Tangis Anak Pemulung yang Tertimbun Sampah di Malang, Sang Ayah Pernah Alami Hal Itu Tiga Kali

| More
13 July 2018
anak-pemulung-kota-malang_20180713_085645.jpg

Tangis dua anak Agus Sujarno, korban longsoran sampah, tak bisa dibendung lagi ketika mereka melihat tim SAR kembali dari tempat pencarian tanpa membawa ayah mereka, Kamis (12/7/2018) sekitar pukul 15.00 wib.

Pencarian dihentikan karena tumpukan sampah mulai banyak yang longsor sehingga mengancam keselamatan tim.

Para relawan mencoba menenangkan dua anak Agus agar tidak berlarut dalam kesedihan. Dua anak Agus itu juga tidak ingin pergi dari tempatnya menunggu saat diajak masuk ke dalam mobil.
 

“Nanti kita cari lagi, ya. Pasti ketemu. Pencarian akan diteruskan,” ujar seorang relawan kepada seorang anak yang menangis tersedu.

Relawan yang lain juga ikut menguatkan dengan mengatakan hal senada.

Meskipun begitu, tidak mudah bagi relawan untuk meyakinkan kedua anak itu beranjak dari tempatnya menunggu di sebuah tempat duduk di taman TPS Supit Urang.

Baca: Longsor di TPA Supit Urang Malang, Satu Pemulung Belum Ditemukan, Ini Kata Rekannya yang Selamat

Baca: Santri Tewas di Malang Diduga Dianiaya, Sempat Tulis Surat untuk Orangtua, Isinya Bikin Trenyuh

Baca: Pria Sidoarjo Jual Istrinya Lewat Media Sosial, Tawarkan Layanan Hubungan Badan yang Tak Biasa

Tidak hanya relawan, sejumlah ibu-ibu yang bekerja sebagai pemulung juga turut serta menguatkan kedua anak Agus yang menangis.

Seorang ibu memeluk salah satu anak Agus sembari membisikkan kalau ayahnya pasti ditemukan.

Baru sekitar 10 menit kemudian, kedua anak Agus bisa diajak beranjak dari tempatnya menunggu.

Keduanya segera memasuki mobil dan meninggalkan TPS Supit Urang.

Pencarian itu melibatkan puluhan relawan dan polisi.

Namun hingga Kamis (13/7/2018) sore, tidak ada kabar ditemukannya Agus.

Rupiatih, seorang pemulung setempat mengatakan mengenal Agus.

Sejauh yang ia tahu, Agus sudah tiga kali ini menjadi korban longsoran sampah.

“Perisitiwa ini ketiga kalinya untuk Agus,” paparnya.

Agus dan suami Rupiatih sering bekerja bersama mencari tumpukan sampah plastik untuk didaur ulang.

Setiap kali mencari sampah plastik, lokasinya selalu berubah karena pembuangan sampah juga berubah-ubah tempatnya.

Kapolres Malang Kota AKBP Asfuri menjelaskan, pencarian dilakukan secara manual karena tanah tumpukan sampah labil.

Hal itu tidak memungkinkan alat berat masuk untuk membongkar sampah.

Terjalnya lokasi dikatakan Asfuri menyulitkan petugas dalam pencarian.

Kata Asfuri, di lereng ada tumpukan sampah yang memiliki ketinggian lima sampai tujuh meter.

"Ini harus menimbun tanah di lokasi agar tanah tidak labil. Sampah yang tinggi rencananya ditarik ke dalam sehingga tim yang mencari korban tidak terkena longsoran juga. Pencarian secara manual. Kami akan lakukan pencarian terus," katanya, Kamis (12/7/2018).

Meskipun dilakukan secara manual, namun potensi longsoran sampah terus terjadi.

Longsoran sampah sempat terjadi sehingga membuat Tim SAR balik kanan saat berupaya mencari keberadaan Agus.

Sejauh ini, petugas baru menemukan keranjang yang sering dipakai Agus.

Asfuri memprediksi, keberadaan Agus berjarak lima sampai 10 meter dari ditemukannya tas keranjang.

Selama proses pencarian korban, Asfuri sudah memerintahkan anggota agar menutup TPA.

Para pemulung diharap tidak masuk ke lokasi sementara karena steril untuk fokus pencarian.

"Pemulung agar tidak datang selama proses pencarian. Kami libatkan 150 personel untuk mencari korban," tandasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Agoes Edy Poetranto menerangkan, tumpukan sampah di TPA Supit Urang sudah sangat banyak.

Sementara itu, hanya dua eskavator yang aktif bekerja. Idealnya, butuh delapan eskavator.
Eskavator itu berfungsi untuk meratakan dan mengalihkan sampah sehingga tidak menggunung.

“Mungkin njenengan bisa melihat, eskavator kita hanya dua yang baru. Kita butuh delapan unit baru semua. Yang lama ada yang rusak berat dan ringan. Yang ringan bolak-balik diperbaiki. Dengan luas areal segini, hanya dua yang efektif bergerak,” terang Agoes.

Agoes menjelaskan sudah mengajukan anggaran untuk pengadaan eskavator.

Namun usulan itu ditolak. Setiap harinya, ada sekitar 500 ton sampah yang masuk ke TPA Supit Urang.

DLH Kota Malang sudah berupaya mengurangi tumpukan sampah dengan mengadakan Tempat Pembuangan sampah Sementara (TPS) dan Rumah Pilah Kompos Daur (PKD) di masing-masing kelurahan. Namun sejauh ini jumlahnya belum ideal.

Kata Agoes, ada 50 TPS yang tersebar di Kota Malang. Padahal, satu kelurahan butuh satu TPS.

Sementara di Kota Malang ada 57 kelurahan. Konsekuensinya, ada satu TPS yang dimanfaatkan untuk dua kelurahan.

“Kita membangun TPS umum. Harapan saya TPS ini satu kelurahan satu, supaya tidak ada penumpukan. Kalau dua kelurahan satu TPS, pasti ada penumpukan,” paparnya.

Upaya lainnya juga mengadakan TPS3R agar sampah-sampah bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya.

Sementara rumah PKD juga masih sedikit, tidak mencakup satu kelurahan datu PKD.

“Jadi bukan hanya TPS, tapi termasuk TPS 3R dan PKD,” tegasnya.

Kepala BPBD Kota Malah Hartono menjelaskan proses pencarian akan dilanjutkan, Jumat (13/7/2018) pagi.

Pihak yang terlibat antara lain TNI/Polri, BPBD Kota Malang, serta tim relawan.(Benni Indo-Surya.co.id/jko)