Berita- Info ANDIKA

27 September 2020
Kecelakaan Truk Dan Motor, Mahasiswi Asal Bojonegoro Meninggal Dunia
Radio ANDIKA - Kecelakaan lalulintas terjadi di Jalan Raya Desa Mranggen Kecamatan Purwoasri Kabupaten Kediri, mengakibatkan seorang mahasiswi asal Bojonegoro meninggal di lokasi kejadian. Kecelakaan terjadi Minggu,  27 September 2020, pukul 18.15 WIB.
 
Yang terlibat kecelakaan truk gandeng nopol AG 9736 UP yang dikemudikan  SULIS PRIYANTO,  warga Desa Plosoarang Kecamatan Sanan Kulon Kota Blitar. Dengan sepeda motor Honda nopol S 3277 DP yang dikendarai AHMAD ZAINI, warga  Desa Mudung Kecamatan Kepuhbaru Kabupaten Bojonegoro berboncengan dengan anaknya LAELI, yang berstatus sebagai mahasiswi.
 
AIPTU BUDI SANTOSO Kasi Humas Polsek Purwoasri saat dikonfirmasi gatekeeper Radio ANDIKA mengatakan, kecelakaan bermula  AHMAD ZAINI berboncengan dengan anaknya LAELI mengendarai sepeda motor Honda dari arah selatan ke utara, atau dari arah Kediri Kota ke Kertosono Nganjuk. Saat itu AHMAD ZAINI berusaha mendahului  truk gandeng yang dikemudikan SULIS PRIYANTO. Namun karena dari arah berlawanan melaju bus, AHMAD ZAINI panik dan kehilangan keseimbangan sehingga stir motornya menyenggol truk gandengan dan terjatuh.
 
Akibat kecelakaan, kedua korban mengalami luka parah, kaki AHMAD ZAINI mengalami patah bagian kiri sedangkan LAELI juga luka serius hingga meninggal di lokasi kejadian. Dengan bantuan petugas, keduanya dibawa ke  RSUD Kertosono. Tindakan selanjutnya ditangani Unit Laka Satlantas Polres Kediri, berikut mengamankan truk dan motor yang terlibat kecelakaan.(dip/adr)
 
27 September 2020
Di Masa Pandemi, Tanaman Hias Naik Drastis Hingga Puluhan Juta Rupiah
Radio ANDIKA - Harga sejumlah tanaman hias naik drastis hingga puluhan juta rupiah di masa pandemi covid-19. Tanaman hias yang mengalami lonjakan harga tersebut saat ini sedang diburu masyarakat. Mahalnya harga tanaman hias tersebut, antara lain karena faktor kelangkaan dan trend.

Dosen Pertanian UNISKA Kediri, TARWA MUSTOPA S.P.M.Agr. saat On Air di Radio ANDIKA mengatakan ada sejumlah komoditas tanaman hortikultura yang naik drastis. Yang saat ini mengalami tren pelonjakan harga adalah tanaman hias dari daun-daunan. Seperti aglonema dan janda bolong atau monstera. Sebelum pandemi, harga aglonema 100 ribu. Tetapi sekarang harganya naik menjadi 500 ribu. Sedangkan janda bolong atau yang disebut monstera, harga sebelum pandemi 20 ribu dan sekarang naik menjadi 100 ribu. Keunikan tanaman ini mempunyai daun lonjong dan berlubang.

TARWA MUSTOPA menambahkan ada beberapa jenis monstera. Satu diantara monstera yang harganya naik drastis yaitu monstera variegata. Tanaman hias yang dikenal dengan janda bolong impor dari Jepang ini harganya mencapai puluhan juta rupiah per daun.

Menurut TARWA, harga tanaman hias ini naik tidak lepas karena 3 hal. Yaitu nilai estetika/ keindahan, kelangkaan dan trend. Ketiga faktor inilah yang menyebabkan  harga tanaman hias ini naik drastis. Selain itu dikarenakan faktor perbanyakan tanaman. Artinya, apabila tanaman tersebut tidak bisa diperbanyak dengan cepat dan mudah, maka harga yang mahal akan bertahan lama.

TARWA MUSTOPA menyarankan apabila ada masyarakat yang ingin berbisnis tanaman hias, maka yang paling aman adalah tanaman hias untuk taman. Hal ini dikarenakan harga tanaman ini stabil dan permintaan juga stabil.(stm/dip/nis)
 
27 September 2020
Angka Golput Tidak Pengaruhi Legitimasi Kepala Daerah dalam Pilkada Serentak 2020
Radio ANDIKA – Prediksi meningkatnya angka golongan putih (golput) dalam pilkada serentak 2020 karena diselenggarakan dalam masa pandemi Covid-19, memunculkan kekhawatiran turunnya legitimasi kepala daerah terpilih nantinya. Namun hal itu dibantah Dr. ASEP NURJAMAN, M. Si., Pengamat Politik dari Universitas Muhamadiyah Malang.
 
Melalui On Air di Radio ANDIKA, ASEP menilai meski partisipasi masyarakat dalam menyalurkan suaranya rendah, hal itu tidak akan memengaruhi legitimasi kepala daerah terpilih. Menurutnya, selama proses tahapan pilkada dijalankan sesuai dengan ketentuan, maka legitimasi kepala daerah tetap terjaga. 
 
ASEP memaparkan, ada beberapa variabel yang mempengaruhi pilihan masyarakat untuk golput di masa pandemi. Salah satunya adalah dampak psikologi masyarakat. Semakin banyak menerima informasi atau berita negatif terkait Covid-19, maka akan timbul paranoid di tengah masyarakat, sehingga banyak yang memilih untuk mementingkan  kesehatan pribadi daripada memberikan hak suaranya. 
 
Menurut ASEP, golput bukanlah persoalan yang besar, karena yang terpenting bukan sekadar kehadiran masyarakat untuk datang ke bilik suara, namun bagaimana masyarakat sadar terhadap hak pilihnya. Meski demikian ASEP optimistis, masyarakat akan tetap menyalurkan hak suaranya pada pilkada serentak Desember nanti. Apalagi selama ini Indonesia masih menjadi negara dengan partisipasi tinggi dalam setiap pemilihan kepala daerah, dengan persentase hingga 70%. Sementara di negara lain, umumnya kurang dari 60%. 
 
Menurut ASEP NURJAMAN, yang perlu disosialiasikan adalah kesuksesan pilkada di tengah pandemi sangat ditentukan oleh kepatuhan masyarakat dan penyelenggara pilkada terhadap protokol kesehatan. KPU diharapkan bisa benar-benar menjaga protokol kesehatan selama gelaran pilkada 2020. Jika nantinya pilkada berjalan sukses, akan menghasilkan sosok kepala daerah yang legitimate dan mampu mengeksekusi berbagai kebijakan strategis dalam penanganan Covid-19. (nis/adr)
27 September 2020
Keukeuh Laksanakan Pilkada di Tengah Pandemi, Pemerintah Disentil oleh Gus Mus
Radio ANDIKA - Ulama kharismatik KH. MUSTOFA BISRI atau akrab disapa Gus MUS, menyentil keputusan pemerintah yang memutuskan tetap melaksanakan Pilkada serentak 2020 di tengah Pandemi Covid-19. 
 
Saat On Air, Jurnalis Radio ANDIKA di Jakarta, SAMSUL HADI mengatakan lewat akun Twitter pribadinya, Gus MUS menulis, "Rakyat, minimal yg diwakili NU dan Muhammadiyah, telah meminta Pemerintah menunda Pilkada Serentak. Tapi tampaknya pemerintah masih yakin dengan kemampuannya menjaga dan menanggulangi dampak pandemi. Kita khawatir yg yakin hanya yg di Atas sana." 
 
Sentilan itu ditulis Gus MUS sebagai respon atas berita ketidakmampuan aparat kepolisian melarang gelaran konser dangdut di Tegal, sehingga mengundang terjadinya kerumunan massa. Gus MUS menilai, kejadian di Tegal merupakan kontradiksi atas keyakinan Pemerintah mampu menegakkan protokol kesehatan di dalam pelaksanaan Pilkada serentak. Hingga Minggu sore cuitan Gus MUS itu telah diretwet oleh 2.240 kali, dikomentari oleh 147  pengguna Twitter lainnya, dan disukai oleh 4.833 orang. 
 
Menanggapi sentilan dari Gus MUS, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, MAHFUD MD, menyampaikan tanggapannya. Lewat akun Twitter juga, MAHFUD mengawalinya dengan ucapan terimakasih atas kritik yang disampaikan. Ia lantas mencoba meyakinkan Gus MUS dan masyarakat, bahwa Pemerintah mampu menegakkan disiplin protokol kesehatan berbarengan dengan pelaksanaan Pilkada. 
 
MAHFUD mencontohkan langkah tegas yang diambil terhadap Kapolsek Tegal Selatan, Kompol JOEHARNA, yang dicopot dan diperiksa Propam Mabes Polri karena dianggap abai atas terselenggaranya konser dangdut di tengah Pandemi. Ia menegaskan, tindakan tegas yang sama bisa diambil terhadap pelanggar protokol kesehatan, termasuk peserta Pilkada serentak 2020. Dalam cuitannya MAHFUD juga mengingatkan, menegakkan protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 merupakan tugas semua masyarakat. (shk/nis) 
27 September 2020
Pengamat Sosial: Pendisiplinan Prokes Tidak Melulu Bertumpu Pada Sanksi, Tapi Lebih Penting Edukasi
Radio ANDIKA - Upaya pemerintah dalam mendisiplinkan masyarakat pada protokol kesehatan, semestinya tidak hanya bertumpu pada sanksi atau denda, tapi jauh lebih penting adalah membangun edukasi yang baik.
 
Pengamat Sosial sekaligus Dosen UIN Sunankalijaga Yogyakarta, MOCHAMMAD SINUNG RESTENDY, M.Pd.I., M.Sos., saat On Air di Radio ANDIKA mengatakan, sulitnya pendisiplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan bersumber dari dua faktor.
 
Pertama, pendidikan disiplin positif belum diterapkan di tingkat keluarga, masyarakat maupun sekolah. Dia mencontohkan, jika ada siswa tidak mengerjakan PR, maka hukuman yang diberikan pihak guru/sekolah adalah lari-lari keliling lapangan. Tradisi pendidikan dengan sanksi yang tidak sesuai/logis itu, menurut SINUNG, akan melahirkan generasi yang tidak mampu memahami secara logis permasalahan di sekitarnya, termasuk Covid-19. Selain itu, faktor kedua, adanya golongan masyarakat yang memang suka mempersulit masalah dan semaunya sendiri. Inilah pentingnya edukasi dan pendidikan karakter bagi masyarakat. 
 
Karenanya tidak heran, di sejumlah daerah ada banyak pihak mulai berani menggelar kegiatan yang bertentangan dengan aturan penerapan protokol kesehatan, seperti menggelar konser dangdut dan acara lain yang mengumpulkan banyak massa. Sementara, hukuman bagi pelanggar protokol kesehatan yang ada saat ini belum sesuai karena dinilai tidak logis. SINUNG mencontohkan, jika pelanggaran yang dilakukan adalah tidak menggunakan masker, harusnya hukuman yang diberikan juga berkaitan dengan hal tersebut, bukan sanksi sosial seperti menyapu, menyanyikan lagu nasional atau bahkan sanksi denda.  Menurut SINUNG, tradisi pendidikan seperti itu membentuk pribadi belum bisa menerima secara logis sebuah kenyataan, sehingga pada pandemi Covid-19, masyarakat cenderung liar. 
 
SINUNG menambahkan kepatuhan masyarakat yang ada selama ini sebagian besar bukan bersumber dari kesadaran, tetapi karena rasa takut akan ancaman hukuman yang diberikan.  Pendekatan persuasif dinilai lebih perlu diberikan kepada masyarakat untuk membangun kesadaran terhadap protokol kesehatan. (nis/adr)
 

27 September 2020
Dibakar Anaknya Sendiri, Rumah Warga Mojoroto Kediri Ludes Terbakar
Radio ANDIKA - Rumah milik SASMITO warga Kelurahan Mojoroto Gang 5 Barat, Kota Kediri ludes terbakar. Peristiwa ini terjadi siang tadi sekitar pukul 12.30 WIB. Api berasal dari kasur yang dibakar oleh anaknya sendiri dan merembet ke seluruh bagian rumah.

Kepala UPT Pemadam Kebakaran Kota Kediri FANNI ERYANTO yang dikonfirmasi Radio ANDIKA mengatakan tiga unit mobil damkar dikerahkan ke lokasi. Meski tidak ada korban jiwa namun kerugian materi diperkirakan mencapai sekitar Rp 200 juta. Hal ini karena seluruh bagian rumah hangus terbakar.
 
Sementara itu NUR KHAMID Kabid Trantibum Satpol PP Kota Kediri mengatakan, penyebab kebakaran rumah SASMITO diduga karena dibakar oleh anaknya sendiri yang mengalami gangguan jiwa. Awalnya sejumlah tetangga mendengar adanya letusan dari dalam rumah SASMITO, Diduga suara itu berasal dari tabung gas elpiji yang meledak akibat tersulut api dari kasur yang dibakar oleh anak SASMITO.(ssi/adr)
27 September 2020
Pemerintah Tak Larang Masyarakat Saksikan Film Pengkhianatan G30S/PKI
Radio ANDIKA - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, MAHFUD MD, menegaskan Pemerintah tidak pernah melarang masyarakat menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI. Sebaliknya, Pemerintah juga disebutnya tidak mewajibkan masyarakat menyaksikannya.

Saat ON AIR Jurnalis Radio ANDIKA SAMSUL HADI di Jakarta mengatakan MAHFUD mencoba meredam polemik yang belakangan berkembang seputar boleh tidaknya menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI. Pun demikian dengan stasiun televisi di Indonesia, Mahfud menandaskan, pihaknya tidak pernah melarang pemutaran film bergenre sejarah itu.

Film Pengkhianatan G30S/PKI merupakan karya seni yang berisikan sejarah pengkhianatan PKI di Indonesia tahun 1965. Di masa pemerintahan Orde Baru film itu menjadi tontonan wajib bagi masyarat. Akan tetapi ketika masuk masa reformasi, penayanan sempat dihentikan, dengan alasan isinya yang tidak sepenuhnya seauai dengan sejarah aslinya.(shk/ssi)
 

27 September 2020
Stigma Negatif di Masyarakat Dorong Residivis Lakukan Tindak Kriminal Kembali
Radio ANDIKA - Stigma negatif di masyarakat mendorong residivis melakukan tindak kriminal kembali. Stigma negatif yang muncul mengartikan tidak ada pintu maaf lagi bagi pelaku tindak kriminal. Sehingga, diperlukan edukasi kepada masyarakat agar bisa menerima keberadaan residivis disekitarnya, tidak membully dan mengungkit masa lalu.

On air di Radio ANDIKA, Sosiolog dari IAIN Kediri, TAUFIK AL AMIN, M.Si mengatakan kriminalitas memang bukan hal yang mudah dihentikan. Alasan umum seseorang melakukan tindak kriminal pencurian adalah kebutuhan dan kebiasaan. Tetapi, kalau pelakunya seorang residivis yang sering keluar masuk penjara, maka ada banyak kemungkinan yang menjadi alasannya.

Menurut TAUFIK, alasan pertama yaitu perlakuan yang diterima selama berada di lapas. Mereka menerima perlakukan intimidasi atau bahkan sebaliknya, mendapat perlakuan yang serba mudah. Sehingga tidak ada impact terhadap proses adaptasi di masyarakat.

Kedua, sebelum dilepas dari lapas, harus dipastikan dulu bahwa masyarakat dan keluarga menerima keberadaan mereka. Selain itu, ekonominya juga harus diperhatikan. Apakah bisa survive pasca keluar dari lapas. Ketiga, selama proses asimilasi, narapidana tersebut harus benar-benar diawasi agar bisa segera pulih dan tidak melakukan tindak kriminal lagi. Keempat, faktor kebiasaan. Jika seseorang sudah terbiasa mencuri, dan mengabaikan teguran, maka perlu dilakukan pengawasan.

TAUFIK menyebutkan kenapa rumah tahanan (rutan) dirubah menjadi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas). Alasannya bukan soal individu atau tabiat kebijakan moral saja. Tetapi terkait tali temali dengan sistim kemasyarakatan, norma dan hubungan sosial yang perlu dibangun. Problem hubungan harus dipelajari oleh pihak terkait ketika seorang narapidana dilepas atas diadaptasikan ke masyarakat.(eva-stm)
 
 
27 September 2020
Oleng Saat Berkendara, Pemotor Tabrak Pembatas Jalan Hingga Meninggal
Radio ANDIKA - VALIAN BINTANG SAPUTRA, warga Desa Gadungan Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan tunggal. VALIAN diduga menabrak pembatas jalan hingga terjatuh saat motor yang dikendarainya oleng. Kecelakaan terjadi di Jalan Raya Desa Jajar Kecamatan Talun Kabupaten Blitar dini hari tadi sekitar jam 01.00 WIB.
 
Kasat Lantas Polres Blitas, AKP RUDI PURWANTO S.H., M.H. yang dikonfirmasi Gatekeeper Radio ANDIKA mengatakan, kecelakaan bermula ketika VALIAN mengendarai sepeda motor Yamaha Vixion AG 2688 KAZ, berboncengan dengan laki-laki yang belum diketahui identitasnya. Saat melaju dari Desa Tambakan menuju Desa Talun, VALIAN mengalami kecelakaan tunggal. VALIAN meninggal dunia dilokasi. Sedangkan teman VALIAN mengalami luka parah pada kepala. Kedua korban dibawa ke RS Ngudi Waluyo Blitar. (eva/had)
 
27 September 2020
Cegah Penularan Corona dari OTG, Masyarakat Harus Terapkan Protokol Kesehatan
Radio ANDIKA - Saat ini risiko penularan virus corona masih mengancam di tengah aktivitas sehari-hari, terutama di luar rumah. Masyarakat bisa mencegah penularan Covid-19 dari Orang Tanpa Gejala (OTG) dengan cara menerapkan protokol kesehatan yang benar. Hal ini disampaikan Direktur RSUD Kabupaten Kediri, Dr. dr. IBNU GUNAWAN, M.M., saat on air di Radio ANDIKA.

Menurut dr. IBNU, ada permasalahan utama yang dihadapi sekarang, salah satunya adalah OTG. Bahkan golongan OTG inilah yang berpotensi paling besar menularkan Covid-19 ke orang lain. Karena penularan virusnya sulit dideteksi. Apalagi saat ini vaksin corona belum ditemukan, dan diprediksi sekitar 2021 baru bisa didistribusikan.

dr. IBNU berharap masyarakat terus membiasakan diri dengan menerapkan protokol kesehatan yang benar. Seperti menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun dalam keseharian. Masyarakat diharapkan terus membiasakan diri dengan menerapkan protokol kesehatan yang benar.

Selain itu yang menjadi perhatian banyak pihak dan pemerintah sekarang adalah klaster perkantoran. Meski tidak menutup kemungkinan klaster bisa terjadi dimana saja. Agar tidak terjadi klaster baru di perkantoran, masyarakat wajib menerapkan VDJ (Ventilasi, Durasi, Jarak). Ventilasi harus memadahi, sirkulasi udara harus bagus. Jika ada meeting, durasinya harus dibatasi. Kemudian, penerapan jaga jarak, sangat penting saat berada di kantor.(sha/had)
Page 1 of 963      1 2 3 >  Last ›