Pengamat Sosial: Pendisiplinan Prokes Tidak Melulu Bertumpu Pada Sanksi, Tapi Lebih Penting Edukasi

| More
27 September 2020
SINUNG_DOSEN_UIN_SUNAN_KALIJAGA_YOGYAKARTA.jpg
Radio ANDIKA - Upaya pemerintah dalam mendisiplinkan masyarakat pada protokol kesehatan, semestinya tidak hanya bertumpu pada sanksi atau denda, tapi jauh lebih penting adalah membangun edukasi yang baik.
 
Pengamat Sosial sekaligus Dosen UIN Sunankalijaga Yogyakarta, MOCHAMMAD SINUNG RESTENDY, M.Pd.I., M.Sos., saat On Air di Radio ANDIKA mengatakan, sulitnya pendisiplinan masyarakat terhadap protokol kesehatan bersumber dari dua faktor.
 
Pertama, pendidikan disiplin positif belum diterapkan di tingkat keluarga, masyarakat maupun sekolah. Dia mencontohkan, jika ada siswa tidak mengerjakan PR, maka hukuman yang diberikan pihak guru/sekolah adalah lari-lari keliling lapangan. Tradisi pendidikan dengan sanksi yang tidak sesuai/logis itu, menurut SINUNG, akan melahirkan generasi yang tidak mampu memahami secara logis permasalahan di sekitarnya, termasuk Covid-19. Selain itu, faktor kedua, adanya golongan masyarakat yang memang suka mempersulit masalah dan semaunya sendiri. Inilah pentingnya edukasi dan pendidikan karakter bagi masyarakat. 
 
Karenanya tidak heran, di sejumlah daerah ada banyak pihak mulai berani menggelar kegiatan yang bertentangan dengan aturan penerapan protokol kesehatan, seperti menggelar konser dangdut dan acara lain yang mengumpulkan banyak massa. Sementara, hukuman bagi pelanggar protokol kesehatan yang ada saat ini belum sesuai karena dinilai tidak logis. SINUNG mencontohkan, jika pelanggaran yang dilakukan adalah tidak menggunakan masker, harusnya hukuman yang diberikan juga berkaitan dengan hal tersebut, bukan sanksi sosial seperti menyapu, menyanyikan lagu nasional atau bahkan sanksi denda.  Menurut SINUNG, tradisi pendidikan seperti itu membentuk pribadi belum bisa menerima secara logis sebuah kenyataan, sehingga pada pandemi Covid-19, masyarakat cenderung liar. 
 
SINUNG menambahkan kepatuhan masyarakat yang ada selama ini sebagian besar bukan bersumber dari kesadaran, tetapi karena rasa takut akan ancaman hukuman yang diberikan.  Pendekatan persuasif dinilai lebih perlu diberikan kepada masyarakat untuk membangun kesadaran terhadap protokol kesehatan. (nis/adr)