Lintas Jawa Timur

13 November 2018
Kakak Beradik Curi Motor di Tujuh TKP
Kakak beradik asal Jombang ini kompak dalam mencuri kendaraan bermotor (curanmor). Bahkan mereka sudah beraksi di tujuh TKP (Tempat Kejadian Perkara).

Namun aksi mereka akhirnya bisa diendus petugas. Mereka dibekuk tanpa perlawanan. Kedua pelaku adalah Khori Nuryanto (22) dan Joko Solikin (21), keduanya warga Dusun Murong, Desa Mayangan Kecamatan Jogoroto, Jombang.

"Kedua pelaku merupakan saudara ipar. Pengakuan sementara mereka sudah beraksi di tujuh TKP," ujar Kapolres Jombang AKBP Fadli Widiyanto, Selasa (13/11/2018).

Menurut Kapolres, dua pelaku ditangkap kurang dari 24 jam usai menjalakan aksinya di Desa Jombatan Kecamatan/Kabupaten Jombang.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, lanjut Kapolres, akhirnya mengembang ke dua pelaku lain. Yakni, M. Farid (24), warga Dusun Gedangan, Desa Ngundirejo, Kecamatan Diwek dan M. Syaifudin, warga Dusun Gading, Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek.

Fadli Widiyanto menambahkan, modus operandi yang digunakan oleh para pelaku adalah menyasar kendaraan yang terpakir tanpa pengamana kunci ganda. Pelaku kemudian membawa motor tersebut dengan cara didorong untuk mennjahui tempat kejadian perkara.

Ketika suasana sepi, pelaku mencabut kabel kontak dan menghidupkan kendaraan curian tersebut. "Pelaku kemudian menjual hasil kejahatannya tersebut kepada penadah dengan harga bervariasi mulai dari Rp 1 Juta hingga Rp. 1,5 Juta tergantung kondisi motor," ujarnya.

Selain berhasil mengamankan empat pelaku, polisi juga mengamankan kendaran bermotor hasil curian yakni, sepeda motor Yamaha Vega R warna Biru, sepeda motor Vario merah, sepeda motor Mio warna hitam, sepeda motor Kharisma warna hitam.

"Atas perbuatannya, para pelaku dijerat pasal 363 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan, dengan ancaman hukuman penjara maksimal7 tahun," pungkasnya.(Yusuf Wibisono-Beritajatim.com/jko)
13 November 2018
 Dua WNA Pantai Gading yang Ditangkap Imigrasi Blitar saat Main Sepak Bola Tarkam Dideportasi

Dua warga negara asing (WNA) asal Pantai Gading yang ditangkap Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas II Blitar saat bermain sepak bola antarkampung (tarkam) akhirnya dideportasi ke negara asalnya.

Kedua WNA itu, yakni, Coulibaly F Brahima (27) alias Ibrahim dan Kone Adama Junior (23) alias Adam.

Kepala Kanim Kelas II Blitar, M Akram mengatakan hasil pemeriksaan yang dilakukan petugas, pelanggaran kedua WNA itu hanya soal melebihi izin tinggal.
 

Petugas tidak menemukan unsur pidana dalam pemeriksaan kedua WNA itu.

"Sesuai peraturan, sanksi untuk pelanggaran melebihi izin tinggal yaitu deportasi. Mereka sudah kami deportasi pada 6 November 2018," kata M Akram, Selasa (13/11/2018).

Selain dideportasi, kata Akram, kedua WNA itu juga dikenai sanksi penangkalan masuk ke Indonesia selama enam bulan.

Selama menjalani sanksi itu, keduanya tidak boleh masuk ke wilayah Indonesia.

"Mereka juga dikenai sanksi penangkalan masuk Indonesia selama enam bulan," ujar Akram.

Sebelumnya, Kanim Kelas II Blitar kembali menangkap dua warga negara asing Pantai Gading.

Kedua WNA itu ditangkap saat ikut bermain sepak bola antar kampung (tarkam) di Lapangan Dandong, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

Kedua WNA ini telah melebihi izin tinggal atau over stay di Indonesia.

Penangkapan kedua WNA itu berdasarkan laporan dari masyarakat.

Masyarakat mengadu ada dua orang asing yang ikut bermain sepak bola tarkam di Lapangan Dandong, Srengat.
 

Laporan itu ditindaklanjuti Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora).

Timpora langsung mengamankan kedua orang asing itu.(Samsul Hadi-Surya.co.id/jko)


 

13 November 2018
Polisi Selidiki Penyebab Air Sumur Warga Mojokerto Berubah Warna
Polisi menyelidiki penyebab air sumur milik Firman Efendy, warga Dusun Ngepung, Desa Beratwetan, Gedeg, Kabupaten Mojokerto yang berubah warna mirip teh. Petugas telah mengambil sampel air sumur dan pupuk cair untuk diuji di laboratorium.

"Kami lakukan penyelidikan terkait tercemarnya sumur tersebut," kata Kapolsek Gedeg AKP Suwoco saat dihubungi detikcom, Selasa (13/11/2018).

Kapolsek mengaku telah mengambil sampel air dari sumur milik Firman. Selain itu, sampel pupuk cair jenis Pupuk Hayati Enero (PHE) juga diambil langsung petugas dari truk tangki yang mengirim ke kebun tebu di depan rumah Firman.

Namun, sampai saat ini sampel tersebut belum dikirim ke laboratorium. Menurut kapolsek, pihaknya akan lebih dulu berkoordinasi dengan Polresta Mojokerto untuk menentukan laboratorium yang akan dituju untuk pengujian sampel.

"Uji laboratoriun nanti untuk memastikan yang mencemari sumur itu pupuk Enero atau bukan," terangnya.

Air sumur di halaman depan rumah Firman tercemar hingga berubah warna menjadi kecokelatan mirip teh. Bau air mirip dengan tetes tebu. Kondisi ini terjadi sejak sepekan yang lalu.

Akibatnya, air sumur tersebut tak lagi bisa digunakan untuk minum, masak, dan mandi. Diduga air sumur ini tercemar pupuk cair yang diguyurkan ke lahan tebu di sekitar rumah Firman. Jarak sumur dengan kebun tebu sekitar 20 meter.

Memang dalam sepekan terakhir, kebun tebu di depan rumah Firman diguyur dengan ribuan liter pupuk jenis PHE. Pupuk cair ini diproduksi oleh pabrik bioetanol PT Enero di Gedeg, Mojokerto. Bahan bakunya adalah vinasse, yaitu limbah dari pembuatan bioetanol.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
13 November 2018
Sabu 5 Gram Diamankan Polsek Mojowarno Dari Jaringan Lapas
Petugas Kepolisian Sektor Mojowarno Jombang berhasil membekuk pengedar sabu jaringan lapas, dari penggebrekan ini petugas berhasil mengamankan sabu 5 gram bersama sejumlah peralatan. Petugas saat ini masih memburu bandar sabu yang selama ini bersembunyi di balik jaringan lapas.

Riandi Pan Rizki alias Celeng warga Desa Bareng Kecamatan Bareng Jombang akhirnya berhasil digelandang ke Mapolsek Mojowarno. Pelaku ditangkap setelah berhasil melarikan diri dari penggrebekan dirumahnya.

Dari penggrebekan dirumah tersangka ini petugas berhasil mengamankan sabu 5,3 gram, sejumlah peralatan hisab,paket siap edar,alat timbang dan handphone.

AKP Wilono Kapolsek Wojowarno mengatakan, pelaku sudah jadi target operasi petugas sejak lama. Saat dalam pengintaian petugas mengetahui pelaku usai melakukan transaksi sabu.

"Petugaspun langsung bergerak menggrebek rumah pelaku, sayangnya pelaku sudah kabur," jelas AKP Wilono.

Pelaku ini merupakan jaringan yang selalu mendapatkan barang dari Lapas, pelaku dibekuk tidak jauh lokasi penggrebekan.

AKP Wilono menambahkan, saat ini masih berkonsentrasi dan kordinasi untuk memburu bandar sabu. "Pasalnya selama ini model transaksi yang digunakan adalah ranjau sehingga petugas kesulitan membongkarnya," ujar AKP Wilono.(Saiful Mualimin-Pojokpitu.com/jko)
13 November 2018
Produksi Jagung untuk Pakan Ternak di Kabupaten Kediri Melimpah
Bupati Kediri Haryanti Sutrisno mengatakan, produksi jagung untuk pakan ternak di Kediri melimpah bahkan berharap dapat diekspor. Dari luas total panen pada November 2018 seluas 4,9 ribu hektar (ha) dengan produktivitas 6,5 ton per ha, diperoleh total produksinya mencapai 31,8 ribu ton.

Harga jagung di tingkat petani sudah stabil, yakni Rp 5.050 per kg sehingga tidak lagi menyebabkan harga pakan mahal.

"Sebelumnya di harga Rp 5.500 per kilogram, peternak menangis. Kita telusuri mahalnya harga jagung karena yang dihasilkan di Kediri ini di bawa keluar oleh pengusaha besar sehingga terjadi kelangkaan jagung untuk pakan. Tapi sekarang karena harga sudah normal dan kami tahu permasalahan, peternak sudah mudah mendapatkan jagung untuk pakan," kata Haryanti saat Gerakan Panen Jagung Serentak bersama Kementerian Pertanian (Kementan) di Desa Pelemahan, Kecamatan Pelemahan, Kediri.

Hadir dalam kegiatan ini Direktur Jenderal Hortikultura, Suwandi, Dandim 0809/Kediri, Letkol Kav. Dwi Agung Sutrisno dan para petani. Haryanti membeberkan terjadinya kelangkaan stok dan kenaikan harga jagung untuk pakan disebabkan karena sebanyak 70 persen produksi jagung di Kediri dikuasai pengusaha besar.

Berdasarkan hasil penelusuran yang mengungkapkan kondisi nyata di lapangan, sehingga ke depan praktek bisnis yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar ini harus dihentikan.

"Solusi ke depan, kami akan optimalkan BUMD untuk menampung jagung supaya tidak terjadi kekosongan pasokan. Kemudian, stok jagung di Bulog kami berharap harus dioptimalkan sebagai buffer stock," bebernya.

Namun demikian, Haryanti mengapresiasi dukungan Kementan hingga saat ini yang terus memacu peningkatan produksi jagung di Kediri melalui pemberian berbagai jenis bantuan. Petani sangat merasakan bantuan benih, pupuk dan alat mesin pertanian.

"Kami sangat mengapresiasi perhatian Kementan, selalu supprort traktor dan alat mesin lainnya, bibit dan pupuk. Dengan bertambahnya area dan jumlah bibit yang ditanam, bantuan pupuk harus bertambah," tuturnya.

Direktur Jenderal Hortikultura menegaskan gerakan panen jagung secara serentak ini dapat menjadi bukti petani masih bisa mencukupi kebutuhan jagung saat ini. Produksi jagung secara nasional, sejak Januari-September 2018 Indonesia sudah ekspor jagung 372 ribu ton. Jika dikurangi rencana impor 100 ribu ton, diperoleh surplus 272 ribu ton.

"Dan jika ditambah lagi dengan menghemat stop impor selama ini sekitar 3,5 juta ton pertahun setara Rp 10 triliun, maka surplus total menjadi 3,77 juta ton setahun. Tahun lalu 2017, tidak ada impor jagung pakan ternak," tegasnya.


Lebih lanjut Suwandi mengapresiasi produksi jagung di Kediri. Lahan jagung di Kediri tidak hanya untuk pakan, tapi juga untuk benih dan jagung manis yang sudah bekerjasama dengan perusahaan multinasional.

Adapun total produksi jagung pakan pada November 2018 sebesar 31,8 ribu ton. Jika dikalikan harga jagung Rp 5.050 per kg maka pendapatan petani di Kediri bulan ini sebesar Rp 160 miliar.

"Petani di Kediri tiada henti olah tanah, tanam dan panen jagung. Musim hujan sudah mulai, 2 minggu habis panen langsung tanam. Jarak tanam dirapatkan dari 32 ribu batang per ha menjadi 60 ribu batang per ha, diberi pupuk organik yang baik agar setiap batang bertongkol 2 dan produktivitas menjadi 11 ton per ha. Jadi ke depan stok jagung melimpah, kebutuhan dalam negeri bisa kita penuhi sendiri," tuturnya.

"Untuk mengintensifkan lahan, agar dilakukan pola tanam tumpang sari antara jagung dengan tanaman sayuran atau tanaman lainnya. Sehingga petani terus bertambah pendapatanya," imbuhnya.

Oleh karena itu, Suwandi menekankan pentingnya melakukan pembenahan aspek hilir dan berbagai program untuk memacu peningkatan produksi sehingga kesejahteraan petani terus meningkat. Kementan pasti membantu petani, tidak hanya berupa benih dan pupuk tetapi juga berupa bantuan alat mesin pertanian.

"Kami akan bantu petani. Jadi jangan sampai lahan menganggur, harus terus ditanam dan panen. Aspek hilir harus dibenahi, tidak hanya mencukupi kebutuhan sendiri tetapi bisa ekspor," tandasnya.(Nanang Masyhari-Beritajatim.com/jko)
13 November 2018
Jenazah Deryl Korban Lion Air Teridentifikasi, Tiba di Surabaya Pagi Ini
Tim Disaster Victim Identification (DVI) RS Polri berhasil mengidentifikasi jenazah Deryl Fida Febrianto (22), salah satu korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP asal Surabaya.

Saat dikonfirmasi detikcom, Padiatno (45) ayah mertua Deryl, membenarkan bahwa menantunya itu telah teridentifikasi. Ia pun mengabarkan jika janazah langsung diterbangkan dari Jakarta ke Surabaya.

"Besok pagi pukul 05.15 WIB terbang dari Jakarta," kata Padiatno, Senin (12/11/2018) malam.

Menurut Padiatno, jenazah Deryl akan didampingi langsung oleh kedua orang tuanya yang memang telah berada di Jakarta.

"Saat ini di sana (Jakarta) sudah ada ayahnya Deryl, mamanya sama omnya," imbuh Padiatno.

Sesampainya di Surabaya, Padiatno menambahkan, kemungkinan besar jenazah Deryl akan dimakamkan sesuai dengan keinginan awal keluarganya, yaitu di Kertosono, mengingat keluarga besar ayah Deryl berasal dari Kertosono.

"Sepertinya pada keinginan awal keluarganya dimakamkan di Kertosono," beber Padiatno.

Warga Simo Pomahan Baru, Simomulyo Baru, Sukomanunggal ini meninggalkan seorang istri yang baru dinikahinya dua minggu sebelum menaiki pesawat nahas dengan nomor penerbangan JT 610 tujuan Pangkal Pinang yang kemudian jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Deryl merupakan satu dari tiga jenazah yang berhasil diidentifikasi kembali oleh tim DVI Polri pada hari Senin, 12 November 2018. Selain Deryl, dua jenazah lainnya adalah milik Shandy Johan Ramadhan (27) berasal dari Duren Sawit, Kalimalang, Jakarta Timur dan Firmansyah Akbar (42) dari Sukabumi, Jabar.

Ketiganya teridentifikasi melalui pemeriksaan DNA.(Amir Baihaqi - detikNews/jko)
12 November 2018
Diduga Tercemar Pupuk Cair, Air Sumur di Mojokerto Berubah Warna
Air sumur di Ngepung, Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto berubah menjadi berwarna layaknya air teh.

Akibatnya, air yang berubah warna sejak satu minggu lalu ini tak lagi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Salah satu pekerja, Mulyono (40), mengatakan, sejak seminggu lalu air sumur berubah warna. "Airnya berwarna, satu minggu sebelumnya ada pembuangan pupuk cair tebu. Kemungkinan ini dampaknya ke air sumur berubah warna seperti teh," ungkapnya, Senin (12/11/2018).

Masih kata Mulyono, selain berwarna seperti air teh, baunya mirip pupuk cair untuk tanaman tebu. Namun, ia tak merasakan rasanya karena setelah tahu air berubah warna, air sumur tak lagi digunakan untuk kebutuhan minum. Ia mengaku tak tahu kondisi sumur warga yang lain.

"Ini kan jauh dari pemukiman warga. Sumur ini sengaja dibuat untuk kebutuhan pembangunan rumah setahun lalu, pekerjanya juga dari luar kota. Jadi digunakan untuk minum, makan dan mandi. Sekarang pekerjanya dari warga lokal, mereka pulang jadi tidak masak," katanya.

Mulyono menjelaskan, pupuk cair untuk tanaman tebu tersebut dibuang di depan pembangunan rumah yang tengah ia kerjakan. Jaraknya hanya 200 meter karena hanya terhalang jalan saja. Setelah turun hujan, air sumur langsung berubah warna.

"Setelah turun hujan, air sumur berubah warna. Kemungkinan meresap ke tanah dan sampai ke air sumur ini. Kalau dibuang ke sini tidak mungkin karena ada yang jaga kalau malam. Tidak sampai gatal. Dulu juga pakai pupuk tapi tidak berdampak seperti ini," urainya.

Menurutnya, warga yang menggunakan pupuk cair untuk tanaman tebunya tersebut berasal dari pabrik berbeda. Sementara lokasi tanaman tebu milik warga berada di Desa Gembongan, tepat berada di timur Desa Berat Wetan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.

Sementara pemilik rumah, Firman Efendi, berharap, pupuk cair tersebut tidak dibuang di sekitar rumahnya. "Kalau bisa jangan dibuang ke sini agar tidak mencemari sumur. Pupuk ini memang permintaan warga ke pabrik tapi minta satu, bisa dikasih sampai 10," tegasnya.

Menurutnya, setiap pagi puluhan truk tangki membawa pupuk cair untuk melakukan pemupukan di sekitar rumahnya yang berada di pertengahan sawah. Namun tidak semua pemilik tebu menginginkan pupuk cair tersebut.

"Pemilik sawah di Desa Berat Wetan tidak ada yang mau dengan pupuk ini. Yang mau petani dari Desa sebelah yakni Desa Gembongan. Tapi bukan pemilik lahan, yakni penyewa lahan," pungkasnya.(Misti P.-Beritajatim.com/jko)
12 November 2018
 Mondar-Mandir di Seitar Masjid, Pria Tulungagung Ini Embat Kotak Amal di Blitar. Akibatnya

Nurdiansah (22), harus mendekam di sel tahanan Polsek Udanawu, Senin (12/11/2018). Pemuda asal Kedungwaru, Tulungagung, ini tertangkap tangan mencuri uang di kotak amal Masjid Al Madani, Desa Temenggungan, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar.

"Kejadiannya Senin dini hari tadi. Sekarang pelaku kami tahan di Polsek. Kami masih mengembangkan kasusnya," kata Kapolsek Udanawu, AKP Wahyu Satriyo Widodo.

Terungkapnya kasus pencurian kotak amal itu bermula saat warga curiga dengan pelaku. Pada Minggu (11/11/2018) malam, warga melihat pelaku naik sepeda motor mondar-mandir di sekitar lokasi.
 

Karena curiga, warga melaporkan kasus itu ke perangkat desa. Perangkat desa meneruskan laporan warga ke Polsek Udanawu.

Lalu, warga bersama perangkat desa dan anggota Polsek menyanggong pelaku di sekitar lokasi.

Ternyata benar, Senin dini hari, warga dan polisi melihat pelaku masuk ke dalam Masjid. Warga dan polisi melihat pelaku sedang membongkar kotak amal di masjid.

Pelaku mengambil sejumlah uang yang berada di dalam kotak amal. Saat pelaku hendak kabur meninggalkan Masjid, warga dan polisi langsung menyergapnya.

Pelaku tidak berkutik karena warga dan polisi menemukan barang bukti uang dari tangan pelaku.

"Kami menyita barang bukti berupa uang Rp 200.000, palu, dan sepeda motor. Palu ini yang digunakan pelaku membongkar kotak amal," ujar AKP Wahyu Satriyo.

AKP Wahyu mengatakan pelaku merupakan residivis. Pelaku pernah ditangkap petugas Polres Kediri juga kasus pencurian.
 

"Makanya, kami masih mengembangkan kasusnya. Dugaan pelaku tidak melakukan pencurian di satu TKP ini saja," ujarnya.(Samsul Hadi-Surya.co.id/jko)




 

 
12 November 2018
Pemkot Kediri Ajak Masyarakat Peduli Pohon
Pemerintah Kota Kediri memaknai hari pahlawan dengan cara cukup unik. Bentuk penghormatan terhadap jasa para pahlawan diemplementasikan dalam sikap peduli terhadap lingkungan.

Wali Kota Kediri Abdullah Abu Bakar mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan cabut paku yang menancap di pohon.

Uniknya, paku yang terkumpul tersebut kemudian ditimbang  dan dijual untuk didonasikan kepada korban bencana gempa dan tsunami di Palu,Sigi dan Donggala Sulawesi Tengah.

"ini merupakan kegiatan positif yang dilakukan oleh para pemuda di Kediri guna memperingati moment hari pahlawan," kata Abdullah Abu Bakar.

Kegiatan cabut paku untuk Palu ini berlangsung hingga akhir November nanti. Data sementara  dari Satpol PP Kota Kediri, sudah terkumpul paku dan besi seberat 3 kwintal.(Unggul Dwi Cahyono, Beny Kurniawan-Pojokpitu.com/jko)
12 November 2018
Mayat Pria Ditemukan Tewas di Sungai
Seorang pria ditemukan tewas mengapung di sungai Nganjuk. Korban tewas diduga akibat terpeleset.

Korban MJK, diketahui warga Desa Gebangkerep Kecamatan Baron Nganjuk, ini ditemukan tewas mengapung di sungai Desa Putren Kecamatan Sukomoro Nganjuk.

Korban tewas menggunakan kaos warna biru kuning dan celana pendek putih. Tidak ditemukan identitas di dalam pakaian korban,  hanya sajak diperkirakan berumur 45 tahun.

Polisi yang datang kelokasi, dibantu warga segera mengevakuasi korban. Tim inafis dari Polres Nganjuk melakukan olah TKP dan mengidentifikasi jasad korban.

Dari hasil identifikasi sementara korban tewas akibat terpeleset dan masuk sungai, sebab tidak ada tanda tanda penganiayaan

Menurut Nidi Basuki Kades Putren, usai dilakikan identifikasi, korban segera di bawa menuju rumah sakit umum Nganjuk, guna kepentingan visum dan penyelidikan lebih lanjut.(Achmad Syarwani-Pojokpitu.com/jko)
Page 1 of 843      1 2 3 >  Last ›