Dua Karunia Terbaik

| More
28 September 2018
takwa-ilustrasi-_120508200427-645.jpg
Sejatinya, kehadiran Tahun Baru Islam 1440 H menjadi momentum perubahan, baik untuk diri, keluarga, masyarakat, maupun negara. Terlepas ada kaitan historis atau tidak, nyatanya setiap 10 Muharram disebut Lebaran Anak Yatim dengan berbagi kenikmatan.Hendaknya sebagai orang tua, kita berusaha sepenuh hati, seluas pikiran, dan sekuat tenaga menanamkan karakter kedermawanan kepada anak- anak sejak dini.

Baginda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam at-Turmudzi menyebutkan dua karunia terbaik yang ingin diraih manusia, yakni harta dan ilmu. Keduanya dinilai sebagai kebaikan dalam kehidupan dunia yang harus dicari dan diperjuangkan (QS 2: 272, 28: 77).Dengan karunia ini, seseorang akan mudah menggapai jabatan dan kekuasaan. Namun, ia juga bisa mencelakakan manakala manusia teperdaya oleh nafsu serakah.Bukankah Qarun ditenggelamkan ke perut bumi sebab angkuh atas hartanya (QS 28: 76-29)? Begitu pun Nabi Musa AS ditegur oleh Allah SWT karena merasa paling pintar (HR Bukhari).

Dalam hal pencapaian kedua karunia tersebut, Nabi SAW membagi manusia menjadi empat macam.Pertama, orang berharta dan berilmu (razaqa hullahu maalan wa `ilman).Pencapaian inilah yang paling utama jika mampu menjaganya dengan baik (bersyukur). Mereka meraih kekayaan tetapi senang bersedekah dan memberdayakan dhuafa.

Selain itu, mereka berpendidikan tinggi hingga mampu merekayasa potensi alam dan sosial demi kemajuan umat. Walau berharta dan berilmu, mereka tetap rendah hati (QS 25: 63). Bahkan, kita pun boleh iri hati (positif) kepada orang kaya yang dermawan dan orang berilmu yang mengamalkan dan mengajarkannya (HR Muttafaq'alaih).

Kedua, orang tak berharta tetapi berilmu (razaqa hullahu `ilman wa lam yarzuqhu maalan). Orang semacam ini akan mudah menata kehidupannya menjadi lebih baik walau dalam kesahajaan. Dengan ilmunya idealisme dan kreativitas akan tumbuh sehingga bisa merancang perubahan dan menjadi rujukan atas pemasalahan (QS 21: 7). Jika mampu menggerakkan orang berharta, mereka akan menjadi kekuatan besar dalam gerakan dakwah. Mereka pun mendapat ganjaran sebesar orang yang berharta.

Ketiga, orang berharta tetapi tak berilmu (razaqa hullahu maalan wa lam yarzuqhu `ilman). Keberuntungan bisa saja menghampiri seseorang, seperti mendapat harta warisan atau dengan pengalaman bisnis seadanya bisa meraup keuntungan. Namun, orang semacam ini rapuh sebab tidak mampu mengelolanya dengan profesional atau rentan ditipu orang lain. Apalagi, jika ia tidak memahami hakikat nikmat tersebut sehingga suka membanggakan diri, kikir, dan ria (QS 4:36-38, 57: 23-24).

Keempat, orang tak berharta dan tak berilmu (lam yarzuqhu maalan wa laa `ilman). Kelompok inilah yang paling rendah derajatnya dan susah menjalani kehidupan. Mereka tak mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari hingga sebagian menjadi pengemis atau gelandangan (miskin).Mereka tak punya keahlian untuk bekerja dan mengubah jalan hidup.Boleh jadi mereka tak mendapatkan akses pendidikan atau sebab malas belajar (bodoh). Namun, miskin dan bodoh bukan takdir, melainkan pilihan sikap karena kemalasan (QS 13: 11).

Setiap orang bisa memilih dan mengubah jalan nasibnya sendiri.Sebesar apa usaha yang dilakukan, sebesar itu pula hasil pencapaian.Harta dan ilmu akan menjadi kemuliaan bila didasari keimanan dan keadaban. Jika tidak, ia bagaikan perhiasan yang sering kali menjerumuskan (QS 89: 15-16). Allahu a'lam bishshawab.(REPUBLIKA.CO.ID,OLEH DR HASAN BASRI TANJUNG/jko)