Pabrik Ethanol di Lawang Ini Sabet Juara Dua Indonesia Green Companies 2018

| More
12 July 2018
ethanol_20180712_085150.jpg

PT Molindo Raya Industrial (MRI), perusahaan ethanol berbahan limbah pabrik gula, molasses, yang berada di Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menguatkan komitmennya untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan.

Berbagai upaya termasuk pemanfaatan limbah sisa produksi juga terus diinovasikan guna mencapai zero waste atau nol limbah.

Hasilnya, MRI mendapatkan penghargaan dari Majalah Swa sebagai industri terbaik nomer dua dalam ajang Indonesia Green Company Award 2018.
 

Arief Goenadibrata, Direktur Utama MRI, mengatakan, penghargaan itu merupakan apresiasi hasil dari komitmen pimpinan MRI.

"Penilaian dari Majalah SWA meliputi komitmen pimpinan, pelaksanaan, program berkelanjutan, dan hasil atau dampak konkret, kelebihan konsep ramah lingkungan MRI. Yaitu memproduksi ethanol dari limbah pabrik gula. Lalu juga mengolah limbah menjadi pupuk kalium organik yang kemudian kembali digunakan di lahan tebu," jelas Arief Gunawan, Kamis (12/7/2018).

MRI merupakan produsen ethanol yang menguasai 53 persen pasar domestik.

Perusahaan berusia 53 tahun itu juga berkomitmen untuk menjadi green manufacturer.

"Di satu sisi kami tingkatkan efisiensi material dan energi pada proses produksi. Di sisi lain kami juga mengupayakan untuk meminimalkan kerusakan lingkungan mendekati titik nol," jelas Arief.

Dalam hal pengelolaan limbah, MRI juga cukup serius.

Tahun 2009 lalu, perusahaan yang kini menghasilkan ethanol 80 juta liter per tahun itu membuat green house seluas tiga hektar.

Di sini dilakukan pengeringan limbah secara alami yang kemudian dicampur dengan berbagai bahan untuk dijadikan pupuk organik.

"Dari pupuk yang dihasilkan, kami juga kerjasama dengan Petrokimia Gresik untuk penyaluran pupuk petroganik ke petani tebu. Jadi dari petani ke petani lagi. Ada juga limbah yang bisa dipakai untuk pakan ternak yang sekarang sudah dicoba di beberapa desa binaan di Salatiga, Jawa Tengah," ungkapnya.

Merasa belum cukup dengan pengelolaan limbah yang sudah terlaksana, MRI memutuskan untuk meningkatkan tantangan di sisi pengelolaan limbah, yaitu pengelolaan limbah vinase cair.

Limbah vinase cair yang dihasilkan MRI ke depan akan diolah menjadi sumber energi listrik dengan mesin boiler vinase dari teknologi India.

Proses pembangunan boiler vinase tengah berlangsung dan ditargetkan akan beroperasi pada awal 2019.

"Listrik dari hasil vinase boiler ini mampu menghasilkan 56 ton uap yang akan dikonversi menjadi 4,9 MW listrik. Dimana akan lebih dari cukup untuk untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik yang saat ini sekitar 4,5 MW," jelasnya.

Upaya mengelola lingkungan di MRI merupakan sesuatu yang menantang Kami harus sungguh-sungguh, teliti, dan berkomitmen.

"Kami harus mengucurkan dana ratusan miliar hanya untuk mengelola limbah. Namun demikian MRI tidak akan berhenti untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan. Kami terus melakukan monitoring serta melanjutkan pengembangan teknologi baru untuk lebih meningkatkan efisiensi proses," jelas Arief.

Kepala Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Prof Eniya Listiani Dewi menyampaikan bahwa dari sisi lingkungan, konsep nilai tambah dan manajemen bahan baku Molindo sudah baik.

"Molindo sudah melakukan efisiensi dan menempatkan boiler baru yang bisa menggantikan seluruh kebutuhan energi di tempatnya," komentar Prof Eniya.(Sri Handi Lestari-Surya.co.id/jko)