Ini Tiga Amanat yang Dipikul Manusia

| More
02 March 2018
prof-dr-kh-didin-hafidhuddin-ms-kiri-_170303114528-394.JPG
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahzab (surat ke-33)  ayat 72, “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.”

Apakah yang dimaksudkan amanat itu? Menurut Guru Besar IPB Bogor, Prof Dr KH Didin Hafidhuddin MS, setidaknya ada tiga makna  amanat sebagaimana yang tertera di Surat Al-Ahzab ayat 72. “Ketiganya adalah amanat ibadah, amanat khalifah dan amanat wadiah,” kata Kiai Didin Hafidhuddin saat mengisi pengajian guru dan karyawan Sekolah Bosowa Bina Insani (SBBI) di Masjid Al Ikhlas Bosowa Bina Insani,  Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/3).

Pertama, amanat ibadah, sebagaimana tercantum dalam QS Adz-Dzariyat (51): 56,  “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

“Artinya,  kita sebagai manusia , diciptakan oleh Allah semata-mata untuk beribadah atau menyembah Allah SWT. Pekerjaan atau tugas apa pun, selama itu baik dan halal, harus kita niatkan ibadah kepada Allah SWT. Termasuk ke dalamnya belajar, bekerja di kantor, mengajar, berdakwah, berbisnis, menjadi pejabat publik dan lain-lain. Hendaknya semuanya kita niatkan ibadah semata-mata karena Allah,” kata Direktur Program Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor.

Kiai Didin menambahkan, Allah sangat menghargai manusia yang di tengah kesibukannya bekerja atau berbisnis, namun tidak pernah melupakan ibadah kepada Allah. “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.” (QS An-Nuur: 37)

Kedua, amanat sebagai khalifah. “Pengertian khalifah adalah kita punya tugas berbuat yang terbaik bagi manusia dalam hidup ini. Kita harus mempersembahkan yang  terbaik dalam hidup ini. Dengan kata lain, memakmurkan dunia dan kehidupan ini. Seperti hadits Rasulullah SAW, ‘Manusia yang terbaik adalah yang paling banyak manfaatnnya bagi orang lain’,” papar Kiai Didin.

Amanat ketiga adalah wadiah atau titipan. “Segala yang melekat pada diri kita, harta, benda, ilmu, pangkat dan jabatan, bahkan diri kita sendiri, semuanya merupakan titipan Allah yang pasti akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat kelak.  Karena itu, seluruh amanat yang Allah berikan kepada kita, harus kita maksimalkan sebaik mungkin untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk umat atau masyarakat,” tutur Kiai Didin.

Pakar ekonomi syariah itu mengutip sebuah hadits Nabi yang menyatakan, “Tidak akan bergeser seorang manusia di hadapan Allah pada hari kiamat nanti, sebelum ditanyakan kepadanya empat hal: umurnya digunakan untuk apa, masa mudanya digunakan untuk apa, hartanya dari mana dia dapatkan dan untuk apa dia gunakan, dan ilmunya digunakan untuk apa.”

“Sebagai Muslim, kita harus menjaga dan melaksanakan ketiga amanat tersebut dengan sebaik mungkin, agar hidup kita selamat di dunia dan akhirat,” ujar KH Didin Hafidhuddin.(Red: Irwan Kelana-Republika.co.id/jko)