Islam itu Bersih

| More
29 November 2018
wudhu-_140703123723-788.jpg
Di antara bukti kesempurnaan ajaran Islam adalah perhatiannya terhadap masalah kebersihan. Lebih-lebih kebersihan batin. Tubuh kita saja hakikatnya adalah amanah, oleh karena itu wajib dijaga kebersihannya, agar dapat melakukan kewajiban agama dengan baik dan terhindar dari ancaman penyakit yang dapat mengurangi produktivitas kebaikan. Intinya, Islam itu bersih.

Bahkan, nyaris semua aktivitas ibadah tidak bisa dipisahkan dari aspek kebersihan sebagai bagian daripada tercapainya kesucian lahir dan bathin. Rasulullah SAW bersabda, "Kunci sahnya shalat adalah kesucian diri dari najis." (HR. Abu Dawud).

Dan, di dalam Alquran, Allah menegaskan bahwa cinta-Nya diberikan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang gemar membersihkan (mensucikan) diri. "Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih" (QS. At-Taubah [9]: 108). Dalam hadis lain ditegaskan, "Kebersihan itu sebagian dari iman" (HR. Tirmidzi).

Dengan demikian, idealnya setiap Muslim adalah pribadi yang menerapkan pola hidup bersih dan komitmen menjaga kebersihan secara utuh-menyeluruh lahir-batin.

Imam Ghazali dalam kitab monumentalnya, Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa kebersihan tidak sebatas berkaitan keindahan lahiriah dengan membersihkan, menyiram dan membasuhkan air pada anggota-anggota tubuh. Tetapi juga menyatukan dengan pembersihan aspek batiniah dengan menjauhi kemaksiatan maupun bentuk dosa lainnya.

Hal ini disandarkan pada ayat-Nya di dalam Alquran, "Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih" (QS. Asy-Syu'ara [26]: 89).

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir mengutip pendapat Ibnu Sirrin, "Qalbun salim (hati yang bersih) yaitu ia mengetahui bahwa Allah adalah haq dan sesungguhnya hari Kiamat tidak ragu lagi pasti akan tiba, serta Allah akan membangkitkan para penghuni kubur."

Oleh karena itu, Islam memandang kebersihan secara integratif-komprehensif, sehingga upaya pembersihan diri selalu meliputi aspek lahiriah dan bathiniah sekaligus yang berkaitan nyaris dengan seluruh jenis ibadah; mulai dari membaca Alquran, shalat, berdoa, dan lain sebagainya.

Menariknya, terkait operasional pembersihan jiwa raga ini telah dijabarkan dengan lengkap oleh Hujjatul Islam, Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjadi empat tingkatan aktivitas bersuci.

Pertama, menyucikan tubuh dari segala bentuk hadas, kotoran dan benda yang menjijikkan lainnya. Kedua, menyucikan setiap anggota tubuh dari segala perbuatan buruk dan mengandung dosa. Ketiga, menyucikan qalbu (hati) dari segala perbuatan dan akhlak (perilaku) tercela berikut sifat-sifat keji lainnya. Keempat adalah mensucikan jiwa dari yang selain Allah Ta'ala.

Dengan demikian betapa indahnya kehidupan seorang Muslim yang kebersihan dirinya tak sebatas raga, rumah, pakaian, kendaraan, tetapi juga hati, cita-cita dan visi hidupnya, sehingga kebersihan yang diupayakan adalah bagian penting terwujudnya kemaslahatan di tengah-tengah kehidupan umat manusia. Apalagi, kebersihan dapat memicu semangat dalam bekerja. Wallahu a'lam.(REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi/jko)