Kamera

09 May 2014
Menengok Misteri Di Gua Selomangkleng Tulungagung
Radio ANDIKA - Kediri - Jatim - Bagi para pembaca diharapkan tidak rancu dengan pembahasan kita kali.
Kita tidak akan membahas Goa selomangleng yang menjadi ikon wisata kota kediri disini.
Masih sangat dekat dengan beberapa tempat wisata di Tulungagung , yaitu di kawasan Boyolangu Tulungagung ,Kita kali ini akan membahas mengenai Goa Selomangleng di tulungagung.
Untuk kali ini kami sebagian besar mengutip artikel ini dari blog tetangga dan juga sumber yang ada.
Tulungagung sendiri tidak hanya memiliki wisata pantai nya dan juga kuliner dan warung kopinya tapi kita juga memiliki tempat wisata berupa Goa yang sangat jarang ditemui di Tulungagung.
Wisata Goa memang bukan hal yang umum bagi masyarakat Tulungagung , namun karena alasan ini lah Goa selomangleng menjadi salah satu destinasi wisata yang sangat menarik terutama bagi para pemuda di Tulungagung.

kadang kala karena kesamaan nama dengan goa di Kediri , banyak orang goa yang dimaksud adalah Goa selomangleng kediri padahal kita juga punya goa yang sama cuma bedanya Goa di tulungagung perlu lebih di kenalkan saja.
Berikut adalah informasi yang kami dapat,silahkan dijadikan referensi destinasi wisata jika mampir ke Tulungagung.


 Kompleks Goa Selomangleng yang menempati areal kehutanan di lingkungan BKPH Kalidawir, atau tepatnya di Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, merupakan lereng Jurang Sanggrahan yang cukup terjal. Berbatasan dengan kebun milik penduduk, kompleks ini dapat dibedakan atas dua bagian, yakni bagian yang sekarang agak datar yang berada di bagian bawah, serta bagian yang terjal di bagian atas.
 Di bagian pertama itulah terdapat dua buah goa, sedangkan sebuah candi terdapat di bagian kedua. Ketiga kekunoan tersebut merupakan hasil pengerjaan pada bongkahan batu besar, memenuhi hampir seluruh sisa bagian atas batu.

    Goa pertama berada di bagian tanah yang relatif datar, merupakan hasil pengerukan terhadap sebuah bongkah batu besar (monolit) dengan bentuk mulut persegi empat sebanyak dua buah. Gua pertama dihiasi dengan relief, sedangkan goa kedua tidak memilki relief. Lahan yang ditempati bongkahan batu bergoa tersebut meliputi areal seluas 29,5 m x 26 m.
   Ukuran bagian dalam goa pertama adalah: panjang 360 cm, lebar 175 cm, dan dalam ceruk 380 cm. Mulut goa mengahadap ke arah arah barat. 
Relief dipahatkan pada panel di dinding sisi timur dan utara.


 Banyak sekali terdapat Relief yang terpahat di dinding Goa yang menjelaskan tentang cerita kuno pewayangan jaman dulu.

 Hiasan itu menggambarkan bagian dari cerita Arjunawiwaha, yakni ketika Indra memerintahkan bidadarinya untuk menggoda Arjuna di Gunung Indrakila.
Digambarkan pula adegan ketika bidadari menuruni awan dari kahyangan ke bumi. Gua kedua terletak di bagian selatan dari goa pertama, pada bongkah yang sama, tetapi pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan goa pertama. Goa yang di bagian selatan ini menghadap ke selatan dan tidak memiliki hiasan apapun di dalamnya. Ukurannya panjang 360 cm dan lebar 200 cm

Beberapa meter di sebelah timur goa tersebut, pada tempat yang lebih tinggi terdapat bongkahan batu yang dipahatkan kaki dan batur candi berdenah persegi empat dengan ukuran panjang 490 cm dan lebar 475 cm. Dinding batur candi tersebut dihiasi palang Yunani berbingkai bujursangkar.


  Banyak hal unik yang tergambar dari relief itu dan masih belum diketahui apa hubungan satu sama lain nya.

Diduga kuat kalau situs  tersebut dibuat dan digunakan pada akhir abad X. Sebaliknya, berdasarkan cara pemahatan dan penataan rambut tokoh-tokohnya, Satyawati Suleiman, berpendapat bahwa goa tersebut berasal dari masa awal Majapahit.


 Untuk mengetahui lebih mendalam tidak ada salahnya bagi anda pecinta seni dan budaya serta sejarah untuk mampir melihat sekaligus berwisata ke Goa selomangleng Di Tulungagung ini.
banyak sekali hal positif yang dapat kita peroleh dari wisata di Goa ini.
05 May 2014
Peninggalan Majapahit di Kota Kediri Masih Angker
Radio ANDIKA - Kediri - Jatim - Sumur Peninggalan Majapahit yang cukup angker ditempat ini, Hari tertentu Ada Dewi Berpakaian Putih keluar dari Sumur, Tak jauh dari Sumur berdiri megah Hotel Bismo, di Alun Alun berdiri Patung Pahlawan Kemerdekaan Bismo. Seberang hotel ada Mal/Pusat Perbelanjaan Baru saja diresmikan, jadi Alun Alun sudah bukan Lapangan tapi seperti Taman saja, dimana Malam hari tempat berjualan serba ada dari sate Bekicot sampai Kambing dan sebagainya.

Tapi Kesakralan masih menghantui tempat ini, banyak para Spiritualis Meditasi, Semedi ditempat ini mencari Wangsit. Disinilah tempat tinggal Brahmaraja XI bila berada di Kediri, yaitu di Hotel Bismo dimana Beliau masih dipanggil Sang Prabu. Hotel Bismo milik cucu Tan Koen Swie Pahlawan Budaya dan bukunya diakui sebagai ‘SEJARAH KOTA KADIRI” yang diakui baik masyarakat maupun Pemerintah Kota Kediri Jawa Timur, Buku itu dilarang dibaca diera Orde Baru 1966-2000′. Yang berisi Ramalan Sabdopalon. Pada 2003 disinilah dipusatkan Ngeruwat Kota Kediri oleh Hyang Bhatoro Agung Suryo Wilatikto, acara pertama kalinya sejak 500 tahun Keruntuhan Majapahit [berita terdahulu] di Kadiri banyak Kerabat Hyang Suryo, bahkan Leluhurnya disarekan di Gunung Kelotok.

Peninggalan Sejarah Kota Kadiri sangat sesuai dengan Buku Tan Koen Swie karena bisa dilihat dengan mata telanjang bukan gaib, contoh Patung Totok Kerot/Durga yang di Kepruk Sunan Bonang kini berdiri Tegak dengan bahu kanan sempal/putus kena hantaman/Kepruk’an Sunan Bonang sang Wali yang anti Berhala/Musrik/Tohut/Patung. Desa Gedah yang dikutuk pun masih ada, Bahkan Pada Hari jadi Kota Kadiri (23/3/2002) ketika Brahmaraja XI lagi di Hotel Bismo ‘Ono Suworo Tanpo Rupo” suara tanpa ada Orang berbunyi “Nyang ngo Selomangleng” ber ulang-ulang.

Brahmaraja XI yang biasa dipanggil Eyang Suryo pergi mengikuti suara tadi ke Selomangleng yaitu Guwa Pertapaan Dewi Kilisuci, ternyata sampai disana bertemu seorang Pertapa, "lha, Kowe wis tak enteni ngger, ontong kupingmu apik iso nrimo wisik” Kamu sudah saya tunggu nak, untung telingamu bagus bisa mendengar suara niskala gaib, terjemahannya.

Kejadian Pertemuan justru Pura Majapahit Trowulan Lagi gawat di serbu dan diancam Bom Karyono dan sudah di tutup di larang kegiatan Hingga Hyang Suryo bisa keluyuran Sowan Leluhur. Karena di Trowulan ditutup itulah Hyang Suryo sering di Kediri atau di Surabaya kemudian Bali. Tulisan Sang Pertapa kini tertempel di Pusat Informasi Pura Ibu Majapahit sebagai bukti ilmiah, Ditambahkan 15-3 2002 Hyang Suryo dilantik sebagai Ketua IX Budaya Sepiritua Asli Nusantara untuk mengurusi Keluarga Mojopait Oleh Prof. DR. RM Wisnuwardhana Suryadiningrat di pendopo Agung Manunggale Kawula Lan Gusti Keraton Suryadiningrat Jogjakarta, kemudian diteruskan Wayangan di Alun Alun Suryodiningratan dengan Lakon ‘Turunnya Wahyu Mahkuto Ramo," sepulang dari Jogja masih mampir di Solo Gelar Budaya 2002 di Mangkunegaran, kemudian ke Kadiri bertemu pertapa (23/3/2003). dan (27/3/2003) juga tidak sengaja diminta Meruwat kota Kediri jawa Timur.

Selanjutnya Gelar “Budaya Pemersatu Bangsa” di Bali hingga terwujut Pura Ibu Majapahit Jimbaran untuk Melinggihkan Leluhur agar bisa tetap di Odali, dan Odalan Baru dilaksanakan (9/9/2009) yang lalu dengan sukses, dan masih banyak informasi aneh tapi ditunjang bukti ilmiah, seperti Mahkota Mjapahit, nantikan informasi selanjutnya. Lebih jauh dijelaskan bahwa Buku Tan Koen Swie, Sejarah Kota Kadiri baru didapat Awal 2009, dimana saat ada Pernikahan salah satu Cicit Tan Koen Swie Undangan Pernikahan dilampiri Sejarah Kadiri karangan Tan Koen Swie buku ini dikirim Pura Ibu awal 2009 setelah di Sah kan menjadi Buku Sejarah Kota Kediri, Juga Mangku GRP. Nokoprawiro membawa Copy Negarakertagama awal 2009 setelah Hyang Suryo meresmikan Candi Gajahmada di Kertosono yang dipugar Yayasan Negarakertagama, yang disebutkan oleh Ketua Yayasan Bpk. Harmoko penterjemahan belum selesai tuntas, sebagian Lontar ada yang terbakar. Ternyata setelah di cocok kan ada kemiripan Tokoh yang disebut dalam buku Tan Koen Swie tentang Buta Locaya.

Soal nama Sokro ini pernah pada 1968 di Trowulan ketika Melepas Djaini Putra Bpk. Saguh Jurukunci Makam Pendopo Agung, bertemu seorang Pertapa dari Gunung Semeru yaitu Mbah Tjokro juga memangil Eyang Suryo Dik Sokro, ada 2X Orang memanggil Eyang Suryo Sokro/Sakra. Bakan sebuah Foto Kuna 1968 Eyang Suryo pakai Blangkon tercantum nama SOKRO menghormati Mbah/Rama/Eyang Tjokro/Cokro yang memanggil Sokro untuk Eyang Suryo.b Jadi selama ini yang menyebut Eyang Suryo dengan panggilan Sokro 2 Orang yaitu Eyang Semeru dan Eyang Kadiri.
25 April 2014
Pohon Misteri di Desa Joho Kabupaten Kediri
Radio ANDIKA - Kediri - Jatim - Banyak cerita misteri ketika pohon Bulu di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Dusun Joho, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri roboh kemudian berdiri kembali. Diantaranya dialami oleh penggergaji pohon ratusan tahun itu. Saat itu Roni bermimpi didatangi oleh seorang pria tua berjenggot. Dia mengenakan pakaian serba putih. Pria itu berkata, Le, saya mau kembali lagi,” ujar Roni warga setempat menirukan cerita tukang gergaji kayu.

Tukang gergaji pohon Bulu di Makam Joho terdiri empat orang. Mereka berasal dari daerah Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Keempatnya sengaja dipanggil oleh pengurus makam untuk menggerganji pohon yang tumbang.

Selama menggerjaji, keempatnya mengaku, sering mengalami hal-hal ganjil. Diantaranya, mesin gergaji kerap macet, dan mata gergajinya putus. Selain itu, ada salah seorang tukang gerganji yang tiba-tiba terlempar dan terjatuh hingga merintih kesakitan. Para penggergaji kini merasa ketakutan. Sebab, kayu dari Pohon Bulu sudah dipotong-potong dan dijual. Masyarakat sekitar berniat menggunakan hasil penjualan kayu senilai Rp 2,5 juta untuk memperbaiki kerusakan pagar di sekeliling makam akibat tertimpa pohon.

Pengalaman misteri lainnya dialami oleh Zaenuri, warga setempat yang kini tinggal di Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Malam hari setelah pohon Bulu tumbang, dia mengaku, tidak dapat tidur. Pikirannya terus tertuju ke pohon Bulu. “Makam bapak saya Kasmuji dan kerabat saya pak Mujito ikut terangkat bersama robohnya Pohon Bulu. Kerangkanya terangkat oleh akar pohon. Saya tidak tidur. Di rumah rasanya panas sekali. Entah kenapa pikiran saya terus tertuju ke pohon itu,” kenang Zaenuri. Pohon Bulu yang roboh akibat tersapu angin kini kembali berdiri kokoh. Masyarakat sekitar menganggap kejadian itu sangat aneh. Sejak pohon itu berdiri, makam Desa Joho tidak pernah lengang. Banyak masyarakat berdatangan.

Bukan hanya dari warga setempat, tetapi masyarakat yang hendak pergi ke Monumen Simpang Lima (SLG) Kediri berbelok tujuan. Maklum, lokasi makam tidak terpaut jauh dari monumen Simpang Lima Gumul. Selain itu, para pelajar yang masih mengenakan pakaian juga datang untuk melihat.

Masyarakat setempat membuka lahan parkir baru di sekitar makam. Namun, mereka tidak memasang tarif parkir. Masyarakat hanya menyediakan kaleng yang ditaruh ditepi jalan. Sehingga pendatang mengisi kotak dengan sesuka hatinya.
22 April 2014
Kediri Stoomtram Maatschappij
Radio ANDIKA - Kediri - Jatim Rekan - rekan pasti sudah mengenal dengan jalur mati Kediri-Pare-Jombang. Jalur yang mulai ditutup pada tahun 1981 ini adalah milik Kediri Stootram Maatschapphij (KSM). Sampai sekarang bekas jalur dan bekas insfrastruktur masih dapat ditelusur dg jelas. Jalur Kediri-Pare-Jombang dibangun tepat di sebelah jalan raya Kediri-Pare-Jombang, dan mungkin inilah salah satu penyebab matinya jalur ini, seperti matinya jalur - jalur pinggir jalan lainnya.

Akan tetapi selain jalur Kediri-Pare-Jombang ada banyak jalur mati lain milik KSM yang pernah dibangun di daerah Kediri. Anehnya tidak selain jalur KD-PE-JG jalur - jalur mati lain milik KSM seakan-akan benar-benar sudah hilang ditelan bumi.
 
Meliputi jalur:
 
- Pesantren-Wates
- Papar-Bogo-Pare
- Gurah-Brenggolo-Kawarasan dan Djengkol
- Pare-Kepung
- Pare-Kencong
- Puluredjo-Kandangan

Oleh sebab banyak sekali jalur di dareah Kediri yg masih menjadi misteri.
11 April 2014
Gua Tabuhan di pacitan yang mempesona
Gua Tabuhan merupakan salah satu gua yang memiliki keunikan tersendiri. Gua Tabuhan diambil dari bahasa jawa tabuhan yang mempunya arti alat musik yang dimainkan. Debur ombak atau kicauan burung merupakan musik alam yang sangat khas. Akan tetapi, di Gua Tabuhan, Anda akan mendengar alunan musik gamelan Jawa dari stalaktit dan stalagmit yang dimainkan para seniman. Letaknya berada di Dusun Tabuhan, Desa Wereng, Kecamatan Punung, Pacitan, dan berjarak sekitar 40 km dari Kota Pacitan.

Berjalan lebih ke dalam, Anda dapat melihat keindahan serta keajaiban Gua Tabuhan. Di sanalah para seniman memainkan alunan musik gamelan Jawa. Tidak dengan gendang atau alat musik lainnya, tapi dengan memukul dan memainkan stalaktit dan stalagmit! Sungguh ajaib. Para seniman begitu syahdu memainkan stalaktit dan stalagmit yang seolah alat musik tersebut. Irama musik khas gamelan Jawa pun akan menambah rasa kagum Anda terhadap musik yang berasal dari alam.
 
Begitu masuk kedalam Gua Tabuhan, Anda harus melewati beberapa puluh anak tangga dan memasuki lubang gua yang besar. Sebelum masuk, sebaiknya Anda membaca peta dan sejarah gua ini di depan pintu masuknya. Anda juga bisa menyewa beberapa pemandu. Suasana yang gelap, licin dan lembab akan Anda rasakan seketika memasuki gua tersebut. Stalaktit dan stalagmitnya menghiasi Gua Tabuhan. Jalannya pun cukup licin, maka berhati-hatilah. Akan tetapi, di sana terdapat tiang dan juga cahaya penerangan yang memadai.
05 April 2014
Kayangan Api, adalah Sumber Api Abadi Yang Tidak Pernah Padam Di Bojonegoro
Kayangan Api atau Kahyangan api  Kayangan api adalah sumber api abadi atau api yang tidak pernah padam. Api keluar dari dalam perut bumi terus menerus. Kayangan api terletak di kawasan hutan di Desa Sendangharjo Kecamatan Ngasem Bojonegoro Jawa Timur. Sebuah desa yang memiliki kawasan hutan kurang lebih 42,29% dari luas desa. Tempat itu dapat ditempuh dengan jarak 25 Km dari arah kota Bojonegoro.

Menurut cerita kayangan api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah pandhe berasal dari kerajaan Majapahit. Mbah Pandhe ahli membuat alat-alat pusaka seperti keris, tombak, cudrik dan lain-lain. Sumber api tersebut masih dianggap keramat oleh masyarakat setempat. Api hanya boleh diambil pada saat-saat tertentu, seperti yang sudah-sudah, misalnya, upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengku Buwono X, untuk pembukaan Pekan Olahraga Nasional (PON) dan upacara-upacara yang dianggap sakral.

Selain tempat wisata kayangan api juga sebagai tempat berobat, disamping sumber api terdapat sumber mata air yang kelihatan panas jika dilihat tapi dingin jika disentuh, air tersebut disebut Air Blekuthuk, baunya khas yaitu bau belerang yang memiliki khasiat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Menurut juru kunci, telah banyak yang sembuh penyakitnya setelah berendam di air tersebut. Air Blekuthuk ini dulunya untuk mencuci dan merendam keris yang dibuat oleh Mbah Pandhe. Bahkan oleh masyarakat sekitar maupun pengunjung lokasi tersebut, air Blekuthuk tersebut dianggap membawa berkah, karena selain dapat mengobati penyakit juga dianggap dapat membawa keberuntungan bagi mereka yang datang.

Lokasi kayangan api sangat baik untuk kegiatan sebagai lokasi wisata alam bebas(outbound). Dan pada hari-hari tertentu terutama pada hari Jum’at Pahing banyak orang berdatangan di lokasi tersebut untuk maksud tertentu seperti agar usahanya lancar, dapat jodoh, mendapat kedudukan bahkan ada yang ingin mendapat pusaka. Acara tradisional masyarakat yang dilaksanakan adalah Nyadranan (bersih desa) sebagai perwujudan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Pengembangan wisata alam Kayangan Api diarahkan pada peningkatan prasarana dan sarana transportasi, telekomunikasi dan akomodasi yang memadai. wisatapanorama.
29 March 2014
Alun Alun Tulungagung, Taman Kota Yang Unik Dan Menarik

Taman Kusuma wicitra atau Alun-alun Tulungagung yang terletak di Jalan RA Kartini difungsikan sebagai paru-paru kota dan ruang terbuka hijau. Selain itu, juga dijadikan sebagai wahana rekreasi untuk anak-anak dan orang tua yang dilengkapi dengan peralatan permainan yang memanjakan anak-anak untuk bermain.

Selain arena bermain out boad, beberapa fasilitas olah raga ringan, taman air mancur dengan berbagai ikan, alun-alun ini juga dihuni oleh ratusan burung merpati yang dapat membuat pengunjung semakin betah tinggal di tempat yang sejuk tersebut.

Kebersihan alun-alun Tulungagung mendapat pengakuan dari berbagai kalangan bahkan Pemerintah Pusat memberikan apresiasi dengan ditetapkannya Tulungagung sebagai kota Adipura. Sudah enam kali berturut-turut Tulungagung mendapatkan piala Adipura.

Alun-alun Tulungagung dijamin bersih dan indah, karena setiap saat para petugas kebersihan dari Dinas PU BMCK melakukan penyiraman pada tanaman dan menyapu Taman Kusuma Wicitra serta merawat dan menjaga keasriannya.

06 March 2014
Anak anak korban erupsi Gunung Kelud tetap tersenyum
Meskipun sekolah anak anak korban erupsi Gunung Kelud mengalami kerusakan, dan belum bisa digunakan untuk proses belajar mengajar, namun anak anak ini masih tetap terlihat tersenyum. Buku buku pelajaran,  sepatu, bahkan seragam sekolah milik mereka telah rusak terkena abu vulkanik, pasir dan air hujan. Sehingga, banyak siswa yang harus menggunaka sandal jepit untuk sekolah. Bahkan, buku buku sekolah sudah tidak dapat digunakan lagi. Radio ANDIKA, memberikan buku tulis dari pendengar Radio ANDIKA, untuk digunakan siswa sekolah, agar prosesbelajar mengajar tetap berjalan. Dengan rasa haru, semua siswa senang dan tetap tersenyum, meski gunung kelud, telah memporak porandakan harapan para siswa. Hanya senyuman itu, yang bisa membangkitkan semangat semua adik adik untuk tetap belajar.
27 February 2014
Perjuangan seorang nenek
Sebuah perjuangan seorang nenek saat mengambil air bersih di Desa Kebonrejo Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri. Nenek tersebut, berjuang mengambil air bersih dari tempat penampungan air bersih yang telah disediakan oleh Kementrian Pekerjaan Umum. Dengan jalanan yang menanjak, nenek ini dengan kuat mengangkat jerigen yang berisi air sebanyak 10 liter. Padahal, jarak antara penampungan air bersih dengan rumahnya, sekitar 100 meter. 
15 February 2014
Bersih bersih Abu Kelud Warga membersihkan atap rumah mereka yang tertutup abu vulkanik letusan Gunung Kelud di desa Ngancar Kabupaten Kediri. Mereka khawatir lapisan debu tebal dapat merusak dan merubuhkan atap rumah.(Fully Syafi)
Page 2 of 2      < 1 2