Lintas Jawa Timur

17 November 2017
Driver Taksi Online di Malang Terjaring Razia Gabungan
Taksi Online (Takol) terjaring operasi gabungan Dinas Perhubungan dan Polres Malang Kota. Mereka diketahui tak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagai syarat operasional.

"Kami menemukan ada tiga driver taksi online tak memiliki SIM A sebagai syarat operasional," kata Kepala Bidang Pengendalian dan Penertiban Dishub Kota Malanv Gamaliel Raymond kepada wartawan di sela razia, Jumat (17/11/2017).

Operasi gabungan digelar di depan Stasiun Besar Malang sejak Jumat pagi. Selain ojek dan taksi online, petugas juga merazia kendaraan barang dan angkutan umum yang melintas.

Kepala pelanggar, petugas langsung memberi tilang sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. "Yang melanggar kami lakukan tilang, termasuk driver online tadi," jelas Raymound.

Menurutnya, untuk taksi online harus memenuhi syarat dari peraturan pemerintah yang baru. Seperti harus ada pengurusan uji kendaraan bermotor, serta wajib memiliki SIM A umum.

"Jadi bagi driver online harus memenuhi syarat tersebut, jika tidak akan ditilang bila terjaring operasi," tegasnya.

Dikatakan dia, operasi merupakan kegiatan rutin untuk mengetahui kelaikan kendaraan yang beroperasi di jalanan Kota Malang. Pihaknya mengimbau kepada sopir atau pemilik kendaraan untuk memenuhi aturan yang berlaku.(Muhammad Aminudin - detikNews/jko)
17 November 2017
Bayi Mungil Dibuang di SPBU Dlanggu Mojokerto, Sang Ibu Tinggalkan Surat dan Beri Wasiat Nama
Bayi mungil berjenis perempuan ditemukan di dalam kardus di toilet SPBU di Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.

Bayi malang tersebut, sengaja dibuang oleh ibu kandungnya lantaran tak memiliki biaya.
 

Hal itu ditegaskan dalam surat yang ditemukan di dalam kardus minuman merek Ichitan.

Surat tersebut bertuliskan sebagai berikut.

Maaf sebelumnya saya nggak bisa merawat anak saya karena biaya, bayi ini nggak ada yang menafkahi.

Karena itu, saya minta tolong pada anda (yang menemukan) untuk merawat dan menjaganya.

Anak ini saya beri nama Aini Nur Azizah. Terimakasih."

Bayi cantik itu, pertama kali ditemukan Muhammad Azis Fikri remaja 21 tahun, Jumat (17/11/2017) dini hari sekitar pukul 01.00 wib.
 

Saat itu, ia selepas pulang dari Kota Mojokerto dan berhenti di SPBU karena ingin buang air kencing.

Sesampainya di toilet, tiba-tiba remaja yang merupakan warga Desa Kerosari, Kecamatan Kutorejo itu mendengar suara tangis bayi.

Ia pun mencoba mencari asal bunyi suara tersebut, dan rupanya suara tersebut terdengar keluar dari dalam kardus.

Saat dibuka, isi dalam kardus tersebut tidak lain bayi perempuan yang masih merah lengkap mengenakan baju.

Di dalam kardus, juga ditemukan satu botol susu 400 gram, satu handuk dan kain merah yang digunakan untuk alas.

Saat ini, bayi perempuan itu sedang dirawat di RSUD Mojosari.

"Kalau infonya, bayi ditaruh dalam kardus. Kondisi masih hidup. Itu ditemukan sekitar pukul dua," kata petugas SPBU Dlanggu, Mukhlison.(Rorry Nurwawati-Surya.co.id/jko)

 

 

 

17 November 2017
Diduga Ada Anggota PPS Tuban Terindikasi DNA Parpol
Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Tuban, mengindikasikan sejumlah anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang direkrut oleh KPU setempat, masih anggota partai politik.
Hal tersebut diketahui setelah Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Tuban, melakukan verifikasi berkas anggota PPS yang dinyatakan lolos seleksi. 
 
Menurut Masrukin, Ketua Panwaslukab Tuban, dari 984 petugas PPS yang ditetapkan oleh KPU Tuban, sebanyak 5 orang diindikasikan DNA partai politik, atau masih menjadi kader aktif partai politik. Atas temuan ini, pihak Panwaslukab Tuban hanya melakukan langkah persuasif, yakni dengan meminta kejelasan terhadap orang-orang tersebut. Yakni dengan melengkapi berkas bahwa mereka telah mengundurkan diri atau tidak tergabung sebagai anggota dalam partai politik manapun selama lima tahun terakhir.
 
Namun, jika mereka tidak mengindahkannya atau benar-benar masih menjadi anggota Parpol, maka pihak Panwaslukan Tuban akan bersikap tegas. Yakni merekomendasikan mereka mundur atau dikeluarkan oleh KPU setempat.
 
Hingga kini, pihak Panwaslukab Tuban masih terus melakukan verifikasi terhadap berkas anggota PPS yang ditetapkan oleh KPU. Mengingat verifikasi baru sebatas keanggotaan parpai peserta pemilu yang lama, sedangkan partai peserta pemilu yang baru belum dilakukan.
 
Pihak Panwaslukab Tuban juga melakukan pemeriksaan indikasi serupa pada Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK). "Namun setelah dilakukan verifikasi tidak ditemukan adanya DNA Parpol pada peserta yang telah ditetapkan oleh KPU," kata Masrukin.
 
Sebelumnya, KPU Tuban melakukan rekrutmen Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS), untuk membantu kinerja KPU setempat, dalam menyelenggarakan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur 2018 mendatang.(Khusni Mubarok-Pojokpitu.com/jko)
17 November 2017
Pejabat Pemkot Batu Ditahan Terkait Proyek Pengadaan Buku Fiktif
Kejaksaan Negeri Kota Batu menahan satu Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkot batu, terkait proyek pengadaan buku fiktif.

Dia yakni Kabid Informasi Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Batu Susilo Trimulyanto (ST). Susilo langsung dijebloskan ke Rutan Medaeng, Surabaya, usai menjalani pemeriksaan sebagai tersangka.

"Kami sudah lakukan penahanan kepada tersangka atas kasus proyek fiktif pengadaan buku profil daerah untuk Pemkot Batu tahun 2016," ujar Kepala Kejaksaan Negeri Kota Batu Nur Chusniah saat dikonfirmasi detikcom, Jumat (17/11/2017) pagi.

Nur Chusniah menjelaskan, sebelum dilakukan penahanan pihaknya telah menggelar penyelidikan terkait dugaan proyek fiktif pengadaan buku hingga merugikan negara sebesar Rp 140 juta.

Selain Susilo, ada satu ASN lagi turut ditetapkan sebagai tersangka, yakni penyedia jasa atau rekanan dalam proyek dikerjakaan saat menjabat di Bappeda tahun 2016.

"Kami memanggil dua tersangka, namun hanya ST yang datang dan langsung dilakukan penahanan," sebut Chusniah.

Dalam kasus ini, lanjut dia, Bappeda menggelar kegiatan pengadaan buku profil daerah. Namun saat dilakukan penyelidikan sampai Mei 2017, fisik buku yang dimaksud tak ditemukan.

"Tetapi dalam laporan keuangan, proses pengadaan ada sekaligus pencairan anggarannya. Namun fisik bukunya tak ditemukan," sambungnya.

Kasus yang menjerat Susilo Trimulyanto (ST) saat menjabat sebagai Kabid Perencanaan dan Ekonomi pada Bappeda Batu tahun 2016.

Sementara sebelumnya, Kejari Kota Batu juga menahan Titok W, yang menjabat sebagai Kabag Pemerintahan. Titok ditetapkan tersangka hingga ditahan atas kasus pengadaan buku profil Wali Kota Batu di tahun 2016.

Sedangkan Titok W pejabat di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah, yang kini menjabat sebagai Kabag Pemerintahan. Keduanya dijerat sesuai pasal 2 atau 3 UU No 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi.

Pemkot Batu telah melayangkan surat penangguhan penahanan untuk kedua pejabatnya yang ditahan oleh kejaksaan. Hal itu disampaikan oleh Plt Wali Kota Batu Punjul Santoso.(Muhammad Aminudin - detikNews/jko)
17 November 2017
Awas! Jalur Pacitan-Ponorogo Licin, Air Sempat Menggenang
Hujan yang mengguyur Madiun Raya sejak Kamis (16/11/2017) sampai Jumat (17/11/2017) dini hari menyebabkan banjir di mana-mana. Tak terkecuali di perbatasan Pacitan-Ponorogo Km 20.

Yakni di Dusun Dondong, Desa Gemaharjo, Kecamatan Tegalombo.Tepatnya di tugu bertuliskan Selamat Datang di Kota Kelahiran SBY. Air sempat menggenang hingga 50 sentimeter dan menyebabkan arus lalu lintas berhenti sementara.

Menggenangnya air berawal dari hujan yang terus mengguyur wilayah setempat. Mulai dari pukul 16.50 WIB air mengalir dari atas tebing yang ketinggian kurang lebih 20 meter jatuh ke bawah.

"Air sempat menggenang mencapai 50 sentimeter. Tapi tidak menimbulkan bencana yang berbahaya," kata Pujono, Kabid Kedaduratan dan Logistik BPBD Pacitan.

Namun, lanjut dia, saat ini masyarakat yang ingin melintas harus hati-hati. Air memang sudah surut, tapi material masih ada sehingga menyenabkan.licin.

"Hati-hati saja. Memang air sudah tidak menggenang. Tapi masih licin apalagi masih berpotensi hujan," pungkasnya.(Pramita Kusumaningrum-Beritajatim.com/jko)
17 November 2017
Kejari Ngawi Musnahkan Barang Bukti 12 Perkara
Kejaksaan Negeri Ngawi, melakukan pemusnahan barang bukti perkara pidana umum, yang telah ditangani dalam kurun waktu 2 bulan terakhir.
Dengan disaksikan pejabat unsur pimpinan daerah dan tokoh masyarakat, Kejaksaan Negeri Ngawi menggelar  pemusnahan barang bukti 12 perkara pidana. Mulai dari sandal  jepit hingga obat terlarang. 
 
Selanjutnya, barang bukti dimusnahkan dengan cara dalam tong. Sejumlah barang bukti, berupa mesin diesel sitaan perkara tambang ilegal juga dihancurkan mengggunakan mesin gerinda. 
 
Menurut Waito Wongateleng, Kepala Kejari Ngawi, barang bukti paling banyak dimusnahkan, dari jenis obat terlarang, yang merupakan perkara limpahan dari Satuan Reserse Narkoba Polres Ngawi. Diantaranya ganja, obat ilegal.  Sisanya, barang bukti perkara uang palsu yang telah diproses oleh Kejari Ngawi. Pemusnahan barang bukti berbagai jenis tersebut, karena perkaranya sudah inkrah.(Oleh : Herpin Pranoto-Pojokpitu.com)
16 November 2017
Gudang Botol Minuman Beralkohol di Kota Malang Terbakar, Ada Fakta yang Mengejutkan . . .
Sebuah gudang milik PT Tenaga Baru di Jalan Simpang Tenaga Utara, Blimbing, Kota Malang terbakar, Rabu (15/11/2017) malam.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 21.45 WIB saat gudang penyimpanan minuman itu tertutup. Gudang milik Edi Waluyo tersebut menyimpan sejumlah botol yang di antaranya berisi minuman beralkohol. Diduga kebakaran diakibatkan konsleting listrik dari ruang kantor operasional.

Api melalap bagian luar hingga dalam gedung. Tak lama kemudian petugas mendapat laporan dari karyawan PT Tenaga Baru yang mengetahui peristiwa tersebut. Sekitar pukul 22.10 WIB, enam unit mobil pemadam kebakaran tiba di lokasi.
 

Petugas segera memadamkan api yang perlahan menghanguskan gedung. Api bisa dipadamkan dua jam kemudian. Proses pendinginan dilakukan hingga sekitar pukul 1.00. Kepala PMK Kota Malang Josw Bello menjelaskan, petugas PMK sempat kembali lagi ke lokasi untuk memadamkan api.

Pasalnya, ditemukan asap yang membumbung di tempat kebakaran. Diduga terjadi kebakaran lagi ditimbunan bekas kebakaran. Tiga unit PMK mendatangi lokasi untuk memastikan tidak ada sisa api yang membara. Sekitar pukul 5.00 WIB, petugas meninggalkan lokasi.

"Sudah dipastikan, api berasal dari korsleting listrik di dalam ruang operasional gedung," ujar Bello, Kamis (17/11/2017).

Bello juga mengatakan adanya dugaan penyalahgunaan bangunan. Ia menerangkan gudang itu awalnya berizin untuk bahan-bahan spare part. Namun kemudian diketahui gudang berisi botol-botol minuman.

Kebakaran yang terjadi lagi juga diduga karena ada kontak antara api dengan alkohol. Diduga gudang yang awalnya untuk barang-barang spare part itu disewakan ke pihak lain kemudian digunakan untuk menyimpan botol.

"Yang saya tahu, minumannya itu juga belum berizin," paparnya.

Botol-botol itu kini telah diamankan petugas. Kerugian akibat peristiwa itu sekitar Rp 500 juta. Bello mengatakan kalau saat ini api sudah betul-betul padam.

Kepala Satpol PP Kota Malang Priadi mengatakan belum mendapat laporan rinci terkait peristiwa dan keterangan izin perusahaan. Saat dikonfirmasi, dirinya mengaku tengah berada di luar kota.

"Ini masih tugas di luar kota, sementara bisa ke pak Bello dulu ya. Saya belum dapat laporannya," ujarnya singkat.

Sementara itu, Kapolsek Blimbing Kompol Slamet Riadi mengatakan, petugas menemukan botol-botol di tempat lokasi. Namun botol-botol yang ditemukan itu sudah tidak berisi. Dari hasil olah TKP, petugas menyimpulkan gudang itu adalah gudang penyimpanan botol.

"Botolnya kosong. Itu gudang tempat penyimpanan botol," pungkasnya.

Polisi masih memeriksa sejumlah saksi untuk mengembangkan penyidikan.(Benni Indo-Suryamalang.com/jko)

 

16 November 2017
Saat Kapolres Probolinggo Obatkan Nenek Sebatang Kara ke Puskesmas
Mbah Rema tak menyangka akan dirawat di puskesmas. Ia memang sakit, namun selama ini belum ada yang membawanya ke tempat berobat.

Adalah Kapolres Probolinggo AKBP Fadly Samad yang melakukannya. Fadly yang melihat nenek berusia 95 tahun itu sakit langsung menggendongnya ke mobil yang membawa Mbah Rema ke rumah sakit.

Pagi itu Fadly mendatangi rumah Mbah Rema di Dusun Krajan, Desa Talkandang, Kecamatan Kotaanyar. Kabupaten Probolinggo. Fadly bermaksud menyerahkan tali asih. Sambil menyerahkan tali asih, Fadly berbincang dengan Mbah Rema di rumah yang hanya berukuran sebuah kamar, 2x3 meter.

Di rumah seukuran kamar itu Mbah Rema tingkal sebatang kara. Tidak ada sanak keluarga yang menemani. Saat dilakukan tensi darah, hasilnya mengejutkan, tensi darah Mbah Rema mencapai 215 mmHg.

Tanpa berpikir panjang, Fadly langsung menggendong Mbah Rema. Fadly membawa nenek tua itu berobat ke Puskesmas Kotanyar dengan naik ambulans yang sudah disiapkan.

"Kami bawa dulu (Embah Rema) untuk berobat ya ibu-ibu, doakan semoga cepat sembuh," kata Fadly kepada warga yang ada di luar rumah Mbah Rema, Kamis (16/11/2017).

Ambulans melanju dengan kencang menuju Puskesmas Kotaanyar. Sesampai di Puskesmas, tim Dokpol Aiptu Hendro menggotongnya ke ruang UGD untuk mendapat perawatan.

Dokter Puskesmas dengan cepat langsung melakukan pemeriksaan awal terhadap Mbah Rema. Setelah pihak dokter melakukan pemeriksaan, Mbah Rema diputuskan harus menjalani rawat inap di puskesmas.

"Pasien harus di rawat inap pak (Fadly), kalau tidak di rawat inap, bahaya akan kesehatannya," ungkap dr Heny.

Fadly menyetujui saran dokter. Mbah Rema harus dirawat selama beberapa hari agar kesehatannya pulih kembali.

"Kami perintahkan anggota (Polres Probolinggo) secara bergantian menjaga Mbah Rema hingga benar-benar sehat," tandas Fadly.(M Rofiq - detikNews/jko)
16 November 2017
Bermula Kehabisan BBM, Nasib Tragis Dialami Supriyadi
Sejumlah warga yang tinggal di kawasan Jambon, Desa Sumurgung, Kecamatan Kota, Kabupaten Tuban digegerkan dengan adanya sesok mayat warga yang ditemukan tewas di dalam saluran air irigasi yang berada di pinggir jalan raya desa itu, Kamis (16/11/2017).

Pria yang tewas dengan posisi seperti orang sedang Sujud itu diketahui bernama Supriyadi (40), tukang becak warga Dusun Mbongkol, Desa Sumurgung, Kecamatan Kota Tuban. Saat ditemukan kepala korban berada di bawah dan tenggelam di air dan kaki berada di atas.

Peristiwa dari kematian Supriyadi itu berawal saat korban berboncengan dengan Fatimah (38), yang tak lain adalah istri dari korban dengan mengunakan sepeda motor Mio. Yang mana pasangan suami istri tersebut akan pulang ke rumahnya setelah membantu saudaranya yang memiliki hajatan.

"Saat sampai di jalanan atau jembatan Jambon itu motor korban kehabisan bahan bakar. Dan korban turun dari motor untuk berhenti," terang IPTU Agus Edy Pranoto, Kasubbag Humas Polres Tuban.

Ketika motornya kehabisan bahan bakar minyak (BBM) itu, istri korban langsung berangkat untuk membeli bbm di perkampungan yang jaraknya lumayan jauh dari TKP. Namun, saat kembali Fatimah sudah tidak menemukan korban dan hanya terlihat sepeda motornya saja yang berada di pinggir jalan.

"Istrinya pergi untuk beli bbm sekitar 10 menit, saat kembali sudah tidak melihat suaminya. Kemudian istri korban meminta bantuan orang lain untuk ikut melakukan pencarian," tambahnya.

Ketika dilakukan pencarian ternyata Supriyadi sudah ditemukan dalam posisi terjatuh di saluran air yang ada di pinggir jalan raya itu dengan posisi kepala di bawah. Ketika dilakukan pemeriksaan ternyata korban sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

"Petugas yang mendapatkan laporan langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP dan melakukan identifikasi terhadap korban. Dan dari hasil pemeriksaan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh," pungkasnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan di TKP mayat pria bertubuh besar itu langsung dievakuasi dan diangkat dari dalam saluran air untuk pengairan di sawah itu. Selanjutnya, jenazah korban langsung diserahkan kepada pihak keluar lantaran keluarga korban menolak jika korban dilakukan otopsi.(M Muthohar-Beritajatim.com/jko)
16 November 2017
Siap-siap, PKL di Blitar Tak Punya Kartu Resmi akan Dirazia
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Blitar mewajibkan para pedagang kaki lima (PKL) mempunyai kartu resmi untuk berdagang. Jika tidak punya kartu, siap-siap dirazia Satpol PP.

Dalam kartu yang dikeluarkan resmi oleh Disperindag itu, diatur jam dan lokasi berjualan. Pemberian kartu PKL ini sebagai upaya Pemkot Blitar menata kembali keberadaan PKL yang semakin menjamur di berbagai sudut kota.

"Aturan ini sesuai dengan Perwali 47 tahun 2016. Di dalamnya diatur siapa saja identitas pedagang yang sudah terdaftar. Di mana lokasi jualannya dan mulai jam berapa sampai jam berapa dia boleh berjualan di lokasi yang sudah ditentukan itu," kata Kepala Disperindag Kota Blitar, Ariyanto ditemui di kantornya, Jalan Jawa, Kamis (16/11/2017).

Sampai saat ini, Ariyanto mengaku, ada sebanyak 635 PKL yang sudah terdata. Mereka menempati 42 titik lokasi berjualan yang sudah ditetapkan.

"Di luar itu, berarti mereka menyalahi perda dan bisa ditertibkan oleh Satpol PP," tegasnya.

Menurut Ariyanto, 635 PKL yang sudah didata akan menerima kartu akhir November 2017. Dengan diberikan kartu, akan mempermudah Satpol PP melakukan razia. Pedagang yang nantinya tidak memperoleh kartu, otomatis tidak diperbolehkan berjualan. Dan harus ditertibkan oleh Satpol PP Kota Blitar.

Lalu bagaimana dengan PKL yang belum terdata untuk memperoleh kartu? "Silahkan mendaftar ke kantor. Nanti kami akan tinjau, apakah lokasi berdagangnya sudah sesuai di 42 titik sesuai perwali itu. Kalau tidak sesuai, kami arahkan untuk mencari lokasi di 42 titik itu. Kalau tidak mau, ya gak dapat kartu," terangnya.

Dalam penataan PKL, lanjut dia, pihaknya tidak akan mensentralisir lokasi berdasarkan jenis dagangan. Namun akan disebar di beberapa titik yang sudah ditentukan Pemkot Blitar agar tertata dan tidak terkesan amburadul.

"Akan kami sebar, jadi tidak satu titik saja jualan makanan, lainnya jualan mainan," terangnya.

Rencananya, kartu PKL secara resmi akan diberikan Wali Kota Blitar akhir bulan November.(Erliana Riady - detikNews/jko)
Page 1 of 729      1 2 3 >  Last ›