Lintas Jawa Timur

22 February 2019
166 Warga Sumenep Terserang DBD, 3 Meninggal
Sebanyak 166 warga Sumenep terserang Demam Berdarah Dengue (DBD). Bahkan 3 diantaranya meninggal dunia.

“Jumlah itu merupakan total penderita DBD sejak Januari – Februari 2019. Selama bulan Januari saja, jumlah penderita DBD tercatat 157 orang dan Februari sebanyak 9 orang,” kata Kepala Bidang Pencegahan, Pemberantasan, Pengendalian Penyakit Masalah Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Sumenep, Kusumawati, Jumat (22/02/2019)

Ia menjelaskan, dari 166 penderita DBD tersebut, tiga diantaranya meninggal dunia. Penderita DBD yang meninggal itu berasal dari Kecamatan Gapura, Dasuk dan Pragaan. “Tiga penderita yang meninggal itu terjadi pada bulan Januari. Sedangkan untuk bulan Februari, Alhamdulillah semua penderita bisa tertolong,” ujarnya.

Ia memaparkan, daerah endemis DBD ada di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Kota, Pragaan, dan Manding. Jumlah penderita DBD di tiga kecamatan tersebut cukup tinggi.

“Salah satu cara paling efektif untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti adalah menjaga kebersihan lingkungan dengan gerakan 3 M, yakni menutup, menguras dan mengubur, bukan dengan fogging,” terangnya.(Temmy P.-Beritajatim.com/jko)
22 February 2019
Polisi Serbu Pantai Kutang di Lamongan, Ada Apa?
Pantai Kutang diserbu polisi Lamongan. Bukan menangkap pelaku tindak kejahatan, namun bersih-bersih Pantai Kutang dari sampah yang berserakan. Tak hanya polisi, para nelayan pun ikut membantu bersih-bersih.

Tujuannya, mengajak hidup bersih nelayan yang tinggal di kawasan Pantura Lamongan. Selain itu aksi ini untuk memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

"Kebersihan harus ditanamkan sejak dini pada diri kita masing-masing. Tentunya dengan menjaga pola hidup bersih dan menjaga lingkungan agar tetap asri dan nyaman," kata Kapolres Lamongan, AKBP Feby DP Hutagalung di sela bersih-bersih pantai, Jumat (22/2/2019).
 
Kapolres menjelaskan dari hasil memungut sampah di pesisir pantai, polisi dan nelayan berhasil mengumpulkan puluhan kuintal sampah yang diangkut menggunakan mobil bak sampah dan dibuang di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) terdekat.

Sampah yang berhasil dikumpulkan kebanyakan adalah sampah plastik dan pakaian bekas yang kemungkinan besar merupakan sampah kiriman yang hanyut bersama derasnya ombak pantai.

"Hampir 2 Km lebih kawasan pesisir pantai yang kita bersihkan. Semoga masyarakat tetap menjaga kebersihan lingkungan," harapnya.

Selain di Pantai Kutang, mereka juga bersih-bersih di Pasar Sidoharjo Lamongan. Polisi juga membagikan sumbangan kepada ratusan anak yatim dan fakir miskin. "Jika lingkungan tidak bersih maka generasi anak cucu kita akan sangat rentan terhadap ancaman bahaya penyakit yang diakibatkan karena kurangnya menjaga lingkungan," pungkasnya.(Eko Sudjarwo - detikNews/jko)
22 February 2019
Jualan Pil Koplo Sambil Sekolah, Hasilnya Buat Jajan
Anak-anak sekolah jaman sekarang sudah mulai diracuni masuknya pil koplo jenis dauble L yang dijual dengan harga murah. Bahkan pelakunya seorang pelajar nyambi berjualan, dengan konsumen teman-temannya sendiri.

Pelaku FB (19) warga Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, diringkus Unit Reskrim Polsek Donomulyo. Pelaku menjadi pengedar pil dengan iming-iming hasil untuk menambah uang jajan.

Pelaku yang ketagihan itu membeli dalam jumlah cukup banyak dari pengedar di Kepanjen dengan harga Rp 100 ribu. Mengetahui banyak teman satu sekolah berminat, pelaku menjual kembali dengan mengambil untung.

Menurut Ipda Arif Karnawan, Kanit Reskrim Polsek Donomulyo, atas adanya laporan peredaran pil koplo di kalangan pelajar, pihaknya menindaklanjuti dengan mengamankan FB.

Atas perbuatannya, FB dijerat dengan undang-undang kesehatan, pasal 197 subsider 196 undang-undang nomor 36 tahun 2009 ancaman hukuman hingga 10 tahun kurungan penjara.(Khaerul Anwar-Pojokpitu.com/jko)
22 February 2019
Melanggar Aturan Kampanye, Bawaslu Biltar Sidangkan Caleg DPR RI
Melanggar aturan kampanye, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Blitar, melakukan sidang terhadap Caleg DPR RI daerah pilihan VI Jawa Timur dari partai PDIP. Namun dalam agenda sidang pembacaan putusan pendahuluan tersebut yang bersangkutan tidak hadir.

Tanpa dihadiri terlapor calon anggota DPR RI, Sri Rahayu, Bawaslu Kabupaten Blitar tetap menggelar sidang pembacaan putusan pendahuluan, atas temuan pelanggaran kampanye peserta pemilu 2019.

Sidang yang di gelar bertempat di Kantor Bawaslu Kabupaten Blitar ini, hanya dihadiri pelapor yakni panitia pengawas pemilu kecamatan Wonodadi Blitar, yang menemukan adanya pelanggaran kampanye dengan tidak adanya surat tanda terima pemeritahuan kampanye.

Ketua Komisoner Bawaslu Kabupaten Blitar Hakam Sholihuddin mengatakan , sidang ini merupakan lanjutan dari temuan Panwascam wonodadi atas pelanggaran kampanye caleg nomor urut satu dari partai PDIP.

Meskipun terlapor Sri Rahayu tidak hadir dalam sidang pembacaan putusan pendahuluan oleh Bawaslu, namun Bawaslu akan kembali melayangkan surat kepada yang bersangkutan untuk hadir dalam sidang pemeriksaan.(Mochammad Asrofi, Imron Danu-Pojokpitu/jko)
22 February 2019
Kampung Sampah Bertekad Jadi Kampung Bebas Narkoba
Usai membekali kampung mereka dengan CCTV dan pengelolaan sampah terpadu kini warga Kampung Sampah RT 23 RW 07 Kelurahan Sekardangan, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo merintis program baru yakni kampung bebas narkoba. Tujuannya, untuk mencegah penyalahgunaan narkoba khususnya pada anak-anak usia remaja di wilayah tersebut.

Edi Priyanto, Ketua RT 23 RW 07 Sekardangan, Sidoarjo, menjelaskan bahwa kampungnya menginisiasi wilayahnya sebagai kampung bebas narkoba. Itu dilatarbelakangi beredarnya informasi penyalahgunaan narkoba dan kejadian tersebut telah meresahkan sebagian masyarakat di wilayahnya. Berdasarkan informasi telah diketahui bahwa berbagai lapisan masyarakat mulai dari pejabat publik, para artis hingga masyarakat, bahkan remaja dan anak-anak menjadi korban narkoba.

“Warga kami menyadari harus ada upaya dan langkah nyata untuk ikut serta dalam pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba dengan menginisiasi menjadikan lingkungan kami sebagai kampung bebas narkoba,” ujar Edi.

“Komitmen kami adalah menyatakan perang terhadap segala bentuk narkoba. Sosialisasi dan kampanye terhadap bahaya dan dampak buruk narkoba ke warga menjadi suatu hal yang cukup penting untuk dilakukan, mengingat akses terhadap internet saat ini bisa dilakukan kapanpun dan oleh siapapun tak terkecuali adalah anak-anak dan generasi muda,” lanjut Edi.

Peran keluarga penting dalam membantu pencegahan terhadap penyalahgunaan narkoba khususnya pada anak-anak usia remaja karena usia tersebut merupakan usia yang suka melakukan uji coba dan memiliki rasa ingin tahu yang besar untuk merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan.

Pengaruh narkoba pada remaja dapat berakibat lebih fatal, karena menghambat perkembangan kepribadianya, dan dapat merusak potensi diri. Oleh karenanya keluarga dapat berbicara dengan anak remaja tentang konsekuensi dari menggunakan narkoba karena sangat berbahaya bagi kesehata dan dapat mempengaruhi susunan syaraf, mengakibatkan ketagihan, ketergantungan, serta dapat menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, persepsi, dan kesadaran.

Kampung Edukasi Sampah sendiri telah menyediakan arena dan sarana permainan tradisional bagi anak-anak di lingkungannya sejak dua tahun lalu. Meski tidak memiliki lahan khusus, namun para warga tidak kehabisan akal. Arena permainan tradisional tersebut dibuat di jalan blok paving yang berada di sekitar rumah warga. Beberapa permainan tradisional itu adalah gobak sodor, boi-boinan, berbagai jenis engklek (engklek kitiran, engklek pesawat, engklek rok, engklek gunung), permainan ular tangga, lapangan mini bulutangkis dan mini sepakbola.

Edi mengatakan bahwa awalnya pembuatan arena permainan tradisional dilatarbelakangi oleh keprihatinannya atas maraknya penggunaan gadget secara berlebihan pada anak-anak. “Tak hanya membiasakan aktifitas fisik bagi anak namun juga sebagai sarana edukasi terhadap filosofi permainan tradisional tempo dulu yang belum tentu dikenal oleh masyarakat secara luas saat ini,” tambah Edi.

Beberapa kegiatan positif yang dilakukan dalam keluarga maupun melalui lingkungan warga Kampung Edukasi Sampah diklaim dapat mengeliminir meluasnya peredaran dan pengaruh narkoba. Selain dengan edukasi dalam bentuk sosialisasi dan kampanye menggunakan beberapa media publikasi, penggalakan aktivitas fisik sekaligus interaksi sosial dengan dengan permainan tradisional seperti gobak sodor, boi-boian, engklek, ular tangga serta permainan sepakbola, bulutangkis merupakan kegiatan yang positif dan menarik minat mereka.(Renni Susilawati-Beritajatim.com/jko)
22 February 2019
 Guru IM yang Diduga Cabuli Puluhan Siswi SDN Kauman 3 Kota Malang Diperiksa Polisi Hari Ini

Polres Malang Kota menjadwalkan pemeriksaan Guru IM, tedurga pelaku pelecehan seksual di SDN Kauman 3 Kota Malang, Jumat (22/2/2019).

Guru IM dimintai keterangan setelah polisi memeriksa 15 saksi.

"Ya hari ini. Saya tidak tahu jam berapa datangnya. Pastinya kami telah layangkan surat pemanggilan," ujar Kasub Bag Humas Polres Malang Kota Ipda Ni Made Seruni Marhaeni, Jumat (22/2/2019).
 

Guru IM diduga kuat merupakan pelaku pelecehan seksual terhadap sejumlah murid di SDN Kauman 3.

Saat ini, Guru IM telah dipindahtugaskan di kantor pengawas SMP.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Malang Kota, AKP Komang Yogi Arya Wiguna menjelaskan akan memanggil juga Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang Zubaidah untuk dimintai keterangan.
Polisi akan menanyakan track record Guru IM selama bertugas di lingkup Dinas Pendidikan Kota Malang.

"Selain memanggil terlapor, kami juga akan memanggil Kepala Dinas Pendidikan. Kami mintai keterangan terkait rekam jejak terlapor selama ini," tandasnya.

Di sisi lain, Komang juga menjelaskan, telah ada satu pelapor lagi yang melaporkan kasus dugaan pencabulan tersebut.

Hingga kini total sudah ada dua pelapor dan 15 saksi yang telah di periksa oleh kepolisian.

"Intinya akan ada petunjuk lain guna membantu proses penyelidikan. Terutama dari keterangan para saksi maupun korban, dan satu pelapor lagi yang telah melapor ke Polres," ujarnya.

Pengakuan Blak-blakan Guru IM

Guru olahraga berinisial IM yang dilaporkan wali murid karena dugaan pelecehan seksual pada siswa SDN Kauman 3 Kota Malang menjalani sanksi non aktif sebagai guru sejak pekan lalu.

Ia juga mendapat penundaan kenaikkan pangkat pada April 2019.

"Harusnya naik 3D jadi tetap 3C," jelas IM ketika ditemui di kantor Pengawas Sekolah, Rabu (13/2/2019).

Pria yang sudah menjadi guru selama 25 tahun ini menjadi petugas kebersihan di tempat barunya.

"Tugas saya ya bersih-bersih ruangan di kantor ini. Pulangnya ya sore. Kadang jam 16.30 WIB," jawabnya ketika bertemu di ruang tamu kantor.

Di kantor itu ada satu petugas cleaning service.

Saat bertemu SURYA.co.id, ia usai istirahat dan kembali ke kantor.

Ia memakai hem putih dan celana hitam, pakaian dinas hari Rabu (13/2/2019).

Ruang kerjanya di depan ruang tamu. Saat masuk kantor, ketika disapa SURYA.co.id dengan menyebut namanya,, ia membalas menjawab "iya".

Ia bersedia diwawancarai meski tidak panjang lebar.

Dijelaskan IM, setelah dinonaktifkan, ia dapat tugas di kantor pengawas SD di JL WR Supratman.

"Tapi di sana sudah penuh orangnya. Kemudian dapat informasi jika di kantor pengawas di JL Borobudur kurang orang," ujarnya.

Jadi ia bekerja di tempat barunya sejak Senin (11/2/2019).

Untuk salat, kadang ia ke Masjid Sabillilah atau di musala kantor barunya.

"Saya di sini sampai pensiun September 2019," jelasnya.

Terkait kasus pelecehan seksual yang dilaporkan walimurid SDN Kauman 3 ia tidak mau menjawab.

"Semua sudah saya sampaikan ke dinas," jawabnya.

Ia menyatakan, minggu lalu dipanggil dua kali oleh Dindik Kota Malang dan menemui Totok Kasianto, Sekretaris Dindik.

Di sana ia sampai sore hari. Ia menyatakan sudah menceritakan apa adanya dengan tulisan tangan.

Intinya, ia diklarifikasi oleh Sekretaris Dindik atas hal itu.
Ketika ditanya apakah di SDN lain ia pernah dilaporkan, ia menjawab tidak tahu.

Bagaimana jika diminta keterangan polisi atas laporan walimurid? Ayah dua anak ini mengatakan tidak tahu.

"Semua sudah ditangani dinas," pungkasnya.

Tak Lagi di Sekolah

Kepala Sekolah SDN Kauman 3, Irina Rosemaria mengatakan kalau IM, guru olahraga yang diduga melakukan pencabulan ke sejumlah muridnya, sudah tidak ada di sekolah.

IM tidak berada di SDN Kauman 3 semenjak sekolah mengetahui adanya peristiwa itu Januari lalu.

"Yang bersangkutan sudah tidak di sini lagi," ujarnya, Senin (11/2/2019).

Irina mengaku tidak mengetahui keberadaan IM saat ini.

Ia juga menegaskan sudah melaporkan kejadian itu ke Dinas Pendidikan Kota Malang.

Irina menjelaskan secara detail peristiwa itu ke Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah.

"Kalau sekolah sudah menyelesaikan secara prosedural. Sudah saya jelaskan ke atasan saya," ungkapnya.

Irina mengatakan tidak bisa memberikan keterangan lebih kepada media.

Sejumlah pertanyaan wartawan terkait adanya pertemuan tanggal 29 Januari yang dihadiri sekitar 20 wali murid tidak dijawab.

Pun saat dikonfirmasi, IM telah mengakui perbuatannya di hadapan Irina.

"Saya tidak bisa memberi keterangan. Saya diperintah atasan, tidak usah disampaikan apa-apa," katanya.

SURYA.co.id mendatangi Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang pada pukul 09.00 wib.

Informasi di lokasi, sejumlah pegawai di sana mengaku tidak mengetahui keberadaan IM.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah sedang dalam perjalanan ke Jakarta saat dihubungi.

"Saya tidak bisa menjelaskan lewat telepon. Saya sedang ke Jakarta," ujar Zubaidah lewat sambungan telepon ke SURYA.co.id.

Orangtua Menangis

Kasus pelecehan seksual yang terjadi di SDN Kauman 3 Kota Malang semakin muncul ke permukaan dan meresahkan walimurid.

Seorang walimurid yang ditemui SURYA.co.id mengaku ingin agar pelaku mendapatkan hukuman yang berat karena telah merusak masa depan putrinya.

Suatu malam menjelang tidur, ibu walimurid itu bertanya kepada anaknya yang sekolah di SDN Kauman 3.

“Apa yang sebetulnya terjadi dengan guru berinisial IM di sekolah?” kata si ibu menceritakan kembali kepada SURYA.co.id.

Pertanyaan itu muncul bukan serta merta begitu saja, melainkan berdasarkan desas-desus yang si ibu dengar belakangan ini.

“Ya begitu itu. Senang menyentuh-nyentuh,” jawab si anak kepada ibu.

“Adik pernah disentuh?” tanya si ibu.

“Pernah. Dua kali. Di bagian payudara,” jawab anak polos.

Kesaksian itu membuat si ibu sedih, sekaligus memendam amarah.

Bagaimana tidak, sejak menyekolahkan anaknya yang pertama hingga yang paling kecil selama 15 tahun, di SDN Kauman 3, baru kali ini ia mendapati keberadaan pedofilia di sekolah.

Lebih menyedihkan lagi, putrinya menjadi salah satunya korbannya.

Si ibu kemudian bercerita lebih detail. Pada 29 Januari 2019, pihak sekolah mengundang sekitar 20 orangtua walimurid. Undangan itu topiknya agenda pendidikan.

Si ibu yang menjadi narasumber SURYA.co.id ini awalnya tidak mendapatkan undangan. Namun ia mengetahui adanya informasi undangan itu.

“Sebelumnya saya ikut kumpul-kumpul dengan para orangtua walimurid. Saat makan-makan itu, mereka cerita ada kasus seperti ini. Makannya saya juga maksa ikut datang saja meski tidak diundang,” katanya.

Saat di sekolah, para wali murid ditemui Kepala Sekolah SDN Kauman 3 Irina Rosemaria dan Musiah, seorang guru kelas 6. Pertemuan itu berlangsung di sebuah ruangan.

“Saat pertemuan itu, kepala sekolah bilang kalau pihaknya kecolongan akibat perilaku yang dilakukan guru olahraga,” katanya.

Si ibu kemudian mengangkat tangan. Namun ia mengaku sempat diabaikan oleh Irina.

Saat mendapatkan kesempatan, si ibu menanyakan kenapa kasus itu tidak dilaporkan ke pihak kepolisian?

“Jawabannya, kata kepala sekolah, apa tidak dipikirkan lebih jauh. Nanti anak-anak anda akan dibawa-bawa oleh para wartawan dan polisi,” tutur si ibu menceritakan kembali apa yang disampaikan Irina dalam pertemuan akhir Januari itu.

Sekolah juga mempertimbangkan nama baik sekolah ketika kasus itu dilaporkan ke pihak kepolisian.

Si ibu mendengar langsung bahwa IM mengakui perubuatannya ketika ditanya Irina.

Si ibu terus bercerita dengan sesekali mengelus dada dan menghela nafas panjang.

“Ada juga rekaman video yang diambil oleh seorang guru. Video itu menggambarkan pelecehan yang dilakukan pelaku. Tapi ya itu, video itu sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya. Saya tegaskan, kalau pihak sekolah sampai menghilangkan video itu, berarti itu salah karena itu barang bukti,” tegasnya.

Dalam pertemuan itu, terdapat sejumlah orangtua wali murid yang menangis ketika menceritakan kembali pelecehan seksual yang dialami anak-anaknya.

Bahkan ada anak yang dibekap IM demi memenuhi hasrat seksualnya. Namun anak itu berhasil melepaskan diri dari bekapan setelah menggigit tangan pelaku.

“Ada ibu-ibu yang anaknya mengalami kelakuan yang lebih parah dari itu. Mereka menangis menceritakan itu,” tegas si ibu sembari geleng-geleng kepala.

Kata si ibu, pelaku kerap mengincar korban yang berasal dari kelas rendah seperti kelas 1 atau 2.

Pasalnya mereka tidak berani melapor dan tidak mengetahui apa dampak dari perilaku yang dilakukan pelaku.

Dari 20-an orangtua walimurid yang diundang ke sekolah, ia mengasumsikan ada 20 anak juga yang menjadi korban. Bahkan angka itu bisa lebih.

Pilih Lapor Polisi

Dengan temuan fakta seperti itu, si ibu heran tidak ada tindakan tegas dari pihak sekolah. Pasalnya, perilaku IM membahayakan masa depan anak-anaknya.

Pelaku merupakan guru baru di SDN Kauman 3. Ia masuk ke SD sejak semester ganjil pada Agustus 2018.

Dari keterangan yang didapat SURYA.co.id di lapangan, sudah sejak Agustus 2018 pelaku melakukan perbuatan bejatnya.

Keterangan itu didapat dari informasi, ada seorang anak yang mengaku mendapat perilaku pelecehan seksual sejak pelaku masuk dan mengajar di SDN Kauman 3.

Dalam pertemuan itu, pihak sekolah mengaku telah melaporkan perilaku salah satu gurunya itu ke Dinas Pendidikan Kota Malang.

Setelah laporan itu masuk, pihak Dinas Pendidikan Kota Malang menonaktifkan pelaku.

“Iya, katanya di non aktifkan,” imbuhnya.

Namun si ibu masih merasa tidak puas. Ia pun berencana untuk melaporkan kejadian itu ke polisi agar pelaku mendapatkan ganjaran yang setimpal, tidak sekadar sanksi non aktif.

Si ibu awalnya mengajak beberapa wali murid untuk melaporkan kasus itu ke polisi. Namun, banyak yang tidak mau.

Alasannya beragam, ada yang dilarang oleh suaminya, ada yang menghadiri acara pernikahan hingga terkendala anaknya yang sakit.

Akhirnya si ibu berangkat sendiri ke Polres Malang Kota untuk melapor. Si ibu bersama seorang orangtua walimurid lagi dimintai keterangan polisi. Bahkan anaknya juga sudah menjalani visum di rumah sakit.

Proses Hukum

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri menegaskan akan memproses hukum pelaku pencabulan terhadap anak atau pedofil.

Polisi akan mendalami keterangan dari pelapor yang melapor ke Polres Malang Kota.

“Apabila memang ada seperti yang dilaporkan oleh korban, kami akan melakukan proses hukum yang berlaku,” tegas Asfuri, Sabtu (9/2/2019).

Polisi juga akan memeriksa semua pihak yang terkait. Namun sejauh ini, polisi masih baru melakukan pemeriksaan terhadap korban.

Pantauan SURYA.co.id di Mapolres Malang Kota, korban yang melapor sempat dibawa ke RS Saiful Anwar untuk menjalani visum.

Informasi hasil visum akan memberikan informasi bagaimana pelaku memperlakukan korban.

“Dalam pemeriksaan pelapor seperti apa. Orang-orang yang berkaitan akan kami lakukan pemeriksaan semuanya,” jelasnya.

Sebelumnya, Kasub Bag Humas Polres Malang Kota menjelaskan, ada dua orangtua yang datang ke Polres Malang Kota.

Mereka mendampingi seorang anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang guru olahraga di SDN Kauman 3.

"Polres Makota menerima aduan telah terjadi pencabulan anak. Kedua orangtua masih dalam proses pemeriksaan. Sementara masih satu orang yang lapor," ujarnya.

Sedangkan pelaku saat ini belum diketahui keberadaannya. Polisi akan mengusut dan menjerat pelaku dengan pasal yang sesuai.

"Harus ada hukuman sekeras-kerasnya sesuai undang-undang yang berlaku," jelasnya.

Penelusuran SURYA.co.id di lapangan, ternyata informasi adanya kasus pelecehan seksual di SDN Kauman 3 sudah banyak yang mengetahui. Terutama para orangtua walimurid.

Beberapa sumber yang cerita ke SURYA.co.id, mengatakan kalau mereka mendengar ada belasan siswa yang telah menjadi korban.

Di sisi lain, ada juga informasi yang mengabarkan, pihak sekolah dan komite melarang orangtua wali untuk melapor atau memperbesar masalah. Alasannya, untuk menjaga nama baik sekolah.

Sejak Awal 2000

Dihubungi di tempat terpisah, M Rosyidi, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Jodipan menceritakan, pelaku pedofil di SDN Kauman 3 diduga merupakan orang yang sama ketika anaknya masih sekolah di SD Jodipan.

Saat itu, Rosyid kerap mendengar adanya perilaku pelecehan seksual terhadap siswa yang dilakukan seorang guru olahraga berinisial I.

“Anak saya yang cerita sendiri ke saya. Tapi I ini tidak berani mendekati anak saya karena mungkin tahu bapaknya siapa,” ujar Rosyid.

Perilaku pelecehan seksual itu sudah ia dengar sejak sebelum tahun 2003.

Berdasarkan keterangan Rosyid, I kerap melakukan sentuhan kepada para muridnya yang perempuan.

“Tapi saat itu anak-anak tidak berani melapor,” imbuhnya.

Kemudian para wali murid kala itu melakukan protes kepada kepala sekolah. Setelah itu, kepala sekolah memberikan teguran kepada pelaku.

Royid pun menyarankan kepada petugas kepolisian untuk bisa meminta keterangan kepada Mujiono, mantan kepala sekolah SD Jodipan yang saat ini sudah pensiun.

“Harapan saya bisa ditelusuri dan bisa minta keterangan ke mantan Kepala Sekolah pak Mujiono. Paling tidak bisa memberikan keterangan karena saat itu memberikan teguran kepada I,” terangnya.

Teguran itu dilakukan Mujiono atas dorongan wali murid yang resah mendegar adanya tindakan perilaku pelecehan seksual.

“Ada teguran keras dari sekolah saat itu sehingga pelaku pindah sekolah. Bahkan pelaku sempat lari ke Madura,” ungkapnya.

Dari SD Jodipan, I kemudian pindah ke SD Purwodadi. Setelah itu pindah ke SDN Kauman 3.

Selama berada di SD Purwodadi ini, Rosyid tidak mendengar adanya tindakan pelecehan oleh I.

Baru di SDN Kauman 3 ini kemudian ia mendengar lagi.

“Pelaku harus dihukum keras. Kalau bisa dipecat. Jangan sekadar dimutasi, itu hanya akan memberi lahan baru bagi dia,” paparnya.
 

Dua Orangtua Lapor

Sebelumnya, Polres Malang Kota menerima aduan dari seorang murid SDN Kauman 3 perihal dugaan kasus pencabulan, Sabtu (9/2/2019).

Diduga pelaku pencabulan adalah seorang guru.

Kasub Bag Humas Polres Malang Kota Ipda Ni Made Seruni Marhaeni menjelaskan, ada dua orangtua yang datang ke Polres Malang Kota.

Mereka mendampingi seorang anak yang menjadi korban.

"Polres Makota menerima aduan telah terjadi pencabulan anak. Kedua orangtua masih dalam proses pemeriksaan. Sementara masih satu orang yang lapor," ujarnya.

Polisi masih mendalami informasi berdasarkan aduan yang dilayangkan.

Tidak menutup kemungkinan nantinya akan ada aduan-aduan berikutnya.

Polisi juga akan mengembangkan informasi yang didapat.

Dikatakan Marhaeni, beberapa pihak juga akam dimintai keterangan.

"Pastinya nanti akan dimintai keterangan dari korban, pihak sekolah dan komite," imbuh Marhaeni.

Sedangkan pelaku saat ini belum diketahui keberadaannya.

Polisi akan mengusut dan menjerat pelaku dengan pasal yang sesuai.

"Harus ada hukuman sekeras-kerasnya sesuai undang-undang yang berlaku," jelasnya.

Polisi juga akan melakukan visum terhadap korban.

Informasi di lapangan, pelaku telah berulang kali melakukan tindakan pelecehan seksual kepada murid-muridnya.(Benni Indo-Surya.co.id/jko)


 

21 February 2019
Di Hari Sampah, Ratusan Polisi Blitar Bersihkan Sungai
Berbagai cara dilakukan warga untuk menyambut Hari Peduli Sampah Nasional 2019 yang jatuh Kamis (21/2) ini. Jajaran Kepolisian Polres Blitar Kota, dikerahkan untuk melakukan pemungutan sampah di sepanjang Sungai Pleret Kota Blitar.

Anggota polisi ini menyisir dan mengangkat semua sampah yang bertebaran dan menghambat aliran Sungai Pleret. Tidak hanya sampah, petugas juga melakukan pembersihan rumput yang tumbuh di sungai yang menghambat aliran sungai.
 
Kapolres Blitar Kota AKBP Adewira S Siregar mengatakan, momen hari sampah ini mengajak seluruh warga Kota Blitar untuk peduli lingkungan. Dengan tidak membuang sampah disembarang tempat, serta tidak mencemari sungai.

"Hari Peduli Sampah Nasional 2018 ini sebagai bentuk refleksi untuk mengingatkan kembali bahaya sampah terhadap manusia dan lingkungannya," kata AKBP Adewira S Siregar.(Mochammad Asrofi, Imron Danu-Pojokpitu.com/jko)
21 February 2019
 Pamit Istri Mau ke Sawah, Pria 55 Tahun Asal Lamongan Ditemukan Tewas di Tengah Sawah

Warga Desa Sidodowo, Kecamatan Modo, Lamongan dibuat terkejut atas kematian Ngadi (55).  Warga Desa Kedungwaras itu  jasadnya ditemukan tergeletak di sawah.

Jasad korban ditemukan sudah dalam keadaan tidak bernyawa dan tanpa ada tanda - tanda penganiayaan, Rabu (21/02/2019).

Sebelum ajal, korban pamit istrinya, Asyah (50) untuk berangkat mencari jerami ke Dusun Jamprong Desa Sidodowo Kecamatan Modo untuk pakan ternak sapinya.
 

Keberangkatan korban pagi itu, hingga siang belum juga kembali. Padahal, biasanya kalau pagi berangkat cari rumput, tidak sampai separuh hari sudah kembali.

Ternyata, sampai pukul 13.00 WIB, koban belum juga pulang. Bagai disambar petir, sesaat kemudian, istri korban mendapat kabar dari tetangganya, Tarijo, bahwa Ngadi ditemukan warga tergeletak dan sudah meninggal di tanah sawah. Kejadian itu berlanjut dilaporkan ke balai desa dan ke Polsek Modo.

Didampingi petugas Puskesmas Modo, Kapolsek Modo, AKP Dwi Narwito bertandang ke TKP dan mengevakuasi korban.
 

"Pada tubuh mayat tidak di temukan tanda-tanda bekas penganiayaan. Istri korban dan keluarga telah menerima kematian korban," ungkap Dwi Narwito.(Hanif Manshuri-Surya.co.id/jko)


 

21 February 2019
Beda Keyakinan, Makam Seorang Warga di Mojokerto Harus Direlokasi
Makam Nunuk Suwartini di Desa Ngareskidul, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto bakal direlokasi. Itu setelah sebagian tokoh agama di kampung ini menolak keberadaan makam Nunuk lantaran beragama non muslim.

Nunuk meninggal dunia pada Kamis (14/2) karena sakit. Jenazahnya pun hendak dimakamkan di pemakaman Islam Desa Ngareskidul. Pemakaman jenazah Nunuk di Desa Ngareskidul sempat menuai penolakan dari sebagian warga.

Warga yang menolak berdalih area pemakaman tersebut merupakan Makam Islam, bukan Tempat Pemakaman Umum (TPU). Sehingga warga non muslim seperti Nunuk tidak boleh dikebumikan di pemakaman tersebut.
 
Musyawarah di tingkat desa pun digelar. Selain menghadirkan para tokoh Desa Ngareskidul, musyawarah saat itu juga melibatkan perangkat desa, serta unsur Polsek, Koramil dan Camat Gedeg.

Hasilnya, jenazah Nunuk diizinkan untuk dimakamkan di pemakaman Islam Desa Ngareskidul. Pemakaman baru digelar, Jumat (15/2).

"Hasil musyawarah saat itu, untuk memakamkan jenazah di pemakaman desa dilakukan dengan syarat-syarat yang ditentukan untuk menghormati syariat Islam," kata Kapolres Mojokerto Kota AKBP Sigit Dany Setiyono saat dihubungi detikcom, Kamis (21/2/2019).

Namun setelah jenazah Nunuk dimakamkan, penolakan kembali muncul dari orang-orang yang melabeli dirinya ulama di Desa Ngareskidul. Pertemuan pun kembali digelar. Hanya saja musyawarah kali ini dimediasi oleh Polres Mojokerto Kota.

Berdasarkan hasil musyawarah tersebut, makam Nunuk bakal dibongkar dan dipindahkan dari makam Islam Desa Ngareskidul. Rencananya, jenazah akan dimakamkan di TPU Desa Kedungsari, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.

"Sambil menunggu lokasi dan waktu pemindahan, maka semua pihak supaya menahan diri untuk menghindari gesekan," terang Sigit.

Terkait persoalan ini, Sigit berharap masyarakat tak melakukan provokasi di media sosial. Dia memastikan situasi keamanan di Desa Ngareskidul sudah kondusif.

"Kami berharap tidak ada upaya di medsos untuk menggalang dukungan dari pihak manapun yang akan memperkeruh suasana," tandasnya.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
21 February 2019
Aksi Dua Warga Blitar Gagalkan Penyekapan Diganjar Penghargaan
Tindakan mereka dinilai ikut membantu tugas kepolisian untuk menumpas kejahatan.

Dua warga sipil itu, yakni Suripto dan Bagus Sanantoko. Mereka berhasil menggagalkan aksi penyekapan dan tindak pidana percobaan pencabulan anak di bawah umur, Kamis (15/2/2019) pukul 23.00 wib.

Pemberian penghargaan dilakukan saat pelaksanaan apel pagi rutin. Apel digelar di halaman Mapolres Blitar. Penghargaan diserahkan Kapolres Blitar, bersamaan penyerahan penghargaan ke 5 anggota Polres Blitar yang berprestasi.

"Ini bentuk apresiasi yang diberikan institusi Kepolisian kepada masyarakat yang membantu tugas kepolsian. Serta diharapkan masyarakat mampu menjadi polisi bagi dirinya sendiri," ucap Kapolres Blitar AKBP Anissullah M Ridha dikonfirmasi detikcom, Kamis (20/2/2019).

Kapolres juga berpesan kepada kapolsek jajaran untuk menggerakkan anggota Bhabinkamtibmas di wilayah masing-masing. Bersinergi dengan Babinsa dan masyarakat, untuk menjalin kerjasama baik dalam menjaga kamtibmas yang ada dimasyarakat.

"Tingkatkan soliditas internal dan kekompakan serta sinergitas dengan tiga pilar dalam melaksanakan tugas. Guna antisipasi gangguan kamtibmas yang diwilayah hukum Polres Blitar," tegasnya.

Sementara pengharagaan yang diberikan kepada anggota, merupakan wujud apresiasi pimpinan kepada anggotanya yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik.

"Untuk anggota yang lain yang memiliki prestasi, kita pasti akan berikan penghargaan. Sebagai bentuk reward dan sebagai motivasi untuk anggota yang lain agar lebih semangat dalam melaksanakan tugas melayani masyarakat," pungkasnya.(Erliana Riady - detikNews/jko)
Page 1 of 876      1 2 3 >  Last ›