Saksi Bisu Kisah Cinta Rasulullah

| More
06 September 2018
di-kompleks-pekuburan-ma-la-ada-sebuah-makam-yang-dekat-_180905125529-939.jpg
Seturut pengembangan dan perluasan Masjdil Haram, banyak lokasi-lokasi bersejarah yang tergerus dan sukar diketahui. Berdasarkan kisah dari jamaah-jamaah haji terdahulu, wartawan Republika.co.id, Fitriyan Zamzami mencoba menelusuri beberapa di antaranya. Berikut tulisannya.
 

Tercatat dalam kumpulan hadist Shahih Imam Bukhari, Aisyah sang istri muda Nabi Muhamamd SAW mengisahkan, sekali waktu seorang perempuan mendatangi kediaman Rasulullah SAW di Madinah. Ia saat itu meminta izin untuk menemui Rasulullah.

Mendengarkan cara perempuan itu meminta izin, menurut Asiyah, Rasulullah tiba-tiba dilanda kesedihan mendalam. “Ya Allah, itu Halah binti Khuwailid,” kata Rasulullah. Menurut Aisyah, Rasulullah merasa bersedih karena cara Halah meminta izin mirip dengan cara saudarinya, Khadijah binti Khuwailid biasa meminta izin sebelum memasuki rumah.

Aisyah kemudian dilanda kecemburuan terhadap almarhumah istri Nabi SAW tersebut. “Mengapa engkau mengingat-ingat perempuan tua suku Quraish yang sudah lama wafat itu, padahal Allah sudah memberikan yang lebih baik darinya?” kata Aisyah.

Imam Ahmd bin Hanbal mencatat dalam kumpulan haditsnya, Rasulullah dengan sabar kemudian menjelaskan keutamaan Khadijah dan alasan kecintannya pada beliau. “Allah tidak menggantikan dia dengan seorang wanitapun yang lebih baik. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang menyangkalku, ia telah membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya, dan Allah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain,” kata Aisyah mengutip Rasulullah.
 

Lain waktu, selepas Perang Badar, seorang pasukan Quraish, Abul As bin Arrabi, tertangkap pasukan Muslim Madinah. Pria yang saat itu belum masuk Islam itu tak lain adalah suami Zainab, putri Rasulullah. Untuk menebus suaminya, Zainab yang masih tinggal di Makkah mengirimkan sebuah kalung batu onyx milik Khadijah yang dihadiahkan untuk pernikahannya.

Rasulullah menangis terkenang Khadijah saat memegang kalung tersebut dan langsung memerintahkan Abul As dibebaskan dengan syarat Zainab dijemput ke Madinah. Riwayat mencatat, cinta Rasulullah kepada Khadijah memang bukan cinta biasa. Selama 25 tahun pernikahan mereka, sebelum akhirnya Khadijah wafat, Rasulullah tak mengambil istri lain seperti awamnya para pria saat itu.

Khadijah, seorang saudagar kaya atas usahanya sendiri sebelum menikahi Rasulullah. Ia sempat dijuluki Putri Suku Quraish. Setelah memekerjakan Rasulullah dan mendengar soal keluhuran budi beliau, Khadijah jatuh sayang dan menugaskan pelayannya melamar Muhammad SAW, sebuah tindakan yang juga janggal pada masanya. Mereka menikah saat Rasulullah berusia 25 tahun dan Khadijah sekitar 40 tahun.

Khadijah mengorbankan banyak hal untuk agama Allah. Alih-alih takut statusnya dan kekayaannya berkurang, Khadijah mendukung perjuangan suaminya sejak wahyu pertama diturunkan. Beliau yang menenangkan dan meyakinkan Rasulullah soal kenabiannya.

Dengan kekayaannya, ia membeli para budak yang memeluk Islam dan membebaskan mereka. Hartanya juga ia habiskan guna menyokong para pemeluk Islam saat suku-suku Quraish memboikot Bani Hashim terkait dakwah Rasulullah selama tiga tahun.

Saat boikot tiga tahun itu pungkas, kesehatan khadijah juga tergerus. Ia kemudian menderita sakit yang singkat namun berakibat fatal. Rasulullah terus menemaninya selama sakit tersebut. Rasulullah berulang kali mengabarkan terkait kemuliaan yang akan didapat Khadijah di surga.

Saat akhirnya Siti Khadijah wafat, Rasulullah sendiri yang masuk ke liang lahat untuk membaringkan Radiallahuanha. Beliau sendiri juga yang meratakan tanah di atas makam istrinya tersebut.

Saya mengunjungi lokasi Rasulullah mengantarkan jasad kekasihnya tersebut di Kompleks Pemakaman Mu’alla atau Ma’la, tiga kilometer ke arah utara Ka’bah, akhir pekan lalu. Tak seperti biasanya, pekuburan tersebut dibuka untuk umum sore itu. Biasanya, jamaah haji atau umrah hanya diberi kesempatan memberikan salam dari dalam bus yang melintasi pemakaman tersebut.

Kompleks pemakaman itu terletak di wilayah perbukitan. Sebab itu, bagian-bagian makam tersebut berundak-undak. Seluruh bagian makam diratakan, dan hanya ditandai dengan batu-batu putih.

Sebagian besar kompleks pemakaman tersebut lapangan terbuka, kecuali sekutip wilayah di bagian tengah yang dipagari beton dan besi-besi. Di ujung selatan kompleks yang dipagari itu, ada sebuah makam yang dikitari tembok putih semata kaki orang dewasa yang membentuk persegi panjang seluas kira-kira 1,5 kali 3 meter.

Petugas Arab Saudi yang menjaga Pemakaman Ma’la mengatakan, di lokasi itulah Siti Khadijah dikuburkan. Kebanyakan pengunjung juga diarahkan ke bagian pagar bagian selatan yang paling dekat dengan kuburan itu untuk meyampaikan salam dan doa. Sore itu, banyak pengunjung dari Asia Selatan dan sebagian dari Indonesia bergerombol di bagian tersebut.

Meski begitu, peziarah dari Turki menuju lokasi lain. Mereka menelusuri tembok bagian timur wilayah berpagar tersebut, ke arah dataran yang lebih tinggi di bagian utara. Menjelang ujung utara kompleks tersebut, mereka berhenti dan bergerombol menghadap ke sebuah makam di ujung barat wilayah berpagar tembok yang dekat dengan bebukitan.

Persis di samping makam itu, berdiri satu-satunya pohon di kompleks Pekuburan Ma’la. “Khadijah, Khadijah,” kata salah seorang di antaranya saat saya tanyai terkait lokasi tersebut.

Di jalan bagian timur itu, tak seperti di bagian selatan, mondar mandir petugas dengan mobil patroli. Dengan pengeras suara dari mobil, ia mengusir jamaah yang terlalu lama berdiam di pagar. “Ziarah hanya sunah! Yang wajib di Masjidil Haram! Bergerak, bergerak, ya Haji!” teriaknya melalui pelantang.

Pada masa lalu, tak terjadi kebingungan soal di mana sejatinya makam Siti Khadijah. Saat Turki Utsmaniyah menguasai Makkah pada abad ke-16, kuburan itu dinaungi kubah putih yang membedakan dari makam-makam lainnya. Seturut penguasaan Bani Saud di Hijaz pada 1925, kubah itu dan yang lainnya yang berdiri di Pekuburan Ma’la maupun Pekuburan Baqi di Madinah diratakan dengan tanah.(Republika/Fitriyan Zamzami/jko)