Menjadi Muslim Terbaik

| More
08 November 2018
pemimpin-yang-berilmu-ilustrasi-_151214161912-9031.jpg
Terik gurun pasir terasa membakar ubun-ubun. Dari Madinah, tampak kedua suami istri berangkat menuju Homs. Tak banyak yang mereka miliki, kecuali bekal sejumlah uang dari sang khalifah.

Sesampainya di kota tujuan, sang istri mengusulkan, "Aku akan mempergunakan uang ini untuk membeli pakaian yang layak, hiasan, barang-barang keperluan rumah tangga, dan menyimpan sisanya. Bagaimana menurutmu?"

"Apakah engkau mau aku tunjukkan yang lebih baik dari itu? Sekarang kita berada di negeri perdagangan yang menjanjikan keuntungan dan pasar yang selalu ramai. Karena itu, mari kita berikan uang ini kepada seseorang yang bisa memakainya untuk berdagang dan menumbuhkannya untuk kita," jawab Said bin Amir, sang suami.

Perempuan itu suka cita mendengar usul suaminya. Ia bertanya, "Jika perdagangannya merugi?" Said menjawab, "Aku akan meminta jaminan kepadanya." Demikianlah, akhirnya sang istri sepakat untuk terlibat dalam perdagangan yang dikehendaki suaminya.

Khalil Muhammad Khalil dalam Biografi 60 Shahabat Rasulullah mengungkapkan, Said kemudian pergi membawa seluruh uang bekal mereka. Ia beli sedikit kebutuhan pokok untuk hidup mereka yang sederhana. Setelah itu, ia bagikan semua sisa uangnya kepada kaum fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Hari demi hari terus berlalu. Berkali-kali sang istri menanyakan perihal perdagangan mereka. Said selalu menjawab, "Perdagangan kita berjalan lancar, sementara keuntungannya terus tumbuh dan berkembang."

Akan tetapi, istrinya tak percaya begitu saja. Pasalnya, ia tak pernah mendapati suaminya memegang banyak uang. Hidup mereka pun tak banyak berubah dibandingkan saat datang.

Suatu hari, sang istri kembali bertanya di hadapan karib Said yang mengetahui hal sebenarnya. Said tersenyum lantas melepaskan tawa mendengar pertanyaan itu, yang serta-merta menimbulkan kecurigaan di hati sang istri. Ia pun terus mendesak karib Said untuk menceritakan terus terang. Akhirnya, kecurigaan itu terjawab, "Said telah menyedekahkan seluruh hartanya sejak awal."

Demi mendengar kejujuran itu, meledaklah tangis sang istri. Ia menyesal tidak sempat menikmati harta tersebut. Harta itu lenyap tanpa sempat ia belanjakan untuk keperluan hidup mereka. Said pandangi istrinya yang masih berurai air mata keputusasaan.

"Bukankah engkau tahu bahwa di surga itu ada para bidadari yang berupa gadis-gadis cantik bermata jeli? Andai saja seorang dari mereka melongok ke bumi, tentulah ia akan menerangi seluruh bumi dan cahayanya akan mengalahkan cahaya bulan dan matahari sekaligus," ucap Said, menenteramkan hati sang istri.

"Karena itu, mengorbankan dirimu demi mereka adalah lebih baik dan lebih layak daripada mengorbankan mereka demi dirimu," sambungnya. Ucapan itu menyadarkan hati sang istri. Ia paham, tidak ada yang lebih baik untuknya selain meniti jalan akhirat dengan kezuhudan yang telah dicontohkan suaminya.
 

Maka, tepatlah pandangan Umar bin Khattab. Tatkala Amirul Mukminin Umar bin Khatab memberhentikan Mu'awiyah dari jabatannya sebagai gubernur Syam, Umar mencari-cari orang yang tepat untuk memegang amanah itu.

Saat itu, Syam adalah sebuah provinsi besar. Wilayah itu menjadi pusat perdagangan penting dan medan yang luas untuk mendapat kesenangan duniawi. Sejak beberapa abad sebelum kedatangan Islam, Syam telah menikmati hasil peradaban yang tinggi.
 

Karena itu, dalam pandangan Umar, tidak ada yang tepat menjadi amir di sana selain seorang yang zuhud. Orang yang berhak memimpin Syam mestilah seorang pemimpin yang zuhud, bijaksana, dan saleh. Setelah menimbang-nimbang, Umar pun berseru, "Aku sudah tahu! Bawalah Said bin Amir ke hadapanku!"

Pilihan Umar membawa Said bin Amir menduduki jabatan penguasa Homs. Walau sempat menolak, ia tak bisa melawan kehendak Umar. "Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu menolak. Apakah kalian suruh aku untuk memikul amanah dan khilafah ini kemudian kalian tinggalkan aku begitu saja seorang diri?" kata Amirul Mukminin dengan suara keras.

Di kota itu, Said bin Amir menjadi penguasa yang disegani dan dicintai rakyatnya. Sampai-sampai Umar bertanya, "Mengapa penduduk Syam mencintaimu?" Said hanya bisa menjawab, "Mungkin hal itu karena aku suka membantu dan menolong mereka."

Gaji dan tunjangan Said yang besar tak pernah mempermewah hidupnya. Suami istri itu menggunakan seperlunya, sedangkan sisanya mereka sedekahkan kepada rakyat yang miskin. Ia memberi keteladanan bagi penduduk Syam yang terbiasa hidup bergelimang harta.
 

Suatu saat, Khalifah Umar mengadakan kunjungan dinas ke Homs. Ia hendak mengetahui bagaimanakah Said, sahabatnya tersebut, menjalankan roda pemerintahan. Sang khalifah mendapat jawaban yang mengejutkan dari warga Homs. Mereka mengatakan bahwa kepemimpinan Said bin Amir al-Jumahi baik, kecuali empat hal.

Mendengar jawaban itu, Umar penasaran. Keempat hal yang dimaksud itu adalah pertama, Said datang untuk bekerja tidak dari pagi hari. Kedua, ketika malam Said tidak pernah mau menerima tamu. Ketiga, satu hari dalam sebulan tidak menemui masyarakat. Terakhir, kadang-kadang Said tiba-tiba dapat jatuh pingsan. Rasa penasaran Umar kian memuncak

Ia pun lantas menanyakan kebenaran informasi itu langsung kepada Said. Said menjawab bahwa mengapa ia tidak dapat melayani warga pada pagi hari lantaran tidak memiliki pembantu dan harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu.

Untuk jawaban kedua, ia mengatakan, hal ini dilakukan semata untuk membagi waktu. Pagi hingga sore untuk aduan masyarakat, sedangkan malam hari adalah waktu beribadah bagi Said. Ketiga, mengapa ia tidak menemui warga sebulan sekali ini sebab ia mesti mencuci baju yang lekat di badan sebulan sekali.

Dan untuk jawaban terakhir, ternyata pingsan yang dialaminya tersebut akibat kerap teringat atas kematian Khubaib bin Adi yang dibunuh kafir Quraisy. Said merasa berdosa tak bisa berbuat apa pun ketika sahabatnya terbunuh ketika itu.

Penjelasan yang disampaikan oleh Said itu akhirnya membuat lega hati Umar. "Alhamdulillah, penilaianku terhadap Said telah terjawab dengan jawabannya. Ia adalah salah satu Muslim terbaik dan setiap pertanyaan atas diri Said bin Amir al-Jumahi telah terjawab," ujar Umar.

Zuhud adalah kunci untuk meraih cinta Allah dan sesama manusia. Imam Nawawi dalam al-Arba'in an-Nawawi mencatat sebuah hadis perihal zuhud yang diriwayatkan Ibnu Abbas. Dari Ibnu Abbas, Sahl ibn Sa'd as-Saidi mengisahkan, seseorang pernah datang kepada Rasulullah kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku amal perbuatan yang jika kulakukan, aku dicintai Allah dan dicintai sesama manusia."
 

Rasulullah menjawab, "Berzuhudlah dengan dunia, niscaya engkau dicintai Allah dan berzuhudlah dengan apa yang dimiliki orang lain, niscaya engkau dicintai mereka."

Zuhud tak berarti hidup miskin dan hina. Sederhana saja, Imam Ahmad mendefinisikan zuhud dengan tidak serakah dan tidak menginginkan harta yang dimiliki orang lain. Ketika dunia ada dalam genggaman, ia tidak terlenakan oleh kenikmatan itu. Seperti Utsman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf, keduanya mampu memanfaatkan kelebihan rezeki dari Allah untuk mendukung perjuangan Islam.

Orang yang miskin belum tentu zuhud, sedangkan orang yang kaya belum tentu tak zuhud. Sebab, zuhud hakikatnya tampak dalam sikap seseorang terhadap harta yang diberikan Allah. "Orang zuhud adalah jika mendapat nikmat, ia bersyukur dan jika ditimpa musibah, ia bersabar," kata Sufyan bin Uyainah.

Karena itu, orang zuhud senantiasa mendapati hidupnya dalam ketenangan. Dunia adalah fana, sedangkan akhirat abadi. Seorang hamba yang zuhud menyadari bahwa rezeki setiap hamba telah ditetapkan di sisi-Nya. Rezeki tidak akan bertambah atau berkurang, sekalipun kita mengejarnya dengan cara-cara yang tidak halal.

Menjadi begitu indah perumpamaan yang dibuat Allah dalam surah al-Hadid ayat ke-20, "Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur."(Sumber : Dialog Jumat Republika/jko)