600 Hektar Lahan Sulit Air, Petani Mojokerto Swadaya Bangun Tanggul

| More
16 April 2018
6000.jpg
Jebolnya tanggul sungai Watukucur mengakibatkan sekitar 600 hektar lahan pertanian di 8 desa di Mojokerto kesulitan air. Tak kunjung ada perhatian dari pemerintah, ratusan petani yang terdampak turun tangan memperbaiki tanggul secara swadaya.

Tanggul jebol ini tepatnya di tengah area persawahan Dusun/Desa Beloh, Trowulan, Mojokerto. Panjang tanggul yang jebol mencapai sekitar 30 meter.

Salah seorang petani Suprayitno (60) mengungkapkan tanggul sungai Watukucur ini jebol akibat tak mampu menahan debit air. Saat itu, curah hujan pada akhir Desember 2017 sedang tinggi-tingginya.

Aliran air dari Dam Candi Limo juga terpaksa ditutup di pintu air Paroh. Jika tidak, air akan meluber di tanggul sungai Watukucur yang jebol. Oleh sebab itu, pasokan air ke lahan pertanian 8 desa di Kecamatan Trowulan terputus.

"Luas lahan petani yang terdampak di delapan desa itu sekitar 600 hektar," katanya kepada wartawan di lokasi tanggul jebol, Senin (16/4/2018).

Wilayah terdampak jebolnya tanggul ini meliputi Desa Beloh, Temon, Trowulan, Jatipasar, Wonorejo, Kejagan, Tawangsari dan Balongwono. Lahan pertanian di 8 desa ini mengandalkan suplai air dari sungai Watukucur.

Putusnya pasokan air, lanjut Suprayitno, mengakibatkan ratusan petani gagal panen. Suprayitno pun merasakan sendiri dampak jebolnya tanggul tersebut. Hasil panen tanaman padi miliknya seluas 1 hektar di Desa Trowulan, anjlok hingga 75 persen. Kerugian yang dia tanggung mencapai Rp 3 juta. Padahal jika pasokan air cukup, rata-rata lahan miliknya menghasilkan 4 ton gabah dalam sekali panen.

"Awal April kemarin panen saya hanya dapat 5 kwintal (0,5 ton) gabah kering. Bulir padi tak ada isinya karena kekurangan air," ungkapnya.

Tak sampai di situ, lanjut Suprayitno, tak adanya pasokan air membuatnya tak berani bercocok tanam. Menurutnya, jika dipaksakan tanpa pasokan air, tanaman bakal mati kekeringan.

"Katanya pihak pengairan bulan 2 (Februari, red) diperbaiki, tapi sampai bulan ini tak ada kepastian, makanya kami perbaiki sendiri," cetusnya.

Hal senada dikatakan Ahmad Arifin, petani asal Desa Beloh. Ia juga tak berani menanami lahannya lantaran tak adanya suplai air. "Lahan saya seluas satu hektar kondisinya kering, belum bisa ditanami," jelasnya.

Tak sabar dengan janji manis pemerintah, menurut Arifin, para petani memutuskan memperbaiki tanggul yang jebol secara swadaya. Setiap petani dengan lahan 1.400 meter persegi dimintai sumbangan Rp 50 ribu.

Dana yang terkumpul, kata Suprayitno, digunakan untuk membeli dinding bambu, baliho bekas dan menyewa backhoe. Perbaikan tanggul secara swadaya oleh petani ini dimulai pagi tadi. "Ini murni dari petani, tak ada bantuan dari pemerintah atau pihak manapun," tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mojokerto Didik Pancaning Argo menjelaskan, sungai Watukucur menjadi kewenangan Dinas PU Sumber Daya Air Jatim.

Pemkab Mojokerto sebatas memberikan rekomendasi ke Pemprov Jatim. "Ini masuk bencana, harus ada surat keterangan kebencanaan dari BPBD Kabupaten Mojokerto. Surat sudah disampaikan ke provinsi," paparnya.

Terkait tak kunjung adanya perbaikan, tambah Didik, hanya persoalan waktu. Menurut Didik, Dinas PU Sumber Daya Air Jatim harus mengerjakan perbaikan di tempat lain.

"Harus bertahap, tak di situ saja. Kalau bencana mungkin dari hulu sampai hilir. Kepastiannya kapan saya tak tahu karena ini kewenangan provinsi," tandasnya.(Enggran Eko Budianto - detikNews/jko)