Selingan

22 February 2018
Mengenal Kata Sayyid
Sebelum pra-Islam, kata sayyid lazim dipakai untuk sebutan orang-orang yang memiliki sejumlah keutamaan. Ia dipandang mulia, terhormat, luhur, terkenal, atau agung di komunitas tertentu. Entah diperoleh secara garis keturunan ataupun diraih berkat dedikasi dan ketekunannya.

Dalam literatur pra-Islam, mengutip Ensklopedi Oxford Dunia Islam Modern karya John L Esposito, kata ini identik untuk menyertai panggilan seorang pemimpin. “Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar).” (QS al-Ahzab [33]: 67).

Di Makkah, nenek moyang Muhammad SAW, seperti Qushayyi, Abdul Manaf, Hasyim, dan Abdul Muthallib, karena jabatan mereka sebagai penjaga Ka’bah, tempat suci yang paling dihormati di Semenanjung Arab, disebut sebagai sayyid-sayyid zamannya. Kakek Nabi, Abdul Muthallib, secara khusus digambarkan oleh literatur sebagai pemimpin (sayyid) hingga wafatnya.

Ketika Muhammad SAW diutus sebagai nabi dan rasul, dalam dirinya terdapat keluhuran garis keturunan dan kualitas personal sebagai penerima wahyu Ilahi serta kedudukan Nabi Allah dalam menemukan manifestasi tertingginya. Hal ini diakui dengan sewajarnya oleh komunitas dan Rasul pun pada masa hidupnya telah disebut sebagai pemimpin kaumnya (sayyidunnas). Selain itu pula, disebut sebagai sayyid al basyar atau pemimpin umat manusia, sayyid al’arab (pemimpin Arab), sayyid al-mursalin (pemuka para rasul), dan sayyid al-anbiya’ (pemuka para nabi).

Oleh karena itu, wajarlah jika keistimewaan garis-garis keturunan Nabi dan kedudukan agungnya sendiri sebagai sang sayyid seharusnya diperluas hingga anggota-anggota keluarga dan keturunannya. Ada banyak tradisi, baik yang terdapat di kalangan Sunni atau Syiah yang di dalamnya disebutkan bahwa Nabi menganugerahkan keistimewaan dan kemulian besar kepada putrinya, Fatimah, menantunya, Ali bin Abi Thalib, dan kedua cucunya, yaitu Hasan dan Husain.

Maka, kemudian gelar sayyid diperuntukkan keturunan Rasulullah, khususnya yang berasal dari cucu kedua Nabi, yaitu Husain bin Ali. Pada masa awal, gelar syarif juga digunakan untuk kedua cucu itu, tetapi lambat laun syarif menjadi lebih lazim digunakan untuk keturanan hasan, sedangkan sayyid menjadi gelar untuk keturunan Husain.

Dengan meluasnya wilayah Islam dan berubahnya kondisi-kondisi sosial politik semenjak abad ketujuh dan seterusnya, keturunan Nabi pun berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Khususnya, pada masa kekuasaan Dinasti Umayyah (661- 750 M) dan Abbasiyah (749-1258 M). Para keturunan Rasulullah tersebut dianggap ancaman yang sewaktu-waktu bisa mengganggu kekuasaan mereka. Dua destinasi utama hijrah para keturunan Rauslullah pada waktu itu ialah Yaman dan Iran. Belakangan, Sindh yang terletak di anak Benua India, juga tak luput dari tujuan mereka.

Di berbagai wilayah yang menjadi tujuan hijrah tersebut, muncul perlakuan istimewa terhadap para keturunan Nabi. Ini tak terlepas dari sentimen dan psikologi umat Islam. Mereka menganggap sudah menjadi kewajiban untuk menghormati mereka. Secara sosial, status mereka sangat terhormat. Di daerah pedesaan Punjab, Sindh, dan bagian lain anak Benua India, rakyat jelata memilih duduk di lantai daripada duduk sejajar dengan keturunan Rasulullah di satu panggung. Ini merupakan bentuk penghormatan.

Sebuah kehormatan pula bila perempuan nonsayyid dipersunting oleh seorang sayyid.

Pada abad pertengahan, kaum sayyid memosisikan diri sebagai orang yang mulia dan terpandang dari sisi keagamaan dan pendidikan agama. Kenyataannya, sebagian besar guru sufi memiliki garis keturunan kepada Nabi SAW.

Di tangan merekalah penyebaran Islam menyebar ke berbagai wilayah. Ini terbukti dari peninggalan makam mereka di berbagai kawasan yang hingga kini menjadi objek ziarah. Seperti, di Sindh, Punjab, Delhi, Rajasthan, Mesir, Irak, dan kawasan lainnya. Seiring dengan perubahan sosial budaya masyarakat modern, penghormatan ini kian melemah. Meskipun, di tradisi sejumlah komunitas Muslim penghormatan istimewa tersebut masih berlaku. (Rep: Nashih Nasrullah-Republika.co.id/jko)


 
21 February 2018
Mau Buka Usaha tapi Modal Terbatas? Ini Solusinya
Salah satu hal yang perlu dipikirkan saat merintis usaha adalah modalnya. Modal itu enggak melulu berupa uang. Ide, keahlian, jejaring, dan keberanian untuk mengambil risiko juga menjadi modal penting dalam membangun bisnis. Sementara, modal fisik juga tidak harus didapatkan dengan mengeluarkan uang, kok.

Jadi, kalau kamu terkendala modal yang terbatas saat hendak merintis usaha, mungkin yang terbatas adalah dana yang kamu punya.

Kalau begitu, cara yang paling gampang adalah dengan mengajukan pinjaman. Sementara menurut Swara Tunaiku, ada beberapa kiat mengatasi keterbatasan modal yang dapat kamu lakukan agar bisnismu bisa segera diwujudkan. Yuk, cari tahu!

1. Kembangkan pola pikir ala entrepreneur

Sebelum memutuskan untuk meminjam uang sebagai modal usaha, ada hal yang lebih penting untuk dimiliki, yaitu pola pikir seorang wirausahawan. Tanpa ini, kamu mungkin bakal kesulitan untuk mengembalikan modal usaha yang sudah dipinjam.

Jika kamu adalah seorang karyawan atau ibu rumah tangga yang ingin terjun ke dunia bisnis, pola pikir pengusaha adalah modal yang penting. Kamu perlu ini untuk menjaga mental tetap tahan banting dalam menghadapi tantangan di dunia bisnis.

Kayak gimana sih pola pikir seorang entrepreneur itu? Yah, mereka umumnya menghindari pikiran-pikiran negatif yang dapat menghambat bisnis. Misalnya, menganggap diri kurang pandai, gampang menyerah, mudah dipengaruhi orang, dan terlalu mudah puas.

2. Miliki rencana bisnis

Rencana bisnis juga menjadi modal penting yang kamu butuhkan untuk membangun suatu usaha. Hal ini berisi analisis terkait langkah yang akan kamu ambil saat memulai bisnis, seperti analisis pasar, keuangan, sumber daya manusia, rencana pengembangan usaha, serta risiko yang dihadapi.

Rencana bisnis sebaiknya dibuat secara mendetil. Soalnya, ini juga bisa dimanfaatkan sebagai proposal kamu untuk mendapatkan investor maupun mitra bisnis.

3. Temukan rekan bisnis yang sejalan

Seorang rekan bisnis adalah pendukung yang penting dari usaha yang kamu jalankan. Mereka bisa berupa investor maupun mitra dalam menjalankan operasi bisnismu.

Makanya, kamu butuh rekan bisnis yang sejalan dengan visi misi bisnismu. Kalau nggak, bisa-bisa usahamu malah bakal tersendat gara-gara kalian suka berselisih pendapat.

4. Mulailah dari usaha sampingan

Ketika ingin punya bisnis tapi terkendala modal dan waktu, kamu bisa memulainya dari usaha sampingan dengan skala kecil-kecilan sambil tetap menjalankan pekerjaan utamamu.

Memang sih, fokusmu jadi terbagi. Tapi, setidaknya kamu bisa meminimalkan risiko sembari mengumpulkan modal untuk mengembangkan usaha. Ketika usahamu sudah berkembang, bukan mustahil kamu akan memberi fokus penuh pada bisnismu itu.

5. Jangan ragu menjajal hal-hal baru

Ketika modalmu lagi cekak, nggak ada salahnya untuk keluar dari zona nyaman dan menjajal hal-hal baru. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, modal itu bisa berupa keahlian.

Dengan mempelajari hal-hal baru, kamu akan memperoleh wawasan yang lebih luas. Bukan mustahil, kamu akan menemukan peluang bisnis yang lain dari modal kemampuan baru tersebut. Yang penting, berani mencoba!

Nah, lewat lima cara di atas, mudah-mudahan modal usaha yang terbatas tak lagi menjadi halanganmu untuk merintis bisnismu sendiri.(Fitriana Monica Sari-liputan6.com/jko)

 

 

 
20 February 2018
5 Langkah Sukses Balik ke Pekerjaan Lama Saat Nggak Betah di Kantor Baru
Berpindah-pindah kerja bukan hal aneh atau negatif lagi di zaman sekarang. Apalagi untuk para milennial yang dikenal hobi gonta-ganti kantor karena mudah nggak betah. Namun keputusan untuk resign dan pindah kerja kadang tidak selamanya tepat. Tak jarang para profesional justru menyesal dan ingin kembali ke kantor lama setelah melakukannya. Anda juga? Simak lima langkah sukses kembali ke kantor lama berikut:

Tinggalkan Kesan Baik

Kembali ke tempat kerja lama kadang tak semudah meninggalkannya. Anda perlu sedikit 'bermuka tebal' dan menunjukkan kesungguhan. Apalagi jika kembali Anda ke sana bukan karena dipanggil namun keinginan sendiri.

Dilansir Refinery 29, hal pertama yang harus dilakukan adalah meninggalkan kesan baik. Artinya sejak awal hindari resign dari kantor dengan pengalaman dan suasana yang tidak menyenangkan. Ini penting dilakukan untuk menjaga nama baik, jaringan kerja, dan tentunya agar mudah kembali jika suatu-suatu ingin bekerja di sana lagi.
 
Jaga Hubungan Baik

Mereka yang diterima kembali di sebuah perusahaan biasanya juga masih berhubungan baik dengan mantan rekan atau atasan. Jika Anda sudah tidak pernah berhubungan dengan siapapun di kantor tersebut, tentu akan sulit untuk diterima kembali. Karenanya, tetaplah menjaga hubungan dengan teman-teman lama.

Bicarakan dengan Orang Terpercaya

Coba hubungi rekan dekat yang dulu bekerja dengan Anda untuk menanyakan apakah ada lowongan. Setelah itu, jangan langsung meminta untuk balik bekerja di sana. Tanyakan dulu pada dia bagaimana keadaan kantor sekarang dan apakah sekiranya menguntungkan bila Anda pindah lagi ke sana.

"Aku pasti akan menghubungi manajer yang dulu pernah bekerja bersama, mereka seharusnya menjadi koneksi pertama kamu, terutama jika jarak waktu (antara resign dan ingin kembali) masih dekat. Bahkan jika sudah lama, biasanya hubungan itu masih punya arti jadi waktu bukan jadi masalah," ungkap Brendan Browne, the VP of Global Talent Acquisition di LinkedIn.

Pikir dengan Matang

Setelah mendapat informasi dari rekan lama atau manajer, coba pastikan dulu jika Anda benar-benar ingin kembali ke sana. Tanyakan pada diri sendiri apakah Anda yakin akan betah. Karena jika Anda akhirnya tidak suka dan kembali resign, pasti akan dicap buruk oleh rekan, perusahaan, bahkan lingkungan profesional.

Tahu Konsekuensi

Apalagi jika alasan Anda keluar sebelumnya adalah karena penghasilan. Jangan sampai keputusan untuk bekerja kembali di sana malah jadi bumerang.

"Aku kira kebanyakan orang tidak mau kembali dengan gaji yang lebih sedikit. Itu juga tergantung lama kamu pergi dan pengalaman apa saja yang kamu dapatkan. Kalau sebentar, aku perkirakan gaji orang itu tidak akan berkurang, jika kembali ke posisi yang sama. Tapi jika mau sudah pergi tiga atau lima tahun dan bertambah pengalaman, mereka harusnya mengakuinya dan memberi kompensasi," tutur Brendan.(Rahmi Anjani-wolipop-detik.com/jko)
 
14 February 2018
Baru Masuk Dunia Kerja? Ini 6 Cara Jitu Keuangan Tetap Aman
Kemampuan beradaptasi pada setiap perubahan fase hidup merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap orang. Pasalnya, setiap perubahan fase hidup yang terjadi menuntut seseorang untuk bisa menyesuaikan diri. Seperti saat seseorang berubah status dari yang sebelumnya sebagai pelajar mahasiswa menjadi seorang pekerja fresh graduate.

Entah disadari atau tidak, saat kamu mulai menapaki dunia kerja, pola perilaku pun ikut berubah. Yang paling kentara tentu pada kantong yang mulai lebih stabil terisi setiap bulannya.

Kondisi ini seringkali justru hadir sebagai “pedang bermata dua”. Di satu sisi kebutuhan hidup akan lebih tercukupi lewat penghasilan yang ia terima, namun di sisi lain bisa juga menjerumuskan seseorang menjadi lebih boros karena kurang terampil mengatur keuangan dari penghasilannya.
 

Di sini, kemampuan seseorang untuk beradaptasi pada perubahan dibutuhkan agar nantinya perubahan ini tetap membawa manfaat bagi setiap pelakunya alih-alih mendatangkan mudarat.

Fase hidup dan status yang berubah harus turut pula diikuti oleh penyesuaian pola perilaku. Dalam hal ini, kebiasaan mengelola keuanganlah yang perlu disesuaikan.

Agar tetap mendatangkan manfaat alih-alih mudarat, Swara Tunaiku bagi-bagi cara agar keuanganmu tetap aman saat berstatus pekerja fresh graduate. Berikut uraiannya:

1. Siapkan anggaran khusus senang-senang

Ketika berstatus fresh graduate, mulai mendapat penghasilan yang lumayan dan lebih pasti, biasanya seseorang akan cenderung semakin lebih mudah untuk mengeluarkan uang. Apalagi jika dihadapkan pada kebiasaan suka nongkrong dan “lapar mata” saat berbelanja.

Sah-sah saja sebenarnya jika kamu ingin membelanjakan uang hasil kerja untuk hal-hal yang menyenangkan diri. Namun, agar keuangan tetap aman, ada baiknya kebutuhan untuk senang-senang dianggarkan dengan tidak berlebihan.
 

2. Tambah pos pengeluaran dengan bijak

Pemasukan bulanan lebih besar dan lebih pasti, tak ada salahnya untuk menambah pos pengeluaran. Kamu bisa menganggarkan pos belanja produk kesukaan sesuai dengan hobi. Misalnya hobi olahraga, bisa menambahkan pos pengeluaran untuk koleksi sepatu olahraga, atau anggaran travelling bagi yang hobi jalan-jalan.

Sah-sah saja, asalkan tetap sesuai dengan kemampuan, dan tidak merujuk pada pemborosan. Per tiga bulan belanja barang koleksi atau setahun dua kali untuk travelling rasanya masih masuk akal. Intinya kebutuhan menabung dan mendesak tidak sampai terganggu.

3. Buat skala prioritas, kesehatan dan tabungan prioritas utama

Pos senang-senang sah-sah saja, tapi juga jangan melupakan kewajiban. Ingat hidup bukan untuk hari ini atau bulan ini saja, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan, jadi ada baiknya mempersiapkan segala sesuatunya.

Menabung dan kebutuhan hidup sehat perlu dianggarkan sedini mungkin. Berhubung sudah memiliki penghasilan cukup, anggaran untuk dua hal ini sebaiknya diprioritaskan.
 

4. Bijak mengeluarkan uang, berkenalan dengan investasi

Selain menabung, cobalah untuk berkenalan dengan “investasi”. Baik investasi jangka panjang maupun investasi jangka pendek. Menabung dan investasi mungkin akan mengurangi anggaran senang-senang yang sudah ada, namun, jika disiplin pada pos ini niscaya di masa depan kebutuhan senang-senang bisa dilipat gandakan tanpa harus mengganggu anggaran prioritas.

5. Balanjakan uang pada memori daripada materi

Ingat! Memasuki dunia kerja juga berarti kamu mulai sering dihadapkan pada tekanan dan stres. Menghabiskan uang pada barang memang menyenangkan dan tidak ada salahnya, namun jangan lupakan kebutuhan psikis yang sehat.

Anggaran travelling akan lebih bijak untuk membelanjakan uangmu. Khasanah pertemanan bertambah, pengalaman berlipat, psikologi dan memori lebih berwarna, niscaya hidup lebih sehat dan produktif.
 

6. Tertib dan bijak pada tagihan

Seturut meningkatnya kemampuan finansial, pilihan pemenuhan kebutuhan hidup pun semakin banyak. Kamu mungkin memutuskan untuk mengambil kendaraan pribadi atau bahkan sudah berani dan bisa kredit rumah... nah, tapi pastikan kalau kamu tertib bayar tagihan. Jangan sampai bertumpuk, apalagi terlalu banyak kredit ini – itu, fasilitas kredit yang seharusnya memudahkan malah justru akan mencekik kalau tidak tertib dan tidak bijak.

Demikianlah enam hal yang bisa disesuaikan saat mulai memasuki dunia kerja dan menerima pemasukan yang lebih stabil. Selamat mencoba!(Fitriana Monica Sari-liputan6.com/jko)

 

 

 

 

12 February 2018
Sukses Tanpa Gelar Sarjana? Bisa-bisa Saja
Apakah gelar sarjana menjamin bahwa Anda akan mendapatkan pekerjaan yang layak? Pada kenyataannya ada orang bisa mencapai kesuksesan tanpa gelar.

Banyak pekerjaan yang membutuhkan ijazah S1 itu bukan profesi sembarangan. Mereka bisa benar-benar menghasilkan uang dan menuntut untuk punya kecerdasan.

Dengan atau tanpa gelar sarjana, Anda harus tetap bekerja keras. Banyak jalan sukses untuk Anda yang bukan sarjana, namun yang pasti tak ada tempat bagi yang bisanya cuma bermalas-malasan saja, ini cara sukses tanpa ijazah sarjana.

1. Menjadi Fotografer
Anda harus tahu banyak orang yang sukses menjadi fotografer. Sekarang, saatnya mengubah hobi mengambil gambar untauk menjadi sumber pemasukan. Tidak perlu melamar ke studio atau agensi, Anda bisa menjadi fotografer lepas.

Kebanyakan fotografer lepas mendapatkan pekerjaan setelah rajin memamerkan portofolio pada komunitas maupun taman sesama fotografer. Dengan teknologi oleh gambar digital yang terus berkembang Anda bisa membuat foto dengan warana dan persfektif menarik, sehingga pelanggan setia akan berdatangan dan rela merekomendasikan jasa Anda pada orang lain.

2. Menjadi Desainer
Menjadi desainer sebenarnya tidak butuh gelar sarjana yang terpenting mempunyai penghargaan tinggi pada estetika adalah awalan yang sempurna.

Kuliah desain itu mahal. Selain itu Anda juga dituntut untuk punya penguasaan mendalam berbagai bidang. Tidak hanya menggambar atau merancang saja, Anda juga harus mendalami berbagai teori ilmu berkomunikasi hingga filsafat seni.

Jadi bersyukurlah untuk menjadi desainer tidak membutuhkan gelar sarjana. Yang sangat dibutuhkan adalah klien. Dengan begitu berusaha merancang desain agar bisa menghasilkan yang baik.

3. Menjadi Produser Musik
Menjadi produser musik adalah pekerjaan yang cocok bagi pecinta musik tanpa gelar sarjana. Yang perlu dikembangkan adalah pengetahuan di bidang teknik audio, komposisi, dan tentunya musik, baik lewat pelatihan praktis di lembaga kursus atau bahkan berlatih secara otodidak.

Pastikan juga Anda memiliki relasi di industri musik, pada nyatanya banyak produser musik yang dulunya adalah musisi.

Pekerjaan ini tidak butuh kuliah, apalagi ijazah. Selama Anda punya ide, berani mematangkannya menjadi konsep, telaten menjadikannya sebagai produk dan ulet dalam memasarkannya, Anda bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses.(Tung Desem Waringin - detikFinance/jko)
05 February 2018
Jangan Lakukan Hal Ini Saat Ingin Memulai Bisnis
Dengan berbisnis, kita bisa mengatur segala sesuatunya dari kita sendiri dan hal lain sebagainya. Namun, semua itu tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena di balik mereka yang sukses dengan bisnis-bisnisnya, bisa dipastikan awalnya mereka pasti sudah jatuh terlebih dahulu, bangkrut dan lain sebagainya.

Seperti pepatah, tidak ada keberhasilan tanpa perjuangan, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan. Hanya orang dengan mental baja lah, yang bisa sukses dalam berbisnis, karena sudah pasti saat menjalankan sebuah bisnis apapun itu, tentu ada pasang surutnya.

Ini merupakan beberapa hal yang dapat mengubah mindset Anda untuk tidak perlu takut untuk mulai berbisnis.
1. Mengharapkan Modal Besar
Kata siapa berbisnis harus memiliki modal yang besar? Padahal jika mau kreatif, sekarang bisnis online baik itu dari website maupun media sosial sudah sangat populer dan lebih banyak diminati. Jadi tidak ada lagi alasan anda tidak berbisnis karena tidak punya modal.

2. Stop Berada di Zona Nyaman
Kebanyakan orang kalau sudah nyaman pasti tidak mau melakukan hal lain yang lebih besar dan ini merupakan alasan terbesar kebanyakan orang tidak mau berbisnis. Bagi Anda yang masih muda, biasakanlah untuk selalu suka akan tantangan, cobalah banyak hal hal baru untuk menambah pengalaman dan lain sebagainya.

3. Ragu Dengan Kemampuan Sendiri
Ragu hanya membuat diri Anda tak pernah maju. Cobalah untuk yakin terhadap diri Anda sendiri. Sifat ragu inilah yang membuat banyak orang akhirnya memilih untuk tidak berbisnis, karena ragu dengan kemampuan sendiri, padahal yang namanya skill, itu bisa selalu dilatih kapan pun.

4. Tidak Adanya Dukungan
Seringkali dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat menjadi salah satu hal yang diperlukan seseorang dalam merintis bisnis. Orang yang tidak punya dukungan tidak akan bersemangat untuk melakukan sesuatu, contohnya saja berbisnis. Jika orang-orang tersebut tidak mendapat dukungan dari orang terdekat seperti orang tua, keluarga dan orang terdekat anda lain, pasti mereka akan kurang semangat untuk menjalani bisnis, apalagi membangunnya dari nol.

5. Selalu Berpikir Negatif
Berpikir negatif sering kali dirasakan oleh setiap orang yang sudah pernah gagal dan takut untuk mencoba bisinisnya kembali. Seseorang yang sudah gagal harusnya berpikir positif karena sesuatu hal tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi. Jadi buang jauh-jauh pikiran negatif anda dan jadilah seseorang yang lebih sukses dan belajar dari suatu kegagalan.

Maka dari itu, kembali lagi ke awal, sukailah tantangan, sehingga Anda tidak akan merasa takut jika mendengar cerita orang lain gagal dalam berbisnis. Jadikan pengalaman mereka sebagai pelajaran yang berharga untuk bisnis Anda.

Semoga Bermanfaat.(Tung Desem Waringin - detikFinance/jko)
02 February 2018
Ketika Kaki Abu Jahal Terasa Kaku
Di awal masa perkembangan Islam, ada segelintir orang yang masih belum mau mengikuti petunjuk yang diberikan Rasulullah SAW. Salah satunya adalah seorang pria yang berasal dari kaum Quraisy bernama Abu Jahal.

Bukan hanya tak mau percaya dengan Islam, ia juga sangat membenci Rasulullah. Segala upaya untuk menghapuskan jejak penyebaran Islam telah dilakukannya. Berbagai dusta dan kebohongan disebarkan, tapi selalu berujung pada kegagalan.

Kegagalan tersebut bukannya membuat ia jera untuk menjahati Rasulullah, ia justru terus menghalangi penyebaran Islam. Justru, kegagalan yang selalu ditemuinya membuat rasa benci pada Islam dan Rasulullah semakin memuncak. Bahkan, ia berniat untuk membunuh Rasulullah.

Ketika itu, kaum Quraisy sedang berkumpul. Di dalam rapat pertemuan tersebut, Abu Jahal pun berujar. "Kalian semua, janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hatinya. Ia telah menghina agama nenek moyang kita. Dia mencela apa yang selama ini kita sembah. Aku berjanji kepada kamu sekalian bahwa besok aku akan membawa batu untuk kulemparkan ke kepala Muhammad ketika dia sujud. Selepas itu, terserah kepada kamu semua, mau menyerahkanku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kaum kerabatnya," ujarnya.

Niat untuk membunuh Rasulullah ini disambut sorak sorai kaum Quraisy. "Lanjutkan niatmu. Kami tidak akan sekali-kali menyerahkan engkau pada keluarga Muhammad," kata mereka.

Kaum Quraisy yang selama ini merasa resah karena ajaran yang dibawa Muhammad SAW ini merasa bangga salah satu kaumnya mau menghilangkan kesusahan mereka selama ini. Semangat dan dukungan pun diberikan mereka. Di antara mereka bahkan sudah merencanakan sebuah pesta besar jika rencana yang akan dilakukan Abu Jahal tersebut nantinya sudah berhasil terlaksana.

Dengan perasaan bangga karena terus dielu-elukan atas keberaniannya, keesokan paginya Abu Jahal pun pergi ke Ka'bah, tempat di mana setiap pagi Rasulullah sembahyang.  Dengan langkah tegap layaknya seorang ksatria, Abu Jahal dengan sebuah batu besar di tangannya pun mulai mendekati Ka'bah. Di belakangnya berderet-deret rombongan yang berisikan kaum Quraisy yang tadi malam ikut rapat bersamanya.

Abu Jahal dengan sengaja menyuruh mereka ikut agar bisa menyaksikan langsung langkah heroik yang akan dilakukannya. Ia ingin mereka melihat batu yang berada di tangannya bisa tepat dilemparkan di kepada Muhammad, kemudian melenyapkan nyawa Rasulullah.

Selama perjalanan, Abu Jahal sudah membayangkan betapa suksesnya rencana yang akan dijalankannya nanti. Ia membayangkan setelah batu dilemparkan, ia akan menyaksikan kepala Muhammad pecah dan tak bergerak lagi. Senyum mengembang kala ia membayangkan rencana jahatnya tersebut, yang kemudian ia akan disambut oleh kaum Quraisy bak pahlawan yang telah berhasil membunuh musuh nomor satu mereka.

Akhirnya, Abu Jahal dan rombongan pun tiba di halaman Ka'bah. Ia pun melihat Rasulullah sudah berada di tempat tersebut sedang bersiap dan hendak menunaikan shalat subuh. Saat itu, Nabi Muhammad SAW tidak menyadari kedatangan Abu Jahal dan kawan-kawannya. Ia tak pernah menyangka apa yang hendak dilakukan Abu Jahal terhadapnya.

Ketika Rasulullah sudah mulai shalat, Abu Jahal pun perlahan-lahan mendekatinya. Langkahnya sangat pelan dan hati-hati agar tak diketahui Rasulullah. Dari kejauhan, kawan-kawannya memperhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira. Dalam hati mereka berkata, "Kali ini Muhammad akan benar-benar musnah."

Ketika tinggal satu langkah lagi Abu Jahal berada di dekat Rasulullah dan telah mengayunkan batu yang berada di pegangnya, tiba-tiba ia justru berjalan mundur. Batu yang tadi dipegangnya pun jatuh ke tanah dan mukanya terlihat pucat. Kawan-kawannya pun tercengang melihat kejadian tersebut dan saling berpandangan karena bingung tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Kaki Abu Jahal terasa kaku, seolah-olah terpaku ke bumi. Ia tak dapat melangkahkan kakinya meski hanya setapak. Melihat hal itu, kawan-kawannya kemudian menariknya perlahan-lahan agar tak diketahui Rasulullah.

Abu jahal masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Badannya kaku, mukanya pucat, matanya melotot dan terbelalak, mulutnya melongo, dan tak bisa berkata-kata. Kawan-kawannya pun bertanya, "Apa sebenarnya yang terjadi padamu Abu Jahal? Mengapa engkau tak melemparkan batu itu ke kepala Muhammad ketika ia sedang sujud tadi?" Abu jahal tetap membisu. Ia masih kaget dan trauma dengan apa yang terjadi. Ia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.

Setelah lama, akhirnya Abu Jahal sadar dari kondisi kakunya tadi. Ia pun akhirnya mengatakan apa yang ia lihat saat ia mau melemparkan batu pada Muhammad. "Ketika aku hendak melemparkan batunya, tiba-tiba muncul seekor unta raksasa di hadapanku, dan hendak menendang aku. Aku sangat terkejut karena belum pernah melihat unta sebesar itu. Sebab itulah aku mundur. Karena, jika aku melangkah maju pasti aku ditendang unta tersebut dan mati," jelasnya.

Kawan-kawannya pun sangat kecewa melihat penjelasan tersebut. "Abu Jahal, kami memperhatikanmu dari jauh, dan tidak satupun dari kami yang melihat ada unta di depanmu, bahkan bayangannya pun tak ada," kata mereka.

Mereka pun kecewa dengan Abu Jahal. Selama ini, orang yang dianggap sebagai sosok yang gagah dan berani membunuh Muhammad ternyata hanyalah seorang pembohong. Mereka menyangsikan segala keterangan yang diutarakan Abu Jahal. Setelah kejadian ini, seluruh kaum Quraisy tak lagi percaya dengan Abu Jahal. Mereka kehilangan kepercayaan terhadapnya dan semua kata-kata Abu Jahal tak pernah diindahkan lagi.

Allah senantiasa melindungi Rasulullah dan semua umat Islam atas orang-orang kafir yang menjahati mereka. Balasan bagi orang kafir yang menjahati Islam, Allah SWT berfirman dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 15, "Allah akan memperolok-olokkan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan."(Red: Agung Sasongko-Sumber : Islam Digest Republika/jko)

 
31 January 2018
Begini Caranya Jadi Pengusaha Sukses Sebelum Berumur 30 Tahun
Kini sudah banyak sekali anak muda yang ingin mapan secara ekonomi. Orang mapan secara ekonomi di usia 30-an memang tidak asing lagi. Tak bisa dihitung jari, berapa banyak pengusaha muda yang mendapat ide bisnis dari hal sederhana dari yang mereka temui sehari-hari.

Dunia bisnis benar-benar semakin terbuka dan bisa digeluti siapapun, termasuk anak muda. Coba perhatikan tips sederhana berikut ini.

1. Update Ilmu
Coba deh untuk gemar membaca buku. Membeli buku bacaan yang bermutu hingga mengikuti seminar adalah bentuk investasi untuk masa depan yang terkadang masih banyak di sepelekan oleh anak muda.

Pengetahuan inilah yang nantinya akan membantu Anda untuk meningkatkan keahlian dan kemampuan yang menunjang kecerahan di masa depan.

2. Keluar Dari Zona Nyaman
Jangan tergoda dengan kondisi nyaman Anda saat ini. Banyak anak muda yang merasa aman dan nyaman dengan penghasilan tetapnya. Padahal itu adalah kondisi yang berbahaya lho.

Mencari pekerjaan tambahan bisa dilakukan saat tak bekerja seperti menjadi penulis lepas, designer web, photographer, bisnis, dan sebagainya yang bisa dilakukan di luar jam kerja.

3. Hiduplah Dengan Sederhana
Daripada memamerkan barang-barang mewah, lebih baik hidup sederhana. Jangan biasa besar kepala begitu memiliki penghasilan besar. Apalagi, suka beli dan pamer barang-barang mewah.

Lebih baik hidup sederhana, sehingga ketika mapan akan terlihat itu sebagai hasil dari kerja keras Anda selama ini.

4. Mulai Berinvestasi
Banyak orang yang terjebak dengan mengandalkan menyimpan uang di bank. Padahal menyimpan uang pada bank hanya membuat Anda termakan oleh kerugian karena bunga yang kecil.

Mulailah untuk berinvestasi. Saat ini sudah banyak sekali macam-macam investasi yang dikenal seperti deposito, logam mulia (emas), properti, bisnis, barang koleksi, reksa dana, obligasi dan juga saham.

5. Bangun Networking
Membangun networking juga mengambil peran penting dalam mencapai kesuksesan. Itu akan berpengaruh besar pada jenjang karir dan masa depan Anda.

Berkumpulah dengan mereka yang berstatus sosial tinggi, itu akan membantu Anda untuk memicu semangat dalam mencapai kesuksesan.

Nah itulah lima prinsip yang bisa Anda terapkan, agar nantinya di usia 30-an tidak lagi bekerja dengan orang lain. Apakah Anda tertarik untuk mencobanya?

Semoga Bermanfaat.(Tung Desem Waringin - detikFinance/jko)
29 January 2018
12 Cara Lawan Kantuk, Tahan Sepanjang Hari
Cara terbaik untuk tetap berenergi sepanjang hari adalah dengan tidur nyenyak. Namun terkadang Anda tidak bisa mendapatkan cukup waktu untuk beristirahat. Saat Anda memasuki kantor dengan pekerjaan yang menumpuk, justru membuat Anda mengantuk. Dilansir dari Brightside pada Kamis (28/1/2018), ada beberapa trik yang bisa Anda gunakan untuk bisa bertahan meski Anda merasa sangat mengantuk.

1. Jangan minum terlalu banyak kopi atau minuman berenergi
 

Minuman ini mungkin memberi Anda dorongan energi untuk waktu yang singkat. Namun Anda akan kehilangan sisa energi Anda dengan dorongan buatan ini. Selain itu, akan lebih sulit bagi Anda untuk memulihkan kondisi di keesokan harinya.

2. Mandi dengan air panas atau air dingin

Anda juga bisa hanya dengan mencuci wajah Anda dengan air dingin. Tips yang cukup klasik namun cukup ampuh.

3. Dapatkan oksigen lebih

Oksigenasi menjadi cara yang baik untuk membangunkan otak Anda. Caranya, baringkan tubuh Anda di lantai. Letakkan satu tangan di perut, di bawah tulang rusuk. Letakkan tangan lainnya di dada. Tarik napas dalam-dalam dengan hidung dan rasakan perut Anda mendorong tangan Anda. Keluarkan napas melalui mulut seperti bersiul. Rasakan tangan Anda di perut yang turun bersamaan dengan habisnya napas yang dikeluarkan. Lakukan latihan ini 5-10 menit agar Anda merasa lebih berenergi dan tidak mengantuk.
 

4. Sarapan dengan es krim

Es krim akan sangat membantu otak Anda bangun. Temperatur yang rendah pada es krim akan membangkitkan sarap di otak. Namun disarankan untuk tidak menggunakan cara ini terlalu sering agar kandungan gula dalam darah tetap terjaga.

5. Lakukan olahraga pagi

Tidak perlu olahraga yang terlalu berat. Cukup 3-5 menit berolahraga untuk memberikan energi pada tubuh.

6. Mandi dengan minyak esensial

Beberapa tetes minyak esensial apapun yang memiliki aroma yang cukup kuat saat mandi dapat membantu Anda untuk melawan kantuk sepanjang hari. Terlebih jika Anda menggunakan air panas.

7. Keluar rumah beberapa menit

Luangkan waktu sekitar sepuluh menit untuk diri Anda menghirup udara bebas di pagi hari. Paling tidak, buka jendela Anda dan hiruplah udara segar di pagi hari.
 

8. Buat jadwal harian

Ikuti jadwal dengan ketat. Dengan menuliskan semua hal yang penting untuk dilakukan, tidak akan membebani otak Anda dengan informasi yang berlebihan. Anda pun bisa lebih berkonsentrasi untuk memenuhi segala tugas.

9. Kurangi makan gula

Lonjaan gula darah bisa membuat Anda merasa lelah. Jika Anda ingin makan sesuatu yang manis, pilihlah gula sebagai alternatif yang sehat.

10. Terangkan lingkungan Anda

Ketika Anda duduk di kondisi tempat yang gelap akan membuat Anda mudah mengantuk secara natural.

11. Tidurlah 15-20 menit di tengah hari

Tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk tidur siang. Namun jika Anda cukup beruntung untuk tidur, gunakanlah 20 menit untuk mengembalikan energi Anda.

12. Tertawa

Tertawa membuat Anda rileks dan melupakan masalah Anda. Tonton sejumlah video lucu akan membuat Anda mendapatkan kembali energi Anda.(Vinsensia Dianawanti-liputan6.com/jko)

 

 

 


 

 

 

 


 

26 January 2018
Perjalanan Ilmiah

Mengembara mencari ilmu dan hikmah merupakan tradisi orang saleh. Nabi Musa AS, misalnya, disuruh Allah SWT mencari seorang alim karena mengaku orang paling berilmu (HR Bukhari 4.358). Beliau menempuh perjalanan jauh, menyeberangi lautan dan melintasi bebatuan agar bertemu Nabi Khidir AS (QS 60: 82).

Demikian pula Imam Asy-Syafi'i (w 204 H) yang lahir di Gaza, Palestina. Beliau berkunjung ke Makkah, lalu ke Madinah dan Baghdad, dan merantau di Mesir hingga wafat. Dengan ilmu yang didasari iman dan dihiasi adab akan mengangkat martabat seseorang di dunia dan akhirat (QS 58:11).

Dalam al-Hikam karya Imam Syafi'i, tertera sebuah syair nan indah. "Tidak ada tempat untuk diam bagi orang yang berakal dan beradab. Tinggalkanlah kampung halaman dan pergilah merantau. Mengembaralah, niscaya engkau akan mendapat sahabat pengganti yang kau tinggalkan. Bekerja keraslah karena kelezatan hidup ada dalam usaha..." Perjalanan ilmiah dapat menyadarkan kita akan kekurangan. Bak kata pepatah, "Lama hidup banyak dirasa.

Jauh berjalan banyak dilihat. Pandai bergaul banyak sahabat." Setidaknya ada empat hikmah yang diperoleh: Pertama, menghargai ilmu. Menarik perhatian kami saat menghadiri kajian Islam di CASIS. Ruangan seperti bioskop itu dipenuhi lebih dari 300 orang pencinta ilmu dari berbagai negara dan kalangan. Selama dua jam lebih tidak seorang pun peserta yang meninggalkan ruangan. Bahkan, tak terdengar bunyi dering HP atau suara gaduh. Semua antusias mendengar paparan Prof Wan Daud yang bersahaja.

Kedua, ilmu dan adab. Persoalan manusia saat ini adalah hilangnya adab. Jika berilmu tak beradab akan hancur dan menghancurkan. Jika beradab tak berilmu akan mudah menerima kebenaran dan memperbaiki kesalahan. Mampu menempatkan atau memperlakukan sesuatu sesuai tempat dan tujuan. Seperti adab kepada guru, yakni ikhlas menerima pengajaran dan bangga menyebutnya di depan orang.

Ketiga, ikhlas dalam amal. Guru dan murid harus ikhlas yang dibingkai pandangan dunia tauhid. Keikhlasan melahirkan kesungguhan, kesabaran dan kejayaan. Sekiranya murid tinggal sedikit pun, seorang guru harus tetap ikhlas mendidiknya. Sebab, bukan jumlah yang penting, melainkan kualitasnya (QS 2:249). Seekor singa yang mengaum akan membuat ribuan binatang gemetar, walau ia hanya duduk di sarangnya.

Keempat, guru bukan tukang. Guru yang hebat akan melahirkan murid yang hebat. Oleh karena itu, seorang guru atau dosen harus terus meningkatkan keilmuan. Belajar tiada henti sepanjang hayat. Guru yang berhenti belajar sepatutnya berhenti mengajar. Guru kilang yang bekerja sesuai standar opersional. Guru juga bukan tukang yang hanya mengulang-ulang pekerjaan sebab objeknya benda yang tak punya rasa.

Perjalanan ilmiah ke berbagai penjuru dunia untuk mendapat pelajaran adalah kemuliaan. Setiap jalan mencari ilmu adalah jalan menuju surga (HR Abu Daud 3.157). Semoga setiap perjalanan yang kita lakukan dapat meningkatkan keilmuan dan keadaban, amin. Allahu a'lam bishawab.(Oleh: Hasan Basri Tanjung-Republika.co.id/jko)

Page 1 of 60      1 2 3 >  Last ›