Teropong

02 August 2010

EXPEDISI PARIJOTONama Air Terjun Parijoto, mendadak terkenal. Belum genap setahun ditemukan oleh warga yang sedang berladang di hutan, keindahan alam Air Terjun Parijoto langsung terkenal di seantero Kediri Raya. Air terjun yang berada di puncak ketinggian lereng selatan Gunung Wilis tersebut, konon menyimpan sejuta misteri yang belum terpecahkan.

Ironisnya, meskipun nama Parijoto sudah sangat akrab dengan telinga masyarakat, ternyata tidak banyak orang yang sudah menikmati keindahan air terjun Parijoto. Jangankan mandi dan berendam di kolam batu raksasa di bawah air terjun, yang melihat saja belum banyak. Maklum, lokasi air terjun Parijoto memang tidak mudah dicapai, karena medan yang sangat sulit.

 

Dibutuhkan keberanian dan kenekatan luar biasa untuk mencapai lokasi, yang dipenuhi dengan hutan bambu dan semak belukar. Belum lagi, masih banyak binatang liar berkeliaran, yang bisa membuat orang celaka. Sabtu (31/8) pagi, tim ekspedisi ANDIKA, yang beranggotakan kru Radio ANDIKA Kediri, mencoba mencapai lokasi Air Terjun Parijoto. Bukan hanya sekadar hobi, keinginan kuat untuk bisa menyaksikan keindahan Air Terjun Parijoto, membuat semangat tim ekspedisi ANDIKA membara untuk sampai di lokasi.

 

Air Terjun Parijoto, berada di lereng selatan Gunung Wilis, berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Kediri. Lokasinya berada di areal Perhutani, tepatnya di Dusun Tumpakdoro, Desa Pamongan Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri. Dari Kota Kediri, bisa dicapai dengan mobil maupun sepeda motor. Namun, mobil dan sepeda motor hanya bisa sampai di ujung Dusun Tumpakdoro, selebihnya harus mengandalkan kekuatan kaki dan stamina yang prima.

 

TIGA MOBILTim ekspedisi ANDIKA, yang berjumlah 18 orang, menggunakan 3 mobil adventure untuk menuju Air Terjun Tumpakdoro. Mobil harus tertahan di Tumpakdoro, karena kondisi jalur yang sempit, berupa jalan setepak. Kondisinya juga becek, karena malam sebelumnya, hujan turun cukup deras.

 

Terus terang, hati saya sempat ciut juga, ketika mendengar sulitnya jalur menuju kawasan Air Terjun Parijoto. Seminggu sebelumnya, saya sudah mendengar cerita langsung dari Kabag Humas Pemkab Kediri, Pak Eko Setyono, yang baru saja menembus keganasan hutan Pamongan, untuk mencapai Air Terjun Parijoto. Namun sebagai pimpinan tim ekspedisi, saya tidak boleh menampakkan sedikitpun raut kekhawatiran di wajah saya. Harus tetap optimis.

 

Termasuk, ketika menata perbekalan di Dusun Tumpakdoro, saya mendengar beberapa pemuda setempat berbisik bisik. Sempat terdengar sindiran, atau peringatan, “apa ya mungkin, perempuan-perempuan cantik ini bisa sampek di lokasi?, kata seorang pemuda pada temannya sambil tertawa cekikikan. Pelecehan, piker saya.

 

Gianto, anggota ekspedisi, juga sempat bertanya pada warga, berapa jarak ke air terjun Parijoto. Warga tersebut sempat menjawab sekitar 6 kilometer. Refleks, saya injak kaki Gianto, dengan maksud agar tidak sampai terdengar teman teman anggota ekpedisi ANDIKA. Saya tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika mereka sampai mendengar jarak 6 kilometer yang harus mereka tempuh. Pasti banyak anggota ekpedisi ANDIKA, yang sebagian besar perempuan, mengundurkan diri. Atau, tetap berangkat, meski hatinya sudah ciut. Maklum, sebagian anggota ekspedisi biasa hidup enak, di ruang ber AC. Tidak terbiasa dengan kehidupan sulit.

 

KE PARIJOTOPadahal, ekpedisi menuju air terjun Parijoto ini merupakan prestise tersendiri. Bupati Kediri, Sutrisno, sempat menantang agar teman teman media massa, berani melakukan liputan khusus ke Air Terjun Parijoto. Namun hingga kini, sebagai pengurus PWI Kediri, saya belum pernah mendengar ada wartawan yang datang langsung ke lokasi. Padahal, beritanya sudah sangat gencar. Saya merasa itu tantangan. Sebagai media terkemuka, saya ingin Radio ANDIKA FM berada langsung di lokasi. Tidak hanya liputan, tapi membawa rombongan tim ekspedisi. Karena itu, meski hati saya juga sempat ciut, saya tetap berusaha membangkitkan semangan teman teman.

 

Untuk memandu perjalanan, kami ditemani dua warga Pamongan, Pak Suryono dan Sukardi. Mereka bertugas memandu rute, dan membantu mengangkut perbekalan. Semula, saya sempat under estimate terhadap mereka. Maklum, posturnya kecil, dan sudah tua. Tapi pikiran jelek saya langsung runtuh, ketika melihat langkah kaki Pak Sukardi dan Suryono terasa ringan, bahkan seakan mengajak berlari saja. Tidak terlihat capek atau beban sama sekali. Pakai ramuan apa ya….

 

Dari tempat pemberhentian, perjalanan panjang dilanjutkan dengan berjalan kaki. Semula, jalur tanah terasa nyaman. Pemandangan Kanan kiri juga tampak sangat hijau oleh tumbahan jagung dan pohon mahoni. Bahkan, Aida, Soli, Fuad, dan anggota tim, terlihat “narsis”, sibuk menyalurkan hobi berfoto ria di sepanjang jalan. Tidak peduli momen apapun difoto.

 

ISTIRAHAT DULUDua kilometer perjalanan kaki, tenaga mulai terkuras, karena jalur mendaki cukup tajam. Beberapa anggota tim, mulai ngos ngosan. Rombongan sempat beristirahat untuk sarapan pagi, di sebuah jembatan darurat, yang baru sebulan dibangun dengan konstruksi kayu dan urukan tanah lembek.

 

Perjalanan selanjutnya, benar benar menyita tenaga dan perhatian ekstra. Jalur setapak yang baru dibuka warga, berubah menjadi kubangan lumpur, karena siraman air hujan. Untuk melaluinya, anggota tim harus berpegangan tangan. Maklum, licin dan berbahay, karena dekat dengan jurang. Tidak terlihat lagi, gurauan teman teman, karena sibuk menaklukkan jalanan. Namun saya tidak sempat memperhatikan, saat itu apa masih ada yang sempat berfoto ria. Feeling saya kok tidak ada.

 

AMEL KRAMMemasuki 4 kilometer perjalanan, korban mulai jatuh. Amalia Rosyadi, penyiar Citra ANDIKA, mendadak diserang kram di kaki. Amel, panggilan akrabnya, terjatuh. Untung ada Fuad yang langsung mengamankan, agar terhindar dari jurang yang menganga di bawahnya. Tangisannya langsung terdengar keras memecah keheningan hutan, ketika jempol kakinya ditarik Fuad.

 

 

ANTOK KRAMKram kaki juga menyerang Anto kristian, reporter ANDIKA FM. Beberapa anggota tim juga sempat terpeleset dan terjatuh, seperti Vina, Hadi, Diki, Ita, Tita dan Agus. Semangat mulai menurun. Keluhan mulai bermunculan. Saya sadar, saya harus menyuntikkan optimisme, agar teman teman tetap semangat. Pada anggota tim, lewat HT saya sampaikan, perjalanan hanya tinggal 500 meter. Bahkan, suara air terjun sudah terdengar. Tentu saja, itu hanya hayalan saya saja, untuk menyemangati teman teman. Sebenarnya, saya sendiri tidak tahu, berapa lama lagi, air terjun bisa kami capai.

 

RUTE SESATRute paling “sesat” kami temui, pada kilometer 5. Kenapa saya sebut rute “sesat”, karena rute itu baru dibuat warga. Pak Sukardi bilang, baru dibuat seminggu lalu. Kadang kami harus merambat, kadang harus berjongkok atau bahkan merayap, untuk menghindari curamnya jalan, dan rindangnya semak belukar. Resikonya, baju, celana, tas, semua penuh lumpur. Sepatu juga sudah gak keliatan bentuknya. Wajkah cantik teman teman perempuan, sudah hilang. Bahkan sebagian tampak pucat. Takut dan capek menjadi satu.  Disini juga kami temui berbagai binatang aneh, seperti siput dengan rumah bulat, lintah, serta binatang kecil sejenis ulat.

 

PEMANDANGAN INDAHPemandangan indah baru saya dapatkan, ketika dari ketinggian 30 meter, kami melihat air yang mengalir dari atas bukit. Gemericik air terdengar cukup keras, diringi dengan tarian air yang membentuk piramida. Indah sekali. Subhanallah. Lambaian air yang memantul diantara bebatuan cadas, sebelum sampai di bawah, menampilkan orchestra alam yang menakjubkan.

Stamina yang terkuras langsung berenergi kembali. Seperti HP baru dicarger. Umpatan dan gerutuan berbuah ungkapan syukur. Menyaksikan keindahan alam air terjun Parijoto, membuat semangat teman teman bangkit kembali. Karena posisi tim terpisah jarak, kami saling menmgambarkan keindahan Parijoto lewat HT, diringi dengan sorak sorai.

 

MENCEBURKAN DIRITidak ada ekspresi yang ditunjukkan teman teman, kecuali secepatnya berlari, kemudian menceburkan diri ke kolam besar batu cadas, yang barada di bawah guyuran air terjun Parijoto. Airnya sangat dingin karena berada di puncak gunung. Kami berlomba untuk mengeksplorasi kenikmatan yang ada di parijoto. Mandi, terjun bebas, saling semprot air, menjadi pemandangan yang tidak biasa. Mungkin karena selama ini, kami terlalu disibukkan rutinitas pekerjaan di Radio ANDIKA FM Kediri.

Dua jam kami menikmati keindahan alam Parijoto. Selepas itu, perjalanan pulang terasa`lebih ringan. Tita, Vinas, Ita, Amel, Aida dan Inok, anggota perempuan yang saat berangkat terus mengeluh, kali ini lebih banyak diam. Saya tidak tahu persis, apakah mereka diam karena puas, capek atau sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengeluh.

 

Anggota tim ekspedisi yang laki laki, relatif tidak ada masalah. Rudi, yang sempat saya prediksi tidak kuat, malah nyampek lebih dulu, bersama Diki dan Soli. Pak Jupri, security kami, bahkan lebih cepat lagi larinya. Semua menampakkan raut wajah puas bisa menaklukkan hutan lereng Gunung Wilis dan menembus air terjun Parijoto.

 

Yang membuat kami bangga, pamandu kami, Pak Suryono dan Pak Sukardi bilang, sepanjang sejarah baru ada 3 rombongan yang bisa sampai di Air Terjun Parijoto. Pertama, rombongan Kecamatan Mojo. Kedua, rombongan dari Humas Pemkab Kediri. Dan ketiga, rombongan tim ekspedisi Radio ANDIKA FM Kediri.

Selamat ya. Berikutnya kemana lagi ya…………….. (Rofik Huda)

14 July 2010

jaranan1Jaranan, merupakan salah satu tarian tradisional khas Kediri. Selain sebagai hiburan, seni jaranan juga dikenal sebagai alat pemersatu masyarakat di Kediri. Meski berupa tarian, Jaranan memiliki ciri tersendiri, baik dari tarian, pakaian yang dikenakan, serta irama yang mengiringinya. Kesenian Jaranan asli Kediri, biasa diiringi dengan berbagai alat musik, seperti gamelan, gong, kendang, kenong. Sedangkan, dilihat dari tariannya, ada 2 macam tarian yang digunakan, yaitu tarian pegon atau jawa, dan tarian senterewe yakni gabungan antara tarian jawa dengan tarian kreasi baru.

Agus Suryanto, Ketua Pembina Kesenian Jaranan Turonggo Putro Bismo, yang berada di Kelurahan Kampungdalem Kota Kediri menuturkan, Jaranan, sebenarnya menggambarkan cerita masa lalu, ketika Raja Bantar Angin, seorang raja dari Ponorogo bermaksud melamar Dewi Songgolangit, putri cantik dari kerajaan Kediri, atau yang biasa disebut juga dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Konon menurut cerita, karena wajahnya jelek, Raja Bantar Angin akhirnya menyuruh Patihnya, yang bernama Pujangga Anom, seorang patih yang dikenal sangat tampan. Agar Dewi Sekartaji tidak tertarik dengan Patih Pujangga Anom, Raja Bantar Angin memintanya memakai sebuah topeng buruk rupa. Lalu Patih Pujangga Anom, datang ke kerajaan Kediri, menyampaikan maksud rajanya. Putri Sekartaji, yang mengetahui Patih Pujangga Anom mengenakan topeng, merasa tersinggung, lalu menyumpahi agar topeng tersebut, tidak bisa dilepas seumur hidup. Raja Bantarangin, akhirnya datang sendiri ke Kerajaan Kediri. Sebagai gantinya, Dewi Songgolangit meminta 3 persyaratan. Jika Raja Bantarangin bisa memenuhi, dirinya bersedia diperistri. Tiga syarat tersebut, binatang berkepala dua, 100 pasukan berkuda warna putih, dan alat musik yang bisa berbunyi jika dipukul bersamaan. Sayangnya, Raja Bantarangin, hanya bisa memenuhi 2 dari 3 persyaratan tersebut, 100 kuda warna putih yang digambarkan dengan kuda lumping, alat musik yang bisa dipukul bersamaan yakni gamelan. Sehingga, terjadi pertempuran diantara keduanya. Kerajaan Kediri, datang dengan membawa pasukan berkuda, yang kini digambarkan sebagai jaranan, sementara Kerajaan Ponorogo membawa pasukan, yang kini digambarkan sebagai kesenian Reog Ponorogo.

 

Diperjalanan, terjadi pertempuran. Raja Ponorogo yang marah, membabat macan putih yang ditunggani patih kerajaan Kediri, dengan cambuk samandiman, hingga akhirnya melayang ke kepala salah satu kesatria dari Ponorogo. Bersamaan dengan kejadian tersebut, seekor burung merak, kemudian juga menempel dikepala kesatria tersebut, sehingga ada kepala manusia yang ditempeli kepala macan putih dan merak, ini yang sekarang disimbolkan reog Ponorogo. Bahkan, dalam tarian reog, semua penari juga membawa cambuk. Sementara dalam kesenian jaranan, menggambarkan pasukan berkuda Dewi Sekartaji yang hendak melawan Raja Ponorogo. Barongan, Celeng dan atribut didalamnya, sebagai simbol, selama dalam perjalanan menuju Ponorogo yang melewati hutan belantara, pasukan juga dihadang berbagai hal, seperti naga, dan hewan hewan liar lainnya.

 

jaranan2Sementara, terkait dengan munculnya makhluk halus yang konon selalu merasuki tubuh penari, dalam pertunjukan jaranan, menurut Hariadi pawang seni tradisional Jaranan Kelurahan Kampung Dalem, itu hanya ada di Kediri. Biasanya, kalau sudah menyatu dengan jaranan, pemain yang kerasukan mahkluk halus, agak sulit disadarkan.

 

Mereka, akan meminta berbagai macam makanan, seperti kemenyan, madu, dan candu. Tak jarang, ada juga yang meminta ubi, jagung, ayam, hingga kambing yang masih terdapat darahnya. Konon, ketika tubuh pemain sedang dimasuki makhluk halus, kemudian ada penonton yang mengeluarkan bunyi peluit, maka pemain tersebut akan marah dan mencari orang yang mengeluarkan suara.

 

Kini, kesenian tradisional Jaranan, sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat, seiring perkembangan jaman. Meski begitu, masih banyak segelintir masyarakat, yang berusaha mempertahankan, agar tidak punah. Salah satunya kesenian tradisonal jaranan yang bernama Turonggo Putro Bismo, yang berada di Kelurahan Kampung Dalem Kecamatan Kota Kediri. Kesenian Tradisional Jaranan Turonggo Putro Bismo, yang didirikan pada 15 Februari 2010 tersebut, beranggotakan sekitar 50 orang, mulai anak anak usia 10 Tahun, hingga orang dewasa, baik wanita maupun laki laki. Menurut Hariadi, Kesenian jaranan, sebenarnya bukan hanya sekedar kesenian. Namun, disisi lain mempunyai arti dan pesan bagi kehidupan. Dimana, dalam kehidupan, manusia tidak boleh memiliki hati yang jahat. Tetapi harus mengutamakan budi pekerti yang baik, dan bisa menjaga kerukunan dengan sesama manusia. (Anto Kristian )

31 May 2010

PERGESERAN NILAI     Orang Jawa itu penuh kearifan dan kesantunan. Memiliki karakter dan psikologi yang berliku sehingga gampang merasa sungkan atau ewuh pakewuh. Kalau ngomong sopan dan halus, yang dipakai selalu alur piramida tegak, menyampaikan kenyataan dan alasan, baru maksud serta tujuan. Dalam situasi tertentu perilakunya seringkali dipaksakan agar selaras dengan tuntutan sosial.

     Kang Juki sahabat karibku pernah datang meminta dengan sangat dipinjami uang 250 ribu, katanya untuk mengembalikan tabungan Pak Haji Cokro. Lho, saya bingung, wong dia hanya pedagang keliling bukan pengurus koperasi atau pegawai bank. Tetapi ternyata yang dimaksud tabungan Pak Haji Cokro adalah amplop berisi uang 300 ribu yang diberikan waktu Kang Juki menikahkan Tias anak pertamanya. Sekarang Pak Haji Cokro ganti punya gawe mantu anak satu satunya.

 

     Saya lantas bilang, “Mbok ya ndak usah ngoyo, kalau hanya punya uang 50 ribu, ya itu saja diberikan”, lalu Kang Juki menjawab “Apa mukaku ini mau ditaruh di dengkul”.

 

     Inilah satu potret kearifan watak sosial masyarakat kita. Entah karena kebaikan atau ketakutan, yang pasti Kang Juki tidak mau melanggar undang undang yang tak tertulis yang berlaku di masyarakat. Baginya meski tidak ada transaksi hitam di atas putih tetapi konsekwensi jika melanggar sangat berat untuk diterima.

 

    Sebenarnya sikap Kang Juki yang memaksakan diri mengembalikan penuh tabungan Pak Haji Cokro kontraproduktif dengan tujuan menghadiri acara pernikahan. Kedatangan Kang Juki diharapkan untuk memberikan kesaksian dan doa restu pada kedua mempelai yang telah mengikat tali suci sebagai tanda awal menapak mahligai rumah tangga.

 

     Sedangkan amplop hanya sebagai simbol dan ubo rampe atau pelengkap. Tanpa amplop bukan berarti kesaksian dan doa restu tidak bisa diberikan. Substansinya bukan pada apa atau berapa yang ada dalam amplop tetapi kedalaman nilai yang menyertainya.  

 

     Tetapi jika sekarang yang berlaku di masyarakat adalah amplop lebih berharga daripada kesaksian dan doa restu, maka  bisa ditarik kesimpulan telah terjadi sebuah pergeseran nilai. Hal hal yang bersifat esensial dan maknawi harus tersingkir oleh sesuatu yang bersifat simbolistik dan perlambang.

 

     Pergeseran nilai yang saya maksud adalah manifestasi dari pola pikir yang pragmatis.  Punya gawe mantu berarti sama dengan punya proyek yang ukurannya tentu untung atau rugi. Orang tua dapuk (menjadi) pemimpin proyek menyiapkan modal sedangkan anak berperan sebagai pelaksana, menyebarkan undangan sebanyak banyaknya termasuk pada kenalan baru yang hanya sekali bertemu. Para kerabat diangkat menjadi mandor yang bertugas mengatur tetangga yang untuk sementara menjadi kuli sukarela.

 

     Bila dianggap sebuah proyek berarti sama dengan perusahaan. Yang namanya perusahaan tidak ada korelasinya dengan norma, etika, nilai, baik buruk, pantas atau saru. Perusahaan berjalan dalam skema laku atau tidak laku, surplus atau devisit, rating tinggi atau rendah. Jika yang bisa dijual dan menghasilkan keuntungan besar adalah resepsi pernikahan kenapa tidak.

 

     Prinsip ekonomi menjadi acuan pokok yang berarti bagaimana mengeluarkan biaya sekecil kecilnya untuk mendapat pemasukan yang sebesar besarnya. Suguhan atau hidangan dihapus dari daftar pengeluaran. Sebagai wujud berpikir ekonomis sudah jarang kita jumpai piring berjajar di atas meja berisi jenang, wajik, lemper, roti kacang, madumongso, krupuk dan jajanan lainnya. Para tamu undangan begitu datang langsung digiring antri mencicipi menu prasmanan dengan iringan musik electone yang tarifnya dihitung per jam.

 

     Sedemikian kuatnya pergeseran nilai sehingga si empunya gawe bukan hanya dituntut berpikir ekonomis tapi juga praktis. Sampai ada yang terang terangan memberi catatan dalam kertas undangan meski dalam gaya penghalusan atau eufemisme. contoh kata “Mohon tidak memberi kenang kenangan berupa barang”. Kalau ditegaskan sebenarnya mau ngomong “Sumbangannya uang saja”. Bayangkan, jika sang pengantin mendapat kado puluhan jam dinding, mungkin hanya akan ditumpuk di gudang untuk dikembalikan sebagai kado pula, sangat tidak praktis.

 

     Sekarang juga sudah jarang kita temui, setelah menghadiri pernikahan tamu undangan mendapat bingkisan beraneka jajanan yang bisa dibagikan pada 5 anaknya. Kebanyakan hanya satu warna dan satu rasa berupa kue kering atau makanan ringan yang dibungkus dalam sebuah mangkuk mungil. Kalaupun ada tambahan biasanya hanya berupa souvenir yang tidak lebih dari sebuah tanda pengingat.

 

     Pergeseran nilai yang sudah begitu kental dan kuat apakah merupakan keniscayaan dari semangat jiwa materialistis yang sudah mulai mengakar di masyarakat ?. Apakah perlu kita lestarikan atau kita ubah meski secara perlahan ?. Tolong bantu saya menjawabnya !. (Hadi Kusuma)

03 May 2010

 libertySaya sepakat dengan penilaian Dr Amin Rais salah satu tokoh intelektual terkemuka di Indonesia. Menurut beliau nasionalisme masyarakat kita mulai terkikis karena sudah tidak percaya diri sebab lebih tertarik menggunakan bahasa dan kosakata asing daripada bahasa sendiri.

Di media cetak maupun elektronik sering kita mendapati penggunaan bahasa asing terutama bahasa Inggris. Misalnya penggunaan kata overload, mengapa tidak memakai kata melebihi daya tampung. Satu lagi contoh, penggunaan kata download mengapa tidak digunakan kata unduh. Masih  banyak lagi kosakata asing yang kerap dipakai meski dalam Bahasa Indonesia terdapat kata yang sepadan. Bukan hanya dalam bidang informasi dan teknologi, dalam pergaulan keseharian masyarakat terutama anak muda kita, kosakata asing sudah biasa digunakan.

 

Saya mempunyai pengalaman pribadi terkait penggunaan bahasa yang menurut saya kurang atau lebih tepatnya tidak cocok ditrapkan dalam komunikasi keseharian. Seorang perempuan cantik teman baik saya dengan sedikit berkelakar menyapa dengan panggilan Babe yang berarti sayang. Bukan hanya sekali, seingat saya tiga kali atau mungkin lebih.

 

Karena janggal, tanpa mengurangi rasa hormat saya padanya, kuminta dia menyapa dengan menyebut langsung nama saya atau memakai sapaan yang lazim dia gunakan. Kecuali pada teman lain yang barangkali bisa menerima.

 

Bukan tanpa sebab kuminta demikian. Paling tidak ada dua alasan. Pertama, sapaan Babe jelas diadopsi dari budaya barat yang bagi saya kurang pas diterapkan dalam pergaualan sehari hari. Pasalnya sebagai warga Indonesia terutama orang Jawa kita mempunyai kata panggilan dan dialek tersendiri yang menurut saya lebih mencerminkan keakraban dan kesantunan, misalnya, Mas, Bang atau Cak. Jadi, mengapa justru bangga menggunakan bahasa asing meski tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian kita. Mengapa harus minder mengunakan bahasa sendiri.

 

Ini juga menjadi sebuah ironi dimana orang tua mayoritas tak peduli dan cuek meski anaknya berkomunikasi memakai bahasa yang sedikitpun tidak dimengerti oleh mereka. Tidak heran beberapa pakar sosiologi mengatakan saat ini kita dilanda krisis identitas. Karena diakui atau tidak kalangan anak muda menganggap penggunaan bahasa asing lebih bergengsi.

 

Alasan ke dua, merujuk pada budaya barat kata Babe berkonotasi negatif karena di sana digunakan untuk panggilan perempuan dewasa “nakal”. Selain itu juga biasa digunakan untuk sapaan bagi perempuan yang belum dikenal dengan tujuan menggoda.

Sampai di sini cukup jelas dan gamblang kekeliruan penggunaan kata Babe jika dialamatkan pada saya.

            Tetapi tidak secara otomatis teman perempuan yang menyapaku dengan Babe itu salah, karena saya yakin dia hanya ikut ikutan tanpa mengetahui esensi dan makna panggilan itu. Secara umum karakteristik masyarakat kita (anak muda) cenderung sedemikian lahap menyerap budaya asing tanpa lebih dulu memfilter apakah sesuai dengan kepribadian dan adat ketimuran.

 

             Banyak budaya negatif dari dunia barat yang begitu kuat melekat dalam pergaulan remaja sehingga dijadikan tradisi yang seakan akan wajib dilakoni. Salah satu contoh adalah perayaan Valentin’s Day setiap 14 Pebruari. Hari spesial  yang dinamakan hari kasih sayang itu justru kerap menjadi momentum penodaan kesucian. Berkedok cinta dan kasih sayang seorang lelaki dengan leluasa bisa mengumbar nafsu primitif yang tak terkendali. Dengan ungkapan cinta dan kasih sayang yang hina itu pihak perempuan tidak memperoleh apa - apa, kecuali sebuah hadiah berupa penyesalan dan masa depan yang suram.    

 

            Bukannya sok alim atau ingin dihargai. Tetapi saya lebih memandang dari sisi kepantasan dan kepatutan, meski penilaian perilaku masyarakat itu sendiri juga tergantung relativitas budaya. Saya juga tidak keberatan dikatakan kurang gaul. Karena bagi saya istilah gaul itu sendiri multi tafsir dan tergantung cara pandang dan dari sudut mana kita melihatnya.  Meski belum bisa sepenuhnya, semoga saya bisa menghindarkan diri dari perkataan yang sia sia dan tiada guna. (Hadi Kusuma)

Page 10 of 10     ‹ First  < 8 9 10