Selingan

22 February 2019
Meniti Jalan Hidayah

Manusia sering kali menemukan titik balik. Dari yang sebelumnya jahat berubah menjadi baik. Atau, memiliki keinginan untuk menjadi baik. Tidak ingin lagi melakukan hal buruk yang merugikan orang lain atau dirinya sendiri. Ada cahaya hidayah Allah yang tiba-tiba menyinari pikiran dan hati sehingga ia menyadari apa yang telah diperbuat selama ini

Ia ingin kembali dari alam keburukan kepada alam kebaikan, dari alam keterpurukan kepada alam kebangkitan, dari alam pesimistis kepada alam optimistis, dari lemah semangat kepada kuat semangat. Inilah tobat, kembali kepada Allah, meniti jalan hidayah.

Alkisah, ada seorang lelaki dari kalangan umat terdahulu telah membunuh 99 orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim di muka bumi. Lalu, ia ditunjukkan kepada orang yang dimaksud. Ia pun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh 100 orang, apakah jika ia bertobat masih dapat diterima? Orang alim itu menjawab, "Tidak bisa, membunuh itu dosa besar."
 

Kemudian, orang alim itu dia bunuh dan dengan demikian sempurnalah jumlah orang yang dia bunuh menjadi 100 orang. Setelah itu, ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di muka bumi. Kemudian, ditunjukkanlah ia kepada seorang yang dimaksud. Kepada orang alim kedua, ia mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 orang, apakah jika bertobat masih diterima? Orang alim kedua itu menjawab, "Ya, masih dapat. Siapa yang dapat mencegahnya bertobat?

Pergilah engkau ke daerah sebuah daerah yang di situ ada banyak orang yang bersama-sama menyembah Allah. Setelah engkau sampai di situ, ikutlah menyembah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke daerah asalmu, sebab daerahmu adalah tempat (lingkungan) yang buruk."

Orang itu pun pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh orang alim itu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ajal menjemputnya. Kemudian, dua malaikat berdebat, yakni malaikat rahmat dan malaikat azab, merasa paling berhak dengan orang jahat itu. Malaikat rahmat berkata, "Orang ini telah datang untuk bertobat, kembali kepada Allah dengan hati yang tulus." Sementara malaikat azab berkata, "Orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan."

Selanjutnya, datang satu lagi malaikat yang melerai mereka. Ia menyarankan, "Ukurlah oleh kalian berdua jarak tempat asalnya dengan tempat yang ia tuju. Lalu lihat, mana tempat yang lebih dekat. Jika lebih dekat adalah tempat yang sedang ia tuju, ia adalah milik malaikat rahmat. Jika yang lebih dekat adalah tempat asalnya, ia adalah milik malaikat azab." Kedua malaikat itu pun mengukur dan ternyata tempat orang tersebut lebih dekat dengan tempat yang dia tuju untuk bertobat. Oleh sebab itu, ia pun dibawa malaikat rahmat. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Orang itu benar-benar ingin kembali kepada Allah. Komitmennya untuk bertobat sudah sangat kuat dan bulat, ingin berubah menjadi orang baik dan menemukan tempat yang baik dan meninggalkan perbuatan jahatnya sebagai pembunuh. Ia ingin melepaskan itu dan menjadi pribadi baru. Allah sangat mencintai orang yang ingin kembali kepada-Nya, berhijrah karena-Nya. Seperti dikatakan Nabi, "Siapa saja yang niat hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya" (HR al-Bukhari dan Muslim).

Allah selalu membuka pintu-Nya untuk siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan tulus. Manusia tidak pernah lepas dari keliru dan salah. Namun, itu tidak menutup pintu untuk kembali kepada Allah, Tuhannya. Kembali kepada Allah, meniti di jalan hidayah, berarti kembali kepada kebaikan sejati dan meninggalkan keburukan sepenuh hati dan sungguhsungguh. Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan,

"Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan kepada pemuliaan- Nya dalam keadaan ridha dengan apa yang Allah sediakan untukmu, dan Allah pun ridha terhadap dirimu." Wallahu a'lam.(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fajar Kurnianto/jko)

 

21 February 2019
Kajian Kitab Klasik Diminati Jamaah
Kesadaran beragama di kalangan kaum Muslimin Indonesia makin meningkat. Kesadaran tersebut, kata dosen UIN Jakarta, Dr Syamsul Yakin MA, terjadi di semua kalangan.

“Yang menarik, kecenderungan kelas menengah atas makin suka tasawuf. Kajian kitab-kitab klasik atau tsurats -- yang juga banyak mengupas soal tasawuf --, diminati jamaah,” kata Syamsul Yakin dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (20/2).

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Akhyar, Kampung Parungbingung, Depok, Jawa Barat itu mencontohkan, setiap Rabu pagia ia mengisi  pengajian di Masjid Raya Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Ta’lim tersebut mengkaji kitab Nashaihul ‘Ibad karya Ibnu Hajar al-Asqalaniy. “Kajian tersebut diikuti oleh sekitar 100 jamaah, diawali dengan shalat  Shubuh berjamaah,’ tuturnya. 

Syamsul Yakin menyebutkan,  kajian Rabu (20/2), memutus  tema tentang memutus kesukaan nafsu. Dalam Alquran, Allah memperkenalkan tiga macam nafsu. Pertama, nafsu muthmainnah, yakni nafsu yang tenang karena diselimuti iman, dibalut amal shaleh, dan senantiasa taat kepada Allah SWT.
 

Tentang hal ini, Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha  lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr/89: 27-28).

Kedua, nafsu lawwamah, yakni yang kerap mencela siap saja yang berbuat salah, sengaja atau tidak. Allah SWT bahkan bersumpah demi nafsu lawwamah, “Aku bersumpah dengan menyebut nafsu lawwamah.” (QS. al-Qiyamah/75: 2).

"Dalam konteks kekinian, menebar hoaks, memaki, dan mencela adalah contoh bersarangnya nafsu lawwamah di dada seseorang, yang seharusnya dihindari" ujar Syamsul Yakin.

Ketiga, nafsu ammarah bi al-su’i, yakni nafsu yang kerap memprovokasi tuannya untuk berbuat dosa, baik dengan lisan, tangan, hati, pikiran di darat maupun di lautan, bahkan di angkasa. Allah memberi petunjuk, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf/12: 53).

Menurut Abu Bakar al-Syibli, seperti dikutip Ibnu Hajar al-Asqalaniy dalam kitab Nashaihul  ‘Ibad,  “Apabila kamu ingin merasa tenang bersama Allah, maka putuskanlah kesukaan nafsumu”. 

Diceritakan kembali oleh Syaikh Nawawi Banten, setelah al-Syibli wafat, seseorang bermimpi bahwa Allah bertanya kepada al-Syibli. Orang itu bercerita, “Allah bertanya kepada al-Syibli, ‘Hai, Abu Bakar, tahukah kamu mengapa Aku memberimu ampun?’

 Aku jawab, ‘Karena amal baikku’. Allah berfirman, ‘Bukan’. Aku jawab, ‘Karena aku ikhlas beribadah’. Allah  berfirman, ‘Bukan”. Aku jawab, ‘Karena hajiku, puasaku, dan hajiku’. Allah berfirman, ‘Bukan’. Aku menjawab, ‘Karena kepergianku menemui orang-orang shaleh dan menuntut ilmu’. Allah berfirman, ‘Bukan’.

 Aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku jadi sebab apa?’ Allah berfirman, ‘Ingatkah kamu saat kamu berjalan di depan pintu gerbang Kota Baghdad, kamu menemukan seekor kucing kecil. Udara dingin telah membuatnya lemah, hingga ia teronggok disebabkan begitu dinginnya. 

 Lalu kamu menyelamatkannya dengan perasaan sayang dan meletakkanya di atas tungku hangat untuk menjaganya dari kematiannya’. Aku menjawab, ‘Ya aku ingat’. Lalu Allah berfirman, ‘Karena kasih sayangmu kepada kucing itulah Aku menyayangimu’. Bentuk sayang Allah dalam hal ini kepada al-Syibli adalah memberi ampunan untuknya.(Red: Irwan Kelana-republika.co.id/jko)

 

19 February 2019
4 Pertanda Ini Isyaratkan Anda Untuk Pindah Kerja
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang menemukan diri mereka mencoba sangat keras untuk mempertahankan pekerjaan mereka dan berharap menemukan saat-saat yang lebih baik di dunia kerja. Namun, bisa jadi sekaranglah waktunya yang tepat untuk mencari pekerjaan baru, dan mengejar masa depan Anda sendiri. Itu berarti, Anda harus memikirkan opsi untuk berhenti, dan mencoba peruntungan di tempat lain atau memulai bisnis sendiri.

Dilansir dari USA Today, berikut adalah empat tanda bahwa mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk berhenti dari pekerjaan Anda sekarang.

1. Anda benar-benar benci pergi ke kantor
Kita semua memiliki hari-hari dimana kita tidak ingin pergi bekerja. Kita bahkan mungkin tidak menyukai apa yang kita lakukan untuk bekerja. Tapi apakah Anda benar-benar benci gagasan untuk berangkat kerja? Apakah Anda menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengkhawatirkan apa yang akan terjadi ketika Anda pergi bekerja, bahwa Anda tidak menikmati waktu Anda di tempat kerja? Jika hal ini terjadi, mungkin sudah saatnya untuk mencari pekerjaan baru, atau bahkan memulai bisnis sendiri.
 

2. Anda begitu memperhatikan nilai-nilai bos atau rekan kerja Anda
Banyak dari kita memiliki nilai-nilai dan cita-cita kita sendiri. Namun, jika Anda menemukan diri Anda mempertanyakan nilai-nilai dan cita-cita orang di sekitar Anda di tempat kerja, bisa menjadi indikasi bahwa Anda seharusnya tidak berada pada tempat Anda sekarang. Atasan Anda mungkin tidak akan melakukan sesuatu yang salah, tetapi prioritas dan tindakan organisasi tidak mungkin menyesuaikan diri dengan apa yang paling penting bagi Anda. Jika Anda merasa bahwa Anda tidak cocok dengan nilai budaya organisasi Anda, mungkin sudah saatnya untuk keluar.

3. Anda ingin memiliki tugas lebih menantang
Bagi sebagian orang, pekerjaan yang mudah lebih disukai. Namun, Anda mungkin ingin untuk tugas yang lebih menantang. Apakah Anda merasa bahwa pekerjaan Anda menawarkan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang? Jika Anda ingin maju sebagai pribadi, pekerjaan tidak menyediakan Anda dengan tantangan yang cukup dapat menjadi satu hal yang menyedihkan.

4. Anda merasa seperti orang luar
Apakah semua orang di kantor tampaknya memiliki lelucon atau obrolan yang tak nyambung lagi dengan Anda? Jika Anda merasa ditinggalkan dari budaya di tempat kerja, mungkin menjadi indikasi kuat bahwa Anda sudah saatnya ada di tempat lain. Setiap orang ingin berada dalam lingkungan kerja yang dimana ia merasa menjadi bagian di dalamnya. Aspek budaya dari pekerjaan Anda adalah sama pentingnya dengan aspek teknis. Bila memungkinkan, cobalah untuk mencari pekerjaan yang memungkinkan Anda merasa seolah-olah Anda melakukan sesuatu yang berharga, dan yang menyediakan lingkungan yang Anda merasa nyaman dengannya.(Sarah Ervina Dara Siyahailatua-Tempo.co/jko)

 

 
18 February 2019
5 Cara Ini Bantu Kamu Semangat di Hari Senin
Hari senin adalah hari yang sangat berat bagi smeua orang. Setelah bersantai melepas penat di hari weekend, kita dihadapkan lagi dengan kesibukan pekerjaan. Maka dari itu seringkali hari senin menjadi hari yang berat karena menjadi hari yang awal dari kesibukan seminggu kedepan.

Untuk itu kami merangkum bagaimana cara untuk mengurangi kepenatan di hari Senin, dilansir dari berbagai sumber:

1. Membantu sesama

Dengan membantu orang lain yang sangat membutuhkan bantuan dan mengedepankan kebutuhan orang lain, hal ini dapat membantumu untuk melupakan masalah yang kamu sedang hadapi. Beberapa penelitian telah menyebutkan bahawa menolong orang dapat memberimu kebahagiaan yang akan bertahan lama.

Penelitian juga menyebutkan bahwa orang-orang yang menjadi relawan dalam suatu komunitas akan memiliki kehidupan yang lebih lama daripada yang tidak. Maka dari itu, cobalah mulai dari sekarang untuk membantu sesama. Bukan hanya melakukan kebaikan, kamu juga akan menstimulasi otakmu untuk mengeluarkan hormon kebahagiaan. Selamat membantu orang yang membutuhkan!

2. Gerakkan badanmu, berolahragalah!

Hal yang terbaik adalah melakukan kegiatan fisik yang kamu suka. Menurut National Institute of Health, berolahraga dapat menurunkan tingkat depresi. Saat kamu merenggangkan tubuh hal tersebut dapat menstimulasi pelepasan hormon kebahagiaan, endorfin, dan mengeluarkan hormon serotonin ketika kamu membutuhkannya. Maka dari itu, buatlah resolusi sebaik mungkin untuk bisa meluangkan waktu untuk berolahraga di sela-sela aktifitasmu.

3. Cari udara sejenak di luar

Alam memiliki efek terapi yang sangat kuat bagi perasaan yang sedang penat, bimbang maupun putus asa. Menurut New York Department of Environmental Conservation, hanya dengan 5 menit dikelilingi oleh pepohonan dan alam yang hijau dan asri, mood kamu akan meningkat.

Jika kamu melakukannya bersama dengan berolahraga, hal ini dapat melancarkan aliran darhmu dan menghindari hormon-hormon penyebab stress yaitu kortisol dan adrenalin menyerang tubuhmu. Jadi, jangan takut untuk sekadar pergi mencari angin keluar, berjalan di sekitar taman kota untuk mengurangi resikomu dari depresi, keletihan, kegelisahan, kebingungan, dan marah.

4. Selalu beryukur

Mengucapkan rasa syukur dan terima kasih, adalah salah satu cara untuk meningkatkan suasana hatimu. Kamu akan merasakan kebahagiaan dan energi positif datang sendirinya, ketika kamu selalu merasa bersyukur dengan apa yang kamu punya. Tidak ada lagi energi negatif yang datang menghampirimu. Buatlah catatan segala hal yang kamu syukuri dalam hidupmu setiap harinya, agar kamu merasa hidupmu selalu bahagia.

5. Peluklah orang tersayang atau bahkan hewan peliharaanmu

Kesendirian menjadikan kita menjadi tidak bersemangat dan merasakan kesepian menjalani hari. Dengan menyadari bahwa kita dikelilingi orang-orang yang kita sayangi, kita akan merasa bahagia dan dapat menjalani hari dengan bahagia. Dengan memeluk orang yang kita sayangi, telah terbukti bahwa hal ini dapat meningkatkan produksi hormon endorfin dan dopamin dan menurunkan kadar hormon stress kita.(Reporter : Fira Shabrina Malia-Universitas Indonesia-liputan6.com/jko)

 

14 February 2019
Makna Air Mata

Dalam mengarungi romantika kehidupan, terkadang seseorang menitikkan air mata tatkala memperoleh kebahagiaan, maupun ketika menghadapi persoalan hidup yang pelik. Tentu, tidak ada salahnya bila seseorang menitikkan air mata terhadap kebahagiaan dan musibah yang menimpanya. Sebab, Nabi Muhammad SAW pun pernah menitikkan air mata ketika melepas kepergian putra tercintanya, Ibrahim, untuk selama-lamanya.

Sebagaimana yang diceritakan Anas, kami bersama-sama dengan Rasulullah datang berkunjung ke kediaman Abu Yusuf al-Qain. Istri Abu Yusuf adalah ibu susuan Ibrahim, putra Rasulullah. Kemudian, Rasulullah menggendong Ibrahim lalu menciumnya. Pada kesempatan yang lain, kami kembali berkunjung ke kediaman Abu Yusuf. Tapi, ketika itu Ibrahim kecil sedang menghadapi sakaratul maut. Air mata Rasulullah menetes dari pelupuk matanya. Menyaksikan peristiwa tersebut, Abdurrahman bin Auf bertanya kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis?"
 

Rasulullah menjawab, "Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya itu merupakan ungkapan rasa kasih sayang." Kemudian, Rasulullah mengulang kembali perkataannya, "Sesungguhnya mata memang meneteskan air mata dan hati merasa sedih. Namun, kami tidak mengucapkan sesuatu kecuali kalimat yang diridhai oleh Allah SWT. Dan sesungguhnya kami semua merasa sedih untuk berpisah denganmu wahai Ibrahim."

Kisah ini hendak mengingatkan dalam batas yang wajar air mata kesedihan boleh ditumpahkan, tetapi harus diiringi dengan melafazkan kalimat-kalimat yang diridhai Allah. Selain itu, tangisan air mata juga harus diiringi dengan tindakan dan perbuatan yang diridhai Allah SWT.

Ibnu Abbas RA meriwayatkan, "Ada dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka. Yaitu mata yang menangis di pertengahan malam karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga di jalan Allah." (HR Tirmidzi). Hadis ini menjelaskan bahwa air mata yang mengalir karena takut kepada Allah SWT dan karena berusaha konsisten di jalan Allah termasuk air mata yang tidak tersentuh api neraka.

Selain itu, air mata mengalir juga disebabkan seseorang yang mendengar, membaca, dan mengkaji Alquran. Sebagaimana Allah SWT berfirman, "Dan apabila mereka mendengarkan apa (Alquran) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, "Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad)." (QS al-Maidah [5] : 83).

Menurut hasil penelitian dan beberapa ilmuwan, air mata yang tertumpah itu mengandung beberapa manfaat, di antaranya; dapat membantu daya penglihatan menjadi lebih baik, meminimalisasi gangguan bakteri dan racun pada tubuh, menjaga kesehatan hidung dalam membantu pernapasan, meningkatkan motivasi hidup (mood) untuk lebih bahagia dan berprestasi, termasuk membantu meredakan gangguan ketegangan, frustasi, putus asa, dan stres.(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muslimin/jko)

 

13 February 2019
3 Cara Cerdas Atur Duit untuk Generasi Milenial
Gaya hidup generasi milenial yang selalu ingin mengikuti tren terkini dalam segala hal, membuat mereka sering menghamburkan begitu banyak uangnya sia-sia. Selain itu, mereka juga tidak dapat mengatur dengan baik keuangan.

Awal bulan atau saat gajian, generasi milenial jadikan waktu yang sangat tepat untuk menghamburkan uang mereka. Terkadang tidak jarang, banyak dari generasi milenial yang sudah kehabisan uang di pertengahan bulan. J

angankan untuk menabung, terkadang generasi milenial sudah bingung bagaimana memenuhi kebutuhan hidup mereka saat uang yang dimiliki sudah habis dipertengahan bulan.

1. Tinggalkanlah Kebiasaan Buruk yang Membuat Boros

Jika Anda memiliki kebiasaan seperti hangout bersama teman di cafe, makan malam di restoran ternama, dan selalu membeli kopi di coffee shop, maka mulailah untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan tersebut.

Jangan gunakan dalil "untuk mempererat tali persahabatan" agar Anda dapat melakukan ini secara terus menerus. Semakin sering Anda melakukan kebiasaan ini, maka semakin kencang juga jeritan dompet Anda.

Mulailah untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan yang membuat Anda lebih menghemat pengeluaran. Misalnya, berkumpul bersama teman di rumah, makan malam di rumah bersama keluarga, dan masih begitu banyak kebiasaan hemat yang dapat Anda mulai lakukan.

2. Gunakanlah Uang dengan Bijak

Mulailah menggunakan uang Anda secara bijak. Jika Anda menginginkan sesuatu yang besar dan mahal, jangan tergesa-gesa untuk membelinya. Pikirkanlah kembali apakah benda tersebut memang harus Anda beli dalam waktu dekat ini atau tidak.

Dibanding harus menghabiskan uang untuk membeli hal-hal yang tidak terlalu penting, mulailah memikirkan untuk memiliki asuransi seperti asuransi kesehatan. Meskipun tiap bulannya gaji Anda akan terpotong untuk membayar tagihan asuransi, namun hal ini akan terbayar jika suatu saat Anda terserang sakit.

3. Bersabarlah untuk Mencapai Goals Anda

Jika Anda memiliki suatu target kedepanya misal ingin membeli mobil baru ataupun menikah, maka bersabarlah. Hal ini tentunya membutuhkan uang yang begitu banyak, namun jangan memaksakan diri Anda untuk bekerja terlalu keras agar bisa mengumpulkan uang lebih cepat.

Daripada memporsir diri untuk bekerja lebih keras, ada baiknya Anda menekan bujet pengeluaran yang dimiliki. Meminimkan, dan menghemat pengeluaran Anda untuk mencapai target tersebut akan lebih baik untuk dilakukan. Anda tidak akan sakit karena terlalu keras bekerja, namun dengan hal ini akan membantu Anda untuk belajar hemat dan menabung kedepannya.(Ayu Lestari Wahyu Puranidhi-liputan6.com/jko)

 



 

11 February 2019
2 Modal Membangun Karier dan Masa Depan yang Cerah
Terkadang mencapai keberhasilan menjadi hal yang wajar dan biasa, namun untuk mempertahankannya menjadi hal yang luar biasa. Dan banyak orang yang tidak tahu bagaimana cara mewujudkannya.

Jika Anda salah satu yang sulit dalam mempertahankan kesuksesan yang dimiliki saat ini, jangan risau. Berikut adalah dua hal yang harus Anda lakukan untuk membangun karier dan bahkan untuk mempertahankankan kesuksesan yang sudah dimiliki saat ini seperti dikutip dari USA Today:

 

1. Apakah Perusahaan Anda Selalu Berkembang?

Jika saat ini Anda sudah memiliki pekerjaan, maka hal yang harus Anda lakukan yaitu cermati apakah perusahaan yang Anda jalani ini selalu berkembang dan mengikuti perubahan zaman? Jika iya, maka Anda beruntung. Jika tidak, maka ada baiknya Anda memperhitungkan perusahaan lain yang terus berkembang .

Namun, jika Anda belum memiliki pekerjaan maka yang harus dilakukan yakni mencari pekerjaan atau perusahaan yang akan selalu berkembang tidak stagnan pada suatu titik.

2. Jadilah Individu yang Dibutuhkan

Untuk mendapatkan dan mempertahankan kesuksesan yang Anda miliki yaitu dengan cara menjadi individu yang selalu dibutuhkan karena Anda mampu mengerjakan dan mengetahui banyak hal.

Lulus dari bangku perkuliahan, bukan berarti menjadi akhir dari Anda untuk mempelajari hal-hal baru. Mulailah mempelajari hal-hal baru yang belum Anda pahami, karena jika suatu saat hal itu dibutuhkan Anda sudah siap dan dapat mengerjakan itu. Hal ini juga akan membuat Anda menjadi salah satu karyawan yang diperhitungkan dan akan selalu dipertahankan oleh perusahaan.(Ayu Lestari Wahyu Puranidhi-liputan6.com/jko)

 

Doa
07 February 2019
Doa
Sebagai makhluk yang lemah, manusia memerlukan perlindungan dan landasan yang dapat menenteramkan jiwanya dan menjadi tempat segala pengharapannya. Landasan yang dimaksud itu adalah doa, dan tempat perlindungan yang dapat menenteramkan jiwa serta menjadi tempat tumpuan segala pengharapan adalah Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam (QS al-Ikhlas [112]: 2).

Kebanyakan orang baru berdoa kepada Allah jika mendapat kesulitan, kesusahan, atau ditimpa suatu problem berat yang tidak dapat diatasi. Namun, jika berada dalam keadaan senang, sehat, dan penuh kenikmatan, kebanyakan orang melupakan Tuhannya. Bahkan, ada yang menyangka bahwa kesenangan, kesehatan, dan kenikmatan yang ia peroleh itu adalah semata-mata atas usahanya sendiri, bukan atas anugerah pemberian Tuhan.

Sikap orang yang demikian itu tidaklah benar. Sebab, ia tidak dapat meletakkan doa pada fungsi yang proporsional, tetapi doa hanya sebagai tempat pelarian untuk memperoleh jalan keluar dari suatu kesulitan yang dihadapi. Doa hanya dipandang sebagai kebutuhan temporer dan sekunder. Jika ia mendapatkan musibah berupa kesulitan dan bencana yang tak bisa diatasi, barulah ia merasa perlu untuk berdoa.

Sikap dan sifat yang seperti itu rupanya telah menjadi tabiat manusia dan dilukiskan dalam Alquran. Firman Allah SWT: "Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia kembali (ke jalan yang sesat), seolah-olah ia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan." (QS Yunus [10]:12).

Orang mukmin seharusnya meletakkan doa sebagai satu ibadah yang harus dikerjakan dengan kontinu tanpa memandang waktu dan keadaan. Dengan perkataan lain, dia harus berdoa, baik pada waktu senang maupun dalam waktu susah, pada waktu luang ataupun sibuk.

Bahkan, doa yang selalu dilakukan pada waktu senang memiliki pengaruh positif dengan doa yang dipanjatkan pada waktu susah. Dalam salah satu hadis disebutkan: "Barang siapa yang ingin doanya dikabulkan Tuhan di waktu mendapat kesusahan, hendaklah ia senantiasa berdoa di waktu senang."

Oleh karena itu, berdoa adalah fitrah atau hajat rohaniah yang diperlukan manusia. Berdoa adalah suatu ibadah. Maka, haruslah dipanjatkan atau dihadapkan hanya kepada Allah SWT semata. Sebab, Allah-lah yang dapat memberikan manfaat dan faedah kepadanya.

Doa yang dipanjatkan dengan cara jujur dan tulus dapat memberikan semangat kepada seseorang untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidupnya. Tak hanya itu, doa juga dapat menerangi seseorang untuk mengatasi berbagai problem hidup yang merintanginya. Oleh karena itu, tepatlah jika Imam al-Ghazali mengumpamakan doa sebagai perisai yang dapat menangkis senjata yang tajam sekalipun. Wallahu a'lam.(REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Ahmad Agus Fitriwan/jko)

 
31 January 2019
Kedermawanan Rasulullah SAW
Sayyidina Umar bin Khattab bercerita, suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi, Rasulullah juga memberinya.

Hari berikutnya, lelaki itu datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah pun memberinya. Pada keesokan harinya, lelaki itu datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah lalu bersabda, "Aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku. Kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya."
 

Sahabat Umar lalu berkata, "Wahai Rasulullah janganlah memberi di luar batas kemampuanmu." Namun, Rasulullah tidak menyukai perkataan Umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, "Ya Rasulullah, jangan takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan." Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah tersenyum, lalu beliau berkata kepada Umar, "Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah kepadaku." (HR Turmudzi).

Jubair bin Muth'im bertutur, ketika ia bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba orang-orang mencegat dan meminta dengan setengah memaksa sampai-sampai beliau disudutkan ke sebuah pohon berduri. Kemudian, salah seorang dari mereka mengambil mantelnya. Rasulullah berhenti sejenak dan berseru, "Berikan mantelku itu! Itu untuk menutup auratku. Seandainya aku mempunyai mantel banyak (lebih dari satu), tentu akan kubagikan pada kalian." (HR Bukhari).

Ummu Salamah, istri Rasulullah SAW bercerita, suatu hari Rasulullah masuk ke rumahku dengan muka pucat. Aku khawatir beliau sedang sakit. "Ya Rasulullah, mengapa wajahmu pucat begini?" tanyaku. Rasulullah menjawab, "Aku pucat begini bukan karena sakit, melainkan karena aku ingat uang tujuh dinar yang kita dapat kemarin sampai sore ini masih berada di bawah kasur, dan kita belum menginfakkannya." (HR Al-Haitsami dan hadistya sahih).

Siti Aisyah RA berkata, suatu hari, ketika sakit, Rasulullah SAW menyuruhku bersedekah dengan uang tujuh dinar yang disimpannya di rumah. Setelah menyuruhku bersedekah, beliau lalu pingsan. Ketika sudah siuman, Rasulullah bertanya kembali, "Uang itu sudah kau sedekahkan?". "Belum, karena aku kemarin sangat sibuk," jawabku.

Rasulullah SAW bersabda, "Mengapa bisa begitu, ambil uang itu!"

Begitu uang itu sudah di hadapannya, Rasulullah lalu bersabda, "Bagaimana menurutmu seandainya aku tiba-tiba meninggal, sementara aku mempunyai uang yang belum kusedekahkan? Uang ini tidak akan menyelamatkan Muhammad seandainya ia meninggal sekarang, sementara ia mempunyai uang yang belum disedekahkan." (HR Ahmad).

Beberapa kisah di atas hanyalah sekilas jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW. Kisah-kisah lainnya bagaikan gunung pasir tertinggi yang takkan pernah sanggup diimbangi oleh siapa pun, termasuk para sahabat terdekatnya pada masa beliau masih hidup. Sahabat-sahabat Rasulullah hanya bisa meniru kedermawanan yang diajarkan Baginda Rasul itu, yang kemudian menambah panjang jejak sejarah kedermawanan yang dicontohkan Nabi dan para sahabatnya.

Indah nian jejak-jejak kedermawanan Nabi Muhammad SAW, lebih indah lagi apa-apa yang dijanjikan Allah atas apa yang diberikan di jalan-Nya. Karena itu, seluruh sahabat pada masa itu berlomba-lomba mengikuti jejak Nabi dalam segala hal, termasuk kedermawanan. Semoga, jejak kedermawanan itu terus terukir pada umat Muhammad hingga kini, selama kita masih terus meleburkan diri pada rantai jejak indah itu, dan mengajarkannya kepada anak-anak dan penerus kehidupan ini.(Sumber : Hikmah Republika/jko)

 

30 January 2019
Tips Cepat Kaya Buat Generasi Milenial
Gaya hidup milenial yang terlalu banyak menghamburkan uang membuat mayoritasnya tidak dapat menabung. Berdasarkan penilitian yang dilakukan oleh GoBankingRates pada 2017 menemukan bahwa mayoritas generasi milenial memiliki tabungan kurang dari USD 1.000 atau setara Rp 14.09 juta dan saat ini semakin banyak yang tidak memiliki tabungan sama sekali.

Meskipun generasi milenial merupakan generasi muda namun penting bagi mereka untuk memulai menabung untuk menjaga kestabilan keuangan di masa depan. Milenial membutuhkan langkah yang nyata untuk menghemat lebih banyak uang untuk membangun masa depan. Untuk itu berikut adalah trik menabung untuk generasi milenial, mau tahu apa saja?

 

1. Memangkas Pengeluaran

Jangan lupa untuk mengatur jumlah pengeluaran selama sebulan ini. Anda dapat memisah-misahkan anggaran yang akan dikeluarkan, 50 persen dari penghasilan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok Anda. Setelah itu, 30 persen dapat Anda gunakan untuk memenuhi keinginan-keinginan, seperti berlibur, makan malam, atau bahkan untuk mendapatkan hiburan. Lalu sisanya dapat dipergunakan untuk menabung.

Sangat penting untuk mengaudit keuangan Anda sendiri, hal ini untuk melihat pengeluaran mana yang harus dipotong bahkan ditiadakan. Memangkas anggaran dibutuhkan ketegasan dan disiplin pada diri Anda karena hal ini mungkin akan terasa sulit.

Mulailah untuk menjalani gaya hidup sederhana, meskipun terasa sedikit pilu namun hal ini akan membuat akan bahagia di masa depan karena Anda tidak perlu takut akan terlilit hutang.

2. Hindari menggunakan kartu kredit

Sangat penting untuk menghindari jeratan kartu kredit untuk pengeluara sehari-hari. Anda boleh menggunakan kartu kredit disaat berada dalam keadaan yang genting ataupun darurat.

Semakin sering Anda menggunakan kartu kredit sama saja Anda akan terjebak hutang yang akan melumpuhkan Anda di masa depan. Hiduplah sesuai kemampuan Anda, maka hal ini akan mempermudah dan membuat kehidupan masa depan Anda akan lebih baik lagi.

3. Hidup Hemat

Ketika generasi milenial yang dulunya hidup menjadi 'anak kos' dan baru lulus dari perguruan tinggi, maka mereka akan sering tergoda untuk memulai hidup lebih mewah disaat mereka memiliki pekerjaan.

Namun hal ini yang harus Anda hindari, tetap hiduplah dengan berhemat disaat Anda menjadi anak kos. Ini akan membantu Anda untuk dapat menabung dalam jumlah yang lebih besar.

4. Hindari Membeli Mobil Baru

Saat ini mobil baru seperti kacang, yang selalu ada edisi terbaru di setiap tahunnya. Terkadang generasi milenial senang sekali untuk berlomba-lomba dalam membeli mobil edisi terbaru yang ada.

Jauh lebih bijaksana jika Anda membeli mobil yang berumur dua atau tiga tahun sebelumnya yang masih berada dalam keadaan baik. Hal iini akan membuat Anda menghemat uang dalam skala yang besar.

Yang terpenting untuk generasi milenial adalah untuk hidup sesuai kemampuan dan hindarilah untuk mengambil pinjaman ke orang lain ataupun ke bank. Perhatikan pengeluaran keuangan Anda, ini akan membuat kehidupan di masa depan Anda akan lebih baik dan sejahtera tanpa ada sangkut pautannya dengan hutang.(Ayu Lestari Wahyu Puranidhi-liputan6.com/jko)

 

 

 

 

Page 1 of 70      1 2 3 >  Last ›