Selingan

25 March 2019
Bekerja di Rumah tapi Tak Fokus? Ini Cara Mengatasinya
Bekerja rumah menjadi pilihan yang sangat membahagiakan bagi sebagian orang.

Karena dapat mengatur waktunya sendiri secara lebih leluasa, dan dapat istirahat kapanpun disaat yang diinginka tanpa harus takut merasa diawasi oleh atas atau CCTV. Selain itu, yang paling membahagiakan yaitu dapat selesai kapanpun disaat pekerjaan hari itu memang sudah selesai tanpa harus menunggu jam pulang kerja tiba.

Namun sayangnya ada masalah besar yang sulit para pekerja hindari dan tangani ketika bekerja dari rumah. Apakah itu? Kurang dan bahkan tidak fokus.

Masalah satu ini memang cukup fatal karena jika sudah tidak fokus maka pekerjaan akan terbengkalai, menumpuk dan akhirnya tidak ada satupun yang dapat diselesaikan.

Apakah Anda salah satu yang merasakan hal tersebut Jika, iya jangan khawatir berikut ada 3 tips jitu untuk membuang jauh ketidak fokusan Anda saat bekerja dari rumah. Mau tahu apa saja?

Dilansir dari laman Thrive Global, berikut tiga tips membuat Anda tetap fokus bekerja selama dirumah:

1. Buat target, selesaikan dan hadiahi diri Anda atas penyelesaian target itu

Hal terpenting yang harus diingat baik-baik saat bekerja dari rumah yakni, 'tanggung jawab untuk selesaikan semua tugas yang Anda miliki'. Langkah pertama sebelum memulai bekerja, maka ada baiknya Anda membuat daftar target pekerjaan apa saja yang akan diselesaikan pada hari tersebut.

Lalu, jangan lupa untuk berjanji pada diri sendiri, jika ini semua selesai maka akan ada hadiah yang besar menanti. Nantinya, jika Anda sudah mulai merasa tidak fokus atau bahkan tidak memiliki gairah lagi, maka hadiah ini lah yang akan menjadi penyemangat Anda.

Tidak perlu hadiah mahal atau rumit yang dapat memusingkan diri sendiri. Pilihlah hal-hal atau benda yang memang mungkin saat ini Anda lakukan atau inginkan. Misal, membeli es krim, atau hanya sekedar berjalan-jalan santai.

2. Media sosial, ini gangguan terbesar Anda

Dengan dalih ingin terus mendapatkan informasi terbaru bukan menjadi alasan Anda untuk tetap terus menatap layar handphone dan tidak mengerjakan apapun.

Bermain hanphone dan membuka media sosial, nantinya akan membuat Anda kecanduan dan susah untuk menghentikannya. Tanpa sadar waktu Anda untuk bisa bekerja dirumah telah habis begitu saja.

Untuk itu, jauhilah sejenak untuk membuka media sosial selama sudah memulai untuk bekerja dan ketika sudah tiba waktunya istirahat barulah Anda membuka media sosial untuk menghilangkan sedikit kepenatan pekerjaan.

3. Pisahkan ponsel kerja dan pribadi, simpanlah ponsel pribadi Anda

Salah satu orang bijak pernah berkata, 'pisahkanlah dunia pribadi dan dunia pekerjaan Anda,'.

Jika Anda sudah memisahkan ponsel pribadi dan ponsel pekerjaan, maka simpanlah ponsel pribadi tersebut. Ini akan lebih membantu Anda untuk tetap fokus selama bekerja di rumah.

Jadi meskipun salah satu ponsel disimpan, Anda akan tetap mendapatkan informasi terkini atau hal-hal penting dai kantor.

Namun ingatlah, jangan menyimpan aplikasi media sosial apapun di ponsel kantor ini karena itu akan percuma saja.(Ayu Lestari Wahyu Puranidhi-liputan6.com/jko)

 

 

 

14 March 2019
Keutamaan Menerima Nasihat Kebaikan
Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, "Agama adalah nasihat." Cakupan nasihat yang dimaksud adalah tentang Allah Ta'ala, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin Muslimin, dan umat Islam secara umum. Artinya, dorongan untuk memberikan nasihat bisa datang dari Sang Pencipta melalui mana saja yang menjadi sarana kebajikan.

Sang hujjatul Islam Imam Ghazali pernah berkirim surat kepada muridnya. Isinya menggambarkan betapa pentingnya perbuatan saling menasihati. Demikian pula, kelapangan hati dalam menerima nasihat.
 

"Nasihat itu mudah, yang sukar adalah menerimanya. Bagi mereka yang mengikuti hawa nafsunya, maka nasihat akan terasa pahit," kata Imam Ghazali dalam pembukaan suratnya itu.

Terhadap sang murid, Hujjatul Islam berpesan agar hidup sebagai pemuda Muslim yang mencintai ilmu pengetahuan dan mengamalkan ilmu itu. "Subhanallah, mereka tidak menyadari bahwa ilmu yang telah diamanatkan kepadanya mesti diamalkan. Bila tidak, ilmu hanya akan menjadi beban, memperberat siksa yang ditimpakan kepadanya," lanjut sang imam.

Sosok yang lahir di Tus (Persia) itu mengutip sebuah hadits Nabi SAW, "Orang yang mengalami siksaan berat pada Hari Kiamat adalah ilmuwan dan kaum cendekiawan yang tidak menebarkan manfaat dengan ilmunya."

Maka dari itu, Imam Ghazali berpesan agar seorang Muslim tidak menutup diri dari nasihat-nasihat yang baik. Pelajaran bisa dipetik dari kisah-kisah orang terdahulu. Dia pun mengutip cerita tentang seseorang yang bermimpi bertemu dengan Imam al-Junaid.

"Apa kabarmu, wahai Abu Qasim (panggilan hormat untuk Imam al-Junaid)?" tanya orang itu di dalam mimpinya.

"Semua ilmuku lenyap tak berbekas. Tidak ada lagi yang memberikan kepadaku manfaat kini selain rakaat-rakaat yang kudirikan di dalam shalat malam," jawan al-Junaid.

Demikianlah, jangan sampai ilmu yang kita peroleh menutup batin kita dari kesediaan menerima nasihat kebaikan.(Sumber : Islam Digest Republika/jko)

 

12 March 2019
Perhitungkan 5 Hal Ini Sebelum Pindah Kerja
Mau pindah kerja karena suasana kerja yang tak lagi nyaman? Kondisi lain, kamu mau pindah kerja karena ada tawaran pekerjaan yang lebih menggiurkan?

Sebenarnya, pindah dan resign dari pekerjaan lama bukan hal yang salah. Namun, sebelum kamu benar-benar memutuskan untuk berhenti, ada baiknya jawab 5 pertanyaan ini sebelum menyesal nanti!

Apa saja? Ini dia daftarnya, sebagaimana dilansir dari Swara Tunaiku!

1. Bagaimana Prospek Gaji di Tempat yang Baru

Hal pertama dan paling utama yang harus dipertimbangkan sebelum mau pindah kerja adalah masalah gaji. Tak bisa dimungkiri, masalah yang satu ini adalah hal yang sensitif.

Bukannya matre, tetapi kamu harus realistis agar bisa mencukupi kebutuhan ke depannya. Tanyakanlah mengenai prospek gaji di tempat yang baru.

Misalnya, apakah ada kenaikan gaji setiap tahunnya dan kemungkinan untuk mendapatkan bonus, tunjangan, dan masih banyak lagi?

Kamu tak boleh hanya mempertimbangkan gaji bulanan besar yang akan diterima saja. Bisa-bisa, kamu menyesal sendiri nanti kalau tak menanyakan semua dengan jelas.

2. Apakah Dana Darurat Saya Mencukupi?

Sebelum kamu memutuskan untuk pindah kerja, ada baiknya kamu memiliki pos dana darurat yang bisa digunakan untuk kondisi tak terduga, seperti kecelakaan, kiriman untuk orang tua, dan lainnya.

Dana darurat ini adalah simpanan kamu selama bekerja di tempat sebelumnya. Besaran idealnya, harus 12 kali dari gaji bulanan.

Pastikan dulu dana darurat ini mencukupi untuk menghidupimu beberapa waktu kemudian sampai kamu mendapatkan pekerjaan baru.

Toh, kalau ada tempat kerja yang mau menampungmu, apa kamu yakin diterima? Bisa jadi, calon perusahaan baru tersebut belum bisa memberi kepastian, kan?

3. Apakah Ada Biaya Hidup Tambahan Tak Terduga di Kantor

Bila biasanya untuk pergi ke kantor kamu butuh waktu 15 menit berkendara, bagaimana dengan kantor barumu? Apakah kondisinya sama? Atau malah lebih jauh?

Kamu harus memastikan hal ini untuk mengira-ngira apakah ada biaya tambahan yang harus kamu keluarkan. Pasalnya, perubahan jarak ini akan memengaruhi biaya transportasi.

Selain itu, biasanya akan ada biaya tambahan hidup lain yang akan keluar, seperti biaya pergaulan karena rekan-rekan kerja barumu hobi hangout. Bisa juga biaya lebih untuk merawat diri karena perusahaan baru mengharuskanmu untuk tampil rapi dan berpakaian mahal.

4. Bagaimana Perbandingan Benefit Asuransi dengan Kantor Sekarang?

Bagi kamu yang belum memiliki asuransi pribadi, mempertimbangkan hal yang satu ini sangat penting. Detail asuransi ini harus kamu tanyakan, karena sebenarnya ini memang hak kamu.

Misalnya, asuransi itu menutup untuk anggota keluarga mana saja atau hanya kamu. Siapa provider asuransi tersebut, apa keuntungannya, dan lain sebagainya.

5. Apakah Pekerjaan Itu Menciptakan Kemajuan

Selain itu, coba tanyakan pada dirimu, apakah dengan bekerja di tempat yang baru akan membawa kemajuan pada diri kamu?

Oke, gaji dan benefit lainnya lebih besar. Bagaimana dengan lainnya? Misalnya tentang waktu kamu, kemampuan yang akan didapat dan lainnya? Dalam banyak kasus, pekerjaan baru butuh keterampilan lebih kalau mau berkembang, lo!

Jadi, apakah kamu sudah menanyakan pada diri sendiri apa bisa tempat kerja yang baru dan dirimu memenuhi semua pertanyaan di atas? Kalau belum, pikir-pikir lagi sebelum menyesal.

Namun, kalau kamu ingin resign lalu buka usaha sendiri, tak apa. Mungkin hasilnya akan lebih baik.(Fitriana Monica Sari-liputan6.com/jko)

 

 

08 March 2019
Kisah Turunnya Surah ‘Abasa
Selain Bilal bin Rabah, Abdullah bin Ummi Maktum merupakan muazin pada masa Nabi Muhammad SAW. Sahabat Nabi itu termasuk Assabiqun al-awwalun atau orang-orang pertama yang masuk Islam. Ia digambarkan memiliki fisik tak sempurna, sebab matanya tak dapat melihat atau buta. Meski begitu, Abdullah dikenal berilmu serta beradab, sehingga bisa melihat dengan mata hati.

Tak heran bila dirinya memiliki kepekaan tinggi untuk mengetahui waktu. Jika Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, setiap fajar Abdullah keluar dari rumahnya untuk menyerukan azan Subuh di Masjid.

Pada bulan Ramadhan, Rasulullah pun bersabda: "Makan dan minumlah kalian hingga Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan azan." Bahkan Allah telah memuliakan pria tersebut. Pasalnya, Abdullah merupakan, sebab surah ke-80 dalam Alquran yakni surah 'Abasa turun.

Pada suatu hari, Nabi tengah duduk bersama para pemuka Quraisy. Tiba-tiba Abdullah menanyakan sesuatu ke beliau, tapi Rasul tak menghiraukannya karena sibuk berbicara dengan beberapa tokoh Quraisy di antaranya Syaibah bin Rabi'ah. Selesai berunding dengan para Qu raisy, Rasulullah kemudian bersiap untuk pulang. Namun, mendadak beliau merasa kesakitan. Saat itulah Firman Allah berupa surah 'Abasa ayat 1 sampai 16 turun.

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling karena telah datang se orang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri nya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Ada pun orang yang merasa dirinya serba cukup maka kamu melayaninya. Padahal, tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan ber segera (untuk mendapatkan pelajaran), sedang ia takut kepada (Allah) maka kamu mengabai kannya. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan.

Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya di dalam kitab-kita yang dimuliakan, yang ditinggikan lagi disucikan, di tangan para penulis (mala ikat), yang mulia lagi berbakti." Nabi Muhammad lalu memanggil Abdullah bin Ummi Maktum. Untuk pertama kalinya, Rasulullah SAW menunjuk Abdullah menjadi wakil beliau di Madinah. Sejak hari itu, Rasulullah makin memuliakan sang muazin.

Suatu ketika Abdullah menyampaikan keinginannya untuk ikut berjihad. Pa ra sahabat pun menyambut baik hal itu. Hanya saja, kemudian firman Allah dalam dalam surah an-Nisa ayat 95 tu run. "Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang )." Mengetahui dirinya tak bisa ikut ber perang, Abdullah merasa sedih. Lantas ia berkata: "Apakah ada keringan an untuk ku?" Lalu turunlah ayat lanjutannya, "Selain yang mempunyai uzur."

Kendati demikian tekad Abdullah ikut berperang sangat kuat. Dirinya berulang kali menyampaikan keinginannya tersebut, hingga akhirnya pada Perang Qadisiyah, dia berperang sebagai pembawa panji pasukan berwarna hitam. Sejarah mencatatnya sebagai orang buta pertama yang turut dalam peperangan Islam.(Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Agung Sasongko-Republika.co.id/jko)

04 March 2019
Kamu Pekerja Lepas? Simak Tips Dapat Gaji Sesuai Standar
Mendapatkan upah atau gaji adalah hak semua orang yang bekerja. Dengan mendapat gaji, maka apa yang Anda kerjakan telah mendapat penghargaan dari perusahaan.

Meskipun bukan sebagai pegawai tetap atau mungkin Anda hanya sebagai pekerja lepas (freelance), namun Anda harus tetap memastikan bahwa gaji atau bayaran yang didapatkan telah sesuai dengan apa yang sudah dilakukan.

Namun sayangnya, dikutip dari Forbes, Senin (4/3/2019), sebanyak 46 persen pekerja lepas ternyata tak mendapatkan gaji atau penghasilan sesuai dengan apa yang mereka telah kerjakan.
 

Apakah Anda salah satu dari pekerja freelance? jika iya, apakah gaji yang Anda dapatkan sudah sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan?

Jika tidak maka Anda harus membicarakan lagi hal tersebut dengan atasan. Karena jika hal ini terus dibiarkan, ini sama saja membiarkan diri Anda untuk kerja rodi dan dilakukan semena-mena diperusahaan tersebut.

Mau tahu apa saja yang harus Anda lakukan untuk mendapatkan gaji yang stabil dan sesuai saat menjadi pekerja lepas? Berikut tiga tipsnya:

1.Jadilah Orang yang Sangat Dibutuhkan

Pastikanlah Anda menjadi orang yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan atau klien sehingga mereka tidak akan tidak menghargai kemampuan yang Anda miliki. Selain itu, buatlah hubungan kerja yang harmonis sehingga perusahaan tersebut tidak mencari pekerja lepas lainnya.

2. Patoklah Harga Tetap untuk Kemampuan yang Dimiliki

Buatlah harga tetap untuk perusahaan membayar hasil jerih payah yang telah Anda lakukan. Misal, jika Anda merupakan penulis maka buatlah harga pembayaran sesuai sebanyak tulisan yang telah Anda tulis.

Hal ini lebih baik dibanding jika Anda menghitung upah per jam, karena perusahaan tidak mau rugi jika ternyata Anda hanya dapat menyelesaikan sedikit artikel dalam jam yang telah ditentukan.

3. Lakukanlah yang Terbaik untuk Pekerjaan tersebut

Jika telah memiliki perusahaan yang ingin mempekerjakan Anda, maka langkah selanjutnya yang harus dilakukan yaitu 'melakukan yang terbaik' untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.

Meskipun Anda hanya freelance, namun tetap tunjukkan etika bekerja yang baik mungkin saja hal ini akan membuat Anda akan diangkat untuk menjadi salah satu karyawan di perusahaan tersebut.(Ayu Lestari Wahyu Puranidhi-liputan6.com/jko)

 

 

22 February 2019
Meniti Jalan Hidayah

Manusia sering kali menemukan titik balik. Dari yang sebelumnya jahat berubah menjadi baik. Atau, memiliki keinginan untuk menjadi baik. Tidak ingin lagi melakukan hal buruk yang merugikan orang lain atau dirinya sendiri. Ada cahaya hidayah Allah yang tiba-tiba menyinari pikiran dan hati sehingga ia menyadari apa yang telah diperbuat selama ini

Ia ingin kembali dari alam keburukan kepada alam kebaikan, dari alam keterpurukan kepada alam kebangkitan, dari alam pesimistis kepada alam optimistis, dari lemah semangat kepada kuat semangat. Inilah tobat, kembali kepada Allah, meniti jalan hidayah.

Alkisah, ada seorang lelaki dari kalangan umat terdahulu telah membunuh 99 orang, kemudian ia menanyakan tentang orang yang paling alim di muka bumi. Lalu, ia ditunjukkan kepada orang yang dimaksud. Ia pun mendatanginya dan selanjutnya berkata bahwa sesungguhnya ia telah membunuh 100 orang, apakah jika ia bertobat masih dapat diterima? Orang alim itu menjawab, "Tidak bisa, membunuh itu dosa besar."
 

Kemudian, orang alim itu dia bunuh dan dengan demikian sempurnalah jumlah orang yang dia bunuh menjadi 100 orang. Setelah itu, ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di muka bumi. Kemudian, ditunjukkanlah ia kepada seorang yang dimaksud. Kepada orang alim kedua, ia mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 orang, apakah jika bertobat masih diterima? Orang alim kedua itu menjawab, "Ya, masih dapat. Siapa yang dapat mencegahnya bertobat?

Pergilah engkau ke daerah sebuah daerah yang di situ ada banyak orang yang bersama-sama menyembah Allah. Setelah engkau sampai di situ, ikutlah menyembah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali ke daerah asalmu, sebab daerahmu adalah tempat (lingkungan) yang buruk."

Orang itu pun pergi ke tempat yang ditunjukkan oleh orang alim itu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba ajal menjemputnya. Kemudian, dua malaikat berdebat, yakni malaikat rahmat dan malaikat azab, merasa paling berhak dengan orang jahat itu. Malaikat rahmat berkata, "Orang ini telah datang untuk bertobat, kembali kepada Allah dengan hati yang tulus." Sementara malaikat azab berkata, "Orang ini sama sekali belum pernah melakukan kebaikan."

Selanjutnya, datang satu lagi malaikat yang melerai mereka. Ia menyarankan, "Ukurlah oleh kalian berdua jarak tempat asalnya dengan tempat yang ia tuju. Lalu lihat, mana tempat yang lebih dekat. Jika lebih dekat adalah tempat yang sedang ia tuju, ia adalah milik malaikat rahmat. Jika yang lebih dekat adalah tempat asalnya, ia adalah milik malaikat azab." Kedua malaikat itu pun mengukur dan ternyata tempat orang tersebut lebih dekat dengan tempat yang dia tuju untuk bertobat. Oleh sebab itu, ia pun dibawa malaikat rahmat. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Orang itu benar-benar ingin kembali kepada Allah. Komitmennya untuk bertobat sudah sangat kuat dan bulat, ingin berubah menjadi orang baik dan menemukan tempat yang baik dan meninggalkan perbuatan jahatnya sebagai pembunuh. Ia ingin melepaskan itu dan menjadi pribadi baru. Allah sangat mencintai orang yang ingin kembali kepada-Nya, berhijrah karena-Nya. Seperti dikatakan Nabi, "Siapa saja yang niat hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya" (HR al-Bukhari dan Muslim).

Allah selalu membuka pintu-Nya untuk siapa pun yang kembali kepada-Nya dengan tulus. Manusia tidak pernah lepas dari keliru dan salah. Namun, itu tidak menutup pintu untuk kembali kepada Allah, Tuhannya. Kembali kepada Allah, meniti di jalan hidayah, berarti kembali kepada kebaikan sejati dan meninggalkan keburukan sepenuh hati dan sungguhsungguh. Imam Hasan al-Bashri pernah mengatakan,

"Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan kepada pemuliaan- Nya dalam keadaan ridha dengan apa yang Allah sediakan untukmu, dan Allah pun ridha terhadap dirimu." Wallahu a'lam.(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Fajar Kurnianto/jko)

 

21 February 2019
Kajian Kitab Klasik Diminati Jamaah
Kesadaran beragama di kalangan kaum Muslimin Indonesia makin meningkat. Kesadaran tersebut, kata dosen UIN Jakarta, Dr Syamsul Yakin MA, terjadi di semua kalangan.

“Yang menarik, kecenderungan kelas menengah atas makin suka tasawuf. Kajian kitab-kitab klasik atau tsurats -- yang juga banyak mengupas soal tasawuf --, diminati jamaah,” kata Syamsul Yakin dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Rabu (20/2).

Pimpinan Pondok Pesantren Darul Akhyar, Kampung Parungbingung, Depok, Jawa Barat itu mencontohkan, setiap Rabu pagia ia mengisi  pengajian di Masjid Raya Al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan. Ta’lim tersebut mengkaji kitab Nashaihul ‘Ibad karya Ibnu Hajar al-Asqalaniy. “Kajian tersebut diikuti oleh sekitar 100 jamaah, diawali dengan shalat  Shubuh berjamaah,’ tuturnya. 

Syamsul Yakin menyebutkan,  kajian Rabu (20/2), memutus  tema tentang memutus kesukaan nafsu. Dalam Alquran, Allah memperkenalkan tiga macam nafsu. Pertama, nafsu muthmainnah, yakni nafsu yang tenang karena diselimuti iman, dibalut amal shaleh, dan senantiasa taat kepada Allah SWT.
 

Tentang hal ini, Allah SWT tegaskan dalam firman-Nya, “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha  lagi diridhai-Nya.” (QS. al-Fajr/89: 27-28).

Kedua, nafsu lawwamah, yakni yang kerap mencela siap saja yang berbuat salah, sengaja atau tidak. Allah SWT bahkan bersumpah demi nafsu lawwamah, “Aku bersumpah dengan menyebut nafsu lawwamah.” (QS. al-Qiyamah/75: 2).

"Dalam konteks kekinian, menebar hoaks, memaki, dan mencela adalah contoh bersarangnya nafsu lawwamah di dada seseorang, yang seharusnya dihindari" ujar Syamsul Yakin.

Ketiga, nafsu ammarah bi al-su’i, yakni nafsu yang kerap memprovokasi tuannya untuk berbuat dosa, baik dengan lisan, tangan, hati, pikiran di darat maupun di lautan, bahkan di angkasa. Allah memberi petunjuk, “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf/12: 53).

Menurut Abu Bakar al-Syibli, seperti dikutip Ibnu Hajar al-Asqalaniy dalam kitab Nashaihul  ‘Ibad,  “Apabila kamu ingin merasa tenang bersama Allah, maka putuskanlah kesukaan nafsumu”. 

Diceritakan kembali oleh Syaikh Nawawi Banten, setelah al-Syibli wafat, seseorang bermimpi bahwa Allah bertanya kepada al-Syibli. Orang itu bercerita, “Allah bertanya kepada al-Syibli, ‘Hai, Abu Bakar, tahukah kamu mengapa Aku memberimu ampun?’

 Aku jawab, ‘Karena amal baikku’. Allah berfirman, ‘Bukan’. Aku jawab, ‘Karena aku ikhlas beribadah’. Allah  berfirman, ‘Bukan”. Aku jawab, ‘Karena hajiku, puasaku, dan hajiku’. Allah berfirman, ‘Bukan’. Aku menjawab, ‘Karena kepergianku menemui orang-orang shaleh dan menuntut ilmu’. Allah berfirman, ‘Bukan’.

 Aku bertanya, ‘Wahai Tuhanku jadi sebab apa?’ Allah berfirman, ‘Ingatkah kamu saat kamu berjalan di depan pintu gerbang Kota Baghdad, kamu menemukan seekor kucing kecil. Udara dingin telah membuatnya lemah, hingga ia teronggok disebabkan begitu dinginnya. 

 Lalu kamu menyelamatkannya dengan perasaan sayang dan meletakkanya di atas tungku hangat untuk menjaganya dari kematiannya’. Aku menjawab, ‘Ya aku ingat’. Lalu Allah berfirman, ‘Karena kasih sayangmu kepada kucing itulah Aku menyayangimu’. Bentuk sayang Allah dalam hal ini kepada al-Syibli adalah memberi ampunan untuknya.(Red: Irwan Kelana-republika.co.id/jko)

 

19 February 2019
4 Pertanda Ini Isyaratkan Anda Untuk Pindah Kerja
Dalam beberapa tahun terakhir, banyak orang menemukan diri mereka mencoba sangat keras untuk mempertahankan pekerjaan mereka dan berharap menemukan saat-saat yang lebih baik di dunia kerja. Namun, bisa jadi sekaranglah waktunya yang tepat untuk mencari pekerjaan baru, dan mengejar masa depan Anda sendiri. Itu berarti, Anda harus memikirkan opsi untuk berhenti, dan mencoba peruntungan di tempat lain atau memulai bisnis sendiri.

Dilansir dari USA Today, berikut adalah empat tanda bahwa mungkin sudah saatnya bagi Anda untuk berhenti dari pekerjaan Anda sekarang.

1. Anda benar-benar benci pergi ke kantor
Kita semua memiliki hari-hari dimana kita tidak ingin pergi bekerja. Kita bahkan mungkin tidak menyukai apa yang kita lakukan untuk bekerja. Tapi apakah Anda benar-benar benci gagasan untuk berangkat kerja? Apakah Anda menghabiskan begitu banyak waktu untuk mengkhawatirkan apa yang akan terjadi ketika Anda pergi bekerja, bahwa Anda tidak menikmati waktu Anda di tempat kerja? Jika hal ini terjadi, mungkin sudah saatnya untuk mencari pekerjaan baru, atau bahkan memulai bisnis sendiri.
 

2. Anda begitu memperhatikan nilai-nilai bos atau rekan kerja Anda
Banyak dari kita memiliki nilai-nilai dan cita-cita kita sendiri. Namun, jika Anda menemukan diri Anda mempertanyakan nilai-nilai dan cita-cita orang di sekitar Anda di tempat kerja, bisa menjadi indikasi bahwa Anda seharusnya tidak berada pada tempat Anda sekarang. Atasan Anda mungkin tidak akan melakukan sesuatu yang salah, tetapi prioritas dan tindakan organisasi tidak mungkin menyesuaikan diri dengan apa yang paling penting bagi Anda. Jika Anda merasa bahwa Anda tidak cocok dengan nilai budaya organisasi Anda, mungkin sudah saatnya untuk keluar.

3. Anda ingin memiliki tugas lebih menantang
Bagi sebagian orang, pekerjaan yang mudah lebih disukai. Namun, Anda mungkin ingin untuk tugas yang lebih menantang. Apakah Anda merasa bahwa pekerjaan Anda menawarkan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang? Jika Anda ingin maju sebagai pribadi, pekerjaan tidak menyediakan Anda dengan tantangan yang cukup dapat menjadi satu hal yang menyedihkan.

4. Anda merasa seperti orang luar
Apakah semua orang di kantor tampaknya memiliki lelucon atau obrolan yang tak nyambung lagi dengan Anda? Jika Anda merasa ditinggalkan dari budaya di tempat kerja, mungkin menjadi indikasi kuat bahwa Anda sudah saatnya ada di tempat lain. Setiap orang ingin berada dalam lingkungan kerja yang dimana ia merasa menjadi bagian di dalamnya. Aspek budaya dari pekerjaan Anda adalah sama pentingnya dengan aspek teknis. Bila memungkinkan, cobalah untuk mencari pekerjaan yang memungkinkan Anda merasa seolah-olah Anda melakukan sesuatu yang berharga, dan yang menyediakan lingkungan yang Anda merasa nyaman dengannya.(Sarah Ervina Dara Siyahailatua-Tempo.co/jko)

 

 
18 February 2019
5 Cara Ini Bantu Kamu Semangat di Hari Senin
Hari senin adalah hari yang sangat berat bagi smeua orang. Setelah bersantai melepas penat di hari weekend, kita dihadapkan lagi dengan kesibukan pekerjaan. Maka dari itu seringkali hari senin menjadi hari yang berat karena menjadi hari yang awal dari kesibukan seminggu kedepan.

Untuk itu kami merangkum bagaimana cara untuk mengurangi kepenatan di hari Senin, dilansir dari berbagai sumber:

1. Membantu sesama

Dengan membantu orang lain yang sangat membutuhkan bantuan dan mengedepankan kebutuhan orang lain, hal ini dapat membantumu untuk melupakan masalah yang kamu sedang hadapi. Beberapa penelitian telah menyebutkan bahawa menolong orang dapat memberimu kebahagiaan yang akan bertahan lama.

Penelitian juga menyebutkan bahwa orang-orang yang menjadi relawan dalam suatu komunitas akan memiliki kehidupan yang lebih lama daripada yang tidak. Maka dari itu, cobalah mulai dari sekarang untuk membantu sesama. Bukan hanya melakukan kebaikan, kamu juga akan menstimulasi otakmu untuk mengeluarkan hormon kebahagiaan. Selamat membantu orang yang membutuhkan!

2. Gerakkan badanmu, berolahragalah!

Hal yang terbaik adalah melakukan kegiatan fisik yang kamu suka. Menurut National Institute of Health, berolahraga dapat menurunkan tingkat depresi. Saat kamu merenggangkan tubuh hal tersebut dapat menstimulasi pelepasan hormon kebahagiaan, endorfin, dan mengeluarkan hormon serotonin ketika kamu membutuhkannya. Maka dari itu, buatlah resolusi sebaik mungkin untuk bisa meluangkan waktu untuk berolahraga di sela-sela aktifitasmu.

3. Cari udara sejenak di luar

Alam memiliki efek terapi yang sangat kuat bagi perasaan yang sedang penat, bimbang maupun putus asa. Menurut New York Department of Environmental Conservation, hanya dengan 5 menit dikelilingi oleh pepohonan dan alam yang hijau dan asri, mood kamu akan meningkat.

Jika kamu melakukannya bersama dengan berolahraga, hal ini dapat melancarkan aliran darhmu dan menghindari hormon-hormon penyebab stress yaitu kortisol dan adrenalin menyerang tubuhmu. Jadi, jangan takut untuk sekadar pergi mencari angin keluar, berjalan di sekitar taman kota untuk mengurangi resikomu dari depresi, keletihan, kegelisahan, kebingungan, dan marah.

4. Selalu beryukur

Mengucapkan rasa syukur dan terima kasih, adalah salah satu cara untuk meningkatkan suasana hatimu. Kamu akan merasakan kebahagiaan dan energi positif datang sendirinya, ketika kamu selalu merasa bersyukur dengan apa yang kamu punya. Tidak ada lagi energi negatif yang datang menghampirimu. Buatlah catatan segala hal yang kamu syukuri dalam hidupmu setiap harinya, agar kamu merasa hidupmu selalu bahagia.

5. Peluklah orang tersayang atau bahkan hewan peliharaanmu

Kesendirian menjadikan kita menjadi tidak bersemangat dan merasakan kesepian menjalani hari. Dengan menyadari bahwa kita dikelilingi orang-orang yang kita sayangi, kita akan merasa bahagia dan dapat menjalani hari dengan bahagia. Dengan memeluk orang yang kita sayangi, telah terbukti bahwa hal ini dapat meningkatkan produksi hormon endorfin dan dopamin dan menurunkan kadar hormon stress kita.(Reporter : Fira Shabrina Malia-Universitas Indonesia-liputan6.com/jko)

 

14 February 2019
Makna Air Mata

Dalam mengarungi romantika kehidupan, terkadang seseorang menitikkan air mata tatkala memperoleh kebahagiaan, maupun ketika menghadapi persoalan hidup yang pelik. Tentu, tidak ada salahnya bila seseorang menitikkan air mata terhadap kebahagiaan dan musibah yang menimpanya. Sebab, Nabi Muhammad SAW pun pernah menitikkan air mata ketika melepas kepergian putra tercintanya, Ibrahim, untuk selama-lamanya.

Sebagaimana yang diceritakan Anas, kami bersama-sama dengan Rasulullah datang berkunjung ke kediaman Abu Yusuf al-Qain. Istri Abu Yusuf adalah ibu susuan Ibrahim, putra Rasulullah. Kemudian, Rasulullah menggendong Ibrahim lalu menciumnya. Pada kesempatan yang lain, kami kembali berkunjung ke kediaman Abu Yusuf. Tapi, ketika itu Ibrahim kecil sedang menghadapi sakaratul maut. Air mata Rasulullah menetes dari pelupuk matanya. Menyaksikan peristiwa tersebut, Abdurrahman bin Auf bertanya kepada Nabi, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis?"
 

Rasulullah menjawab, "Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya itu merupakan ungkapan rasa kasih sayang." Kemudian, Rasulullah mengulang kembali perkataannya, "Sesungguhnya mata memang meneteskan air mata dan hati merasa sedih. Namun, kami tidak mengucapkan sesuatu kecuali kalimat yang diridhai oleh Allah SWT. Dan sesungguhnya kami semua merasa sedih untuk berpisah denganmu wahai Ibrahim."

Kisah ini hendak mengingatkan dalam batas yang wajar air mata kesedihan boleh ditumpahkan, tetapi harus diiringi dengan melafazkan kalimat-kalimat yang diridhai Allah. Selain itu, tangisan air mata juga harus diiringi dengan tindakan dan perbuatan yang diridhai Allah SWT.

Ibnu Abbas RA meriwayatkan, "Ada dua mata yang tidak akan disentuh oleh api neraka. Yaitu mata yang menangis di pertengahan malam karena takut kepada Allah dan mata yang terjaga di jalan Allah." (HR Tirmidzi). Hadis ini menjelaskan bahwa air mata yang mengalir karena takut kepada Allah SWT dan karena berusaha konsisten di jalan Allah termasuk air mata yang tidak tersentuh api neraka.

Selain itu, air mata mengalir juga disebabkan seseorang yang mendengar, membaca, dan mengkaji Alquran. Sebagaimana Allah SWT berfirman, "Dan apabila mereka mendengarkan apa (Alquran) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, "Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Alquran dan kenabian Muhammad)." (QS al-Maidah [5] : 83).

Menurut hasil penelitian dan beberapa ilmuwan, air mata yang tertumpah itu mengandung beberapa manfaat, di antaranya; dapat membantu daya penglihatan menjadi lebih baik, meminimalisasi gangguan bakteri dan racun pada tubuh, menjaga kesehatan hidung dalam membantu pernapasan, meningkatkan motivasi hidup (mood) untuk lebih bahagia dan berprestasi, termasuk membantu meredakan gangguan ketegangan, frustasi, putus asa, dan stres.(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muslimin/jko)

 

Page 1 of 24      1 2 3 >  Last ›