Ruang Pasien Covid-19 di RS Baptis Penuh, Tenaga Dokter dan Perawat Terbatas

| More
14 January 2021
dokter_Arnold_Wadir_RS_Baptis_Kediri_5.jpg
Radio ANDIKA - Saat ini ruang khusus untuk merawat pasien Covid-19 di RS Baptis kota Kediri penuh. Sementara jumlah tenaga dokter dan perawat terbatas.

Saat On Air di Radio ANDIKA, Wakil Direktur Pelayanan Medis dan Keperawatan RS Baptis Kota Kediri dr. ARNOLD SERWORWORA Sp.OG mengatakan walaupun tidak termasuk rumah sakit rujukan nasional, RS Baptis menjalankan instruksi Pemerintah Kota Kediri untuk melayani pasien Covid-19. Awalnya dibuka 1 lantai khusus dengan 6 tempat tidur, sesuai dengan aturan seperti jarak antar pasien dan ventilasi. Kemudian dalam perkembangannya, pasien Covid-19 terus mengalami peningkatan. Akhirnya RS Baptis menambah kapasitas menjadi 12 tempat tidur sesuai arahan Dinas Kesehatan Kota Kediri dan BPJS Kesehatan.

Menurut dr. ARNOLD, pihak rumah sakit memutuskan untuk menambah lagi 1 lantai khusus. Sedangkan pasien korona terus bertambah, sehingga ruang VIP dan ruang kelas 1 ada yang dikosongkan. Data terakhir, RS Baptis merawat 18 pasien covid-19. Penambahan kapasitas ini dilakukan karena alasan kemanusiaan, meskipun ada keterbatasan tenaga dokter spesialis penyakit dalam yang hanya 3 orang dan perawat. Menurut dr. ARNOLD, dokter dan perawat juga manusia, yang punya keluarga dan juga butuh istirahat untuk menjaga kesehatan.

dr. ARNOLD menambahkan pihaknya telah berupaya menambah jumlah dokter penyakit dalam yang full time, tetapi dokternya belum tersedia. Untungnya, Menteri Kesehatan melonggarkan aturan perawat/dokter yang belum punya Surat Tanda Registrasi (STR) bisa melayani pasien. Hal ini sangat membantu pihak rumah sakit mencari tambahan dokter, tetapi sayangnya tenaga dokter susah didapatkan. Kalaupun ada, dokter yang belum punya STR belum memiliki pengalaman kerja. Sehingga, tidak bisa segera ditempatkan di ruang isolasi khusus Covid-19.

Selain tempat tidur, ruangan, dokter dan perawat, terjadi juga keterbatasan obat-obatan akibat anggaran juga terbatas. dr. ARNOLD mengatakan bahwa pihaknya merupakan RS swasta dan tidak mendapat suplai dari pemerintah. Harga obat bisa mencapai jutaan rupiah. Belum termasuk alat pelindung diri (APD) yang biayanya sangat besar. Misalnya untuk kebutuhan Hazmat per orang, yang harus ganti tiap 3 jam. Jika jumlah pasien Covid-19 berjumlah 20 orang, sedangkan dokternya ada 3 dan perawat 30, maka terlihat besar sekali biaya per harinya. Tetapi, di sisi lain, masyarakat perlu ditolong. Terkait kondisi ini, dr. ARNOLD hanya berserah pada Tuhan dan tetap menjaga komitmen untuk melayani pasien. Masyarakat diminta harus menerapkan protokol kesehatan dengan benar dan ketat supaya bisa menekan pertambahan pasien Covid-19. (hil/aut)