Lintas Jawa Timur

20 July 2018
Tiga Kades di Jombang Ajukan Pengunduran Diri
Sebanyak tiga Kades (Kepala Desa) di Kabupaten Jombang mengajukan pengunduran diri. Hal itu menyusul pendaftaran mereka menjadi calon legislatif atau caleg.

Kepastian itu dilontarkan Plt Bupati Jombang Hj Mundjidah Wahab. "Ada tiga Kades yang mengajukan pengunduran diri. Saat ini, pengajuan tersebut sedang kita proses," ujar Mundjidah, Jumat (20/7/2018).

Disinggung ada tidaknya PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang mundur kerena maju sebagai caleg, Mundjidah mengatakan bahwa untuk PNS belum ada. "Kalau dari PNS belum ada yang mengajukan pengunduran diri karena maju caleg. Sampai saat ini hanya tiga Kades yang mengajukan pengunduran diri," katanya menegaskan.

Komisioner KPU Jombang M Djafar membenarkan bahwa Kades yang maju sebagai caleg harus mundur dari jabatannya. Hal itu sesuai dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 20 Tahun 2018.

"Sesuai aturan tersebut, jangankan Kades, Katua RT pun harus mundur jika mendaftar sebagai caleg. Begitu juga dengan perangkat desa. Mereka harus mundur dari jabatannya kalau maju sebagai caleg," kata M Djafar, ketika dihubungi secara terpisah.

Salah satu Kades yang hendak nyaleg di pemilu 2019 adalah M Naim. Disinggung soal adanya aturan harus mundur dari jabatannya sebagai Kades, Naim tidak mempermasalahkan. Dia tidak keberatan memenuhi persyaratan tersebut.

"Kemarin mulai mengurus surat untuk persyaratan nyaleg. Mulai surat keterangan bebas narkoba hingga surat keterangan tidak dalam perkara di PN (Pengadilan Negeri), dan surat pengunduran diri," ujar Kades Tampingmojo, Kecamatan Tembelang, Jombang ini.(Yusuf Wibisono-Beritajatim.com/jko)
20 July 2018
 Baru Bebas dari Penjara, Tekong TKI asal Tulungagung Ini Ditangkap Polisi, Gara-gara Uang Rp 50 Juta

Anggota Unit Tindak Pidana Khusus, Satreskrim Polres Tulungagung menangkap Sunirto (52), warga Desa Kradegan, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek di Lapas Trenggalek, Senin (16/1/2018).

Penangkapan dilakukan saat Sunirto baru saja bebas dari Lapas Trenggalek, usai menjalani hukuman.

Sunirto adalah tekong atau calo tenaga kerja Indonesia (TKI), yang melakukan penipuan terhadap korban Galih Bodro Irawan (31), warga Ngentrong, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung.

Terduga pelaku ini telah menipu Galih dengan dalih dipekerjakan di Jepang.

“Korban mengalami kerugian Rp 50 juta,” ungkap Kasubag Humas Polres Tulungagung, Iptu Sumaji.

Pada Oktober 2016, Sunirto mendatangi rumah Galih dan menawarkan kesempatan bekerja di perkebunan di Jepang.

Terpikat dengan iming-iming terduga pelaku, Galih menerima tawaran itu.

Untuk keperluan pemberangkatan, Sunirto minta uang Rp 50 juta.

“Korban saat itu mengangsur tiga kali untuk melunasi persyaratan itu,” terang Sumaji.

Tiga bulan setelah pelunasan, tepatnya 15 April 2017 Galih diberangkatkan ke Jepang, dengan pesawat Cathay Pacific.

Namun setibanya di bandara Kansai Jepang, Galih ditahan pihak imigrasi, karena tidak mempunyai dokumen lengkap.
 

Korban kemudian dideportasi kembali ke Indonesia.

“Korban sempat menemui terduga pelaku ini, dan minta uangnya dikembalikan,” tambah Sumaji.

Namun ternyata pelaku tidak pernah mengembalikan uang itu.

Korban kemudian melapor ke polisi.

Setelah menangkap Sunirto, polisi melakukan pendalaman.

Sebab Tulungagung adalah salah satu basis TKI, sehingga kemungkinan ada korban lain.

“Selain itu kami ingin memastikan, apakah ada pelaku lain dalam perkara ini,” tegas Sumaji.

Sumaji menghimbau kepada para calon TKI, agar tidak mudah terbujuk rayuan calo.

Jika hendak bekerja ke luar negeri lebih baik melalui perusahaan pengerah yang diakui pemerintah.(David Yohanes-Surya.co.id/jko)



 

 
20 July 2018
Ekskul dan Hukuman Squat Jump yang Berujung Kelumpuhan
Seorang siswi kelas XI SMAN 1 Gondang, Mojokerto bernama Mas Hanum Dwi Aprilia mengalami kelumpuhan secara tiba-tiba seusai salat subuh pada Rabu (18/7) pagi. Hanum mendadak tak bisa duduk maupun berjalan.

"Dia (Hanum) mengeluh sakit mulai kaki sampai punggungnya. Saat itu saya belum tahu penyebabnya. Saya bawa ke pengobatan alternatif Sangkal Putung," kata pengasuh PP Al Ghoits M Rofiq Afandi kepada wartawan, Kamis (19/7/2018).

Hanum kebetulan merupakan santri baru di pondok pesantren yang dipimpinnya. Ia sendiri yang membawa Hanum ke pengobatan alternatif di Sangkal Putung, Desa Pandanarum, Pacet, Mojokerto.

Pria yang akrab disapa Gus Rofiq itu kemudian mendatangi pihak sekolah untuk menanyakan apa yang terjadi. Sebab selama 6 bulan Hanum menjadi santrinya, gadis ini tak pernah mengeluh sakit apapun.

"Saya klarifikasi, ternyata hanya karena telat datang kegiatan ekstra kurikuler (Ekskul) dia dihukum squat jump," ungkapnya.

Hukuman itu diberikan kepada Hanum karena telat datang di kegiatan Ekskul Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) yang digelar pada Jumat (13/7) pagi. Saat itu seorang teman korban juga telat. Namun Hanum dihukum squat jump lebih banyak, kabarnya hingga 90 kali.

"Hukuman itu kesepakatan awalnya baca surat (Alquran) pendek. Sama kakak kelasnya diminta squat jump 60 kali. Karena temannya tak mau menjalani, dilimpahkan ke Hanum, belum sampai 100 kali dia sudah tak kuat," terang Gus Rofiq.

Pasca kegiatan ekskul, Hanum harus diantar pulang ke pondok oleh teman-temannya. Saat itu korban sudah mengeluh sakit di kedua kakinya.

Esok harinya, korban pulang ke rumahnya untuk berobat. Baru Minggu (15/7) sore Hanum kembali ke pondok dalam keadaan pincang. Namun untuk ke kamar mandi, ia harus dibopong oleh temannya.

Praktis, di hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang, Senin (16/7), Hanum tidak bisa ke sekolah, dan pada puncaknya di hari Rabu (18/7), korban benar-benar lumpuh.

"Saat saya antar ke Sangkal Putung itu kedua kakinya tak bisa ditekuk, dia mengeluh sakit di kaki hingga punggungnya," jelasnya.

Pun begitu sampai di Sangkal Putung, korban yang mengalami syok berat, menangis histeris ketika dilakukan pengobatan.

Pemilik pengobatan alternatif Sangkal Putung Umar Said (55) mengatakan, Hanum dibawa ke tempatnya pada Rabu (18/7) petang. "Saat dibawa ke sini kondisinya lumpuh, tak bisa duduk, tidur miring sendiri tak bisa, harus dimiringkan," ungkapnya.

Ia pun menjelaskan jika Hanum mengeluh kesakitan di bagian kaki hingga punggung. Kendati begitu, gadis asal Krian, Sidoarjo ini masih bisa berbicara, menggerakkan leher dan kedua tangannya.

Menurut Umar, melihat kondisi Hanum, ia menduga korban mengalami saraf kejepit. Namun bila kondisi ini sudah fatal maka bisa saja mengakibatkan kelumpuhan. "Untuk penyembuhannya butuh waktu. Semoga tidak sampai fatal," tandasnya.

Ketika dimintai keterangan, pihak sekolah mengaku pada hari Jumat (13/7) tersebut, UKKI mengadakan pelatihan untuk promosi ekskul ke siswa baru.

"Informasi dari anak-anak, waktu itu ada kesepakatan di antara teman-temannya, kalau terlambat datang ada hukuman. Seniornya anak-anak kelas XII menyampaikan hukumannya hafalan surat pendek (Alquran), tapi anggotanya tak mau, minta squat jump. Sudah diingatkan seniornya jangan hukuman itu karena keras. Kesepakatan kelompok tersebut hukumannya tetap squat jump," jelas Kepala SMAN 1 Gondang, Nurul Wakhidah.

Ditambahkan Nurul, saat itu ada siswa lain yang terlambat. Keduanya dihukum masing-masing squat jump sebanyak 60 kali. Namun teman Hanum hanya mampu melakukan sebanyak 30 kali, sehingga sisa hukuman dibebankan kepada Hanum.

Selesai melakukan 60 kali squat jump, pelajar asal Krian, Sidoarjo ini harus melakukan lagi sebanyak 30 kali. "Sehingga 90 kali squat jump dijalani Hanum sampai selesai. Saat itu dia masih sempat melanjutkan kegiatan, tak langsung jatuh sakit (lumpuh), hanya kakinya katanya sakit semua," ujarnya.

Nurul menambahkan, kegiatan tersebut digelar tanpa izin sekolah sehingga tak ada guru yang mengawasi. "Saat kegiatan itu, sekolah masih libur. Sehingga kami semua tak tahu kalau anak-anak membuat kegiatan itu," terangnya.

Kendati demikian pihak sekolah berjanji akan membantu biaya pengobatan Hanum hingga sembuh. Saat menjenguk Hanum untuk pertama kali, pihak sekolah sempat memberikan biaya berobat sebesar Rp 1 juta.

"Saya sampaikan ke salah satu guru supaya disampaikan ke orang tuanya, sebaiknya dibawa ke medis, tak hanya di alternatif, bisa dipadukan antara alternatif dan medis supaya cepat sembuh," ujarnya.

Namun apakah selesai sampai di sini saja?(Rahma Lillahi Sativa - detikNews/jko)
19 July 2018
Pasangan Suami Istri Buruh Angkut dan Penjual Kembang Naik Haji
Jika sudah diniati maka segala sesuatu pasti akan terwujud, seperti halnya yang dialami oleh Pasangan Suami Istri (Pasutri), Matoyin dan Muniroh, warga Desa Sugihwaras, Kecamatan Kalitengah. Berkat usahanya yang gigih menabung dari jerih payah menjadi buruh angkut serta berjualan kembang, ternyata bisa membiayai ongkos naik haji.

Keseharian Matoyin adalah buruh angkut  dipasar desa setempat, aktivitasnya setiap pagi hari diawali dengan berangkat ke pasar. Pekerjaanya adalah menjadi buruh angkut barang-barang pedagang disana. Meski menjadi buruh angkut, tetapi Matoyin memiliki hasrat besar untuk menunaikan ibadah haji beserta istrinya.

Langkahnya sudah mereka niati puluhan tahun lalu, sejak mereka masih sama-sama bujang. Pekerjaannya sebagai buruh angkut tidak menyurutkan Matoyin berkeinginan menunanikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah. Begitupun Muniroh, dari jerih payah berjualan kembang makam dan hasil kerja suaminya ditabungnya.

Upah menjadi buruh angkut tidaklah terlalu besar, untuk setiap sekali angkut matoyin diupah Rp 3 ribu rupiah saja. Namun jika beruntung, maka sehari bisa membawa pulang uang yang lumayan.

"Dari hasil menjadi buruh ini, saya bersama istri menyisakannya untuk biaya berhaji selama puluhan tahun, setelah dipotong untuk kebutuhan sehari hari," tutur Matoyin.

Niat berhaji ini mereka buktikan dengan mendaftarkan diri pada tahun 2010 lalu, dalam kurun waktu 8 tahun mereka sanggup melunasi biaya haji. Tentunya dari hasil jerih payah menjadi buruh angkut serta berjualan kembang makam.

Dengan kerja keras mereka selama ini, menjadikan Muniroh terharu bahkan tidak menyangka, jika dimudahkan saat mendaftar dan mengumpulkan dananya meski dilakukan sedikit demi sedikit.

Keduanya masuk dikloter 48 dan akan berangkat pada 2 Agustus mendatang, kendati mereka sudah bersiap menjalankan ibadah haji. Namun aktivitas mereka tetap berjalan seperti sedia kala, hanya saja keduanya berharap jika kesehatannya tetap terjaga hingga keberangkatannya nanti.(Ahmad Zainuri-Pojokpitu.com/jko)
19 July 2018
Kecelakaan Beruntun Libatkan 2 Bus, 5 Penumpang Luka
Kecelakaan beruntun melibatkan 2 bus Eka terjadi di Jalan Raya Desa Tanggungan, Gudo, Jombang. Akibat kecelakaan ini, lima penumpang bus terluka.

Kasat Lantas Polres Jombang AKP Inggal Widya Perdana mengatakan, kedua bus Eka melaju dari arah Surabaya ke Nganjuk. Bus nopol S 7155 US yang dikemudikan Hendro Prihartono (38), warga Kelurahan Ngagel Rejo, Wonokromo, Surabaya melaju lebih dulu.

Sementara bus nopol S 7561 US yang dikemudikan Abdul Rokhim (30), warga Desa Sumberjo, Benowo, Surabaya melaju satu arah di belakangnya. Sampai di lokasi kecelakaan sekitar pukul 11.00 WIB, bus ini menabrak bus Eka di depannya.

"Sopir bus nopol S 7561 US kurang hati-hati dan menjaga jarak saat mendahului sehingga menabrak belakang bus nopol S 7155 US," kata Inggal saat dihubungi detikcom, Kamis (19/7/2018).

Akibat kecelakaan beruntun ini, lanjut Inggal, empat penumpang bus Eka nopol S 7561 US mengalami luka ringan. Sementara satu penumpang bus Eka nopol S 7155 US menderita luka cukup parah.

Penumpang atas nama Laminten (61), warga Desa Batubesar, Nongso, Batam tersebut saat ini telah dirawat di RSUD Jombang. Begitu juga dengan empat penumpang bus lain yang terluka akibat kecelakaan ini. Sedangkan sopir kedua bus selamat.

"Korban di RSUD Jombang menunggu hasil rotgen," terangnya.

Baik sopir maupun bus yang terlibat kecelakaan telah diamankan Sat Lantas Polres Jombang. Arus lalu lintas yang sempat macet kini kembali lancar setelah bus dievakuasi.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
19 July 2018
 Penemuan Mayat Bocah Perempuan di Sungai Balongcangkring Mojokerto, Korban Pembunuhan?

Polisi Polres Mojokerto akhirnya berhasil mengungkap penyebab kematian EM (11) warga Cakarayam, Kelurahan Metikan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto.

Siswi kelas dua SD tersebut diduga menjadi korban pembunuhan.

Hasil otopsi sementara tim dokter bersama INAFIS Polres Mojokerto Kota, menemukan adanya indikasi korban meninggal diduga karena adanya kekerasan fisik.
 

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Sigit Dany Setiyono menjelaskan memang ada indikasi dugaan pembunuhan.

"Penyidikan kami mengarah ke sana (dugaan pembunuhan)," ujarnya kepada wartawan, Kamis (19/7/2018).

Sigit mengatakan untuk memperkuat asumsi tersebut anggota penyidik Sat Reskrim masih berupaya mengumpulkan barang bukti petunjuk yang ada di lokasi kejadian untuk menangkap pelakunya.

Pihaknya juga telah meminta keterangan kepada sejumlah saksi yang mengenal korban.

"Kasus dugaan pembunuhan ini masih dalam proses penyelidikan mohon doanya semoga bisa cepat terungkap," katanya.

Sebelumnya, warga digegerkan dengan sesosok mayat bocah perempuan yang ditemukan mengapung di Sungai Balongcakring, Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Sabtu (14/7/2018).

Ketika ditemukan jenazah korban dalam kondisi terlentang memakai kaos dan celana pendek warna cokelat.

Identitas korban terungkap setelah ada warga setempat yang mengenali korban.(Mohammad Romadoni-Surya.co.id/jko)



 

 



 

 
19 July 2018
Dinas Pendidikan Kota Blitar Larang Sekolah Beri PR Terhadap Siswa
Dinas Pendidikan Kota Blitar memberi imbauan pada pada sekolah untuk tidak memberikan pekerjaan rumah atau PR pada para siswanya. Larangan tersebut dianggap untuk memberikan kesempatan para siswa agar memiliki banyak waktu belajar pendidikan karakter di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Namun larangan memberi pekerjaan rumah kepada siswa tersebut masih berupa imbauan yang disampaikan secara lisan ke masing-masing kepala sekolah dan belum ada edaran resmi terkait larangan memberi PR ke siswa.

Wakil Kepala Kesiswaan SMP Negeri 1 Kota Blitar Katmadi mengatakan, pihaknya hingga kini belum menerima edaran resmi terkait larangan guru memberikan PR kepada siswa. “Larangan tersebut masih berupa imbauan di grup WA,” kata dia, Kamis (19/7/2018)

Katmadi juga menilai untuk penambahan materi belajar agak sulit karena kebanyakan para siswa hanya bermain jika tidak diberi pekerjaan rumah.

Sementara itu para siswa justru banyak yang tidak setuju terhadap imbauan larangan guru memberikan PR kepada para siswa.

Salah satunya Putri Calista siswi kelas 9 SMPN1 Kota Blitar menganggap dengan larangan tersebut para siswa tidak bisa memperdalam atau belajar di rumah tentang pelajaran yang di dapat di sekolah.

Sedangkan Dinas pendidikan Kota Blitar sendiri berdalih jika larangan memberi PR ke siswa dinilai kurang efektif. Karena pelajaran di sekolah harus selesai di sekolah dan siswa agar punya waktu belajar di lingkungan keluarga dan masyarakat saat di rumah.(Robby Ridwan-Sindonews.com/jko)
19 July 2018
Cerita Pawang Tangkap 8 Sanca di Mojokerto Pakai Tangan Kosong
Selama 6 bulan terakhir, 8 ular sanca kembang ditangkap warga Dusun Unengan, Desa Sekargadung, Pungging, Mojokerto. Penangkapan reptil ini tak lepas dari peran Suwarto.

Suwarto merupakan pawang ular yang juga warga Dusun Unengan. Pria berusia 50 tahun ini mengaku selalu dipanggil warga setiap ada ular sanca kembang yang mendekat ke permukiman penduduk.

Begitu juga saat menangkap 8 ekor ular sanca kembang dalam 6 bulan terakhir. Sesuai dengan gelarnya sebagai pawang ular, Suwarto menangkap reptil tersebut dengan tangan kosong.

"Kepalanya dulu harus dipegang, setelah itu warga lainnya membantu memegang bagian tengah dan ekor ular biar tak melilit tangan," kata Suwarto kepada wartawan, Rabu (18/7/2018).

Kendati mahir menangkap ular sanca, Suwarto enggan berburu. Dia memilih menangkap ular yang mendekat ke permukiman penduduk.

"Pokoknya kalau makan ternak warga, saya tangkap," ujarnya.

Tak hanya soal ternak warga, Suwarto juga khawatir dengan keselamatan anak-anak Dusun Unengan. "Ukurannya kan besar, kalau membelit anak-anak, lima menit bisa mati," ungkapnya.

Kemahiran Suwarto dalam menangkap ular sanca kembang juga diakui Kepala Dusun Unengan Sudarsono. "Beliau selalu bagian menangkap kepala ular. Karena warga tak ada yang berani," terangnya.

Selama 6 bulan terakhir warga Dusun Unengan dibuat resah oleh kawanan ular sanca. Reptil berukuran besar itu kerap memangsa ternak warga. Mulai dari ayam, bebek, hingga anakan kambing.

Dalam kurun waktu tersebut, warga telah menangkap 8 ekor ular sanca kembang. Panjangnya bervariasi, antara 3-5 meter. Warga meyakini ular-ular itu bersarang di gua Unengan. Hingga kini masih ada ular yang masih berkeliaran.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)
19 July 2018
 Kebakaran Cafe depan Stadion Brawijaya Kediri, Empat Mobil PMK Didatangkan untuk Padamkan Api

Kebakaran menimpa Cafe OTW di depan Stadion Brawijaya Jl Ahmad Yani, Kota Kediri, Kamis (19/7/2018).

Api menghanguskan bangunan di lantai bawah dan atas cafe tersebut.

Informasi yang dihimpun SURYA.co.id, kebakaran Cafe OTW milik Wahyudi (25) ini pertama kali diketahui Robima dan Kemal.
 

Saat itu Robima mau ke dapur dan mendapati asap telah mengepul.

Ia lalu mencoba memadamkannya dengan menyiramkan air.

Robima juga meminta bantuan teman-temannya untuk memadamkan api.

Namun api malah semakin membesar sehingga tambah berkobar merembet ke lantai atas.

Kobaran api dengan cepat membesar melalap ruangan di lantai bawah dan atas.

Perabot yang ada di dalam ruko dua blok itu hangus.

Hanya seperangkat kursi yang dapat diselamatkan.

Kebakaran ini embuat panik penghuni ruko lainnya sehingga mengontak petugas pemadam kebakaran.

Api baru dapat dipadamkan setelah mendatangkan 4 unit mobil PMK Kota Kediri.

Tidak ada korban jiwa pada musibah kebakaran ini.

Kerugian ditaksir mencapai Rp 300 juta karena sebagian besar perabot hangus dilalap api.

Kejadian ini masih dalam penyelidikan petugas kepolisian.

Lokasi ruko yang terbakar telah dipasang police line menunggu datangnya Tim Labfor Polda Jatim.(Didik Mashudi-Surya.co.id/jko)



 

 



 

 
19 July 2018
Lima Perempuan Penjaga Warung Kopi Digaruk Polisi
Polres Jombang menggelar razia dengan sasaran kejahatan jalanan dan penyakit masyarakat, Rabu (18/7/2018) malam. Hasilnya, korps berseragam coklat menggaruk lima perempuan yang menjadi pendamping di sebuah kafe di Pasar Wisata Kecamatan Peterongan.

Sebanyak 22 petugas ini berangkat dari kantor Polres Jombang yang berada di Jl Kh Wahid Hasyim. Mereka dipimpin oleh Kabag Ops Kompol Kusen Hidayat. Lokasi yang pertama disisir petugas adalah kawasan simpang empat Sambong.

Pada hari biasanya di lokasi tersebut memang kerap digunakan untuk mangkal anak-anak jalanan. Mereka meminta uang kepada pengguna jalan dengan modus mengamen. Selain simpang Sambong, petugas juga menyisir Simpang Tiga Jl Gus Dur dan Simpang Tiga Keplaksari.

Polisi kemudian mendatangi Terminal Kepuhsari Jombang, simpang KA (kereta api) Peterongan, serta pasar wisata Peterongan. Nah, di lokasi terakhir itulah petugas mendapat sejumlah perempuan seksi sedang melayani pembeli di cafe.

Petugas kemudian menanyakan identitas mereka. Ujungnya, lima perempuan tersebut dinaikkan ke mobil razia untuk dibawa ke mapolres Jombang. "Kita berikan pembinaan. Sebanyak lima perempuan pendamping penjual kopi yang kita amankan," kata Kusen Hidayat.

Kusen menjelaskan, razia serupa akan terus dilakukan. Hal itu untuk meminimalisir kejahatan jalanan. Makanya, lokasi-lokasi yang selama ini dijadikan mangkal preman dan anak jalanan tak luput dari penyisiran petugas.(Yusuf Wibisono-Beritajatim.com/jko)
Page 1 of 799      1 2 3 >  Last ›