Begini Kondisi Galian C Rolak 70 di Kediri, Akses Tertutup, Tak Sembarang Orang Bisa Masuk

| More
12 October 2017
galian-pasir_20171012_103036.jpg
Meski sempat menuai protes keras dari warga setempat, aktivitas di area Rolak 70 di Desa Juwet, Pare Lor, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri hingga saat ini masih terus berjalan, Kamis (12/10/2017).

Dari pantauan di lapangan memang tak mudah untuk menuju ke lokasi galian C yang telah dikenal dengan sebutan Rolak 70 itu.

Terdapat dua akses jalan utama ke lokasi yakni melewati jalur truk pengangkut pasir di sebelah jembatan yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Jombang.
 

Jalur ini dipakai truk pengangkut pasir menuju ke area galian C milik CV Adi Djojo.

Sedangkan, untuk menuju ke galian C milik CV Moestaman Group melewati jalan di Kecamatan Gudo Jombang.

Sedangkan jalan tikus ke lokasi galian C itu melewati jalan desa Juwet, Pare Lor di area persawahan milik warga.

Setelah melalui jembatan kecil dan menyeberangi sungai yang menghubungkan ke area galian C.

Kondisi medan jalan di area itu sangat sulit dilalui dengan kendaraan roda dua.

Pasalnya, rata-rata jalan menuju ke kawasan itu dipenuhi tumpukan tanah kering setebal sekitar lima sentimeter.

Saking tebalnya, mempengaruhi kestabilan roda dua. Kalau tidak hati-hati bisa terjatuh karena jalan terhambat dengan tebalnya pasir.

Jangan harap bisa masuk ke area itu karena tak sembarang orang dapat masuk ke Rolak 70.

Sebab, terdapat penjaga di setiap titik jalan masuk ke lokasi. Sejumlah orang berpakaian preman standby di tempat itu.

Apabila ada orang yang tidak dikenal diketahui berada di tempat itu akan didatangi sejumlah orang yang meminta meninggalkan tempat itu kalau tidak ada kepentingan.
 

Keadaan di sekitar area itu sangat gersang. Hanya terlihat tumpukan pasir hitam mengkilap terkena pantulan dari cahaya matahari.

Di sisi lain, terdapat kubangan besar yang terdapat mesin diesel untuk menyedot pasir dari bawah.
Informasinya dari warga setempat kalau kedalaman kubangan itu mencapai 11 meter.

Untuk diketahui Rolak 70 ini muncul karena memiliki penampugan pasir dari sungai Konto.

Jika dirunut dari sungai Konto aliran itu berada di area Kecamatan Kepung lalu ke Kecamatan Puncu dan berhulu di aliran lahar Gunung Kelud.

Terdapat dua titik penggerukkan pasir yakni milik CV Adi Djojo dan CV Moestaman group.
Keduanya digadang-gadang memiliki izin normalisasi di Rolak 70 tersebut.

Di tempat itu, terlihat truk pasir keluar masuk dari arah Jombang menuju ke lokasi galian C.
 

Terdapat plang izin berukuran jumbo dari material banner yang terpasang di depan pintu masuk.

Di jalan itu terdapat warung dan sejumlah orang yang berjaga.

Setiap kali ada truk yang akan keluar dari lokasi galian C terlihat orang dari arah warung menuju ke tengah jalan semacam pak Ogah untuk membantu menyebrangkan jalan.

Ditengarai aktivitas di lokasi galian C Rolak 70 berlangsung selama 24 jam nonstop. tak terhitung lagi jumlah truk yang wara-wiri mengangkut pasir bernilai ekomonis tinggi itu.

Memang pasir dari aliran lahar Gunung Kelud ini talah tersohor memiliki kualitas sangat baik.

Butiran pasir berwarna hitam pekat itu berkualias sangat baik untuk bahan material bangunan.

Menurut sumber terpercaya yang diperoleh mengenai harga untuk satu truk penuh berisi pasir bakal laku di pasaran sekitar Rp 350.000.

Tak terbayang berapa pundi rupiah yang terkumpul dari material pasir itu.

Seorang warga setempat enggan disebutkan identitasnya mengatakan kawasan lahan di titik pertama milik CV Adi Djojo memiliki luas sekitar 20 hektar.

Sedangkan aktivitas sudah dimulai sekitar enam bulan yang lalu pada Juni 2017.

"Izin OP nya normalisasi dan sekitar lima tahun," ujar pria setengah tua itu.

Disisi lain, area ke dua milik CV Moestaman group yang memiliki lahan seluas 4 hektar.

Izin pengambilan pasir pasir yang baru berlangsung selama dua minggu.

Sejumlah massa mengelar unjuk rasa yang memprotes aktivitas tambang pasir di Rolak 70 karena berpotensi merusak lingkungan itu.

Warga setempat geram oleh tingkah laku pihak pengelola yang dirasa seenaknya sendiri lantaran beraktivitas mengeruk pasir tanpa memperdulikan dampak lingkungan yang ada di sekitar.

Massa sempat mengamuk menuntut agar aktivitas pengerukan pasir oleh pihak pengelola dihentikan.

Bahkan, mereka meminta pihak kepolisian Polres Kediri untuk menegakkan hukum yakni menutup area tambang pasir ini.(Penulis: Mohammad Romadoni-Surya.co.id/jko)