub rukun bersama menjaga keamanan dan ketertiban. Cara yang diungkap oleh Rendra adalah dengan menjaga kondusifitas wilayah di sekitar tempat tinggal masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Rednra pada kegiatan Silahturahmi Dalam Rangka Pengamanan Wilayah di Pendopo Kabupaten Malang, Jalan Panji Kota Kepanjen, Rabu (16/5) sore. Kegiatan ini tergelar sebagai bentuk kewaspadaan atas ancaman dan gangguan keamanan di masyarakat. Langkah ini dilakukan menyusul terjadinya peristiwa serangan teroris dengan bom bunuh diri di Kota Surabaya yang kini menjadi perhatian seluruh rakyat Indonesia.

Pak Rendra, sapaan akrab Bupati mengimbau, agar seluruh warga masyarakat berperan aktif melaporkan kepada pemerintah, Polri dan TNI jika menemukan hal aneh atau mencurigakan baik hingga di tingkat terendah. Bupati menjelaskan, agar seluruh komponen bersama-sama meningkatkan kewaspadaan atas ancaman serupa.

"Tentunya kita bisa belajar setelah mengikuti perkembangan dari berita pasca terjadinya serangan teroris di Surabaya. Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama dengan Polri dan TNI untuk turut waspada atas ancaman serangan teroris. Bahkan di tingkat RT, kita juga bisa menerapkan kembali wajib lapor 1x24 jam bagi tamu atau pendatang yang masuk di wilayah tempat tinggal kita masing-masing,” jelas Rendra.

Tak hanya itu, Rendra juga menginstruksikan Dinas Pendidikan Kabupaten Malang agar bersama-sama Diknas Pemprov Jawa Timur untuk melanjutkan wejangan dan himbauan tersebut di lingkungan pendidikan. Pasalnya, hal ini sebagai upaya membekali para murid agar tidak sampai mudah terjerumus oleh informasi yang menyesatkan.

Selain orang tua, peran bapak ibu guru juga sangat turut membantu dalam upaya mengajak bersama-sama waspada terhadap ancaman teroris.

"Dunia modern saat ini, hampir seluruh anak-anak usia sekolah mulai SD, SMP hingga SMA/SMK itu sudah menggunakan handphone berbasis android. Jangan sampai mereka ini kemudian menelan mentah-mentah informasi sesat yang tersebar di media sosial dan sampai terjerumus oleh hal yang salah. Ini sangat berbahaya. Tanamkan terus cinta persatuan dan kesatuan, jaga keutuhan NKRI,” tambah Pak Rendra.

Dalam kegiatan ini, hadir pula Ketua DPRD Kabupaten Malang, Wakapolres Malang dan Dandim 0818 Kabupaten Malang / Kota Batu. Selain itu, Pemkab Malang juga mengundang seluruh komponen mulai dari para ulama, kyai, tokoh agama, organisasi agama dan masyarakat, OPD di lingkungan Pemkab Malang, camat se Kabupaten Malang.(Rizky Wahyu Permana-Merdeka.com/jko)

Page 1 of 780      1 2 3 >  Last ›