Selingan

10 December 2018
Hindari Bahas 7 Hal Ini Ketika Kumpul dengan Teman Kantor
Menjelang musim liburan, biasanya kantor akan mengadakan acara, baik itu kumpul-kumpul atau pesta kecil-kecilan. Jangan sampai saat santai bersama teman sekantor malah menjadi awkward karena obrolan yang seharusnya tidak dimunculkan.

Cobalah bersantai bersama para sahabat di kantor. Dan pada saat yang sama jangan sampai mengucapkan sesuatu yang malah menjadi bumerang, bahkan sampai memberikan risiko pada karier.

Dirangkum dari Business Insider, berikut 7 hal yang sebaiknya jangan kamu bahas ketika berkumpul bersama sahabat di acara kantor. Berikut ulasannya:

1. Meminta Dikenalkan dengan Anggota Keluarga Rekan Kerja

Sebaiknya hindari menggoda anggota keluarga rekan kerja. Hal itu akan membuat suasana canggung dan tidak akan berakhir dengan baik.

Selain belum tentu rekan kerjamu akan bersikap welcome ketika anggota keluarganya digoda. Itu tak hanya membuat rekan tak nyaman di pesta tersebut, ini pun bisa memengaruhi relasi secara negatif di hari-hari kerja selanjurnya.

2. Membandingkan Penampilan di Luar dan Kantor

Penampilan seseorang di kantor dan di luar belum tentu sama. Toh, ada kantor yang memang mewajibkan pekerja tampil formal sesuai peraturan. Bisa saja rekan kerja memiliki gaya personal berbeda di luar kantor.

Meski sedang dalam suasana gathering maupun pesta, mereka tetaplah rekan kerja. Hati-hati memberi pujian yang mungkin membuat rekan malah tidak nyaman.

3. Bergosip

"Jangan bergosip atau mengipas rumor di pesta kantor. Ini bukan waktu atau tempatnya," ujar Paul McDonald, senior executive director di agensi staf Robert Half.

"Hindari gosip seperti gadis jahat dan cobalah berbicara dengan kolega mengenai kehidupan mereka di luar ruang kerja," jelas Amanda Augustine, ahli penasihat karier TopResume.

4. Mabuk dan Bertingkah

Bila pestamu menyediakan minuman, awasi kadar yang kamu minum. Jangan sampai kamu malah mabuk dan mengganggu atmosfer pesta yang harusnya santai dan menyenangkan.

Kamu juga belum tentu bisa mengontrol apa yang akan kamu ucapkan ketika pikiran di bawah pengaruh alkohol. Jadi, jangan sampai minum lalu menyesali apa yang kamu ucapkan di kemudian hari.

5. Saya Benci Bos Saya/Saya Sudah Mengirim Notice

Pesta liburan bukan tempat atau waktu bagi mengeluh tentang supervisor atau mengumumkan bahwa kamu akan hengkang. Simpanlah komplain dan kabar serius untuk hari kerja biasa.

Amy Glaser, senior vice presiden Adecco Staffin, berkata membahas hal demikian sangat tidak profesional. Pegawai juga diminta berhati-hati dalam mengungkapkan informasi sensitif, termasuk tentang rekan kerja yang tidak disukai atau bila sedang bersiap berpindah karier yang lebih baik.

"Perhatikan bahwa pesta liburan bukanlah lingkungan yang tepat untuk membagi informasi demikian dengan kawan atau supervisor," jelas Glaser.

6. Sudah Dapat Bonus?

Hindari membahas tentang uang dan hindari segala obrolan terkait kompensasi. Pasalnya, belum tentu semua pegawai mendapatkan bonus tahun ini.

Menurut Bram Lowsky, executive vice president Right Management, berada di sebuah pesta seakan memberi rasa permisif untuk membahas sesuatu yang umumnya dibahas secara tertutup, seperti uang. Namun, ia menyebut lebih baik membahas uang di saat lain dan memakai atmosfer pesta untuk membangun koneksi baru yang lebih personal.

7. Jangan bahas kerja

Yang terkait tetapi tak kalah penting: hindari topik mengenai pekerjaan.

CEO Maestro Health Rob Butler, pakai saat menyenangkan seperti esta untuk lebih mengenal kolega di level yang lebih personal. Gunakan momen ini untuk mengetahui passion dan hobi rekan kerja.(Tommy Kurnia-liputan6.com/jko)

 

 

 

 

 

 

 

29 November 2018
Islam itu Bersih
Di antara bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah perhatiannya terhadap masalah kebersihan. Lebih-lebih kebersihan batin. Tubuh kita saja hakikatnya adalah amanah, oleh karena itu wajib dijaga kebersihannya, agar dapat melakukan kewajiban agama dengan baik dan terhindar dari ancaman penyakit yang dapat mengurangi produktivitas kebaikan. Intinya, Islam itu bersih.

Bahkan, nyaris semua aktivitas ibadah tidak bisa dipisahkan dari aspek kebersihan sebagai bagian daripada tercapainya kesucian lahir dan bathin. Rasulullah SAW bersabda, "Kunci sahnya shalat adalah kesucian diri dari najis." (HR. Abu Dawud).

Dan, di dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa cinta-Nya diberikan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang gemar membersihkan (mensucikan) diri. "Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih" (QS. At-Taubah [9]: 108). Dalam hadis lain ditegaskan, "Kebersihan itu sebagian dari iman" (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian, idealnya setiap Muslim adalah pribadi yang menerapkan pola hidup bersih dan komitmen menjaga kebersihan secara utuh-menyeluruh lahir-batin.

Imam Ghazali dalam kitab monumentalnya, Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kebersihan tidak sebatas berkaitan keindahan lahiriah dengan membersihkan, menyiram dan membasuhkan air pada anggota-anggota tubuh. Tetapi juga menyatukan dengan pembersihan aspek batiniah dengan menjauhi kemaksiatan maupun bentuk dosa lainnya.

Hal ini disandarkan pada ayat-Nya di dalam Alquran, "Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" (QS. Asy-Syu'ara [26]: 89).

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengutip pendapat Ibnu Sirrin, "Qalbun salim (hati yang bersih) yaitu ia mengetahui bahwa Allah adalah haq dan sesungguhnya hari Kiamat tidak ragu lagi pasti akan tiba, serta Allah akan membangkitkan para penghuni kubur."

Oleh karena itu, Islam memandang kebersihan secara integratif-komprehensif, sehingga upaya pembersihan diri selalu meliputi aspek lahiriah dan bathiniah sekaligus yang berkaitan nyaris dengan seluruh jenis ibadah; mulai dari membaca Alquran, shalat, berdoa, dan lain sebagainya.

Menariknya, terkait operasional pembersihan jiwa raga ini telah dijabarkan dengan lengkap oleh Hujjatul Islam, Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjadi empat tingkatan aktivitas bersuci.

Pertama, menyucikan tubuh dari segala bentuk hadas, kotoran dan benda yang menjijikkan lainnya. Kedua, menyucikan setiap anggota tubuh dari segala perbuatan buruk dan mengandung dosa. Ketiga, menyucikan qalbu (hati) dari segala perbuatan dan akhlak (perilaku) tercela berikut sifat-sifat keji lainnya. Keempat adalah mensucikan jiwa dari yang selain Allah Ta'ala.

Dengan demikian betapa indahnya kehidupan seorang Muslim yang kebersihan dirinya tak sebatas raga, rumah, pakaian, kendaraan, tetapi juga hati, cita-cita dan visi hidupnya, sehingga kebersihan yang diupayakan adalah bagian penting terwujudnya kemaslahatan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Apalagi, kebersihan dapat memicu semangat dalam bekerja. Wallahu a'lam.(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi/jko)

 
28 November 2018
Yuk, Intip Rahasia Sukses Jadi Wanita Panutan Masa Kini
Menjadi seorang wanita yang sukses dan jadi panutan tentunya sebuah hal positif yang tak ternilai harganya. Tentu tidak bisa begitu saja untuk bisa menjadi wanita panutan. Butuh upaya dan strategi yang tepat untuk mewujudkannya.

Seorang wanita yang sukses menjadi panutan masa kini tidaklah sulit. Mengingat era modern seperti sekarang ini memudahkan orang mengakses informasi maupun menularkan gaya hidup kepada khalayak umum untuk dijadikan role model atau panutan.

Lalu, bagaimana cara menjadi sosok wanita yang seperti itu? Seperti dikutip dari Cermati.com, yuk intip rahasia sukses jadi wanita panutan masa kini.

1. Bisa Atur Keuangan

Menghabiskan uang untuk berfoya-foya sudah tidak zamannya lagi. Sudah saatnya kamu belajar tentang cara mengelola uang dengan baik, terutama jika ingin menikah dalam waktu dekat ini.

Apabila kamu terus meminta uang dari orangtua, sampai kapan akan terus bergantung pada mereka? Dan kalaupun sudah bekerja tapi ternyata tak punya tabungan, mau sampai kapan hidup serba tak teratur?

Untuk itu, belajarlah dari para wanita yang pandai mengatur keuangan untuk masa depan yang lebih baik dan stabil. Karena kemampuan mengatur keuangan ini sangat penting untuk keberlangsungan hidup seseorang agar tak berantakan.

2. Bijak dalam Berutang

Wanita yang sukses dan menjadi panutan tak lepas dari bagaimana mengelola utang. Tidak ada salahnya berutang. Tapi wanita yang bisa menjadi panutan biasanya mereka bijak dalam berutang.

Maksudnya adalah mereka memanfaatkan dana dari utang ini untuk kegiatan yang produktif, seperti berwisausaha, memaksimalkan keuntungan dari promosi untuk membeli produk-produk yang dibutuhkan.

Jadi, misalnya punya kartu kredit, gunakan untuk mendapatkan diskon dari barang-barang belanjaan kebutuhan sehari-hari.

3. Rutin Menabung meski Tak Besar

Menabung sering kali terlupakan atau terlewatkan. Tapi tidak bagi wanita yang masuk dalam kategori bisa jadi panutan di masa kini. Sebab wanita modern dan cerdas adalah mereka yang merdeka finansial.

Caranya? Salah satunya adalah tak lupa untuk menabung. Kendati jumlahnya kecil, jika rutin menabung, maka akan ada hasil yang luar biasa di masa depan. Sebagaimana pepatah katakan “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”.

Kamu bisa membuka rekening tabungan yang baru. Bisa juga dengan menabung di celengan lucu. Intinya, pilih cara menabung yang paling mudah dan membuatmu nyaman untuk menciptakan rasa gemar menabung.

4. Mau Mengolah Makanan Segar

Kebanyakan perempuan ingin yang serba praktis. Padahal, tidak semua yang praktis itu baik untuk kesehatan, terutama makanan. Nah, wanita sukses yang bisa menjadi panutan salah satunya mau dan mampu meracik bumbu masakan.

Nah, bagi kamu yang lebih suka atau terbiasa dengan makanan serba instan yang tentunya menggunakan bahan-bahan atau bumbu masakan instan pula, mulailah untuk mengubah kebiasaan ini. Karena bagaimanapun juga, masakan atau makanan segar lebih baik untuk kesehatan.

5. Berdandan Sederhana tapi Elegan

Kemampuan wanita yang sukses dan menjadi panutan juga tak lepas dari kemampuan dia dalam berpenampilan atau merawat diri. Sebab mau tidak mau, penampilan seseorang juga memengaruhi penilaian orang di sekitar.

Tak perlu ke salon setiap saat, karena tentunya butuh biaya mahal. Kamu bisa merawat diri sendiri dengan bahan-bahan yang diperlukan serta berdandan secukupnya atau sewajarnya saja namun terlihat elegan. Bahkan kamu juga bisa menghemat pengeluaran dari kebutuhan yang satu ini.

6. Mampu Membangun Komunikasi yang Baik

Menjadi wanika sukses dan panutan juga tak lepas dari kemampuan dia membangun komunikasi. Nah, kemampuan membangun komunikasi ini juga tidak bisa serta merta datang begitu saja tanpa adanya upaya belajar dan latihan.

Jadi, kamu bisa meniru dengan mengasah kemampuan berkomunikasi yang baik melalui kursus, misalnya. Sehingga kamu bisa merepresantasikan diri dengan orang lain dan meningkatkan karier di masa yang akan datang.

Anda juga bisa melatihnya melalui bergabung dengan komunitas atau mengikuti seminar, dan lainnya, yang memungkinkan berinteraksi dengan banyak orang.

7. Berani Hidup Mandiri

Perempuan yang mampu hidup mandiri menjadi wanita idaman juga bagian dari wanita sukses dan panutan. Sebab, perempuan tipe ini tidak suka menyusahkan orang yang ada di sekitarnya. Apakah kamu termasuk salah satu perempuan yang mandiri?

Kemandirian seseorang bisa dilihat dari hal-hal sederhana seperti mampu mengatur jadwal tidur dengan baik untuk meningkatkan produktivitas kerja, tidak selalu minta tolong kepada orang lain untuk hal-hal kecil atau sesuatu yang memang bisa dikerjakan sendiri.

8. Rutin Baca Buku untuk Memperluas Wawasan

Kita semua tahu kalau buku adalah jendela dunia. Tetapi, apakah kamu selalu meluangkan waktu untuk membaca? Dan wanita sukses yang juga jadi panutan adalah mereka yang gemar dan rutin membaca buku untuk memperluas pengetahuan.

Manfaatkan waktu luang atau di sela-sela rutinitas sehari-hari maupun di akhir pekan untuk membaca berbagai macam. Pastikan satu buku habis dibaca dalam satu bulan agar pengetahuanmu bertambah luas.

Menjadi Wanita Sukses Sekaligus Panutan adalah Kebanggaan

Tak sulit untuk menjadi wanita sukses sekaligus panutan positif buat orang lain. Selain hanya dibutuhkan kemauan, juga semangat untuk terus memupuk diri menjadi lebih baik lagi.

Kuncinya, terus belajar karena ilmu pengetahuan itu dinamis, sama halnya seperti kehidupan yang terus bergerak dan berubah mengikuti zaman.(Fitriana Monica Sari-liputan6.com/jko)

 

 

 

 

26 November 2018
Ini 5 Hal yang Bedakan Orang Sibuk dengan Produktif
Apa itu produktif? Sejumlah orang salah kaprah mengenai arti produktif sesungguhnya. Tak sedikit yang menganggap bahwa kesibukan sama dengan produktivitas.

Namun sebenarnya ada hal-hal mendasar yang membedakan orang yang sibuk dengan yang produktif. Orang sibuk belum tentu produktif, tapi orang produktif pasti memiliki kesibukan.

Oleh karena itu, Anda harus bisa membedakan antara sibuk dan produktif. Mengutip Inc.com, Senin (26/11/2018),berikut 5 perbedaannya:

1. Mengerjakan terlalu banyak vs Fokus pada beberapa pekerjaan

Orang sibuk berpikir bahwa mengerjakan sebanyak mungkin pekerjaan dalam 8 atau 9 jam adalah cara terbaik untuk menyelesaikannya. Mereka ingin mengerjakan terlalu banyak hal yang pada akhirnya tidak akan mampu diselesaikan dalam sehari.

Orang produktif paham bahwa mereka tidak bisa mengerjakan terlalu banyak hal dalam sehari. Mereka menyusun rencana atas hal-hal yang ingin dikerjakan dengan menyelesaikan yang benar-benar penting.

2. Multitasking vs Fokus

Orang sibuk berusaha untuk mengerjakan beberapa hal secara bersamaan. Sebaliknya, orang produktif fokus menyelesaikan pekerjaan mereka seefisien mungkin.

Mereka melakukan multitasking secara efektif dengan memasangkan pekerjaan yang kurang penting dengan yang lebih penting. Misalnya, orang produktif membuat catatan tentang ide proyek sambil menunggu rapat dimulai.

3. Mudah terganggu vs Sistem yang terjadwal

Orang sibuk mengembangkan kebiasaan yang malah merusak produktivitas. Misalnya dengan terus-terusan memeriksa e-mail dan mudah terganggu setiap telepon mereka berbunyi. 

Menurut riset di King’s College London University, memeriksa e-mail berulang kali dapat menurunkan IQ hingga 10 poin. Selalu beralih antara mengerjakan tugas dan melakukan hal-hal kecil seperti membalas surel juga mengubah struktur otak yang membuat kemampuan fokus berkurang.

Sementara orang produktif membangun sistem yang terjadwal bahkan untuk kegiatan sehari-hari seperti membalas e-mail. Mereka menyediakan waktu yang spesifik untuk hal-hal simpel agar bisa berkonsentrasi penuh pada pekerjaan yang lebih penting.

4. Selalu menjawab “ya” vs Tahu kapan harus menolak

Orang yang sibuk selalu menerima setiap tawaran tanpa mempertimbangkan hal-hal lain seperti jadwal, waktu, dan uang terlebih dahulu. Ini malah akan membuat Anda sibuk tanpa benar-benar menyelesaikan satu hal secara tuntas.

Orang produktif tahu kapan harus menolak dan merelakan rencana-rencana mereka yang kurang praktis. Sebaliknya, mereka memfokuskan energi dan sumber daya pada satu hal yang sesuai dengan tujuan utama. 

5. Selalu bekerja vs beristirahat

Orang sibuk jarang beristirahat. Mereka bahkan berpikir bahwa beristirahat merupakan bentuk penundaan. Mereka juga frustasi saat melihat orang lain memiliki waktu luang dan menikmati pekerjaannya.

Orang produktif tahu kapan mereka harus berhenti sejenak untuk rileks misalnya dengan berjalan santai, mendengar lagu favorit, meditasi, atau lainnya.

Mereka paham mereka bisa lebih efisien dengan membiarkan otak mereka beristirahat setelah bekerja selama beberapa jam.(Felicia Margaretha-liputan6.com/jko)

 

 

22 November 2018
Mewaspadai Tipu Daya Setan
Setan dengan seluruh pasukannya tidak akan pernah berhenti dan tidak mengenal istilah capai dalam menyesatkan manusia. Dari segala arah mereka la’natullah ‘alaihim menggoda dan menjerumuskan kita; tidak berhasil dari arah depan, dicoba dari belakang. Mentok dari samping kanan, mereka lirik samping kiri (QS al-A’raf [7]:17).

Begitulah seterusnya, musuh nyata manusia ini menggoda kita sampai ada di antara kita ikut serta menjadi teman mereka. Di hadapan Rabb Semesta, iblis, tetua para setan dan makhluk pencinta kegelapan ini, mendeklarasikan diri untuk mencari pertemanan yang bisa diajak berbenam di kawah besar api neraka.

“Iblis ber kata, ‘Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai ke pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)’.

Iblis menjawab, ‘Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.’” (QS Shad [38]: 79-83).

Inilah kiat supaya kita selamat dari tipu daya setan yang terkutuk. Pertama, ikhlas dalam menghamba kepada Sang Khaliq (QS al-Hijr [15]:40). Apa pun aktivitas kita, termasuk dalam hal ibadah dan amaliah keduniawian, haruslah semata karena mencari ridha Allah. Ikhlas ini seperti alat proteksi yang mampu melindungi kita dari virus mematikan setan de ngan segala tipu muslihatnya.

Kedua, meniti jalan takwa dengan keseriusan taat yang sempurna. Lihat QS al-Hijr [15]: 42 dan al-Baqarah [2]: 208.

Ketiga, iltizam biljamaah (melazimkan diri dengan berjamaah), baik dalam praktik iba dah, muamalah, maupun secara manhaj hidup (pola dan tata cara hidup). “Sesungguhnya setan bersama orang yang sendirian dan menjauh dari dua orang.” (HR Ahmad).

Keempat, melazimkan sha lat berjamaah di masjid (QS al- Hadid [58]:19). Berjamaah menghadirkan kekuatan (al-jama’ah quwwatun), berjamaah menjadi mudah mengakses keberkahan (al-jama’ah ba ra katun). “Jika ada tiga orang di desa atau kampung yang tidak mendirikan shalat jamaah kecuali mereka telah dikuasai oleh setan ...” (HR Abu Dawud).

Kelima, sering-seringlah memohon pertolongan Allah dari tipu daya setan dan kehadirannya dalam semua majelis kehidupan.

Sungguh kita tidak akan pernah menang perang me la wan makhluk terkutuk ini kecuali atas pertolongan-Nya. De ngan memperkuat tauhid, ikhlas, dan istiqamah ibadah ser ta memperbanyak isti’adzah atau doa, niscaya kita akan senantiasa mendapat per lindungan Allah dan mam pu menaklukkannya. (QS al- Mu’minun 97-98).

Jika anak Adam membaca ayat sajdah lalu dia sujud, setan menyendiri sambil menangis. Ia berkata, “Sungguh celaka (aku)! Anak Adam diperintah sujud lalu ia bersujud, maka baginya surga, dan aku disuruh sujud, tapi tidak mau sujud, maka bagiku neraka.” (HR Mus lim). Karena itu, jika ingin setan banyak menangis, per banyak sujud. Wallahu a’lam(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: M Arifin Ilham/jko)

 
19 November 2018
Lakukan 3 Hal Ini Agar Tetap Sehat di Kantor
Rutinitas sehari-hari membuat banyak orang menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah, tidak terkecuali di kantor. Namun, tidak jarang ketika bekerja lebih sering fokus di tempat duduk.

Meregangan tubuh adalah hal yang wajib Anda lakukan di tengah kesibukan pekerjaan. Seperti dilansir dari Cashbac, ada beberapa tips agar Anda tetap sehat ketika berada di kantor. Apa saja? Yuk, simak rangkuman lengkapnya berikut ini.

1. 20, 20, 20

Apakah 20, 20, 20? Ini merupakan metode yang wajib dilakukan ketika fokus bekerja di depan komputer atau laptop. Rumus ini sangat bermanfaat bagi mata Anda. Yakni setiap 20 menit usahakan mengalihkan mata dari layar komputer atau laptop selama 20 detik.

Selain itu, hal yang perlu dipehatikan Adalah melihat beda yang jaraknya 20 kaki atau sekitar 6 meter dari tempat Anda. Terapkan rumus ini secara teratur untuk menjaga kesehatan mata.

2. Jalan-Jalan

Sempatkan untuk bangun dari tempat duduk dengan berjalan-jalan sejenak. Tidak perlu keluar kantor, Anda dapat meregangkan badan dengan cara berjalan ke pantry untuk mengambil minum.

Jika hal itu tidak cukup, Anda bisa menyempatkan diri untuk mempir ke meja teman Anda untuk sekedar mengobrol santai selama satu sampai dua menit. Hal ini juga bisa Anda lakukan di saat makan siang. Usahakan tidak menitip makanan pada teman.

3. Pentingnya Air Putih

Meski tidak melakukan gerakan fisik dan tidak kehausan, bukan berarti setiap harinya Anda tidak membutuhkan asupan air untuk tubuh. Air putih sangat penting bagi tubuh, bukan hanya menghindarkan tubuh dari dehidrasi, tapi supaya metabolisme tubuh tetap terjaga.

Selain itu, manfaat air putih lainnya seperti membuat tulang menjadi kuat hingga tidak mudah sakit. Minumlah setidaknya dua liter air putih setiap harinya supaya terhindar dari beberapa hal yang membahayakan tubuh, terutama dehidrasi.(Putu Elmira-liputan6.com/jko)

15 November 2018
Sabda Rasulullah dan Amanah Jabatan
Suatu waktu Abu Dzar al-Ghifari bertanya kepada Nabi. "Ya Rasulullah, mengapa kau tak memberi jabatan apa-apa kepadaku?" Sambil menepuk bahu sahabatnya yang zuhud itu, Nabi menjawab, "Hai Abu Dzar, kau seorang yang lemah, sedangkan jabatan itu adalah amanah."

Sebagai amanah, sabda Rasulullah, jabatan kelak pada hari kiamat hanya akan menjadi penyesalan dan kehinaan, kecuali bagi orang yang dapat menunaikan kewajiban dan tanggung jawabnya (HR Muslim).

Sabda Nabi itu tidak hanya untuk Abu Dzar, tetapi untuk umatnya. Nadanya seperti mengancam, tapi seorang Nabi peduli pada umatnya itu sedang mewanti-wanti. Ada tiga kriteria pejabat (pemikul jabatan) yang tersembunyi dalam pesan di atas yaitu: amanah, mengambil dengan benar, dan menunaikan dengan baik.

Kriteria di atas tidaklah sederhana. Sebab, pejabat dalam gambaran Nabi adalah pekerja bagi orang banyak, bukan sekadar penguasa. Dan pekerja seperti digambarkan oleh Alquran haruslah orang yang kuat dan terpercaya. "Sesunguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya," (QS al-Qashas (28) :26).

Kuat pada ayat di atas adalah kuat bekerja dalam memimpin. Sedang maksud amanah (dapat dipercaya) adalah tidak berkhianat dan tidak menyimpang, dengan motif karena takut kepada Allah. Maka, sebagai pekerja untuk umat, sifat kuat bekerja adalah prasyarat penting pejabat. Tetapi, yang lebih penting lagi adalah menjaga sifat amanah yang bisa hilang karena tuntutan pekerjaannya.

Nabi pun konsisten dengan kriterianya. Khalid bin Walid dan 'Amr bin Ash yang baru masuk Islam diberi jabatan pimpinan militer, padahal ilmu keislaman mereka berdua belum mamadai. Namun, ternyata keduanya dianggap kuat bekerja dan mampu menjaga amanah.

Sebaliknya, orang sealim Abu Hurairah yang sangat kuat hafalan hadisnya dan banyak mendampingi Rasulullah tidak diberi jabatan apa-apa. Semangat Hasan bin Tsabit membela Islam juga tidak masuk kriteria orang yang layak memegang pimpinan atau jabatan. Tentu lagi-lagi karena tidak masuk kriteria pemimpin yang dicanangkan Nabi.

Masalahnya, seseorang bisa gagal menunaikan tugas jabatannya dan kepemimpinannya karena tidak mampu mempertahankan amanah (khiyanat) atau karena tidak ada ilmu untuk itu (jahil). Maka Alquran memberi pelajaran dari kisah Nabi Yusuf. Dikisahkan bahwa ia diberi kedudukan tinggi oleh raja karena dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz), dan berpengetahuan (alim) (QS Yusuf (12) :54-55).

Ini berarti kriteria pemimpin ditambah satu syarat lagi, yaitu hafiz, artinya menjaga amanah. Hal ini disinggung Nabi dalam hadis yang lain: Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang rakyatnya, apakah menjaganya (hafiza) atau menyia-nyaikannya. (HR Nasa'i dan Ibnu Hibban).

Syarat yang satu lagi adalah sifat al-'alim, artinya mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, mengetahui ilmu tentang tugasnya. Adalah malapetaka suatu bangsa jika pejabat dan pemimpin yang dipilih dan dipercaya rakyat ternyata tidak cukup ilmu tentang tugasnya. Inilah yang diwanti-wanti Umar ibn Khattab bahwa amal tanpa ilmu itu lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Di sini kita akan mafhum apa kira-kira sebabnya Abu Zar tidak diberi jabatan oleh Nabi.

Pemimpin atau pejabat Muslim yang sesuai dengan ajaran Islam adalah yang bersifat amanah, memperolehnya dengan benar, menunaikan dengan baik, kuat, dapat dipercaya (amin), pandai menjaga (hafiz) amanahnya dan berpengetahuan (alim) tentang tugas jabatan dan kepemimpinannya.(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Agus Fitriawan/jko)

 
14 November 2018
Jenuh dan Bosan di Kantor? Ini Cara Mudah Mengusirnya
Melakukan rutinitas pekerjaan setiap hari tentunya tak selalu berjalan mulus. Rasa jenuh dan bosan hingga mengendurkan semangat bisa menyerang kapan saja dan siapa pun saat melakukan rutinitas di kantor. Dampak buruknya, produktivitas lambat laun pasti menurun. Tentu saja, kinerja kita akan dipertanyakan.

Ada banyak hal membuat rasa bosan di kantor itu muncul. Tapi apa pun itu penyebabnya, sebaiknya hindari jauh-jauh agar produktivitas tetap terjaga dan membawa Anda pada kesuksesan. Lalu, bagaimana caranya?

Seperti dikutip dari Cermati.com, berikut cara menghilangkan rasa bosan saat di kantor dan tetap melakukan rutinitas pekerjaan ini dengan baik.

1. Masuk Kantor On Time

Jangan salah, rasa bosan di kantor bisa saja timbul akibat kelelahan atau stres karena perjalanan menuju tempat kerja. Untuk itu, berangkatlah ke kantor lebih awal agar tidak terjebak macet, dan bisa sampai tepat waktu (on time).

Jangan menganggap jika masuk kerja tidak sesuai jadwal adalah hal yang remeh. Karena urusan tersebut dapat menjadi pertimbangan dalam kenaikan jabatan, bahkan kenaikan gaji.

Pastikan jika Anda memberikan jejak rekam yang baik dan menjadi pribadi menyenangkan di kantor. Sehingga energi positif pun akan mengusir rasa bosan Anda.

2. Mendahulukan Pekerjaan

Dahulukan pekerjaan Anda sebelum melakukan hal yang lainnya. Jangan menganggap jika pekerjaan bisa ditunda, karena menunda pekerjaan bukanlah hal yang baik.

Oleh karena itu, lakukan pekerjaan kantor terlebih dahulu sebelum berbicara dengan teman sejawat. Ini penting karena ketika Anda sudah berbicara dengan orang lain, maka tak menutup kemungkinan Anda jadi lupa waktu.

Bekerjalah dengan semaksimal mungkin, jangan menunggu atasan memerintah, baru Anda melakukannya. Tapi tumbuhkan inisiatif yang baik dalam diri Anda agar nantinya atasan akan memberikan penilaian yang baik atas diri Anda.

3. Luangkan Waktu Membaca Buku

Bacalah buku saat ada waktu luang. Jangan meremehkan waktu senggang dengan melakukan hal yang tidak penting. Pastikan jika membaca buku dapat memberikan Anda motivasi, pengetahuan, dan pengalaman tentunya.

Anda juga bisa bertukar buku dengan teman sejawat, karena hal ini tentu akan sangat menarik dan memberikan pengalaman yang baru. Tidak hanya itu, membaca buku di kantor juga bisa menjadi salah satu kegiatan menarik dan positif guna menjaga keefektivitas waktu di kantor.

4. Membuka HP Setiap 1-2 Jam Selama 5 Menit

Cara efektif untuk membagi waktu di kantor adalah dengan membuka ponsel setiap 2 jam sekali selama 5 menit. Dalam waktu lima menit, Anda bisa mengecek ponsel untuk memeriksa pesan atau chat.

Cara ini cukup efektif dilakukan demi menjaga kestabilan mental agar tidak ketergantungantungan juga pada ponsel setiap saat. Tentu saja, hal ini bisa sekaligus mengusir rasa bosan.

5. Jangan Lewatkan Jam Istirahat Siang

Manfaatkan jam istirahat siang hari semaksimal mungkin. Gunakan waktu tersebut untuk makan siang atau beribadah maupun mengobrol dengan rekan kerja. Waktu ini juga bisa Anda manfaatkan untuk ‘berponsel ria’, menelpon orang rumah dan sebagainya.

6. Ingat Selalu untuk Berkomitmen

Bangunlah komitmen untuk diri sendiri agar tidak lupa dengan apa yang Anda inginkan. Pastikan jika Anda berkomitmen untuk bisa jauh lebih baik dari sebelumnya dan mendapatkan apa yang Anda inginkan.

Pastikan jika Anda juga membuat visi misi yang baik untuk kemajuan di kantor. Jangan menganggap jika komitmen atau visi misi yang dibuat hanyalah sebuah rules sementara saja, tapi hal ini akan menjadi sebuah komitmen yang bisa membuat Anda lebih efektif dalam mengatur jadwal di kantor.

Bebas Rasa Bosan di Kantor dan Ukir Karier Cemerlang

Tentu saja, bila rasa bosan itu bisa dengan mudah diusir, maka melakukan berbagai macam aktivitas di kantor pun juga akan semakin mudah dan menyenangkan. Anda pun bisa mengukir prestasi dan sukses dalam karier.

Jadi, jangan biarkan bosan terus melanda dan membayangi pekerjaan Anda di kantor. Usir bosan itu dengan tips-tips di atas dan ukir karier cemerlang Anda.(Fitriana Monica Sari-liputan6.com/jko)

 

 

 

12 November 2018
Kesalahan terbesar yang dibuat remaja dalam pengelolaan keuangan
Setiap orang pasti pernah mengambil keputusan yang salah dalam pengelolaan keuangan. Biasanya, remaja kerap melakukan kesalahan-kesalahan tersebut.

Seorang ahli keuangan Kevin O'Leary mengatakan biasanya kesalahan terbesar yang kerap dilakukan remaja adalah menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak terlalu penting, membuang makanan, dan memilih untuk menyewa rumah dibandingkan membeli rumah.

"Kesalahan terbesar yang saya buat adalah utang itu gratis," kata O'Leary dilansir CNBC Make It.

Sewaktu masih muda, dirinya terlalu bebas menggunakan kartu kredit dan berpikir bahwa setiap orang bisa mendapatkan apapun tanpa harus mengeluarkan uang. Sayangnya, setiap kartu kredit memiliki suku bunga.

"Faktanya adalah, suku bunga kartu kredit sangat luar biasa. Pengembaliannya sangat tinggi, bahkan saya tidak bisa membuatnya ketika saya berinvestasi. Itulah sebabnya saya berinvestasi di perusahaan kartu kredit," imbuhnya.

Untuk itu, dia pun mengimbau agar remaja tidak menghabiskan uang lebih banyak dari yang dimiliki. Menurutnya, memakai kartu debit akan lebih bijak dibandingkan menggunakan kartu kredit.

Dengan cara tersebut, setiap orang termasuk remaja bisa membeli sesuatu tanpa harus menggunakan uang tunai. Namun, mereka tetap bisa mengecek secara online jumlah uang yang tersisa di rekening.

"Ketika tidak ada uang yang tersisa di akun, mereka tidak bisa membeli apa saja, dan itu hal yang baik," tegas O'Leary.

Survei T. Rowe Price tahun 2017 menemukan bahwa 44 persen orang tua sangat enggan mendiskusikan uang dengan anak-anak mereka. Tetapi berbicara tentang uang dan mengajar anak-anak mengenai manajemen keuangan harus dimulai jauh sebelum masa remaja mereka.

"Utang adalah hal yang buruk. Memahami dari mana uang berasal itu penting. Hasilkan uang sebagai bagian dari keluarga di meja makan. Bicarakan dari mana asalnya, bagaimana Anda membuatnya dan betapa sulitnya memiliki."(Siti Nur Azzura-Merdeka.com/jko)
08 November 2018
Menjadi Muslim Terbaik Terik gurun pasir terasa membakar ubun-ubun. Dari Madinah, tampak kedua suami istri berangkat menuju Homs. Tak banyak yang mereka miliki, kecuali bekal sejumlah uang dari sang khalifah.

Sesampainya di kota tujuan, sang istri mengusulkan, "Aku akan mempergunakan uang ini untuk membeli pakaian yang layak, hiasan, barang-barang keperluan rumah tangga, dan menyimpan sisanya. Bagaimana menurutmu?"

"Apakah engkau mau aku tunjukkan yang lebih baik dari itu? Sekarang kita berada di negeri perdagangan yang menjanjikan keuntungan dan pasar yang selalu ramai. Karena itu, mari kita berikan uang ini kepada seseorang yang bisa memakainya untuk berdagang dan menumbuhkannya untuk kita," jawab Said bin Amir, sang suami.

Perempuan itu suka cita mendengar usul suaminya. Ia bertanya, "Jika perdagangannya merugi?" Said menjawab, "Aku akan meminta jaminan kepadanya." Demikianlah, akhirnya sang istri sepakat untuk terlibat dalam perdagangan yang dikehendaki suaminya.

Khalil Muhammad Khalil dalam Biografi 60 Shahabat Rasulullah mengungkapkan, Said kemudian pergi membawa seluruh uang bekal mereka. Ia beli sedikit kebutuhan pokok untuk hidup mereka yang sederhana. Setelah itu, ia bagikan semua sisa uangnya kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Hari demi hari terus berlalu. Berkali-kali sang istri menanyakan perihal perdagangan mereka. Said selalu menjawab, "Perdagangan kita berjalan lancar, sementara keuntungannya terus tumbuh dan berkembang."

Akan tetapi, istrinya tak percaya begitu saja. Pasalnya, ia tak pernah mendapati suaminya memegang banyak uang. Hidup mereka pun tak banyak berubah dibandingkan saat datang.

Suatu hari, sang istri kembali bertanya di hadapan karib Said yang mengetahui hal sebenarnya. Said tersenyum lantas melepaskan tawa mendengar pertanyaan itu, yang serta-merta menimbulkan kecurigaan di hati sang istri. Ia pun terus mendesak karib Said untuk menceritakan terus terang. Akhirnya, kecurigaan itu terjawab, "Said telah menyedekahkan seluruh hartanya sejak awal."

Demi mendengar kejujuran itu, meledaklah tangis sang istri. Ia menyesal tidak sempat menikmati harta tersebut. Harta itu lenyap tanpa sempat ia belanjakan untuk keperluan hidup mereka. Said pandangi istrinya yang masih berurai air mata keputusasaan.

"Bukankah engkau tahu bahwa di surga itu ada para bidadari yang berupa gadis-gadis cantik bermata jeli? Andai saja seorang dari mereka melongok ke bumi, tentulah ia akan menerangi seluruh bumi dan cahayanya akan mengalahkan cahaya bulan dan matahari sekaligus," ucap Said, menenteramkan hati sang istri.

"Karena itu, mengorbankan dirimu demi mereka adalah lebih baik dan lebih layak daripada mengorbankan mereka demi dirimu," sambungnya. Ucapan itu menyadarkan hati sang istri. Ia paham, tidak ada yang lebih baik untuknya selain meniti jalan akhirat dengan kezuhudan yang telah dicontohkan suaminya.
 

Maka, tepatlah pandangan Umar bin Khattab. Tatkala Amirul Mukminin Umar bin Khatab memberhentikan Mu'awiyah dari jabatannya sebagai gubernur Syam, Umar mencari-cari orang yang tepat untuk memegang amanah itu.

Saat itu, Syam adalah sebuah provinsi besar. Wilayah itu menjadi pusat perdagangan penting dan medan yang luas untuk mendapat kesenangan duniawi. Sejak beberapa abad sebelum kedatangan Islam, Syam telah menikmati hasil peradaban yang tinggi.
 

Karena itu, dalam pandangan Umar, tidak ada yang tepat menjadi amir di sana selain seorang yang zuhud. Orang yang berhak memimpin Syam mestilah seorang pemimpin yang zuhud, bijaksana, dan saleh. Setelah menimbang-nimbang, Umar pun berseru, "Aku sudah tahu! Bawalah Said bin Amir ke hadapanku!"

Pilihan Umar membawa Said bin Amir menduduki jabatan penguasa Homs. Walau sempat menolak, ia tak bisa melawan kehendak Umar. "Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu menolak. Apakah kalian suruh aku untuk memikul amanah dan khilafah ini kemudian kalian tinggalkan aku begitu saja seorang diri?" kata Amirul Mukminin dengan suara keras.

Di kota itu, Said bin Amir menjadi penguasa yang disegani dan dicintai rakyatnya. Sampai-sampai Umar bertanya, "Mengapa penduduk Syam mencintaimu?" Said hanya bisa menjawab, "Mungkin hal itu karena aku suka membantu dan menolong mereka."

Gaji dan tunjangan Said yang besar tak pernah mempermewah hidupnya. Suami istri itu menggunakan seperlunya, sedangkan sisanya mereka sedekahkan kepada rakyat yang miskin. Ia memberi keteladanan bagi penduduk Syam yang terbiasa hidup bergelimang harta.
 

Suatu saat, Khalifah Umar mengadakan kunjungan dinas ke Homs. Ia hendak mengetahui bagaimanakah Said, sahabatnya tersebut, menjalankan roda pemerintahan. Sang khalifah mendapat jawaban yang mengejutkan dari warga Homs. Mereka mengatakan bahwa kepemimpinan Said bin Amir al-Jumahi baik, kecuali empat hal.

Mendengar jawaban itu, Umar penasaran. Keempat hal yang dimaksud itu adalah pertama, Said datang untuk bekerja tidak dari pagi hari. Kedua, ketika malam Said tidak pernah mau menerima tamu. Ketiga, satu hari dalam sebulan tidak menemui masyarakat. Terakhir, kadang-kadang Said tiba-tiba dapat jatuh pingsan. Rasa penasaran Umar kian memuncak

Ia pun lantas menanyakan kebenaran informasi itu langsung kepada Said. Said menjawab bahwa mengapa ia tidak dapat melayani warga pada pagi hari lantaran tidak memiliki pembantu dan harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu.

Untuk jawaban kedua, ia mengatakan, hal ini dilakukan semata untuk membagi waktu. Pagi hingga sore untuk aduan masyarakat, sedangkan malam hari adalah waktu beribadah bagi Said. Ketiga, mengapa ia tidak menemui warga sebulan sekali ini sebab ia mesti mencuci baju yang lekat di badan sebulan sekali.

Dan untuk jawaban terakhir, ternyata pingsan yang dialaminya tersebut akibat kerap teringat atas kematian Khubaib bin Adi yang dibunuh kafir Quraisy. Said merasa berdosa tak bisa berbuat apa pun ketika sahabatnya terbunuh ketika itu.

Penjelasan yang disampaikan oleh Said itu akhirnya membuat lega hati Umar. "Alhamdulillah, penilaianku terhadap Said telah terjawab dengan jawabannya. Ia adalah salah satu Muslim terbaik dan setiap pertanyaan atas diri Said bin Amir al-Jumahi telah terjawab," ujar Umar.

Zuhud adalah kunci untuk meraih cinta Allah dan sesama manusia. Imam Nawawi dalam al-Arba'in an-Nawawi mencatat sebuah hadis perihal zuhud yang diriwayatkan Ibnu Abbas. Dari Ibnu Abbas, Sahl ibn Sa'd as-Saidi mengisahkan, seseorang pernah datang kepada Rasulullah kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang jika kulakukan, aku dicintai Allah dan dicintai sesama manusia."
 

Rasulullah menjawab, "Berzuhudlah dengan dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan berzuhudlah dengan apa yang dimiliki orang lain, niscaya engkau dicintai mereka."

Zuhud tak berarti hidup miskin dan hina. Sederhana saja, Imam Ahmad mendefinisikan zuhud dengan tidak serakah dan tidak menginginkan harta yang dimiliki orang lain. Ketika dunia ada dalam genggaman, ia tidak terlenakan oleh kenikmatan itu. Seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf, keduanya mampu memanfaatkan kelebihan rezeki dari Allah untuk mendukung perjuangan Islam.

Orang yang miskin belum tentu zuhud, sedangkan orang yang kaya belum tentu tak zuhud. Sebab, zuhud hakikatnya tampak dalam sikap seseorang terhadap harta yang diberikan Allah. "Orang zuhud adalah jika mendapat nikmat, ia bersyukur dan jika ditimpa musibah, ia bersabar," kata Sufyan bin Uyainah.

Karena itu, orang zuhud senantiasa mendapati hidupnya dalam ketenangan. Dunia adalah fana, sedangkan akhirat abadi. Seorang hamba yang zuhud menyadari bahwa rezeki setiap hamba telah ditetapkan di sisi-Nya. Rezeki tidak akan bertambah atau berkurang, sekalipun kita mengejarnya dengan cara-cara yang tidak halal.

Menjadi begitu indah perumpamaan yang dibuat Allah dalam surah al-Hadid ayat ke-20, "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur."(Sumber : Dialog Jumat Republika/jko)

 

 

 

 

Page 1 of 68      1 2 3 >  Last ›