100.000 Bibit Pohon Kopi Arabica akan Ditanam di Wilayah Sendang Tulungagung

| More
08 November 2018
menanam-pohon-tulungagung_20181108_141947.jpg

Di tengah guyuran hujan di Jurang Senggani, Desa Nglurup, Kecamatan Sendang, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kediri, Djoko Raharto menanam kopi arabica, Kamis (8/11/2018).

Penanaman ini bagian dari rencana taman sebanyak 25.000 pohon.

Kopi yang ditanam adalah jenis komasti yang berasal dari Jember.
 

"BI mulai merintis penanaman kopi arabica tahun 2017. Satu tahun sudah mulai berbuah," terang Djoko.

Tahap awal jumlah pohon yang ditanam sebanyak 30.000.

Saat ini yang ditanam 20.000 pohon, dari 100.000 bibit yang sudah siap.

Total lahan yang ditanami seluas 17 hektar.

"Kita bekerja sama dengan Perhutani. Jadi lahan-lahan kita tanami kopi," tambah Djoko.

Tanaman kopi sebenarnya hanya sambilan bagi warga, yang mayoritas punya usaha sapi perah.

Namun dengan nilai ekonomis tinggi, para petani mulai tertarik menanam kopi.

Sebelumnya warga juga punya tanaman kopi jenis robusta.

Namun karena keterbatasan pengetahuan, kopi robusta warga hanya laku Rp 2.000 per kilogram.

Dengan edukasi pengolahan dari BI, hasil kopi robusta warga bisa tembus harga Rp 30.000 per kilogram.

"Edukasi warga ini sangat penting. Karena mereka selama ini tidak tahu cara pengolahan yang benar, sehingga produk yang dihasilkan kualitasnya buruk," ujar Djoko.

BI juga membantu para petani dengan menciptakan pasar melalui pesta kopi.

BI juga mendorong para petani menciptakan Kelompok Usaha Bersama (KUB) untuk menangani penjualan kopi.

KUB yang diberi nama Omah Kopi ini yang menerima kopi petani dan menjual ke pasar

"Jangan ada petani yang menjual sendiri kopinya. Karena nanti akan dimanfaatkan okeh tengkulak," tutur Djoko.

Saat ini produk kopi arabica Sendang masih sangat terbatas, karena baru mulai berbuah.

Diperkirakan mulai tahun depan produksi sudah mulai meningkat.

Sebenarnya Sendang punya produk arabica lama sejak era kolonial Belanda.

Namun jumlah pohon yang tersisa hanya puluhan.
 

Arabica yang disebut Kobra, kepanjangan dari Kolombia-Brazil ini berharga mahal.

Satu kilogram dihargai hingga Rp 80.000.

"Kebanyakan pohon kopi yang masih ada adalah warisan. Makanya perlu regenerasi," pungkas Djoko.(Galih Lintartika-Surya.co.id/jko)