Teropong

07 October 2010

BAKSO MATA SAPI 2ANDIKA FM, KEDIRI - Bakso Mata Sapi, membaca sekilas tulisan tersebut, yang terbersit dalam pikiran kita tentu, bakso yang terbuat dari mata sapi. Padahal, itu hanya sebutan warung bakso milik Titik Harnawi, yang terletak di Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. Kalau mencari warung bakso di Kediri, memang tak sulit. Saat ini, banyak bertebaran warung warung bakso dengan berbagai bentuk layanan di Kediri. Namun, ada yang berbeda dengan bakso yang dijual di warung milik Titik. Selain ukurannya, sebesar mata sapi, kuah bakso yang disajikan tidak mengandung lemak, terasa segar, seperti kita makan sup. Sehingga, bagi warga masyarakat yang mempunyai kolesterol tinggi, tetap bisa mencicipi bakso mata sapi dengan aman, tidak perlu khawatir berpengaruh terhadap kesehatan.

 

BAKSO MATA SAPIDi warungnya, Titik menawarkan beragam porsi pilihan, untuk penggemar bakso. Mulai porsi Pahe atau Paket Hemat, dengan harga Rp 3 ribu  saja. Paket berisi 2 pentol, 1 bakso tahu, 1 gorengan, serta mie. Lalu ada porsi spesial, dengan harga Rp 5 ribu , berisi 5 pentol bakso dan mie. Sedangkan Porsi Standart dengan harga Rp 4 ribu , berisi 4 pentol bakso dan mie. Bagi penggemar bakso, bisa juga memilih porsi jumbo, dengan harga Rp 5.500 saja, yang berisi 6 pentol bakso dan mie. Semangkuk bakso di warung Titik, akan semakin istimewa, jika dilengkapi dengan minuman es teller berisi buah buahan yang segar seperti melon, semangka, nanas, tape ketan hitam, mutiara, kolang kaling. Harganyapun sangat terjangkau.

 

         Warung bakso mata sapi, yang dikelola Titik Harnawi, berdiri sejak 4 tahun lalu. Kakak Titik Harnawi, awalnya mendirikan warung bakso dikawasan Sidoarjo. Namun karena ingin mengembangkan usahanya,  Harnawi kemudian menurunkan ilmunya pada adiknya, dengan membuka warung bakso mata sapi di Desa Doko Kecamatan Ngasem. Hampir setiap hari, warung milik Titik ramai dipenuhi pengunjung, terutama mereka yang ingin mencicipi kuah bakso tanpa lemak. Seperti yang dituturkan Eni Setiorini, salah satu pengunjung yang kebetulan sedang saya temui, menikmati bakso mata sapi. Eni mengaku, sudah sering berkunjung ke warung bakso milik Titik tersebut, karena kuahnya yang bebas berlemak, sehingga dirinya tetap bisa menikmati bakso. Eni juga mengatakan, dengan usia yang relatif sudah tua, dirinya menghindari bakso yang berlemak, yang dapat meningkatkan kadar kolesterol.

 

       Setiap hari, warung bakso milik Titik, bisa menghabiskan 300 biji pentol bakso  Dengan keuntungan, mencapai Rp 75 ribu hingga Rp 200 ribu . Dengan dibantu 2 orang karyawan, Titik membuka warung baksonya, mulai siang hingga malam hari. Bagi masyarakat Kediri raya, yang ingin mencicipi langsung nikmatnya bakso mata sapi dan segarnya es teller warung bakso mata sapi, dapat langsung datang di Jalan Kartini No 30, di Desa Doko Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri. ( Anto Kristian)

18 May 2010

PECEL SRI AJI JAYA BAYA Jika anda berkunjung ke Kabupaten Kediri, rasanya sayang kalau tidak mencoba makanan yang satu ini, pecel Sriaji Joyoboyo. Disebut pecel Sri Aji Joyoboyo, karena warung pecel milik Sunarsih tersebut,  berada disekitar areal wisata petilasan Sriaji Joyoboyo, di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Makanan pecel, mungkin tak asing lagi bagi banyak orang, sayuran yang dipadu dengan kuah sambal yang terbuat dari kacang. Namun, ada yang berbeda dengan pecel buatan Sunarsih. Selain bumbunya yang terasa sangat tajam, rasa sambal yang sangat pedas, justru membuat pembeli ketagihan.

     Dengan harga hanya 3.500 rupiah saja, pengunjung bisa menikmati satu piring pecel, di warung Sunarsih. Berbagai macam sayuran yang sudah dimasak, kemudian ditata dalam piring. Mulai kacang panjang, kangkung, kembang turi dan kecambah, lalu disiram dengan sambal kacang yang sudah dihaluskan dilengkapi dengan berbagai bumbu. Khusus sayuran, Sunarsih memang selalu hanya menggunakan, ketiga jenis sayuran tersebut Ditambah dengan kerupuk pasir. Jika pembeli suka, Sunarsih juga menyediakan tahu goreng dan bakwan, yang bisa dimakan dengan pecel. Sebagai penutup, pengunjung bisa menikmati segarnya dawet tepung beras, yang diberi kuah gula merah dan santan. Hemmmm… paling segar jika ditambah dengan es batu. Harga satu mangkok dawet, 2000 rupiah.

 

     Suasana yang rindang dibawah pepohonan, sekitar 500 meter dari areal petilasan Sri Aji joyoboyo, membuat warung pecel sederhana milik Sunarsih terasa sangat nyaman. Para pengunjung, rela antre untuk mendapatkan satu piring pecel dan satu mangkok dawet. Seperti diakui Sita warga Mojokerto. Menurut Sita, dirinya sudah kesekian kali mencicipi pecel buatan Sunarsih. Selain rasanya yang unik, pecel yang dijual Sunarsih juga cukup murah. Uniknya lagi, setiap pembeli usai membayar makanan yang dinikmatinya dan hendak pergi, Sunarsih akan menyapa dengan kata kata, “mbenjing mriki malih nggih”  (besok datang lagi ya). Tanpa perlu dijawab. Karena itu, memang kebiasaan Sunarsih, untuk mengucapkan terimakasih kepada pembeli.

 

     Pada hari hari tertentu, ketika pengunjung yang datang membludak, dari berbagai kota, dari Semarang, Yogyakarta hingga Surabaya, Sunarsih yang berjualan mulai jam 10 hingga jam 4 sore tersebut, dalam sehari bisa menghabiskan sambal kacang hingga 10 kilogram, dan berkarung karung sayuran. Bahkan, Sunarsih bisa meraup keuntungan, 2 juta rupiah. Sedangkan pada hari hari biasa sekitar 300 ribu rupiah. Meski jumlah pengunjung banyak, Sunarsih tidak pernah berpikir untuk menaikkan harga pecel dan es dawet yang dijualnya. Harga akan naik, jika bahan bahan untuk membuat pecel juga naik, ujar Sunarsih sambil tersenyum. (Anto Kristian)

29 April 2010

sensasi iwak kali badukMenikmati makanan dengan menu utama iwak kali, atau ikan sungai, di depot dan warung, mungkin sudah biasa. Di wilayah Kediri Raya, banyak warung dan depot yang menawarkan menu dengan lauk iwak kali, yang disajikan dalam berbagai olahan.  Iwak kali juga bisa dinikmati di rumah, karena iwak kali dalam berbagai jenis, juga sangat mudah didapatkan di pasar tradisional di Kediri Raya.

Namun jika ingin mendapatkan sensasi yang lebih dari sekedar menikmati masakan iwak kali, tidak salah kalau anda mencoba datang ke lokasi favorit di Desa Malangsari Kecamatan Tanjunganom Kabupaten Nganjuk. Tepatnya, di kawasan Baduk. Warga biasa menyebut Baduk, karena di lokasi itu, terdapat pertemuan dua sungai besar, yang mengalir dari kawasan Kecamatan Tarokan dan Grogol Kabupaten Kediri.

 

Di ujung jembatan yang melintas di atas Sungai Baduk, terdapat 10 warung sederhana, yang menawarkan makanan dengan menu utama iwak kali. Hamper semua jenis iwak kali bisa dijumpai dengan mudah di Baduk, mulai dari lele sungai, udang sungai, wagal, wader, tawes, belut sawah, serta sili. Dijamin, semua hasil perburuan para nelayan, atau penangkap ikan dari beberapa sungai di wilayah Kediri dan Nganjuk. Menggunakan jarring, jala atau setrum listrik.

 

sensasi iwak kali baduk4Meski terdapat 10 warung, namun menu yang disajikan nyaruis sama. Yang dijadikan menu andalan adalah iwak goring lalapan dna bothok. Kepulan asap yang keluar dari nasi liwet yang masih hangat, dijamin makin membuat peurt keroncongan. Apalagi, jika menu pesanan kita, baik bothok atau lalapan iwak kali, sudah dihidangkan di depan kita, bisa bisa air liur keluar tanpa disadari. Lalapan yang dihidangkan juga masih segar, seperti kacang panjang, kubis serta kemangi. Coba juga menu andalan lain, yakni belut goreng, yang bisa kita nikmati dengan paduan lalapan dan sambal pedas dari bahan mentah dan segar.

 

Sebagai teman untuk menikmati  nasi iwak kali, kita bisa memesan berbagai jenis minuman, baik es teh maupun es jeruk. Namun saya merekomendasikan untuk memesan kelapa muda saja. Kelapa muda jenis hijau, disajikan dengan es yang dikombinasi dengan seduhan gula asli, makin melengkapi kenikmatan makan kita di Kawasan Sungai Baduk.

 

Selain menu makanan yang sangat lezat, karena diolah dengan menggunakan bumbu bumbu khas pedesaan, yang membuat selera makan kita makin bertambah dahsyat adalah suasana alam yang sangat mendukung. Suasana khas pedesaan. Di belakang deretan warung, kita bisa mendengarkan alunan indah suara gemericik air sungai bak lorkestra, yang keluar dari dam di sebelah barat Jembatan Baduk. Di sekitar warung, kita juga disuguhi  pemandangan khas alam pedesaan yang sangat hijau, yakni kesibukan para petani yang sedang menggarap lahan pertanian, ditemani kerbau atau sapi yang sedang membajak sawah.

 

Namun, jangan pernah membayangkan harga mahal untuk bisa menikmati semua menu andalan di Sungai Baduk. Tidak ada kata mahal. Bahkan, untuk menuntaskan selera makan kita, menurut ukuran umum sangatlah murah. Sebagai contoh, menu bothok iwak kali lengkap dengan es teh dan satu porsi nasi liwet hangat, kita cukup keluar uang Rp. 10.000,-. Menu lain juga sangat murah, seperti paket belut goreng lengkap dengan sambal lalapan dan nasi liwet, hanya Rp. 12.000,- Sementara es kelapa muda, hanya Rp. 7000 per buah, yang cukup untuk dinikmati dua orang.

 

sensasi iwak kali badukJika sudah menuntaskan selera makan kita di Baduk, belum lengkap jika kita tidak membawa pulang. Tidak hanya masakan yang sudah matang, iwak kali dalam berbagai jenis yang masih mentah juga tersedia. Semua masih segar, karena baru datang dari para nelayan yang terus hilir mudik memasok ikan hasil tangkapan mereka. Tidak perlu khawatir repot untuk membersihkan ikan yang kita beli, karena kita bisa minta tolong para penjual ikan sungai, untuk membersihkan kotoran ikan. Hanya dengan tambahan Rp. 1000 sampai Rp. 2000 per kilogramnya, para penjual ikan yang sebagian besar wanita asal Desa Malangsari Kecamatan Tanjunganom, dengan senang hati membantu kita.

 

Untuk mencapai lokasi di Kawasan Sungai Baduk, memang agak sulit. Posisinya tidak berada di jalur propinsi. Bahkan agak masuk. Dari arah Kota Kediri, kita bisa lewat Prambon ke utara, sampai pertigaan Warujayeng belok kea rah barat sekitar 10 kilometer. Atau dari jalar Kediri - Nganjuk, kita bisa belok ke arah Warujayeng dari arah Loceret. Terdapat halaman parkir mob il yang cukup luas di Kawasan Sungai Baduk, mampu menampung 20 mobil dan puluhan sepeda motor.

 

Karena lokasinya tidak berada di jalur strategis, semua warung di Kawasan Sungai Baduk hanya buka siang hari, yakni antara jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Memang ada satu atau dua warung, yang pada hari tertentu, karena ramai pembeli, buka hingga jam 8 malam. Paling ramai, warung di kawasan Saungai Baduk dikunjungi pada saat jam makan siang.(Rofik)

Page 8 of 8     ‹ First  < 6 7 8